13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kisah kelam si penculik bayi.


__ADS_3

Orang tua yang di panggil sebagai 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' kembali diam pejamkan matanya yang berhias keriput berlipat di kelopak dan kulit rongga matanya. pikiran dan hati orang tua ini sedang di landa keresahan yang beberapa bulan terakhir terasa semakin mengganggunya.


''Menurut apa yang sempat di ucapkan oleh si pembunuh nomor tiga alis si 'Kaki Tumbal' di saat dia meregang nyawa setelah kalah bertarung denganku, orang yang menjadi sang ketua dari kelompok 13 Pembunuh juga mengenakan jubah kuning bersulaman angsa emas seperti yang aku pakai sekarang ini..''


''Lalu., siapa jati diri orang itu sebenarnya., menurut kabar rahasia yang kami dapatkan, orang ini bersusuk tubuh tinggi besar melebihi orang kebanyakan dan memakai sebuah topeng tengkorak yang terbuat dari bahan perak..'' pikiran orang tua itu semakin terasa kusut dan penasaran.


''Di antara empat 'Sesepuh Utama Istana Angsa Emas' tidak ada yang punya tubuh tinggi besar seperti yang di katakan si Kaki Tumbal. meskipun dulu., Tuan Sesepuh Istana Utara memiliki tubuh tinggi besar. tapi sejak di racuni para pengkhianat itu secara licik, dia terus di gerogoti penyakit hingga tubuhnya menjadi kurus kering dan nyaris lumpuh..''


''Bahkan karena penyakitnya itu, dia sampai tidak mampu keluar dari kobaran api yang melalap seisi rumahnya. diantara kami empat Tuan Sesepuh Istana barat, timur, utara dan selatan cuma dia yang hidup seorang diri dan hanya di temani beberapa orang pelayan pribadinya..''


''Hhmm., kalau kupikirkan sekarang, sejujurnya diriku juga tidak terlalu kenal dekat dengan 'Tuan Sesepuh Istana Utara' ini. sialan betul., seharusnya saat dia mulai terserang penyakit parah aku sudah bisa menduga kalau ada pihak lain yang telah meracuninya. ataukah., jangan- jangan waktu itu Tuan Sesepuh Istana Utara telah mencurigai akan adanya rencana pemberontakan dalam istana Angsa Emas dan kelompok 13 Pembunuh hingga dia diracuni.?''


Tuan Sesepuh Pelindung Istana yang dulunya adalah salah satu dari empat sesepuh istana Angsa Emas dan di sebut sebagai 'Tuan Sesepuh Istana Barat' itu bangkit dari tempat duduknya. dengan melipat kedua tangannya yang keriput di belakang pinggang, dia berjalan mengelilingi ruangan batu pualam.


Di ruangan luas dan tinggi itu selain dia, masih ada tiga orang pengawal berseragam kuning emas celana hitam dengan membekal pedang di punggungnya, dengan sulaman lambang seekor angsa emas di dada kirinya. mereka seakan juga merasa resah melihat atasannya sedang dilanda kegundahan. meskipun begitu ketiganya hanya dapat diam membisu.


''Pemuda yang bernama Birunaka itu juga tiba- tiba muncul entah dari mana. tapi dari semua keterangan yang dia sampaikan, juga tanda di jemari kaki kirinya menunjukkan kalau pemuda ini berkata benar. terbukti dengan adanya peristiwa ledakan dahsyat di Wonokerto..''

__ADS_1


''Aah sayangnya., kami semua kurang percaya sepenuhnya dengan ucapan pemuda itu, hingga Panglima Istana Kanan merasa agak ragu untuk bertindak mengundurkan pasukan saat menyerbu rumah besar Ki Ageng Bronto. akibatnya dia harus menebus kesalahan itu dengan nyawanya..'' batinnya semakin di liputi kesedihan karena telah kehilangan salah satu anak asuhannya.


''Tapi tunggu., jika benar kata Kyai Jabar Seto dan I Gede Kalacandra yang mengatakan kalau tuan putri Satriyana memilih mengikuti bekas pembunuh nomor dua belas dan tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh, itu berarti ucapan pemuda bernama Birunaka memang benar adanya..''


''Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya., jika memang demikian bukankah kita jadi punya sekutu yang dapat kita korek semua keterangannya tentang rahasia kelompok 13 Pembunuh itu. termasuk pimpinannya dan di mana tempat persembunyian mereka selama ini.!'' gumam orang tua itu sedikit tersentak.


''Pemuda bernama Birunaka itu mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi juga. menurut cerita Panglima Istana Kiri, dia mampu lolos dari sergapan para anak buahnya yang hendak menahannya guna dimintai keterangan lebih jelas mengenai keberadaan putri Satriyana..''


''Aah sialan., kalau mendengar ilmu silat pentung sakti milik Birunaka, aku jadi teringat tentang seorang kulubalang kepala pasukan istana Angsa Emas yang seangkatan dengan Kyai Jabar Seto dan I Gede Kalacandra yang berjuluk si 'Dewa Pentung'. sayang orang ini sudah menghilang. bisa jadi pemuda itu adalah salah satu keturunannya..'' batin Tuan Sesepuh Pelindung Istana seakan menyesali suatu kejadian di masa lalu.


