
Baik Ki Sabda Langitan maupun Panglima Istana Tengah bahkan juga para anggota belasan 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' yang menjadi anak buahnya dan sedang berjaga di luar gubuk bersama dua orang bawahan Dewi Malam Beracun sama sekali tidak mengira kalau si Panglima Istana Kiri sampai berani menyimpan rahasia sebesar itu.
Dalam hati mereka sama merutuk dan timbul kecurigaan pada lelaki jangkung itu. terutama si Panglima Istana Tengah. perempuan cantik yang telah menjadi kekasihnya. sebuah raut kekecewaan jelas terpancar di wajahnya. dengan tubuh gemetaran menahan hawa amarah dia sampai tidak mampu bicara apapun.
''Apa maksud semua ini Panglima Istana Kiri. tidak pernah kusangka dirimu berani berbuat serendah ini. kau tahu kalau kita orang- orang Istana Angsa Emas sangat menjunjung tinggi kesetiaan. kau juga mengerti benar selama ini kita sudah sudah berusaha mencari tahu rahasia mantra gaib yang hanya diketahui oleh mendiang 'Tuan Sesepuh Istana Barat' kita semua juga sama tahu berapa banyak nyawa saudara- saudara kita yang telah menjadi korban karena masalah ini..''
''Jika kau tidak dapat memberikan penjelasan yang masuk akal jangan salahkan aku kalau sampai turun tangan kejam menghabisi nyawamu. cepat jawab dasar bedebah.!'' bentak Ki Sabda Langitan murka. hampir saja orang tua bergelar 'Tangan Penggoncang Langit' itu tidak dapat mengendalikan dirinya dan nyaris lontarkan aji kesaktian 'Awan Sakti Runtuh Menimpa Bumi' untuk menamatkan nyawa bawahannya.
Tanah dibawah pijakan kaki lelaki tua yang tinggi besar kepala plontos dengan pakaian rompi merah itu sampai berderak terpecah berhamburan akibat tidak mampu menahan getaran kekuatan sakti yang terpancar dari tubuhnya. ''Cepat kau jawab bocah tidak tahu balas budi, atau aku tidak lagi mampu menahan semuanya.!''
''Kaa., kau telah membuatku sangat kecewa Panglima Istana Kiri. sadarkah kau., akibat perbuatanmu ini pengorbanan Panglima Istana Kanan juga semua saudara yang lain menjadi sia- sia. di alam sana pengasuh kita sang Tuan Sesepuh Istana Barat pasti merasa menyesal karena beliau telah membesarkan, merawat dan mendidikmu. aku,, aku sangat menyesal telah jatuh hati pada pengkhianat sepertimu.!'' teriak Panglima Istana Tengah penuh kemarahan.
Muka pucat lelaki jangkung yang masih terkapar itu semakin terlihat tidak berdarah. ucapan Panglima Istana Tengah seolah tepat menikam hatinya. ''Sau., saudari., kuu. pam., paman Sab., da Langitan. see., semu., muaa ini tidak sep., seperti yang kaa., kalian pikir., kan..'' kata lelaki itu terbata- bata. seteguk darah sempat meleleh dari mulutnya. melihat itu wanita cantik berjubah kuning sempat terperanjat hendak maju menolong tapi dia urungkan.
''Tidak seperti yang terlihat., begitu katamu.? apakah kau pikir mataku sudah begitu lamur karena tua. pemuda bangsat. aku tidak butuh penjelasan apapun. sekarang juga kukirim dirimu ke akhirat demi arwah Tuan Sesepuh Istana Barat dan seluruh saudara kita.!'' geram Ki Sabda Langitan bengis sembari mengangkat kepalan tangan kanannya yang memancarkan kilatan sinar putih bagai petir berselimut gumpalan seperti mendung tebal.
