
Sabarewang dan Satriyana terperangah saat mendengar Respati menyebutkan nama 'Persekutuan Bulan Perak.' lebih kaget lagi mengatahui kalau sang ketua perkumpulan rahasia itu bukan lain adalah Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun. wanita cantik yang hampir empat bulan belakangan ini selalu bersama dengan mereka.!
Meskipun Sabarewang juga Satriyana hanya sepintas saja mendengar nama persekutuan Bulan Perak, namun mereka berdua tahu kalau perkumpulan itu sudah sering kali menyatroni rumah- rumah kaum bangsawan dan orang- orang kaya yang kikir serta tamak yang sering tidak perduli pada kaum miskin untuk diambil sebagian harta bendanya.
Dari apa yang mereka dengar, anggota perkumpulan ini menggunakan hasil curian mereka untuk membantu orang- orang melarat yang sedang kesusahan hidupnya.
Kabarnya para juragan kikir dan pejabat tamak di keraton baik dari wilayah barat maupun timur yang merasa terancam pernah beberapa kali bersaha menangkap mereka. tapi sejauh ini para anggota persekutuan Bulan Perak selalu saja lolos. setiap kali mereka hendak dijebak, para anggota Bulan Perak seakan sudah tahu dan menghilang tanpa jejak.
Rupanya Roro Wulandari yang terkenal punya hubungan luas dan kenalan rahsia dengan para pejabat keraton telah lebih dahulu mengetahuinya. dia sengaja menyusupkan mata- mata di dalam beberapa keluarga pembesar keraton itu sebagai mata telinganya. maka tidaklah mengherankan kalau nama persekutuan Bulan Perak menjadi sangat dipuja kaum miskin, namun sebaliknya di benci setengah mati oleh sebagian keluarga pejabat bangsawan keraton serta orang- orang kaya yang kikir dan tamak.
''Sekarang masalah kakakku Rumilah dan pondok pengobatan Mata Hati miliknya sudah ada yang mengurusi, aku yakin orang- orangku mampu melaksanakan semua tugasnya dengan baik..''
''Kalian sekarang sudah mengetahui soal persekutuan Bulan Perak yang aku pimpin., aku mohon kalian bertiga Bisa menjaga rahasia ini jangan sampai ada yang tahu. dunia saat ini sedang kacau, kemiskinan, kelaparan dan kesengsaraan merajalela..'' pinta Roro sambil membungkuk. Satriyana dan Sabarewang tidak menyangka Roro yang tinggi hati sampai mau membungkuk dan memohon di hadapan mereka bertiga.
__ADS_1
''Nyi Dewi tidak perlu khawatir., meskipun sangat mengejutkan hati, kami semua pasti akan menjaga rahasia persekutuan Bulan Perak ini.!'' jawab Sabarewang tegas. ''Kakak Roro hebat., sungguh penuh rahasia..'' seru Satriyana kagum, acungkan ibu jarinya.
''Apapun alasannya., mencuri bukanlah suatu perbuatan yang bisa di benarkan. tapi dalam keadaan terpaksa dan demi menolong orang banyak yang menderita akibat kekacauan di negeri ini, kurasa hal itu bisa dimaklumi..'' ucap Respati seraya lengannya menarik bahu wanita itu ke pelukannya, membuat wajah cantik tersenyum malu dan wajahnya merona kemerahan.
''Aku tahu betul., biarpun di dunia luar orang mengenal Dewi Malam Beracun sebagai seorang pembunuh bayaran yang kejam dan licik. tapi sesungguhnya didalam hatinya Roro Wulandari adalah seorang yang penuh rasa sayang dan perhatian pada kesusahan orang lain., aku bangga padamu Roro..'' bisik pemuda itu sambil tanpa malu mencium kening sepupu jauhnya itu di depan kedua rekannya yang saling pandang tersenyum.
''Kau., kau ini apa sih., apa tidak malu berbuat begini di depan mereka berdua.?'' katanya pura- pura marah, tapi dia sendiri justru semakin merapat ke dalam pelukan Respati.
