
Malam itu pertarungan besar- besaran telah terjadi di dalam pulau Seribu Bisa'. markas rahasia dari 'Kelompok 13 Pembunuh' ini seolah sudah menjadi tempat pembantaian para manusia yang hatinya sudah dikuasai oleh nafsu angkara murka dan ketamakan. dalam keadaan kacau seperti ini benar atau salah tidak lagi dapat dibedakan.
Mayat- mayat yang terkapar bergelimpangan dengan bau anyir darah merah dari tubuh para korban, berseling dengan teriakan parau dan makian penuh dendam kesumat membuat suasana semakin mengerikan. entah kenapa saat para tokoh persilatan yang menyerbu menjejakkan kakinya di pulau Seribu Bisa, kebanyakan dari mereka seperti telah kehilangan akal sehatnya. yang tertinggal justru adalah nafsu untuk membunuh.
Selain pertarungan antara Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' yang berhadapan dengan 'Panglima Istana Tengah' dan 'Setan Arak' melawan Ki Sabda Langitan atau si 'Tangan Penggoncang Langit, di sekitar tempat itu juga sudah saling beradu nyawa dua orang tua yang sama memakai jubah putih. tanpa bertegur sapa keduanya sudah saling beradu ilmu kesaktian.
Sejak pertarungan mereka pertama kali di lembah sunyi, antara I Gede Kalacandra alias 'Dewa Serba Putih' dan 'Momok Jelaga Hitam' seakan sudah digariskan untuk saling bunuh. dendam kesumat yang merasuk dalam jiwa membuat kedua orang tua ini tidak sudi hidup di bawah langit yang sama.
''Malam ini adalah saat kematianmu nenek tua keparat.!'' rutuk Dewa Serba Putih geram. sejak gebrakan awal tokoh silat dari pulau dewata Bali ini sudah lontarkan ilmu pukulan 'Telapak Salju Gunung Agung'. hempasan ribuan titik- titik embun salju yang sangat dingin membuat daerah sekitar pertarungan seakan membeku.
''Bangsat., sekarang ini kekuatanku sudah meningkat. aku tidak mungkin kalah dari tua bangka sepertimu. kaulah yang bakalan mampus di tanganku.!'' Momok Jelaga Hitam balas menggertak. dengan kerahkan ilmu kesaktian 'Jelaga Hitam Pembungkus Nyawa' nenek tua jahat itu bermaksud untuk membunuh lawan secepatnya. cahaya panas di sertai asap hitam pekat melabrak dahsyat. dalam waktu singkat keduanya sudah saling hantam belasan jurus.
'Panglima Istana Kiri' mendengus gusar saat gelang- gelang emasnya dibuat mental oleh kepalan tangan Nyi Balung Geni atau si 'Nenek Tulang Api'. dari tubuh orang tua itu terlihat cahaya redup berpendaran dan memerah laksana terdapat bara api di dalam raganya yang sekeras besi. ilmu kebal nenek itu telah meningkat kesaktiannya.
''Hek., he., bocah jangkung pucat. kau datang ke pulau Seribu Bisa ini hanya mengantarkan nyawamu. meski senjata gelang rongsokan milikmu tidak akan ada gunanya tapi mungkin bisa menemanimu ke neraka.!'' Nyi Balung Geni menutup ucapannya dengan lepaskan sebuah pukulan sakti, lantas bersama enam anak buahnya dia mengeroyok lawan.
Biarpun sangat terkejut mendapati senjata gelang bergerigi terbangnya tidak mempan menembus pertahanan ilmu kebal Nyi Balung Geni tapi Panglima Istana Kiri tidak menjadi gentar. sambil menghindari pukulan lawan dia terus berusaha balik mendesak lawannya dibantu beberapa anak buahnya dari Pasukan Pedang Angsa Sakti.
Tidak kepalang tanggung, dengan jurus 'Dua Belas Gelang Kematian' yang disusul dengan 'Gelang Roda Sakti Membajak Bumi' orang ini berniat menggempur Nyi Balung Geni dari delapan penjuru dan bawah tanah hingga si nenek mengumpat sumpah serapah. ''Setan alas., hancur mental semuanya.!'' bentaknya agak panik sembari hantamkan dua kepalan tangannya ke depan dan bawah untuk memusnahkan serangan empat gelang bergerigi yang keluar menyerangnya dari dalam tanah. ledakan kertas terjadi. tanah berbatu karang rengkah terbongkar.
__ADS_1
Walaupun Nyi Balung Geni sanggup membuat serangan gelang- gelang terbang lawan buyar namun tiga anak buahnya dari 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' turut menjadi korban tersambar senjata Panglima Istana Kiri. sebaliknya dua orang bawahannya pecah kepalanya tersambar pukulan lawan sedang dua lainnya terluka cukup parah.
''Bocah pucat jangkung keparat. modar kowe.!'' teriak Nyi Balung Geni bengis. meski tubuhnya kebal senjata dan pukulan tetapi tenaga sakti dari serangan gelang emas lawannya tetap membuat tenaga dalamnya sempat tersendat. dengan ilmu yang dinamai ajian 'Balung Geni Waja' dia balas menghujani Panglima Istana Kiri hingga untuk sementara pertarungan kedua pihak cukup berimbang.