Pukulan sakti yang sudah siap dilepaskan dalam keadaan pikiran yang kalap itu pasti bakal menamatkan riwayat Panglima Istana Kiri. wanita yang menjadi rekannya tanpa sadar memekik tertahan. bagaimanapun juga diantara mereka berdua telah terjalin ikatan hati sehingga ada rasa tidak tega melihat sang kekasih diambang kematian.
Sebuah tangan berkelebat cepat membawa desiran angin lembut beraroma harum segar. jika diperhatikan tangan dan lengan wanita itu terlihat langsing putih mulus berhias bulu- bulu lembut. meskipun nampak lemah tapi hebatnya sanggup menahan pergelangan tangan besar Ki Sabda Langitan laksana jepitan baja.
Orang tua sakti berkepala gundul itu mendelik gusar hendak menghardik. namun wajah jelita dengan sepasang mata bening dan senyuman anggun yang tersungging dibibir merah itu tanpa sadar membuatnya segan. ''Dewi Malam Beracun., harap jangan pernah ikut campur dalam masalah keluarga Istana Angsa Emas. cepat menyingkirlah atau aku tidak akan segan melabrakmu.!''
''Sabar Ki Sabda Langitan. kalau soal memberi hukuman pada bawahanmu, itu cuma perkara gampang. harap maafmu., sungguh diriku tidak bermaksud untuk ikut campur. tapi apakah Ki Sabda Langitan juga sobat Panglima Istana Tengah tidak ingin tahu kenapa dia sampai berbuat demikian, juga bagaimana aku bisa tahu rahasia ini.?''
__ADS_1
Sepasang mata bening Roro Wulandari sekilas memancarkan kilatan cahaya tajam saat dia bertanya dengan suara penuh kelembutan sambil perlahan membimbing turun tangan tokoh silat kawakan itu yang sudah bersiap hantamkan ilmu kesakitan. anehnya Ki Sabda Langitan tanpa sadar menurut. semua kejadian ini tidak lepas dari pengamatan Puji Seruni.
Terlihat di tangan gadis cantik murid Nyi Pariseta itu membawa peti kayu cendana hitam yang berisi pisau pusaka. rupanya sebelum bentrokan terjadi Roro sempat meminta sahabatnya ini untuk mengawasi dan mengambil peti wasiat itu jika ada sesuatu yang diluar dugaan.
Dalam hati gadis ini membatin ''Terakhir kali yang kutahu ilmu 'Pelet Pengasihan Pemikat Jiwa' milik Roro tidaklah sehebat ini. namun sekarang Ki Sabda Langitan sampai turut terpengaruh olehnya. sialan., harus kuakui kemampuan si brengsek itu telah meningkat tajam. Huhm., membuat diriku iri saja..'' sungut Puji Seruni kesal.
Seiring tangan wanita cantik itu terlepas dari pergelangannya, Ki Sabda Langitan seolah juga baru tersadar dari lamunan. Roro diam- diam mengatur pernafasan untuk dapat memulihkan diri. demi menyerang pikiran tokoh silat sekelas Tangan Penggoncang Langit, dia terpaksa harus kerahkan tenaga dalam lebih banyak.
''Sekarang katakan apa maksud ucapanmu tadi Dewi Malam Beracun.!'' desak Ki Sabda Langitan menutupi kebingungan hatinya. masalah ini juga menjadi perhatian semua orang. bahkan tidak terkecuali juga Panglima Istana Kiri. ''Baa, bagai., mana kau., kau bisa tahu raha., sia., kuu.?'' tanpa sadar lelaki itu turut bertanya.
Dewi Malam Beracun lebih dulu memutar 'Kipas Darah Bulan Mentari' yang terpentang ditangan beberapa kali sebelum melipatnya. secara aneh senjata itu sudah lenyap dibalik pinggangnya yang ramping. ''Sebenarnya aku tidak pernah mengetahuinya. melainkan kau sendirilah yang tanpa sadar sudah membuka rahasia itu..''
