13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dasar Pengintip.,


__ADS_3

Sepasang mata Respati mengernyit, saat melihat ada dua orang asing sedang mengendap dibalik rimbunan semak belukar tidak jauh dari sungai tempat Roro dan Satriyana mandi. ''Hhmm., dua orang itu rupanya sudah bosan hidup. aku saja cuma berani melihat dari kejauhan, tapi mereka malah nekat mengintip sedekat itu..'' pikirnya geleng- geleng kepala.


''Eeh adikku., kau tahu tidak kalau ada tiga cecunguk jelek sedang mengintip kita.?'' bisik Roro Wulandari pada Satriyana sambil menggosok bahunya yang putih mulus dengan bungkusan kain berisi bunga dan rempah wangi. Satiyana cuma menganguk ''Aku sudah tahu sejak awal, biarkan saja toh sebentar lagi mereka bakalan mati.!'' dengus gadis itu sambil angkat paha kakinya ke permukaan air sakaan sengaja menggoda para pengintipnya. Roro tersenyum simpul, ''Anak ini sudah semakin mirip denganku, berani memancing nafsu orang, lalu balik menghajar tanpa ampun., Bagus juga.!''


''Kakak Dewi., kurasa mereka sudah cukup kita beri tontonan bagus, saatnya menagih bayarannya..'' gumam Satriyana menyeringai licik. bersamaan tubuh kedua wanita ini mencelat tinggi udara. air sungai turut semburat ke atas, di sana kedua tubuh indah itu sempat berputar sekali lalu meluncur cepat menyambar pakaiannya yang ada di atas batu tepi sungai.


Yang mereka ambil bukan pakaian penutup tubuh, melainkan kipas perak dan senjata anak panah yang ada di atasnya. sekali lempar kipas perak itu sudah meluncur deras memapras semak belukar yang ada di sebelah kanan. disusul tiga buah anak panah ungu yang menyambar susul menyusul menembusi rimbunan semak. di jurusan sana terdengar suara benturan senjata disertai jeritan ngeri.


Dengan tubuh masih dibasahi air keduanya bergerak cepat memakai pakaiannya. sekali putaran saja tubuh Roro dan Satriyana sudah berbalut pakaian hitam.


Dua orang pengintip itu rupanya cukup punya bekal ilmu silat, terbukti mereka masih sempat menangkis kipas perak dan panah yang di lepaskan kedua perempuan itu dengan pedangnya, sebelum akhirnya mereka roboh dengan dada tertembus panas ungu serta leher robek nyaris putus di babat kipas perak terbang.!


''Siapa mereka ini., berbaju kuning celana hitam, Eeh., ada lambang seekor angsa emas dibagian dada baju mereka. apakah keduanya dari Istana Angsa Emas.?'' guman Roro Wulandari sambil menangkap kembali kipas peraknya. ''Kakak Dewi., kalau benar mereka dari istana Angsa Emas, kurasa mereka sengaja diperintah oleh tiga orang panglima itu untuk mengikuti kita secara diam- diam. mungkin ketiga orang itu masih merasa penasaran dan curiga dengan kita. Cuih sialan., membuat aku semakin kesal saja. menyebalkan.!'' Satriyana meludah.


''Eeh., tadi kakak bilang ada tiga orang pengintip, tapi kenapa disini cuma ada dua orang.?''


Roro Wulandari menunjuk ke satu arah ''Tuh., dia sedang enak- enakan nangkring diatas pohon sana. Hoi Respati., menurutmu tubuh kami berdua bagus tidak.?'' seru Dewi Malam Beracun terkikik sengaja menggoda.


Seketika Satriyana melihat ke arah sana, meskipun cukup jauh tapi mata tajamnya dapat melihat sosok berbaju putih yang berada di atas pohon ''Kakang Respati., kau ternyata bajingan tukang intip. awas nanti., tunggu pembalasanku, dasar buaya, kadal buntung mesum.!'' teriaknya garang. Respati cepat berkelebat turun kebawah. ''Aduh celaka., aku ketahuan.!'' keluhnya malu lalu menghilang.


Di sebuah pulau terpencil yang terletak di utara selat sunda, terlihat seorang tua berjubah kuning emas dengan rambut putih panjang menjela sedang berdiri menghadap ke arah lautan yang terlihat tenang. hari itu masih pagi, matahari juga baru sepenanak nasi muncul dari ufuk timur. sepasang mata orang tua itu yang tadinya terpejam kini terbuka menyorot tajam, kulit wajahnya yang penuh keriput memancarkan kewibawaan.


Seekor burung elang laut terlihat berputar melayang tinggi di udara sedang mengincar mangsa, saat dia menukik deras kebawah sayapnya sedikit mengatup hingga tiba di permukaan air. bersamaan kedua cakarnya menyambar sayapnya juga terentang lebar. elang itu kembali terbang dengan cakar mencengkeram seekor ular laut yang berbisa.

