
Lelaki tampan empat puluh lima tahunan yang memakai jubah hijau dan terlihat santun, lemah lembut itu tersenyum ramah. tangannya yang putih halus namun kokoh itu hentikan ukirannya. pisau kecil yang tajam berkilat seakan menari berputaran di antara sela- sela jemari tangannya hingga terlihat begitu indah tapi sekaligus membawa hawa menyeramkan.
Dengan melangkah perlahan lelaki yang bukan lain adalah Kamajaya, salah satu pentolan dalam kelompok 13 Pembunuh yang berjuluk 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa' itu menghampiri Roro Wulandari. dia kemudian berhenti hanya lima langkah dari hadapan Dewi Malam Beracun.
''Dewiku sayang., saat aku mendengar terjadi ledakan dahsyat di rumah Ki Ageng Bronto yang menghancur luluhkan segala yang ada di sana, hatiku terasa bagai tertikam pedang tajam. aku merasa sangat khawatir dengan keselamatan dirimu. syukurlah., kau selamat..''
''Hanya saja., kenapa kau sekarang masih bersama si Putri Penjerat. dia adalah seorang pengkhianat dari kelompok 13 Pembunuh sama dengan bekas nomor sembilan Ki Ageng Bronto. kembalilah bersamaku Dewi Malam Beracun sayang. karena semenjak awal pertemuan kita, hatimu dan hatiku sudah di takdirkan untuk terus bersama., selamanya..'' ucap Kamajaya lembut. saat dia berbicara nadanya seakan sedang mengucapkan syair tentang percintaan.
''Maaf tuan Kamajaya, tapi aku bekas nomor dua belas, Putri Penjerat alias si Laba- Laba Kuning nomor empat, Ki Ageng Bronto si Pendekar Golok Bayangan Setan dan Ular Sakti Berpedang Iblis bekas nomor tiga belas, sudah bukan lagi anggota dari kelompok 13 Pembunuh. jadi diantara kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun..'' tukas Roro sedikit gemetaran. dia seakan perlu mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengatakan itu.
'Aah., ucapanmu sungguh membuat hatiku terluka Dewiku. tidak., tidak., tidak ada yang dapat membuat kita terpisah. tiga orang lainnya boleh mampus tapi kau tetap akan hidup bersamaku dalam suatu jalinan cinta yang abadi..'' sela Kamajaya sambil goyangkan jari telunjuknya.
''Satu hal lagi., jangan pernah kau menyebut lagi nama si nomor tiga belas. karena selain dia cuma calon mayat, hatiku terasa di bakar api cemburu setiap kali dirimu menyebutkan namanya. ingat hanya aku yang layak berada di sampingmu, menyayangi dan tentunya., memberikan kepuasan padamu. Haa., ha., ha..''
''Tutup mulutmu yang menjijikkan Kamajaya. kau., kau benar- benar lelaki bajingan. kuakui di masa lalu aku pernah terperosok ke dalam rayuanmu hingga diriku terjerumus masuk dalam kelompok 13 Pembunuh. asalkan kau tahu, mengenal dirimu adalah penyesalan yang terbesar dalam hidupku.!'' damprat Roro tersengal menahan kegeraman dan isak tangis.
Kamajaya tertegun sesaat lamanya, matanya yang tadinya teduh memandang Roro penuh rasa sayang, perlahan berubah menjadi merah dan dipenuhi keberingasan. pisaunya kembali mengukir boneka kayu yang berada dalam genggaman tangan kirinya. gerakannya jarinya jauh lebih cepat dan lincah dari sebelumnya. dalam beberapa kejapan mata saja boneka kayu itupun sudah selesai dibuatnya. saat dia menunjukkan hasil karyanya, Roro Wulandari menjadi sangat terperanjat bercampur malu.
Demikian juga dengan Putri Penjerat dan juga Satriana. mereka berdua sama memerah raut wajahnya saking jengahnya melihat boneka kayu yang sangat mirip dengan Dewi Malam Beracun. boneka wanita cantik yang sedang telanjang bulat itu seakan mempunyai daya gaib hingga nampak begitu hidup. sungguh suatu seni mengukir patung kayu yang tiada bandingannya.!