Agak terpisah dari sana berdiri seorang tua berjubah dan bersorban putih. dengan kedua mata terpejam dia terus memutar tasbih biru yang berada ditangan kanannya. dari bibir orang tua bernama Kyai Jabar Seto itu terdengar lantunan dzikir dan bacaan ayat- ayat suci. udara di seputaran daerah sekitar dia berdiri terasa lebih sejuk dan tenang.
Beberapa langkah di depan sang Kyai nampak seorang lelaki gemuk pendek dengan muka lebar dan berminyak. bibir tebalnya yang kehitaman hampir selalu meneteskan air liur menjijikkan. orang bertampang mesum itu cuma memakai celana putih yang sudah kumal juga bau sehingga terlihat kulitnya yang ditumbuhi sisik berkilat kehitaman mirip lempengan besi.
Lelaki lima puluhan tahun bertampang mesum itu terlihat agak gelisah meskipun terus sunggingkan senyuman mengejek atas semua yang dilakukan Kyai Jabar Seto. dengan satu isyarat tangan pesilat dari selat Karimata yang di juluki 'Datuk Cebol Naga Guling' ini memberi perintah belasan anak buahnya untuk menyerbu. sebagai manusia licik dia berniat untuk menjajajal dulu tingkat kesaktian lawannya dengan memakai orang lain sebagai pancingan.
Dengan membekal senjata tombak pendek bermata gergaji di tangan, belasan anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis menyerbu ke depan. dari kilatan cahaya hitam di ujung senjata itu juga angin tajam yang menusuk dapat dipastikan kalau ilmu silat para bawahan dari 13 Pembunuh itu sudah mengalami peningkatan sejak mereka meminum ramuan obat dengan campuran 'Darah Keabadian'.
Tapi sangat disayangkan sekarang ini lawan mereka bukanlah pesilat sembarangan. bekas salah satu Kulubalang kepala pasukan 'Istana Angsa Emas' bernama Kyai Jabar Seto ini punya kemampuan sangat hebat. tasbih biru ditangannya berputar tiga kali lalu menyapu ke muka. lingkaran- lingkaran cahaya kebiruan melesat cepat menahan hujan tombak lawan yang datang menerjang.
'Whuuukk., whuuut., whuuut.!'
'Traaaang., traaang., craaang.!'
''Uuaagh., Aaakh.!''
__ADS_1
Bentrokan senjata dan ilmu kesaktian terjadi. keluhan tertahan terdengar bersama belasan Tombak gergaji yang bermentalan begitu juga pemiliknya. sungguh mereka tidak mengira lingkaran cahaya biru dari kalung tasbih itu mampu membentengi tubuh lawan dan menghantam balik. biarpun terperanjat mereka kembali balas menyerbu dengan lipat gandakan tenaga serangan.
Hanya berselang dua kejapan mata saja Datuk Cebol Naga Guling sudah turut pula bergerak. dia sengaja berlindung di belakang tubuh anak buahnya agar tidak mudah terlihat. sambil tubuh bergulingan di atas tanah seperti putaran roda kereta, orang ini mengincar titik sasaran. dari bawah dia mulai lancarkan serangan ganas.
Sepasang tangannya yang memiliki cakar- cakar hitam beracun membabat lurus lalu mencengkeram. di iringi suara raungan buas sepuluh cahaya hitam berbentuk cakar naga merobek ke atas udara. inilah jurus 'Cakar Siluman Naga Guling' yang selama ini menjadi salah satu ilmu andalannya.
Kyai Jabar Seto menatap tajam serbuan lawannya. tasbih birunya kembali berputar dan menyambar- nyambar membentuk lingkaran- lingkaran perisai bersinar kebiruan. tasbih yang terbuat dari bebatuan itu bukan saja sanggup menahan serangan tombak malah separuh diantaranya dapat dibuat patah berikut tangan si pemilik.
Dengan lebih dulu membaca sebaris doa, Kyai Jabar Seto lemparkan tasbih birunya ke depan. secara hebat senjata itu mampu membesar beberapa kali lipat seolah membentuk ikatan rantai besar bersinar kebiruan yang hendak melibas habis ilmu kesaktian si Datuk Cebol Naga Guling sekaligus menjerat hancur tubuhnya.
Terakhir kalinya Kyai Jabar Seto terpaksa menggunakan ilmu kesaktian yang dinamai 'Belenggu Jiwa Langit dan Bumi' ini saat dia bersama I Gede Kalacandra menghadapi keganasan 'Siluman Kelelawar Penghisap Darah' yang menginginkan darah Satriyana beberapa waktu lalu.
Pesilat yang berdiam dalam sebuah pulau kecil di selat Karimata itu menggembor buas melihat keadaan belasan anak buahnya yang menyerbu Kyai Jabar Seto. lima orang tewas tujuh sisanya terluka cukup parah. meskipun dalam serangannya Kyai Jabar Seto lebih mengandalkan kesaktian senjata tasbih birunya namun saat berada dalam kepungan tombak lawannya tangan dan kaki orang tua itu juga tidak tinggal diam.
Empat pukulan telapak disusul tiga jotosan kepalan yang diakhiri sebuah sapuan kaki melingkar dengan pengerahan tenaga dalam tinggi langsung membuat pengeroyoknya terjungkal roboh. Datuk Cebol Naga Guling tidak dapat berpikir lebih jauh karena jurus cakarnya sudah bentrok dengan tasbih sakti Kyai Jabar Seto yang berubah seolah belitan rantai raksasa.!
*****
Maaf selalu telat up date., silahkan tuliskan komentar Anda yah., Terima kasih🙏.
__ADS_1