Tanpa memberi kesempatan orang lain untuk berpikir atau bertanya wanita cantik itu terus melanjutkan ucapannya. ''Sejak awal kita dari dua kelompok yang berbeda ini bertemu, aku sudah merasakan perbedaan sikapmu padaku. jika dibandingkan dengan orang Istana Angsa Emas yang lain kau seakan selalu curiga dan menentang apapun yang hendak kami perbuat karena hampir semua itu berasal dari pemikiranku..''
''Contoh paling mencolok adalah saat terjadi pertarungan besar di lembah malam itu. pimpinan kalian Tuan Sesepuh Istana Barat telah setuju untuk berunding denganku soal Satriyana. tapi diantara para bawahannya cuma kaulah yang terlihat tidak senang meski pada akhirnya semua berjalan lancar. dirimu seolah merasa khawatir denganku..''
Dengan sikap simpati Roro menjura hormat kepada Panglima Istana Kiri. ''Maafkan diriku karena telah salah sangka padamu..'' ucapnya sambil melemparkan dua butir obat pemulih tenaga dan luka dalam berwarna kekuningan. apa yang diperbuat bekas pembunuh nomor dua belas itu membuat semua orang makin bingung.
''Kalian tidak perlu berpikiran yang aneh- aneh. kalau aku tidak salah mengira, orang ini sengaja dipilih oleh mendiang pimpinanmu si Tuan Sesepuh Istana Barat untuk menjaga mantra rahasia pembuka jalan ke alam gaib sebagai persiapan apabila orang tua itu sampai menemui ajalnya. lelaki inilah orang yang dia pilih karena terhitung paling setia..''
''Orang yang menjunjung tinggi kesetiaan dan diberikan tugas biasanya sangat waspada terhadap sekitarnya. dia lebih memilih mati dari pada berkhianat. sangat sulit membuka mulut orang seperti ini untuk mencari tahu rahasia yang disimpannya. tapi sayang., orang yang paling setiapun juga punya kelemahan..'' ucap Roro mencibir sinis sambil betulkan tali kutang bajunya yang melorot ke lengan.
''Kalian tahu apa yang paling dibenci orang yang menjunjung tinggi sifat satria dan kesetiaan.?'' pertanyaan itu kemudian Roro jawab sendiri. ''Orang setia sangat membenci pengkhianat apalagi dikhianati. yang kedua orang macam itu akan sangat marah jika kesetiaannya diragukan. maka sengaja aku memilih sasaran yang kedua. kupecahkan perhatian lelaki ini sambil aku bangkitkan kemarahannya..''
__ADS_1
''Sifatnya yang tidak suka padaku membuat segalanya lebih mudah hingga dia cepat naik darah. lantas saat Ki Sabda Langitan dan Panglima Istana Tengah mulai membuka masalah rahasia jalan ke alam gaib, aku timbulkan kecurigaan Ki Sabda Langitan padanya dengan mengatakan kalau Panglima Istana Kiri mungkin tahu sesuatu mengenai mantra rahasia itu..''
''Hik., Hi., seperti yang kuduga dia merasa sangat tersinggung dan tidak dapat lagi mengendalikan diri. sepandai- pandainya manusia saat dia kalap dilanda amarah otaknya akan berubah menjadi bodoh. hanya dengan sedikit keluar tenaga dan banyak main tipu muslihat pada akhirnya semua kecurigaanku terbukti..''
''Orang ini bukanlah pengkhianat. dia hanya sangat takut amanat yang diembannya diketahui orang luar Istana Angsa Emas, karena bagaimanapun juga aku berasal dari 'Kelompok 13 Pembunuh' yang merupakan musuh kalian semua. jadi harap Ki Sabda Langitan memaklumi tindakannya. bahkan kurasa., orang setia dan pemberani seperti dia sudah sangat langka di dunia ini..'' pungkas Roro Wulandari sambil melirik Puji Seruni yang tersenyum bertepuk tangan memuji otak sahabatnya.