__ADS_1
''Setiap hari, setiap saat dan setiap waktu aku habiskan untuk mengukir tubuh wanita. entah sudah berapa ribu boneka perempuan cantik yang sudah kuhasilkan, tapi tidak ada satupun dari karyaku yang seindah ini. kau tahu kenapa Dewiku sayang., itu semua karena kau sudah berada dalam setiap detak jantung, nadi dan hembusan nafasku. jadi., jangan pernah kau berniat untuk lepas dari tanganku.!''
Mulut bicara tangan kanannya melambai. entah bagaimana pisau belatinya sudah bertambah dua lagi. mata pisau yang berkilau terjepit di antara ibu jari, telunjuk dan jari tengahnya. bibir lelaki tampan itu tersungging seringai keji. ketiga wanita itu sama tersurut mundur.
Roro rentangkan kipas perak dan siapkan jarum terbangnya. Putri Penjerat ulur benang- benang baja dari balik lengannya. dia mengincar sisi kanan Kamajaya. sementara Satriyana bergeser ke kiri seraya rentangkan panah busur emasnya. dalam hati dia tidak percaya orang ini dapat lolos dari ujung anak panah saktinya.
Kamajaya permainkan ketiga pisau belatinya diantara ruas jari tangan. matanya menyapu selintas pandang. ''Kalian sengaja mengepung diriku dari tiga penjuru. Hmm., suatu siasat yang bagus. tapi sayangnya tidak akan ada gunanya di hadapanku.!'' sumbar lelaki itu sinis. saat bicara dua dari tiga pisau di jarinya bergetar dan berkilauan. terdengar jeritan Putri Penjerat dan Satriyana hampir bersamaan.
Kedua lengan perempuan itu lemas lunglai berlumuran darah. tubuh mereka bergetaran lalu roboh bersama senjatanya yang terjatuh ke tanah. tepat di bagian pangkal lengan sudah bertambah sebilah pisau kecil yang menancap hingga separuhnya. entah sejak kapan pisau itu sudah bersarang di sana dan kapan pula Kamajaya melempar dua pisau belatinya., tidak ada seorangpun yang tahu.!
Roro Wulandari terhuyung. meskipun dia sudah pernah melihat kejadian semacam ini sebelumnya, tapi hingga sekarang Roro tetap saja merasakan suatu keseraman yang tidak terkatakan saat melihat ilmu lempar pisau Kamajaya. karena dia tahu betul kalau senjata bernama 'Pisau Kelembutan' itu belum pernah meleset sekalipun dari sasarannya.
Racun pisau itu meskipun tidak seganas 'Pahat Mayat Membeku' milik Datuk Tinggi Mayat Besi yang mampu membuat darah dan daging lawan kaku membatu, tapi justru jauh lebih menakutkan terutama bagi kaum wanita. sebab sedikit saja terkena, racun di pisau itu mampu membuat perempuan menjadi lemas. berikutnya mereka akan mulai menggila karena di landa hawa birahi. jika dia tidak segera mendapatkan pelampiasan ataupun pengobatan, darah di tubuh mereka bakal terus mendidih hingga tewas mengenaskan.!
''Terkutuk kau Kamajaya. cepat berikan obat penawarnya.!'' bentak Roro panik. lelaki itu hanya tersenyum tipis sambil memandangi boneka hasil ukirannya. ''Soal itu mudah saja Dewiku sayang. hanya saja semuanya pasti ada harganya. selama beberapa tahun ini aku cuma bisa melihat patung dirimu yang kuukir sendiri. jadi sekarang., aku menginginkan yang aslinya. bukalah jubah gaun hitammu..'' desis Kamajaya dengan seringai menjijikkan.
