13 Pembunuh

13 Pembunuh
Jejak- Jejak dalam hujan.


__ADS_3

Gemuruh suara guntur yang disusul rintik hujan yang turun dipenghujung malam itu seolah turut menyambut pertemuan dua orang lelaki tua muda yang sama memiliki cacat ditubuhnya. meskipun hampir tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka namun sorot mata dingin yang serupa menandakan kalau ada hubungan yang mendalam diantara keduanya.


Biarpun air hujan yang turun semakin deras dari atas langit sudah membasahi baju kedua orang itu tapi pelukan dari si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' malah semakin erat merengkuh tubuh pemuda pincang yang masih berdiri sambil terus membungkuk penuh hormat kepadanya.


Seuntai gelang perak berbandul kepala tengkorak itu sudah berpindah dari tangan si pemuda pucat kepada orang tua buntung didepannya. raut wajahnya yang selama ini dingin dan bengis terlihat melembut namun juga seolah bertambah menua saat melihat gelang perak itu.


Dengan mulut menggumam seakan sedang merapal suatu mantra, cakar pisau hijaunya bergetar dan menyentak keras. segulung asap kabut putih yang disertai kilatan cahaya perak terlihat menyelimuti kepalannya. saat semua berlalu ditangan orang tua buntung itu sudah bertambah lagi seuntai gelang perak kepala tengkorak yang serupa dengan milik pemuda pincang. hanya saja nampak lebih kusam dan lama.


''Gelang perak semacam ini hanya dimiliki oleh orang- orang yang punya darah keturunan dari pendiri partai 'Gapura Iblis'. meskipun seandainya kau tidak mengatakannya aku juga tetap bisa memastikan keaslian gelang ini, karena diriku dapat merasakan adanya kekuatan gaib yang tersimpan didalamnya..'' gumam Lengan Tunggal Pengejar Roh.


Sepasang mata tua dan dingin cekung itu menatap Pranacitra yang kembali berdiri tegak. ada perasaan bangga dan tidak percaya yang tersirat dimatanya kala dia mengetahui kalau pemuda pincang yang masih terhitung cucunya itu bukan lain adalah salah satu pesilat muda yang telah membuat gempar dunia persilatan.


''Aku tidak tahu mesti berkata apa., tapi yang jelas malam ini diriku merasakan kebahagiaan yang sudah teramat lama tidak pernah lagi kurasakan. jika tidak mengalaminya sendiri, biar ada seribu orang yang bicara, aku tetap tidak akan pernah percaya jika masih memiliki seorang cucu ponakan..''


''Terlebih lagi., dia adalah seorang pendekar muda yang amat ditakuti orang persilatan. murid dari lima dedengkot aliran hitam, yang bahkan sampai saat inipun Gapura Iblis sendiri juga belum mampu melenyapkanmu. kurasa hari pembalasan dendam kita sudah tiba. Haa., ha..!'' gelak si Lengan Tunggal Pengejar Roh sambil usap wajahnya yang dibasahi air hujan.


''Maafkan aku jika menyelamu orang tua., tapi waktu kita tidaklah banyak. meskipun kita berdua sudah berlari cukup jauh dari lembah tempat pertempuran besar itu terjadi, namun bukan jaminan tidak ada orang lain yang mengikuti kita. kurasa kita mesti bicara pada pokok permasalahan saja. kelak jika ada lagi kesempatan, barulah kita berdua dapat saling bertukar kisah..'' potong Pranacitra sambil memandang sekelilingnya yang tertutupi hujan deras disertai angin kencang.


''Huhm., ucapanmu beralasan juga, lantas apa yang kau inginkan sekarang ini.?'' dengus orang tua buntung itu. wajahnya berubah jadi dingin dan sadis kembali. ''Aa., aku., aku cuma ingin tahu soal ibuku. sebenarnya beliau orang seperti apa dan dimana dia dimakamkan..'' ujar Pranacitra agak terputus saat bicara.

__ADS_1


Orang tua didepannya tertegun diam. meski dia sudah mengira kalau pemuda didepannya bakal menanyakan masalah itu, tapi tetap saja hatinya merasakan suatu kesedihan yang mendalam. karena bercerita masalah ini sama saja membuka sebuah luka dan dendam lama yang terpendam dihatinya.


''Disini bukanlah tempat yang baik untuk mengatakan semuanya. hatiku juga merasa akan ada orang yang datang menyusul kemari. sebaiknya kubuat beberapa jejak palsu untuk menutupi kebersamaan kita agar mereka tidak sampai curiga..'' begitu selesai bicara Lengan Tunggal Pengejar Roh sudah babatkan cakar pisau hijaunya beberapa kali kesekeliling tempat. pepohonan, semak belukar dan tanah bebatuan yang menjadi sasarannya seketika hancur tercabik.


Pranacitra tidak tinggal diam. tongkat besi hitam kepala tengkorak membabat kiri kanan. beberapa larik cahaya hitam membelah udara dan hujan deras yang menyelimuti bumi. serangan jurusnya diakhiri dengan sebuah pukulan telapak tangan yang membawa hawa panas disertai bau anyir darah.