Dalam sebuah ruang bawah tanah di rumah Ki Ageng Bronto.,


Gadis muda itu gayanya seperti lelaki dengan rambut hitam di potong agak pendek. meski begitu tubuhnya yang langsing padat berisi terlihat punya daya tarik tersendiri bagi kaum pria. sebaliknya wanita yang satunya berambut panjang hitam sepinggul dengan kulit putih mulus ditumbuhi bulu halus. kulit tubuhnya yang putih terlihat mengkilap dibasahi air kolam yang beraroma wangi.


Satriyana sudah beberapa kali mandi bareng wanita bernama Roro Wulandari itu. tetapi meskipun mereka sesama perempuan, dia masih terpukau juga agak minder dengan kecantikan wanita yang sudah dia anggap kakaknya sendiri itu. namun jika melihat bulu- bulu halus yang tumbuh di kulit putih mulus itu, Satriyana jadi agak risih dan geli sendiri. ''Kok ada yah cantik- cantik tapi buluan gitu., iih geli aku..'' batinnya risih.


''Apa yang sedang kau lihat.?'' tanya Roro sambil membasuh kedua paha kakinya yang putih dan panjang jenjang. karena dia setengah berdiri, bagian pusatnya terpampang jelas di muka Satriyana. ''Aah tidak ada., hanya kakak Dewi, kalau lagi membersihkan bagian bawah tubuh jangan berdiri begitu. aak., aku jadi merasa risih melihatnya..'' ujar gadis itu setengah mengomel.

__ADS_1


''Chuih., kita sesama perempuan adikku sayang. jadi jangan membicarakan sesuatu yang tidak penting seperti itu, mengerti.!'' Roro balik menegurnya. ''Aku tahu ada hal lain yang ingin kau bicarakan, sekarang katakan padaku..'' mata Roro menatap tajam Satriyana. gadis dari desa Kembangsoka itu terkesiap, dia tidak menyangka Roro dapat membaca pikirannya.


''Ini., sebenarnya ini soal bayi itu. maksudku Anggana. apakah kakak Dewi tidak pernah berpikir untuk mencari tahu bayi siapakah dia sebenarnya. maksudku siapa orang tua dari Anggana dan sekarang berada di mana. mereka masih hidup ataukah sudah mati. juga bagaimana ketua kelompok 13 Pembunuh bisa mendapatkan bayi itu.?''


Roro Wulandari seketika tertegun. sejujurnya dia belum pernah memikirkannya. kalau ingat bayi laki- laki yang ganteng dan lucu itu pernah beberapa bulan dalam rawatannya, seketika timbul juga perasaan rindunya. ''Kalau kau tidak menanyakan masalah ini, mungkin aku juga tidak akan pernah berpikir soal darimana Anggana berasal..''


''Tapi kau tidak cuma mau bicara soal inikan.?'' selidik Roro, membuat Satriyana merasa agak gugup. ''Saat terakhir kali kita berpisah dengan Anggana dan Nyi tabib Rumilah, kita sempat memainkan sebuah sandiwara dengan mencatut nama 'Kuntilanak Hitam Penculik Bayi'. sebenarnya siapakah orang yang di sebut dengan julukan seram begitu.?'' tanya Satriyana sambil menatap tajam Roro.


Wanita cantik itu terperanjat dan gelisah. dia seketika palingkan wajahnya yang bersemu merah. air matanya juga mulai mengambang. Satriyana menjadi panik dan menyesal, dia menghambur memeluk Roro. ''Kakak Dewi., jangan menangis. aku., aku bersalah telah bertanya sembarangan. maafkan aku kak., anggap aku tidak pernah bicara apapun..''


'Dewi Malam Beracun' menengadah menatap langit- langit ruangan kolam pemandian yang di hiasi banyak batuan permata dan lentera minyak sebagai penerangan. jemari tangannya yang putih lentik mengelus rambut kepala Satriyana yang terus mendekap erat tubuhnya.


''Kau tidak melakukan kesalahan apapun. mungkin juga kau sudah harus tahu masa lalu kakakmu ini. kurasa ada baiknya juga dirimu bertanya soal tadi, hingga aku tidak perlu bingung bagaimana caranya untuk berterus terang kepadamu..'' ucap Roro tersenyum getir. bibirnya yang merah ranum bergetaran saat mulai berkisah.


''Dulu memang pernah muncul seorang perempuan yang suka menculik bayi- bayi yang lucu. tapi., dia bukan sejahat seperti yang di katakan orang. dia tidak pernah melukai atau menghilangkan nyawa bayi- bayi itu. perempuan ini melakukannya cuma karena ingin memeluk dan memuaskan rasa kasih sayangnya pada anak- anak. setelah puas bermain bayi- bayi itu dia kembalikan lagi ke tempat asalnya. bahkan sering dia tinggalkan juga beberapa keping uang di pembaringan si bayi..''


''Semua itu di sebabkan dia pernah kehilangan beberapa calon bayinya akibat tangan- tangan manusia jahat, hingga membuatnya tidak dapat lagi memiliki anak untuk selamanya. selama ini selain Respati dan Rumilah kakak seperguruanku, hanya dirimu yang tahu cerita ini. sekarang., kau sudah mengerti bukan siapa orang yang di sebut sebagai Kuntilanak Hitam Penculik Bayi itu.?''

__ADS_1


Satriyana peluk tubuh Roro lebih erat. gadis itu mulai terisak menangis haru sekaligus juga iba. meskipun sudah pernah menduganya, namun apa yang di dengarnya sendiri dari wanita cantik itu tetap saja membuatnya tidak sampai hati dan trenyuh dengan semua kisah kelam masa lalu Dewi Malam Beracun.


__ADS_2