
"Kelihatannya kusir kuda andalan kita baru saja mendapatkan ikan duyung bakar yang sangat besar.,!'' gurau Satriyana. karuan saja Sabarewang melotot dan ngomel- ngomel.
"Sekarang bukan waktunya bercanda tahu., wanita ini kutemukan tersangkut diantara bebatuan dekat muara sungai. tubuhnya penuh dengan luka bakar..'' ujar Sabarewang.
"Awalnya kukira dia sudah jadi mayat, tapi saat kuperiksa denyut nadinya masih terasa meskipun sangat lemah..'' tambahnya dengan nafas sedikit terengah.
"Apakah sudah kau berikan tambahan tenaga dalam padanya.?'' tanya Respati. lelaki kekar bekas anggota kelompok garuda merah ini cuma mengangguk sambil memberikan karung berisi ikan hasilnya memancing pada Satriyana.
Bersama dengan Respati dia ikut mengamati Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun yang dengan cekatan memeriksa setiap jengkal anggota tubuh orang yang terbaring lemah di lantai kereta kuda dan hanya berbalut sehelai pakaian dalam kain kuning yang sudah koyak bekas terbakar.
Roro menarik lepas pakain dalam yang basah kuyup itu untuk memeriksa bagian dadanya yang memar dan sedikit melepuh. kini sosok perempuan ini telanjang bulat. meskipun tubuhnya penuh luka memar dan melepuh, tapi sosok perempuan telanjang ini tetaplah sangat menggiurkan tubuhnya.
"Wah, wah., kurasa tubuh ini cukup indah untuk ukuran seorang wanita.!'' puji Roro kagum. "Yah kau benar..'' gumam Respati. "Aku malah baru menyadarinya.,'' tambah Sabarewang sembari mengusap brewoknya.
"Jadi sampai kapan kalian berdua berada di situ., apa belum pernah melihat wanita sedang telanjang.,?'' damprat Dewi Malam Beracun saat menyadari Respati dan Sabarewang masih berdiri termangu melihat tubuh polos perempuan itu. seketika kedua orang lelaki ini balikkan tubuh lalu ngeloyor pergi sembari terkekeh.
"Aku akan memasak ikan dan kepiting bakau bersama Satriyana., kau mau ikut.?'' tanya Sabarewang. "Kurasa boleh juga., lagi pula aku tidak yakin kalau anak perempuan nakal itu bisa memasak..'' jawab Respati.
Di bawah sebatang pohon Satriyana terlihat sibuk mengatur perapian. sesekali dia terbatuk mukanya terlihat kotor terkena asap. hanya sebagian kecil ikan yang sudah disiangi sisanya masih utuh bahkan beberapa terlihat menggelepar hidup. "Eeh kalian berdua., tolong bantu aku mengurusi ikan- ikan ini, aduh., ribet banget.!''
__ADS_1
"Hak., ha., baru kali ini kutemui ada anak gadis yang tidak bisa masak. mungkin kelak kau bakalan susah dapat jodoh.!'' olok Sabarewang tertawa. "Kan sudah aku bilang kalau anak ini tidak bisa memasak., lihat mengatur arang api saja sampai berlepotan begitu..'' sindir Respati. karuan Satriyana merengut. "Kalian berdua cuma bisa mengolokku saja., jangan banyak bicara lagi cepat tolong aku.!''
Sabarewang jadi tidak tega, dengan cekatan dibersihkannya belasan ekor ikan besar itu dengan menggunakan pisau. Respati turut duduk disamping Satriyana, tangannya lembut mengusap kening gadis remaja itu yang kotor berkeringat. dia tersenyum senang sambil sandarkan dirinya kebahu pemuda ini, "Ehm., kalian berdua kerjakan dulu semuanya yah, aku mau mandi dan cuci baju dulu.,'' katanya sambil berlari membawa buntalan pakaiannya.
"Tingkahnya mulai mirip Dewi Malam Beracun yang suka merayu dan memerintah orang sesukanya..'' Sabarewang mengomel sambil mengatur perapian yang mulai membesar. sementara Respati ganti sibuk membersihkan sisik dan isi perut ikan dengan memakai sebilah pisau tajam.
Melihat bentuk pisau yang ada ditangannya, pemuda ini jadi teringat pada kejadian masa lampau yang telah merubah jalan hidupnya. karena hampir sepuluh tahun silam, pisau seperti inilah yang pernah menikam dadanya.
Di dalam kegelapan malam ditengah sebuah hutan lebat, sesosok tubuh manusia terlihat terbaring lemah, bagian dadanya basahi oleh darah, hingga bajunya yang tadi berwarna putih terlihat penuh bercak merah.
Kalau dilihat sosok tubuh ini masih sangat muda. mungkin belum ada lima belas tahun. yang mengejutkan adalah disekeliling tubuh pemuda tanggung ini bergelimpangan mati belasan ekor serigala hutan. lalu siapa yang telah menghabisi kawanan binatang buas itu?