Roro Wulandari terperangah, meskipun dia sudah menduga keinginan kotor lelaki jahat ini, tapi tetap saja dia tidak sanggup untuk mendengarnya. ''Ka., kau., kau., benar- benar lelaki jahanam Kamajaya. aku lebih memilih mati dari pada menjadi budak nafsumu..''
''Aah., ayolah Dewiku sayang. kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya bukan, bahkan seingatku bukan hanya sekali saja. malahan kau juga pernah merengek- rengek kepadaku agar aku melakukannya. Haa., ha.!''
__ADS_1
''Diaaamm., diam dan tutup busukmu.!'' jerit Roro kalap. dengan meraung sekuatnya dia menghamburkan berpuluh- puluh jarum dan paku terbang beracun. bersamaan itu kipas peraknya melesat ke depan dengan jurus 'Kipas Pengejar Rembulan.!'
Kamajaya tertawa bergelak, tubuhnya seolah lenyap dari hadapan Roro. sekilas nampak sebuah kilauan cahaya pisau. kejap berikutnya terdengar Roro mengeluh. di paha kanannya sudah tertancap sebuah pisau belati kecil. mata pisau itu cuma menancap separuh saja namun sudah mampu membuat tubuhnya terkapar tumbang.
Kamajaya turun dari atas udara sambil kebutkan jubah hijaunya. beberapa jarum dan paku terbang yang bersarang turut rontok ke tanah. ada beberapa titik noda darah di jubahnya. orang ini mendengus saat melihat goresan luka di lengan kiri akibat terhajar jurus Kiipas Pengejar Rembulan. masih beruntung dia sempat menghantam mental senjata kipas perak itu sehingga lukanya tidak begitu parah. dua butir obat penawar racun ditelannya.
''Dewiku sayang., kenapa mesti bersikap kasar seperti ini. tapi tidak mengapa, sebentar lagi kau dan kedua temanmulah yang bakalan memohon- mohon kepadaku Haa., ha., ha.!'' Kamajaya tertawa bergelak, sikap santunnya lenyap berganti kekejian hati.
Roro Wulandari menjerit penuh rasa dendam dan ketakutan. kejadian masa lalunya yang kelam kembali terbayang seiring air matanya yang mengalir deras dan hawa panas yang mulai datang membakar hasratnya.
Dulu dia pernah dua kali mengalami kejadian seperti ini, di nodai lelaki biadab bernama Gumoro dan satu lagi adalah orang sejahat iblis yang sedang tertawa licik di depannya. Roro merasa dirinya sangat kotor dan menjijikkan. saat dia melirik si Putri Penjerat dan Satriyana, terlihat kedua orang itu sudah mulai mengerang dengan tubuh seakan kepanasan bermandikan keringat. sementara Kamajaya mulai mendekati mereka dengan seringai iblisnya.
''Ti., tidak., itu tidak boleh terjadi. me., mereka berdua jangan sampai mengalami penderitaan dan hinaan yang pernah aku rasakan. keduanya masih suci terlebih lagi Satriyana. aku., aku harus bisa mencegah bajingan terkutuk itu. Respati, cepatlah kau datang., tolong kami..'' ratap Roro terisak.
''Tapi haruskah aku melakukannya., masih sanggupkah diriku untuk menjalani hidup setelah kejadian ini., sial., sialan. persetan semuanya. aku sudah terlanjur kotor dan menjijikkan. asalkan dapat mencegah bajingan terkutuk itu menodai kedua temanku, kurasa tidak jadi soal jika tubuhku bertambah hina..'' putus Dewi Malam Beracun. dalam sekejap saja otak liciknya berkerja membuat siasat.
*****
Aslamualaikum, salam sehat sejahtera selalu buat kita semua. silahkan tulis komentar, kritik sarannya. juga like👍vote dan Share novel ini jika anda suka👌.
__ADS_1
Terima kasih bagi para reader yang sudah mengikuti novel silat 13 Pembunuh ini dengan segala kekurangan dari authornya. karena suport Andalah novel ini (tanpa kami sangka bisa tembus 400 K) karena ini cuma iseng" nulis saja.🤗. Wasalamualaikum.🙏