13 Pembunuh

13 Pembunuh
Menuju Wonokerto.


__ADS_3

Sebuah kereta kuda bergerak menyusuri jalan berbatu yang panjang membentang di pinggiran hutan jati. yang menjadi kusirnya tetap Sabarewang, hanya sekarang ada seorang pemuda berbaju biru yang membawa sebuah pentungan kayu di samping bangku tempat duduknya. bedanya lagi di bagian belakang kereta tertambat seekor kuda jantan yang baru Roro beli dari seorang penduduk desa.


Pagi itu meskipun cuaca cukup cerah, tapi di bagian timur langit agak sedikit mendung. mungkin ini pertanda musim kemarau panjang sudah mendekati ujungnya.


''Kakang Sabarewang., kalau boleh aku tanya bagaimana awal pertemuan kalian berempat, dan sudah berapa lamakah itu terjadi.?'' tanya Birunaka sambil memakan rebusan ketela yang masih hangat. yang di tanya tanpa segan menceritakan hampir semua pengalaman yang dia alami bersama Roro, Respati juga Satriyana.


''Mungkin sudah hampir tiga atau empat bulan lamanya kami berpetualang bersama. meskipun kedengarannya aneh, tapi untuk mengantarkan sebuah peti kayu hitam saja ke Wonokerto kami berempat harus berulang kali bertaruh nyawa..'' jawab Sabarewang sambil tarik tali kekang kudanya ke kiri, jalan di depan agak berbelok tajam dan menurun.


''Kalau bukan dirimu yang bicara langsung padaku, mungkin aku tidak akan percaya kalau perjalanan kalian berempat sampai begitu berliku dan berbahaya..''


''Haa., ha., asal kau tahu saja, semua yang sudah kuceritakan padamu mungkin baru sebagian saja. belum seluruhmya karena ada beberapa hal yang mesti minta ijin pada Nyi Dewi Malam Beracun. Ssst., hati- hati, dia itu wanita tercantik sekaligus paling galak dan licik di dunia persilatan ini..'' bisik Sabarewang pelan.


''Aa., apa., wanita secantik dia kau bilang galak dan licik.? ehm., tapi kalau mendengar ceritamu tadi memang wanita cantik ini sangat berbahaya.!'' seru Birunaka setengah tak percaya.


''Jangan berteriak begitu dasar pemuda tolol.!'' umpat Sabarewang geram. ''Kalau dia sampai dengar kita bisa mati dihajarnya..''


''Aku mendengar omongan kalian berdua.! kurang ajar beraninya mengataiku., pemuda tukang pentung, nanti kau bakal aku lempar kejalan. dan kau kusir., kupotong upahmu..!'' bentak suara seorang perempuan. seketika dua orang didepan diam membisu.


Kereta kuda maut terus bergerak, tujuannya mengarah langsung ke Wonokerto. didalam kereta kuda tiga orang duduk berhadapan. Respati tersenyum kecut melihat dua orang perempuan cantik tapi menyeramkan yang ada di hadapannya.


''Kemarin siang beraninya kakang mengintip kami berdua saat mandi di sungai., sungguh tidak kusangka Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis yang terkenal dingin di rimba persilatan ternyata cuma seorang kadal mata keranjang mesum.!'' umpat Satriyana geram.


''Kalau kau inginkan tubuhku katakan saja terus terang, aku akan memberikannya padamu sekarang juga., bagaimana hah.?'' tanya Roro tersenyum genit. Satriyana mendelik sebal. sebaliknya Respati menggeleng keras.

__ADS_1


''Ku., kurasa tidak perlu, itu semua cuma ketidaksengajaan belaka tidak seperti yang kalian berdua pikirkan..'' bantah Respati setengah bergidik melihat tingkah Roro. ''Kenapa kau tidak mau, padahal banyak sekali kaum lelaki yang menginginkan tubuhku lho..'' bisik Roro Wulandari mengelus dagu si pemuda.


''Ka., karena aku tahu, kalau semua pria yang pernah tergoda dengan tubuhmu sekarang sudah jadi mayat. aa., aku masih ingin hidup lebih lama, he., he.,!'' Respati tertawa nyengir.


''Hhm., baguslah jika kau tahu..'' gumam Roro sambil kebutkan lengan jubah hitamnya ke bawah. belasan paku dan pisau beracun seketika rontok ke lantai kereta.


Saat bibir merahnya yang indah terbuka, lidahnya yang basah menjulur keluar. terlihat dua buah jarum kecil dan halus menempel di sana.


Dengan tangan kiri wanita itu mengusap rambutnya yang hitam panjang. beberapa jarum hitam kecil rontok juga ke lantai. kedua tangannya belum berhenti bergerak. kali ini dia membuka jubah gaun hitamnya bagian depan, hingga terlihat belahan payu daranya yang putih montok tersembul dibalik sehelai kutang hitam yang menutupinya.


Respati meneguk air liurnya saat melihat dua tangan Roro meraba buah dadanya sendiri. tapi mukanya berubah pucat saat melihat telapak tangan wanita itu bertambah belasan jarum beracun yang kecil halus.


Saat jubah gaun hitam bagian bawah di angkat, terlihat belasan buah pisau kecil terikat di kedua paha dan betisnya yang putih mulus berbulu halus.