Hanya berselisih tiga kedipan mata saja, diantara belasan ekor serigala yang sudah jadi bangkai itu.ternyata ada satu yang juga masih hidup, bukan saja hidup tapi juga bangkit segar bugar, binatang ini tidak terluka sedikitpun. sepasang matanya yang tajam kemerahan menatap sekeliling tempat, lolongan pelan keluar bersama air liur yang menetes dari mulutnya yang penuh gigi- gigi tajam. mungkin binatang ini sedang berduka melihat seluruh kawanannya mati.
Sepasang mata merah menatap tajam penuh dendam dan kelaparan pada sosok tubuh yang masih menggeliat lemah, meskipun matanya sudah terbuka dan mampu melihat sekelilingnya tapi tubuh si pemuda tanggung tetap terbujur. dia sadar maut sedang mengintai tapi dengan keadaan tubuhnya sekarang ini dia tidak akan mampu berbuat banyak. tapi bukan berarti si pemuda tanggung cuma pasrah.
Tidak., dia bukan anak cengeng yang gampang menyerah, pada umur tiga belas tahun dia sudah mampu membunuh lima orang manusia, sekaligus membakarnya hidup- hidup.!
"Serigala lapar sedang mendekatimu., sebentar lagi kau bakalan jadi santapannya.!'' terdengar satu suara lirih bagai dengungan nyamuk mengiang ditelinga si pemuda. dia tidak tahu siapa yang berbicara dengannya. mungkinkah suara siluman penghuni hutan, atau malah malaikat maut pencabut nyawa?
__ADS_1
"Heeh bocah tolol., sampai kapan kau enak- enakan tidur diatas rumput begitu., apakah kau bosan hidup.?'' kembali terdengar suara mendengung lirih. pemuda ini tidak perduli lagi siapa yang berbicara dengannya, karena lebih penting lagi untuk menyelamatkan nyawanya. binatang buas sudah melangkah mendekatinya dari sebelah kiri.
Serigala besar itu menggeram, air liurnya menetes dari ujung lidahnya yang terjulur keluar. jarak diantara keduanya hanya terpaut tiga empat langkah saja. pemuda ini sudah mengambil keputusan, dia tidak mungkin beradu tenaga dengan binatang itu. pemuda tanggung ini sadar kemungkinannya untuk selamat hampir tidak ada, dia seakan sudah tercatat sebagai mayat.
Tapi kesempatan hidupnya yang cuma segaris tipis harus tetap digunakan. tangan kirinya mengusap darah yang membasahi dadanya hingga tangan itupun basah oleh darah yang anyir lalu diam menunggu. dia hanya punya satu kesempatan, satu gerakan, satu putusan hidup atau mati.!
Dengan keluarkan suara melolong buas, serigala besar itu menerjang ganas, tangan kiri si pemuda yang terkepal dibasahi darah itu terangkat lurus kedepan, apakah dia lebih memilih mengorbankan tangan kirinya dari pada kehilangan nyawanya.?
Kepalan tangan kiri yang diselimuti darah berbau anyir menarik perhatian dan nafsu liar binatang buas itu. mulutnya yang penuh gigi tajam dan bertaring melahap tangan sipemuda hingga melebihi pergelangan. darah muncrat membasahi moncong besar serigala itu.
''Aaaarhk., Aaahk.,!''
Pemuda itu menjerit kesakitan. tapi dia harus tetap bertahan dan sadar karena ini cuma gerakan pancingan belaka, maka saat kepalan tangan kirinya yang sudah berada di dalam mulut serigala bergerak, ganti binatang buas itu yang meraung setinggi langit. dari dalam mulutnya tersembur darah segar beserta potongan lidahnya sendiri.!
Tubuh serigala buas itu berguling- gulingan, berputar menyeruduk kesegala arah. darah terus menetes dari mulutnya yang tidak lagi mampu menjulurkan lidahnya, sampai pada suatu titik dimana binatang itu tergelimpang mati kehabisan darah. pemuda itu cuma diam karena terlalu lelah. pisau tajam yang ada dibalik kepalan tangan kirinya terlepas dari genggaman. tapi dia tahu kalau sudah menang dalam bertahan hidup.
"Hak., ha., sungguh anak yang menarik. jarang ada bocah yang bodoh, nekat, tapi kuat sekaligus cerdik sepertimu.!'' berseru seseorang dengan dibarengi turunnya sesosok tubuh manusia dari atas sebatang pohon.
Pandangan mata pemuda itu mulai lamur, tapi masih sanggup melihat dibawah cahaya terang sinar rembulan. tiga langkah dari sebelah kanan tubuhnya kini berdiri seorang laki- laki berbaju gelap. meskipun wajahnya tidak terlihat tapi orang bertubuh rada pendek ini sudah agak berumur. kedua tangannya yang terlihat cukup kekar dan panjang namun nampak lemas terjuntai ke bawah.
__ADS_1
Sempat terlihat oleh si pemuda kalau jempolan dan jari telunjuk tangan kanan orang ini buntung. sebelum pingsan dia masih bisa merasakan kalau tubuhnya diangkat seseorang dan dibawa melayang pergi meninggalkan hutan itu.