
Pagi yang cerah di luar gapura sebelah timur kadipaten Wonokerto telah berubah menjadi awal hari yang mengerikan. jeritan kematian terus terdengar bersautan seakan tanpa putus berselingan dengan teriakan, bentakan serta makian penuh serakah dan hawa kekejian. dalam keadaan seperti itu jiwa manusia seperti tidak lebih dari nyawa seekor lalat.
Tetapi anehnya biarpun pertarungan masal yang melibatkan ratusan pendekar itu sudah berlangsung cukup lama dan jumlah mayat yang bergelimpangan di atas pedataran itu mulai menumpuk, tetap saja tidak membuat pertarungan itu menjadi mereda. malahan jumlah mereka terus saja bertambah.
Baru saja seorang anggota perguruan silat 'Pangrango Sakti' menjerit parau setelah tangan dan punggungnya terbelah golok, dari luar kalangan terlihat dua kelompok baru beranggotakan puluhan orang yang datang ke tempat itu dan langsung melibatkan diri dalam pertarungan besar itu. sasaran itama mereka juga sama 'Empat Mayat Hijau' yang di anggap menyimpan peta rahasia istana 'Angsa Emas.!'
Jika di lihat dari lambang pada bendera kedua kelompok yang baru datang, mereka berasal dari perguruan 'Naga Biru' yang bercokol di lereng gunung Semeru dan perkumpulan 'Celurit Kembar' dari Madura.
Bukan hanya itu, masih ada belasan orang lagi pendatang baru yang muncul hampir bersamaan dengan dua kelompok itu. ada yang datang secara perorangan, namun ada juga yang berdua atau lebih. diantara para pendatang baru itu, terlihat ada beberapa pendekar yang cukup punya nama di dunia persilatan.
Sama seperti yang sudah lewat, tanpa perduli sedang berhadapan dengan siapa, mereka langsung main bunuh tanpa ampun. karena bagi kaum pendekar yang sudah dipenuhi hawa membunuh, hanya senjata pusaka dan ilmu kesaktian saja yang pantas untuk bicara di dalam sebuah pertarungan adu jiwa.!
Saat matahari sedikit naik dari arah pusat kadipaten Wonokerto terdengar gemuruh derap kaki kuda mendekat. sebentar saja mereka sudah tiba di luar gapura perbatasan kadipaten. dari umbul- umbul dan seragam pakaian perang yang mereka bawa, dapat diketahui kalau para penunggang kuda yang jumlahnya ratusan orang itu adalah pasukan perang kerajaan Demak yang bergabung dengan prajurit kadipaten Wonokerto.
Terdengar suara genderang yang ditabuh bersama tiupan terompet. salah seorang dari tiga senopati perang yang memimpin pasukan itu majukan kudanya beberapa tombak mendekat.
''Kami adalah pasukan perang gabungan dari kerajaan kesultanan Demak dan kadipaten Wonokerto. atas nama Sutan Demak yang mulia juga adipati Wonokwrto., kami perintahkan kepada kalian semua untuk cepat menghentikan pertempuran ini.!''
''Juga bagi pihak yang merasa memiliki peta rahasia istana Angsa Emas., harap segera menyerahkannya kepada kami., Demak akan memberikan imbalan besar padanya.!'' seru senopati kepala pasukan itu dengan suara lantang menggetarkan pertanda di sertai dengan tenaga dalam.
__ADS_1
''Haa., ha., ha., senopati pasukan Demak rupanya cuma bisa berkoar saja. kalau kau berani turunlah dari punggung kudamu dan bertarung secara jantan seperti kami.!''
''Huh., cuma mengandalkan jumlah banyak dan memakai nama Sutan sebagai dalihnya. chuih., memalukan.!'' maki puluhan orang yang keluar dari dalam kalangan. terlihat pakaian perang mereka yang serupa sudah berlepotan darah. mendengar itu ketiga senopati kepala pasukan menjadi naik pitam. apalai saat melihat lambang pakaian perang yang di kenakan oleh mereka.
''Keparat., sejak kapan prajurit Blambangan berani masuk wilayah Wonokerto., kalian semua sudah bosan hidup rupanya..''
''Bodoh., apa mereka tidak sadar kalau ini sudah bisa dimasukkan sebagai penyusupan dan ancaman perang terhadap Demak..''
''Tidak perlu banyak bicara lagi., ayoh habisi mereka semua.!'' seru para senopati perang itu. bersama pasukannya mereka menyerbu. ke dalam kalangan yang segera di sambut sabetan senjata bukan saja oleh para prajurit Blambangan, tapi juga kaum persilatan yang berada di sana. pertempuran besarpun menjadi semakin bertambah sengit.!
Dari sekian banyak pesilat berkepandaian tinggi yang hadir di tempat itu, mungkin cuma ada seorang gembel tua bermata hitam saja yang masih enak- enakan duduk bersandar di bawah tugu batu perbatasan kadipaten Wonokerto. dia bukan lain adalah tokoh silat yang di juluki 'Pengemis Tua Mata Setan.'