''Nyi Dewi untuk malam ini mau makan apa., biar aku dan tuan putri nakal ini yang menyiapkannya..'' tanya Sabarewang. ''Benar kakak Dewi., kita semuanya belum makan malam, perutku juga sudah lapar..'' sambung Satriyana terkikik menepuk perutnya.
Di selatan tanah jawa, jauh di tengah lautan luas. ada sebuah pulau terpencil yang hampir tidak pernah di ketahui orang luar. pulau yang penuh binatang dan tumbuhan beracun., Pulau Seribu Bisa.!
Dua orang nenek tua itu berdiri setengah terbungkuk di hadapan sesosok manusia berjubah kuning bersulaman seekor angsa emas, yang duduk diatas sebuah kursi tinggi. wajah manusia tinggi besar ini tidak terlihat karena tertutup sebuah topeng perak berbentuk tengkorak menyeramkan. beberapa langkah di belakang si topeng tengkorak, juga berdiri seorang lelaki kurus berparas dingin kejam dan berlengan buntung sebelah.
__ADS_1
Antara dua orang nenek tua dan si topeng tengkorak di pisahkan oleh sebuah meja bundar besar terbuat dari batu pualam putih. entah sudah berapa lama mereka saling diam berhadapan tanpa bicara atau berbuat sesuatu.
Nenek tua yang berdiri agak terbungkuk di sebelah kiri memakai sebuah jubah panjang dan kerudung penutup kepala warna putih. di tangan kirinya terlihat menjinjing sebuah keranjang rotan yang di tutupi selembar kain hitam. meskipun renta dan terlihat ringkih, tapi wajah si nenek tua menyiratkan hawa jahat dan culas.
Seorang lagi yang berdiri di sebelah kanan adalah nenek tua berjubah hitam. wajahnya sedikit mendongak miring ke kiri. rambutnya yang putih diikat secarik kain berwarna merah.ada satu goresan bekas sabetan senjata tajam melintang di kedua matanya melewati tulang hidung. nenek ini seorang yang buta. sebatang tongkat berwarna kemerahan tergenggam di tangannya yang kurus keriput.
''Bertahun- tahun lamanya kutinggalkan tempat ini, meskipun mataku buta tapi dapat kurasakan jika semuanya masih tetap seperti dulu., sungguh membosankan.!'' ujar si nenek buta bertongkat merah.
''Memangnya apalagi yang bisa kau dapatkan dari tempat terpencil seperti ini kecuali kehidupan yang menjemukan. karenanya belasan tahun silam akupun keluar dari sini..'' sahut nenek yang membawa keranjang rotan sambil menyeringai sinis.
''Hak., ha., ha., bertahun- tahun kita tidak bertemu, tapi sikap kalian dua orang nenek peot masih saja sombong jumawa., tapi tak apalah, aku suka itu..'' berkata si topeng tengkorak sambil bergelak tawa. saat bicara suaranya serasa menggaung menyeramkan seakan berasal dari dunia lain. diam- diam kedua nenek ini terkesiap, dalam hati mereka membatin ''Manusia misterius ini masih saja menakutkan, bahkan kurasa tingkat ilmunya juga semakin sulit di ukur..''
''Wahai Ketua kelompok 13 Pembunuh., ada urusan apa sampai kau memintaku dan Nyai Bawang datang kembali ke pulau Seribu Bisa ini.?'' bertanya si nenek buta sambil gebrakkan tongkat merahnya hingga tanah di sekitarnya bergetar.
__ADS_1
''Hik., hik., hi., mungkin dia sudah kehabisan orang- orang tolol yang dapat dia peralat sebagai seorang pembunuh, hingga terpaksa harus kembali memanggil anggota lama seperti kita berdua.!'' ujar nenek berkerudung kain putih terkikik seperti kuntilanak. di ujung tawanya sebelah tangan si nenek merogoh sesuatu dari balik keranjang rotannya yang tertutup kain hitam.