Semua orang terdiam. meskipun sudah tahu kepintaran otak wanita cantik itu tapi mereka sama sekali tidak menyangka kalau sehebat itu. diam- diam orang Istana Angsa Emas bersyukur tidak menjadi musuh si cantik yang sombong ini. ''Nyi Sapta Kenanga., dengarkan perintah.!'' seru Roro mendadak. matanya berkilat tajam sikapnya juga berubah tegas.
''Saya hadir disini ketua..'' jawab Nyi Sapta Kenanga yang berkelebat cepat menghadap. ''Dalam tiga hari kedepan aku mau engkau siapkan setidaknya dua ratus anak buah kita yang punya tingkatan ilmu silat paling baik lalu kumpulkan mereka di tempat rahasia kita. tunggu perintah dariku, karena sepertinya kita mesti berkunjung ke pulau Seribu Bisa lebih cepat dari rencana.!''
Suasana berubah sangat tegang. bahkan Panglima Istana Kiri sampai memaksakan diri untuk bangkit tapi dicegah oleh Ki Sabda Langitan yang sedang berusaha mengobati luka dalam bawahannya. ''Eeh., jadi kapan kita pergi ke sana.?'' dengan tidak sabar Panglima Istana Tengah bertanya menghampiri Roro.
''Nanti kuberi tahu semuanya. lagi pula pihak kalian juga harus menyelidiki rahasia mantra gaib yang tertulis ditubuh kekasihmu itu bukan. sekarang ini aku perlu melakukan sesuatu dulu. sialan., hari sudah siang begini. Nyi Sapta Kenanga., apakah di dalam hutan sana masih ada tempat rahasia milik kita lagi.?''
Yang menjawab adalah bawahan Nyi Sapta Kenanga. ''Benar ketua. saya berpikir kalau kita mesti punya setidaknya dua tempat rahasia dalam suatu wilayah. yang di dalam sana kami buat khusus untuk ketua. Eehm maaf., dalam pondok itu sudah kita buatkan kolam pemandian berisi air bunga wangi jika ketua ingin membersihkan diri. di sana juga ada dua orang anggota yang menjaganya..''
Dewi Malam Beracun tertawa puas. sebelah tangannya menepuk pundak anak buahnya. ''Kerja yang bagus sekali. nanti akan aku berikan hadiah untuk kalian semuanya..'' Nyi Sapta Kenanga dan bawahannya tersenyum saling pandang lalu mengucapkan terima kasih pada pimpinannya sebelum menjura hormat dan berkelebat pergi tinggalkan tempat itu.
''Sobat Panglima Istana Kiri dan saudaraku Puji Seruni., kalian mau menunggu di sini atau ikut mandi bersamaku di dalam sana. aku jamin tempat itu nyaman untuk kita bersantai..'' ajak Roro pada kedua wanita cantik itu. jika Panglima Istana Tengah langsung setuju, Puji Seruni masih merasa bimbang.
''Apa lagi yang kau pikirkan Puji. Aduuhh., matahari mulai terik. tubuhku juga kegerahan. lihat., baru bertarung sebentar saja sudah keringatan begini..'' sementara mulutnya mengomel otak liciknya berpikir jahil. jemarinya mencabut bulu- bulu hitam diketiaknya sebelah kiri lantas dilemparkan ke hidung Puji Seruni. karuan saja gadis itu menyumpah- nyumpah kesal. ''Dasar Roro brengsek. awas kau yah.!'' umpatnya mengejar Roro Wulandari yang lari ke dalam hutan sambil tertawa.
*****
__ADS_1
Asalamualaikum., Kami author dan (yang bagian up date) dari novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan mengucapkan 'Selamat menyambut tahun baru 2023' bagi para reader pembaca. semoga di tahun baru semuanya selalu sehat dan diberikan kelancaran rejeki serta semua usaha yang sedang dijalankan. Amin.π€²
Maaf bila ada salah kata ataupun segala yang kurang berkenan dalam penulisan novel kami. karena kita cuma iseng" nulis saja di waktu senggang. (Author KW, abal- abal)βΊπ. Wasalamualaikum.