13 Pembunuh

13 Pembunuh
Orang yang sama.


__ADS_3

Birunaka masih terbaring di atas lantai kayu kereta kuda, meskipun sudah tersadar dari pingsannya tapi tubuh pemuda ini masih terasa lemah. sepasang mata pemuda itu menatap Satriyana dengan pandangan penuh pertanyaan. gadis itu seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran si pemuda.


''Apa kau ingin bertanya kenapa kakiku punya ciri sama denganmu, jari manis dan tengah sama panjang tapi cuma berbeda kiri kanan.?''


''Dengarkan., dari lahir aku sudah seperti ini., soal apakah kita berdua berasal dari garis keturunan keluarga yang sama atau tidak, itu bisa kita bicarakan nanti setelah kau benar- benar pulih..'' ujar Satriyana sambil bergegas keluar dari dalam kereta kuda. agaknya gadis itu belum ingin bicara soal keluarganya dan saling terbuka dengan Birunaka.


Roro Wulandari agak tertegun melihat sikap adik angkatnya yang rada keras. ''Kau istirahat saja dulu, aku sudah berikan obat pemulih tenaga dan penguat tulang untukmu..'' terangnya lalu menyusul keluar kereta. kini tinggal Birunaka yang terbaring lemah dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya.


''Kalau kudengar dari perkataan gadis yang bernama Satriyana itu, sepertinya dia juga tahu dengan keluarga Istana Angsa Emas, tapi kenapa dia tidak mau berbicara terus terang.?'' batin Birunaka, terpaksa pemuda itu cuma bisa berharap bisa segera pulih agar bisa saling bicara terbuka dengan Satriyana.


Satriyana berdiri melamun di tepi sungai kecil. Respati dan Roro saling pandang tak jauh di belakang si gadis. keduanya mengerti kalau Satriyana sedang butuh waktu untuk menenangkan diri.


''Sebaiknya kita biarkan saja dia sendirian dulu, aku juga ingin bicara denganmu..'' bisik Respati balikkan badannya sambil meraih lengan Dewi Malam Beracun. Roro Wulandari tersenyum mengikuti dari belakang. ''Apa yang ingin dia bicarakan., atau jangan- jangan Respati mau bicara soal masa depan kita berdua. Duuh., kenapa aku jadi malu begini yah..?'' batin Roro sambil senyum- senyum sendiri. dalam hati wanita cantik ini sudah terbentang khayalan yang indah menembus langit.


Terbayang olehnya kalau mereka kelak hidup bertiga bersama Anggana anak angkatnya di dalam sebuah rumah kecil yang berada di kaki sebuah bukit yang terpencil, dengan suara gemericik aliran sebuah sungai jernih dan berpagar taman bunga yang indah.


Di sana Anggana yang sudah bisa berjalan tertawa riang mengejar kupu- kupu. sementara dia dan Respati mengikuti dari belakang sambil berpelukan mesra. sebuah kehidupan keluarga yang sederhana namun tenang dan bahagia.

__ADS_1


''Memangnya kau hendak bicara soal apa.?'' tanya Roro manja sambil memainkan ujung rambut panjangnya yang hitam. wajahnya merona merah, bibirnya menyungging senyum malu. Respati yang baru duduk diatas sebuah batu merasa perempuan ini bertingkah rada aneh.


''Tentu saja untuk bicara soal peti kayu cendana hitam., aku sedang berpikir siapa orang yang telah memberikan peti itu kepada Ki Jarot Winongko, kakek Satriyana..?''


Roro langsung terhenyak, khayalan indahnya buyar seketika, air mukanya merah padam semburat geram. ''Jadi kau cuma mau bicara soal itu..?'' bentaknya sewot hingga Respati hampir jatuh terjengkang saking kagetnya.


''Memangnya soal apa lagi yang perlu kita bicarakan., kau ini bertingkah aneh..!''


Dewi Malam Beracun palingkan wajahnya. ''Dasar lelaki patung, dingin, tolol dan tidak mengerti perasaan wanita. menyebalkan.!'' gumamnya menahan geram.


''Hei Roro., kau ini bicara apa, sepertinya dari tadi dirimu terlihat kesal. atau jangan- jangan kau sedang datang bulan yah..?''


Sesaat keduanya cuma saling diam, seperti biasa Respati yang mesti mengalah untuk mulai bicara. ''Duduklah dulu disini, kalau ada masalah kita bisa bicarakan baik- baik..'' bujuk si pemuda. wanita ini mendengus kesal tapi menurut saja saat Respati menarik lembut tangannya. kini mereka duduk bersandingan. udara siang di tepian hutan itu terasa panas, dengan ujung lengan bajunya Respati menghapus butiran keringat yang mengalir di kening Roro.


''Huh., kau sedang mencoba merayuku yah.?'' tanyanya sambil kibaskan tangan Respati.