Kalau seorang nekat berbuat tidak senonoh pada wanita cantik ini, sama saja dia ingin mati lebih cepat. karena di seluruh bagian tubuh wanita ini penuh dengan senjata rahasia yang mematikan. dan Respati yakin apa yang ditunjukkan Roro kepadanya dan Satriyana belum seluruhnya. ibarat buah itu hanya kulitnya saja.


''Hik., hi., hi., Aah aku tidak seseram itu kok. tapi terima kasih atas pujianmu..'' ucap Roro terkikik macam kuntilanak.


''Nyi Dewi., sekarang kuperkirakan kita sudah berada separuh jalan menuju Wonokerto. kalau kita terus bergerak mungkin besok siang kita sudah sampai di tugu perbatasan kadipaten itu..'' seru Sabarewang sambil hentikam keretanya. sebuah kepala wanita cantik melongok dari balik jendela kecil di bagian depan kereta yang terbuka.


''Terus saja bergerak, jangan terlalu cepat agar tidak mencolok. mulai sekarang kita harus lebih waspada, saat tengah hari cari tempat beristirahat yang sepi dan aman. aku mau kita sampai tugu perbatasan Wonokerto saat lusa pagi hari tiba..'' ucap Roro memberi perintah.


''Birunaka., kau masuklah ke dalam. ada yang perlu kubicarakan.!'' kata Satriyana tiba- tiba. dua orang di depan kereta saling pandang sebentar, yang muda berbaju biru turun dan langsung masuk ke dalam kereta kuda. bersamaan kereta kembali melaju.

__ADS_1


''Ada perintah apakah tuan putri Satriyana.?'' tanya Birunaka menjura. gadis itu ulapkan tangannya mendengus, ''Aku tidak suka panggilan itu. sebut saja namaku langsung..''


''Ta., tapi., tapi itu sudah selayaknya, mana berani hamba berlaku lancang.!'' ucap Birunaka gugup merasa serba salah. Satriyana mendelik ''Ini perintah., jadi jangan membantah.!'' bentaknya gusar menggebrak dinding kereta. Roro dan Respati sampai terjingkat kaget. ''Woou., si tuan putri seram juga..'' batin mereka.


''Ba., baik putri Satriyana., ada perintah apa lagi untukku.?'' biarpun menyetujui tapi Birunaka cuma berani menghilangkan kata Tuan saja, dan menyebut putri Satriyana sebagai panggilan. gadis itu menghela nafas panjang. ''Dengar Birunaka., aku menghargai kesetiaan dan rasa hormatmu padaku. tapi semua ini membuatku merasa tidak nyaman. tapi sudahlah terserah kau saja..''


''Sekarang kuminta kau turun sekarang, karena ada suatu tugas yang harus kau lakukan..'' kata Satriyana tegas. Birunaka mengangguk horamat. ''Katakan saja putri, saya siap melakukannya semampuku.!''


''Bagus., pertama selidiki tentang orang- orang berjubah kuning yang mengaku dari pekumpulan keluarga Istana Angsa Emas. semuanya., termasuk jumlah anggota dan juga tujuannya. selama kau diluar jangan pernah perlihatkan keadaan jari kakimu pada orang lain. tapi sebelumnya kau harus membuat suatu pekerjaan di Wonokerto. karenanya sekarang juga kau pergi lebih dulu kesana..'' ujar gadis itu.


Dibantu Roro dan Respati dia mencoba menerangkan apa yang mesti dilakukan Birunaka di Wonokerto. setelah menerima bekal sejumlah uang, pemuda itu bergegas keluar kereta. tapi sebuah tangan menahan pundaknya. tangan itu melingkar setengah memeluk si pemuda.


''Kau orang pertama dari garis keturunan keluargaku yang kutemui, jaga dirimu baik- baik karena aku tidak ingin terjadi apapun padamu., jangan berpikir macam- macam setelah aku melakukan ini padamu..!''


Birunaka tidak sempat berpikir jauh karena bibir Satriyana keburu mengecup pipinya dengan lembut. ''Pergilah sekarang.!'' bisik gadis itu.


Birunaka tersenyum malu, tapi jelas terlihat dia sangat senang. dengan menunggang kuda yang tertambat di belakang kereta, dia melesat menuju Wonokerto.


''Kalian tahu tidak., sejak dia bertemu denganku matanya sering melirik dan memandangi wajahku. kurasa dia sudah tertarik dengan tuan putri yang cantik ini., sebuah pelukan dan kecupan lembut bisa membuatnya bersemangat..'' gumam Satriyana terkikik. Respati langsung sewot.


''Lihat sekarang., tingkahnya jadi makin mirip denganmu. ini semua salahmu karena telah mengajarinya yang aneh- aneh.!''


''Hik., hi., itu justru baguskan dia terlihat lebih dewasa dan matang..'' sangkal Roro tertawa.

__ADS_1


''Bagus apanya., kalian berdua menyebalkan, mendingan aku bersama Sabarewang saja..'' gerutunya kesal. sekali menutul tubuhnya sudah berada di samping rekannya. sementara dari dalam kereta terdengar tawa terkekeh kedua wanita itu.


Respati semakin jengkel saat Sabarewang cuma diam menatap ke depan jalanan tanpa menggerakkan kudanya. tapi pemuda itu cepat tersadar kalau ada sesuatu yang tidak beres, matanya ikut melihat ke ujung jalan. entah sejak kapan di sana telah menghadang tiga orang nenek tua berjubah putih dan bermuka kuning coreng- moreng. Respati langsung sadar ada ancaman maut di depan mata.


__ADS_2