__ADS_1


Walaupun dari jarak yang cukup jauh tapi orang tua itu dapat melihat kalau ada seekor ikan yang terlepas dari mulut si ular yang berkali- kali mematuk kaki sang elang sambil mengeluarkan bisanya berusaha untuk melepaskan diri. tapi elang itu terus saja terbang tinggi dengan keluarkan pekikan nyaring dan lenyap dari pandangan.


''Hhm., ular laut berbisa yang memakan ikan dan burung elang yang memangsa si ular. dari pemangsa dan yang di mangsa. selalu ada korban dalam setiap persaingan. tapi setidaknya kedua binatang itu saling membunuh hanya untuk bertahan hidup. sedangkan manusia, mereka kadang tega memangsa sesamanya hanya demi sebuah kesenangan..'' gumam orang tua berjubah kuning yang bagian depan dadanya tersulam seekor angsa berwarna keemasan.


''Hari ini seharusnya mereka bertiga kembali datang kemari untuk memberikan laporan., kuharap saja ada kabar bagus yang mereka bawa.."


Setelah menunggu agak lama dari kejauhan terlihat sebuah tiang layar kapal, beberapa saat kemudian muncul kapal berbendera dan berlayar kuning keemasan dengan lambang seekor angsa emas sedang merentangkan sayapnya.


Kapal itu cukup besar dan kelihatan mewah. keseluruhan badan kapal kayu itu di cat warna hitam dan kuning emas. jarak antara orang tua yang berdiri di pinggir pantai pulau karang dengan kapal besar masih ada seratus tombak lebih, tapi mata tuanya mampu melihat siapa saja yang ada di haluan kapal.


Berdiri paling depan adalah tiga orang berjubah kuning sama seperti yang dia pakai. di belakang ketiga orang itu juga ada puluhan orang lainnya yang juga berbaju seragam kuning. hanya sebentar saja kapal itu sudah merapat di sebuah dermaga kecil yang terbuat dari susunan batu karang yang memanjang dari pantai hingga jarak dua puluh tombak ke arah laut. dermaga itu berada di sebuah teluk kecil, tersembunyi diantara tonjolan karang- karang tinggi dan pepohonan bakau hingga tidak gampang terlihat.


Baru saja kapal itu bersandar di dermaga dan tali pengikat kapal juga belum turun, tiga orang jubah kuning yang berdiri paling depan itu sudah berkelebat turun dan bergerak cepat diatas tonjolan karang dermaga. dalam sekejab saja ketiganya sudah tiba di hadapan orang tua berjubah kuning itu dan langsung membungkuk hormat.


''Sudah cukup basa- basinya, kita sedang diburu waktu. suruh orang- orang kita untuk bersembunyi dan berjaga di sini..'' potong orang tua yang di sebut sebagai Tuan Sesepuh Pelindung Istana itu sambil putar tubuhnya melangkah pergi. tiga orang jubah kuning yang bukan lain adalah Panglima Istana kiri, Panglima Istana Tengah, dan Panglima Istana Kanan itu sebentar saling pandang, bersamaan beberapa orang anak buahnya juga sudah tiba disana. mereka membawa sesosok tubuh yang dalam keadaan terikat di atas tandu dan tertotok pingsan, berjubah hitam robek- robek dan bernoda darah.


Satu keanehan sekaligus keseraman terlihat pada kedua kaki orang ini yang umurnya mungkin lima puluh tahunan. meskipun dia bertubuh tinggi kurus, tapi justru memiliki sepasang kaki yang besar kokoh seperti batangan besi dan berselimut aura kehitaman. di pergelangan kakinya masing- masing seperti sengaja diganduli rantai besi dan tengkorak manusia yang juga berwarna hitam. bahkan sumber hawa hitam yang ada di kaki besar itu seakan berasal dari kedua tengkorak itu.


''Kalian bawa masuk orang ini ke dalam, yang lainnya tunggu diluar. jangan membiarkan siapapun masuk ke dalam jika tidak ada ijin dari kami.!'' perintah Panglima Istana Kanan yang tubuhnya tinggi besar kepada para bawahannya yang semuanya memakai pakaian seragam kuning bercelana hitam serta membekal pedang di punggungnya itu. orang- orang yang separuh wajahnya tertutup selembar kain hitam itu sama mengangguk hormat.


Bersama dengan kedua rekannya mereka bertiga langsung bergerak menyusul Tuan Sesepuh Pelindung Istana. dari keadaan itu maka dapat di pastikan kalau semua orang yang ada disana adalah para anggota perkumpulan rahasia Istana Angsa Emas.


Setelah melewati celah- celah tonjolan karang para anggota istana Angsa Emas itupun sampai di depan sebuah goa batu. tanpa ragu mereka langsung masuk kedalam goa yang cukup dalam dan berkelok.

__ADS_1


Setelah berjalan hampir seratus langkah mereka tiba di ujung lorong goa yang ternyata buntu.