''Aku tidak tahu telah melakukan kesalahan apa lagi padamu, tapi setulusnya diriku meminta maaf., apa kau masih marah.?'' bisik Respati sambil terus menggenggam tangan Roro Wulandari. perempuan itu cuma diam. tapi Respati tahu kalau amarahnya sudah mereda. selintas pikiran licik muncul di kepalanya.

__ADS_1


''Kenapa kau cuma diam saja., apakah kau sungguh tidak bisa memaafkanku, sungguh aku paling takut kalau kau marah seperti ini..'' bisik si pemuda jarinya menggelitik ketiak wanita cantik itu. karena saat itu dia cuma memakai pakaian dalam tanpa lengan, jari si pemuda jadi leluasa menelusup. karuan saja Roro terpekik kegelian dan marah- marah. tapi bukannya berhenti malah kini kedua tangannya yang bekerja menggelitik tubuh wanita itu, tanpa sengaja jarinya menarik- narik bulu hitam halus yang tumbuh di ketiak Roro yang putih, sampai Roro menjerit kegelian, wajahnya semburat kemerahan dan nafasnya terenggah.


''Aduuh., iihh geli tahu., hentikan itu., Hik., hi., duh sudah., ampuun., Baik., baiklah aku., aku maafkan., Hik., hi., dasar licik sialan..!'' makinya tertawa.


Respati jadi tidak tega, dia meraih bahu Roro dan merengkuhnya. perempuan itu terjingkat malu saat si pemuda mencium keningnya. kalau sudah begitu Roro cuma bisa diam dan bersandar di dada lelaki pujaannya.


''Aku., aku sebenarnya tidak marah padamu, cuma., Aah sudahlah sekarang kau bisa mulai bicara soal peti itu. memangnya ada sesuatu yang aneh.?'' tanya perempuan itu sambil betulkan tali baju kutangnya yang melorot ke lengannya yang putih mulus dan berbulu halus hingga tonjolan buah dadanya yang putih montok terlihat sekilas, membuat aliran darah si pemuda sesaat berdesir lebih cepat. ''Biarpun sudah sering bersamanya dan tahu sifat binalnya, tapi baru kali ini Roro membuat darahku bergejolak., kalau begini terus diriku bisa gila memikirkannya..!'' batin Respati, sementara di luar dia berkata lain.


''Aku teringat Satriyana pernah bilang kalau peti kayu cendana hitam yang pernah dia lihat di rumah kakeknya adalah titipan dari seseorang. yang menjadi pertanyaanku adalah siapakah orang itu, apakah Satriyana mengetahuinya..?''


Dewi Malam Beracun bangkit berdiri dan berjalan mondar- mandir. ''Apa yang kau pikirkan ada benarnya, selain itu sekarang aku juga merasa kalau ketua sengaja menjadikan peti kayu palsu itu dan diri kita berdua sebagai umpan., sialan betul..!'' umpat Roro sambil mendongak bertolak pinggang.


''Satriyana juga berkata kalau peti kayu cendana hitam yang katanya asli itu berkali- kali di cari oleh pamannya tapi tidak juga di temukan, jadi menurutku kemungkinannya hanya ada dua, pertama ada orang lain yang telah mengambilnya. dan yang kedua peti itu masih ada di sana, tersembunyi entah di suatu tempat..!'' tebak Roro yakin. membuat Respati acungkan jempolnya memuji kecerdasan otak Dewi Malam Beracun. saat hendak bicara terlihat Satriyana mendatangi dengan raut muka tegang.


''Aku teringat sesuatu., dalam kitab wasiat Ki Mijun tertulis kalau pembunuh nomor tiga belas dari angkatan yang lalu adalah si Maling Nyawa, guru kakang Respati..''


''Lalu apa masalahnya..?'' tanya Sabarewang yang tiba- tiba muncul bergabung. orang ini baru saja selesai memandikan kuda penarik kereta. Respati dan Roro saling pandang ingin tahu.

__ADS_1


''Di kitab itu tertulis kalau si Maling Nyawa sangat ahli dalam mencuri dan menyamar. tapi ada satu ciri yang hampir tidak bisa dia sembunyikan, ibu jari dan telunjuk tangan kanannya buntung..'' ujar Satriyana sambil menarik nafas berat.


''Walaupun kejadiannya sudah lama dan waktu itu diriku masih kecil, tapi aku ingat betul kalau orang yang pernah bertamu ke rumah dan memberikan peti kayu cendana hitam kepada kakekku adalah orang dengan ciri yang sama alias si Maling Nyawa..!'' tutur gadis itu sambil melirik Respati yang diam tertegun. Roro tercekat dan Sabarewang garuk- garuk kepala. semua ini mulai terkuak, tapi anehnya malah makin membingungkan.


__ADS_2