''Hee., he., mampuslah kalian semuanya dasar para manusia dungu. bunuh., bunuh., bunuh semua yang ada di depan kalian.!''
''Huhm., selama ini aku sengaja menghilang dari dunia ramai untuk memperdalam ilmu 'Mata Setan Penggendam Sukma.' setelah semakin sempurna, diriku dapat dengan mudah mempengaruhi jiwa dan pikiran orang lain tanpa perlu mengucapkan suatu perintah. apalagi sejak awal hati mereka sudah tertanam api kebencian dan keserakahan hingga membuatku lebih mudah melakukannya..''
Rupanya salah satu penyebab pecahnya pertarungan besar ini adalah pengaruh ilmu 'Mata Setan Penggendam Sukma' yang di miliki oleh 'Pengemis Tua Mata Setan'. dengan ilmu itu orang yang bertatapan dengan mata hitam gembel itu tanpa di sadari akan dapat di pengaruhi pikiran dan hatinya untuk melakukan sesuatu yang di kehendaki si gembel tua itu.
Dengan ilmu itu pula konon kabarnya dulu dia pernah membuat lima orang pesilat kelas atas untuk bunuh diri setelah tidak mampu menahan pengaruh ilmu 'Mata Setan Penggendam Sukma' miliknya.!
__ADS_1
Bersamaan itu dari tengah kalangan terdengar jeritan ngeri yang di barengi terlemparnya tubuh dua orang dengan darah berhamburan. saat di lihat rupanya pemilik tubuh itu bukan lain anggota dari 'Empat Mayat Hijau' bergigi tonggos dan satu lagi yang berbadan paling kecil.
Belasan bacokan senjata dan bekas pukulan sakti terlihat merajam raga keduanya. jubah hijau mereka robek hancur dibasahi darah mereka sendiri. sementara salah satu dari 'Sepasang Iblis Cebol' yang berambut jabrik terlihat berkelojotan di tanah dengan tubuh melepuh dengan cairan lendir hijau busuk meleleh dari luka pukulan di dadanya. sekali mengerang nyawa orang ini lepas ke akhirat.
''Hak., ha., aku sudah berhasil merebut peta rahasia istana Angsa Emas.!'' seru seorang perempuan setengah umur yang berjubah dan berambut kemerahan. ditangan kirinya menggenggam segulungan lembaran kain bernoda darah sementara tangan kanannya yang membekal sebatang pedang berapi bergagang kepala naga. dia bukan tokoh silat sembarangan, karena 'Nyai Wisa Geni' adalah seorang jago pedang yang punya nama besar diwilayah utara.
Di bawah telapak kaki perempuan ini sudah menggeletak sang pimpinan Empat Mayat Hijau dengan leher nyaris putus. sementara sisa seorang lagi sudah menjadi bulan- bulanan para tokoh silat. mungkin nyawanya tidak lama lagi bakal menyusul rekannya.
''Huh., belum tentu Nyai Wisa Geni., kurasa kau cuma pantas memiliki surat rahasia itu di alam mimpimu.!'' bentak seorang tua berbaju hitam yang mencekal sepasang celurit emas sambil meraung berkelebat membabat dan membacok ganas. serangan itu diikuti oleh belasan anak buahnya yang juga membekal sepasang celurit.
''Kurang ajar., Ki Lembu Singkil, kau sudah berani melawanku. apa kau ingin nama 'Raja Celurit Emas' dan perkumpulan 'Celurit Kembar' milikmu kuhapus dari muka bumi.?'' damprat Nyai Wisa Geni sambil menghindar sekaligus babatkan pedang 'Naga Geni' nya. Ki Lembu Singkil mampu menahan serangan balik lawan, tapi empat anak buahnya terjungkal roboh dengan dada serta perut robek hangus di babat pedang pusaka 'Naga Geni' di tangan Nyai Wisa Geni.
Darah kembali mengalir, mayat- mayat terus bergelimpangan. jerit kematian seolah tersapu oleh dentingan senjata maut yang tidak pernah puas untuk meneguk darah korbannya.
Keadaan ini agaknya akan makin bertambah kacau saat ada beberapa orang persilatan yang berseru ''Lihat., di sana ada sebuah kereta kuda hitam yang mendatangi..''
''Bukankah ada kabar juga yang mengatakan kalau peti kayu cendana hitam berada dalam kereta kuda itu.?''
''Itu benar., tapi tunggu., lalu kenapa ada empat kereta kuda hitam yang serupa datang bersamaan., lalu dimana kereta kuda hitam pembawa peti wasiat yang sebenarnya.?'' seru beberapa orang persilatan itu sembari menatap empat kereta kuda hitam yang datang dari empat penjuru.!
__ADS_1