Panglima Istana Kiri cepat maju kedepan, tangannya meraba dinding atas ujung goa itu lalu menekan sesuatu. terdengar bunyi roda berputar dan gemerincing rantai yang diiringi bergesernya dinding goa. kini didepan mereka terbentang sebuah ruangan batu yang cukup luas. terdapat sebuah kolam di tengah ruangan goa. sebuah jembatan batu melintang di tengah kolam yang nampak mengeluarkan asap panas itu.


Di seberang ruangan goa melewati kolam terlihat lima buah lorong goa batu yang bagian atasnya terpahat patung seekor angsa sedang merentang sayap.


''Kalian berempat berjaga di sini., berikan orang itu padaku..'' kata Panglima Istana Kanan. empat anak buahnya menurunkan tandu kayu. sekali sentakan tangan tubuh orang di atas tandu sudah beralih ke bahu kirinya yang kekar, lalu dia mendahului masuk ke dalam lorong goa nomor tiga yang ada di tengah di susul kedua rekannya. sebelum masuk Panglima Istana Kiri sempat meraba dinding atas goa nomor tiga itu. kembali terdengar suara gemerincing rantai dan putaran roda. dinding goa kembali bergeser, ujung lorong itupun kembali buntu.


Tiga orang ini terus berjalan cepat. ada satu cahaya terang di ujung lorong goa nomor tiga itu. mereka serentak berhenti melangkah saat tiba di sebuah ruangan luas bercahaya kuning terang. di depan mereka terlihat sebuah patung seekor angsa raksasa yang terbuat dari emas sedang merentangkan sayapnya. tepat di depan patung itu ada tiga buah kursi besar berukiran seekor angsa yang juga terbuat dari emas yang sangat indah. kursi yang ada di tengah terlihat lebih besar, tinggi dan agung mirip sebuah singgasana raja. kedua benda itu sengaja di letakkan di bagian lantai goa yang lebih tinggi. pantulan cahaya terang dari ratusan batuan aneh yang menancap di dinding dan atap goa membuat kursi emas itu berkilauan.


''Siapa orang yang sedang kalian bawa itu., apakah kalian bertiga sudah lupa aturan dilarang keras membawa orang luar kemari.!'' terdengar suara bentakan keras dari bibir seorang tua yang berdiri di bawah kursi singgasana itu. serentak ketiga orang panglima istana Angsa Emas itu membungkuk ''Harap maafmu Tuan Sesepuh Pelindung Istana., orang yang kami bawa ini bisa jadi kunci pembuka untuk mengetahui rahasia kelompok 13 Pembunuh..'' jawab Panglima Istana Kiri, sementara rekannya menurunkan sosok tubuh yang ada dalam panggulannya.


''Aku menunggu penjelasan kalian bertiga.!'' ucap orang tua itu sambil putar tubuhnya. Panglima Istana Kanan dan Kiri melirik rekannya yang ada di tengah. wanita cantik bercadar kuning yang sedari awal diam seakan gugup tersadar dari lamunan.


''Eehm., maafkan saya yang mulia sesepuh, sebenarnya sayalah yang telah menemukan orang ini. waktu itu seorang mata- mata kita melaporkan kalau tanpa sengaja dia mendengar ada suara pertarungan sengit yang terjadi di dalam sebuah rumah besar..''


''Rumah itu diketahui milik Nyai Sutra Malinda, seorang janda kaya yang dikenal sangat dermawan serta punya hubungan baik dengan salah satu pengeran Demak dan orang persilatan..'' tutur Panglima Istana Tengah sambil melirik orang pingsan yang tertotok.


''Lantas apa hubungannya dengan kita, jangan bicara bertele- tele.!'' tegur orang tua itu. ''Baik tuan sesepuh., karena Nyai Sutra Malinda dikenal sangat baik hati maka kami berniat memberikan pertolongan bila diperlukan. saat itu sudah hampir tengah malam, begitu mendapat laporan saya dan beberapa anak buah diam- diam mengintai kesana. tapi kami terlambat karena yang kami temui cuma mayat Nyai Sutra Malinda dan puluhan orang lainnya. semuanya mati terbunuh..''


''Saat hendak tinggalkan tempat, tanpa sengaja saya melihat orang ini, mulanya kukira dia juga sudah mati, tapi terdengar erangan lirih dari mulutnya pertanda dia masih hidup. dari dandanan dan keadaan kakinya saya bisa memastikan kalau orang inilah yang dijuluki sebagai si 'Kaki Tumbal.!''


''Pesilat yang suka berbuat keonaran dan ikut campur urusan orang ini sama di benci oleh aliran putih maupun hitam. menurut kabar sejak empat bulan belakangan manusia ini telah diangkat sebagai pembunuh nomor tiga dari kelompok 13 Pembunuh. atas dasar itulah saya berusaha menyelamatkan nyawanya dengan harapan kita bisa mengorek keterangan soal rahasia kelompok itu darinya..'' ujar Panglima Istana Tengah mengakhiri keterangannya.

__ADS_1


__ADS_2