Akibatnya sungguh mengerikan. hampir seluruh tempat dimana kedua orang ini berada menjadi porak- poranda, tersapu hancur tidak berbentuk. Pranacitra sempat merobek lengan baju hitamnya untuk menutupi mulutnya yang terbatuk lalu membuangnya ketanah. saat berikutnya tubuh mereka berdua sudah berkelebat lenyap menembusi lebatnya hujan yang masih deras mengguyur.


Berselang waktu sepuluh tarikan nafas, dari satu arah muncul beberapa sosok bayangan manusia yang bergerak cepat menembus hujan dan kegelapan. hanya dengan tiga kali menjejakkan kaki saja kelima orang itu sudah tiba disana. cahaya kilat yang menyambar sesaat menerangi wujud para pendatang itu.


Seorang lelaki tua dengan baju gombrong compang- camping bertambalan dengan sepasang matanya yang besar hitam menyeramkan. dari cirinya orang ini pastilah si 'Pengemis Tua Mata Setan' anggota baru dalam kelompok 13 Pembunuh. jika melihat keadaannya orang tua jahat itu kemungkinan sudah berhasil menyingkirkan lawannya dalam pertempuran besar- besaran.


''Huhm., hujan deras sialan ini mebuat semuanya makin bertambah kacau..'' rutuknya mendengus. ''Tuan pemimpin., jika diamati dari keadaan sekitar tempat ini, sepertinya telah terjadi pertarungan sengit yang melibatkan pesilat berkepandaian sangat tinggi..'' ucap salah satu anak buahnya yang berdiri paling depan memberi pendapat.


Pengemis Tua Mata Setan bukannya tidak mengetahui semua yang terlihat didepannya, hanya saja dia masih ragu siapa orang yang terlibat dalam pertarungan ditempat sunyi ini hingga membuat semuanya hancur berantakan. mata hitamnya seakan membesar saat melihat sesuatu diatas bongkahan batu.


''Jurus pukulan sakti 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'' serunya terperanjat melihat bekas telapak tangan berwarna merah darah yang melesak tercetak seruas jari kedalam batu itu. ''Kalau demikian pastinya si 'Setan Pincang Penyendiri' sudah terlibat pertarungan sengit dengan si Lengan Tunggal Pengejar Roh. tapi., dimana mereka sekarang berada.?'' desisnya tegang.


''Jika kulihat dari keadaan tempat pertarungan ini, pemuda pincang keparat ini belum sanggup mengalahkan orang tua buntung itu. bahkan mungkin dialah yang sedang terdesak. terbukti banyak bekas pukulan saktinya yang bertebaran disegala arah, dan juga robekan baju hitam yang bernoda darah..''

__ADS_1


''Semuanya ini membuktikan kalau Lengan Tunggal Pengejar Roh bukan saja dapat lolos dari serangan mautnya tapi juga sudah membuat si pincang itu terluka dalam dan melarikan diri. pasti sekarang si tua buntung itu sedang mengejarnya. meskipun mungkin tidak mudah tapi kuyakin si pincang itu akan mampus juga ditangannya.!'' batinnya seraya menyeringai.


Setelah berpikir sesaat akhirnya si Pengemis tua Mata Setan memutuskan untuk kembali bersama empat anak buahnya kelembah, tempat pertarungan antara pihak 'Istana Angsa Emas' dan 'Kelompok 13 Pembunuh' masih berlangsung dengan sengitnya.


Tokoh silat kawakan yang punya kemampuan mempengaruhi pikiran lawannya dengan menggunakan pandangan mata hitamnya itu mana pernah menyangka kalau semua yang dia lihat disana hanyalah jejak palsu untuk menutupi keadaan sebenarnya. bahkan bekas darah dirobekan kain hitam itu juga hanya muntahan kecil saja yang dibuat oleh Pranacitra.


*****


Asalamualaikum., Salam sehat dan sejahtera selalu buat kita semua. Amin.๐Ÿ™


Beberapa Reader pembaca menanyakan pada saya antara kisah novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan, mana yang lebih dulu terjadi.?๐Ÿค”


Terus terang saja saya juga kurang jelas (aku kan duduk authornya๐Ÿ˜“๐Ÿ˜œ) maka saya tanya adik yang nulis dua novel ini. jawabnya., sebagian besar cerita di 13 Pembunuh terjadi beberapa tahun Setelah munculnya Pendekar Tanpa Kawan (mungkin jarak 4 -5 tahunan๐Ÿ™„).


Sebaliknya sebagian kisah di Pendekar Tanpa Kawan terjadi Sebelum cerita 13 Pembunuh.


Sampai pada waktunya nanti kedua novel ini akan seiring. tapi mungkin 13 Pembunuh akan tamat lebih dulu. (maaf., saya juga gak paham bener opo ora..๐Ÿ˜…๐Ÿ™)


Terima kasih kepada para reader yang sudah sudi membaca kedua novel kami yang Update nya gak pernah jelas, banyak kekurangan, serta sudah memberikan kritik sarannya. kami mohon maaf jika ada yang tidak berkenan di hati anda. maklumlah ini cuma iseng" nulis saja๐Ÿค—-. Wasalamualaikum.๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2