13 Pembunuh

13 Pembunuh
Siasat yang terakhir (bag3)


__ADS_3

Malam yang sungguh mengerikan untuk di gambarkan. hanya karena sebuah keinginan untuk menguasai sesuatu yang kadang tidak jelas wujud dan gunanya, para tokoh rimba persilatan itu sudi menyabung nyawanya. saling bunuh tanpa ampun. darah tertumpah dan mayat- mayat yang terkapar, beriringan dengan jeritan ngeri menyayat hati.


'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang sama memakai pakaian hijau dengan topeng tengkorak putih dari kelompok 13 Pembunuh sudah saling serang dengan orang- orang 'Istana Angsa Emas' yang berpakaian kuning hitam dan membekal pedang. dibawah pimpinan si 'Naga Urat Hijau' mereka terus mendesak pasukan lawan yang pimpin oleh 'Panglima Istana Kanan.!'


Jangan dilihat si Naga Urat Hijau masih berusia cukup muda, tenaga kesaktiannya sudah mencapai ketinggian yang luar biasa. maka tidaklah mengherankan kalau orang ini mampu menandingi kekuatan Panglima Istana Kanan, meskipun dia hanya bertangan kosong.


Berkali- kali hempasan rantai baja yang menimbulkan deru laksana topan berselimut bara api di tangan orang tinggi besar itu menghantam Naga Urat Hijau, si nomor dua dalam 13 Pembunuh itu. tapi berkali- kali juga dibuat terpental balik saat kedua tangan kekar orang berjubah mantel hitam ini yang dipenuhi jalur- jalur angker kehijauan.


Bahkan saat kedua tangannya menghantam balik, muncul enam larikan cahaya hijau mirip petir yang menyambar di sertai ledakan beruntun dan suara meraung buas laksana amukan seekor naga.


Panglima Istana Kanan seakan baru sadar kalau yang sedang dia hadapi adalah salah pesilat muda andalan ketua 13 Pembunuh yang bergelar Naga Urat Hijau. pihak Istana Angsa Emas sendiri sudah cukup lama secara rahasia mencari kabar tentang anggota 13 Pembunuh juga kekuatannya masing- masing. selain empat anggota lama, si Naga Urat Hijau inilah yang patut untuk di waspadai.


''Huh., Panglima Istana Kanan atau apapun gelaranmu, tidak akan ada gunanya jika berhadapan denganku. Darah Keabadian sudah ditakdirkan menjadi milik kami. jadi enyahlah atau mampuslah.!'' bentak Naga Urat Hijau garang. dari mengepal kini kedua tangannya membentuk cakar lalu bergerak menyambar.


Jalur- jalur sinar kehijauan yang melingkari sepasang cakarnya menderu ke depan. udara malam seakan terbelah. belum juga pukulan lawan menghantam, tapi Panglima Istana Kanan sudah merasakan tubuh besarnya seakan tercabik. inilah ilmu 'Cabikan Naga Hijau Pemusnah Dunia.!'


Tanpa perdulikan lagi jubah kuningnya yang hancur serta tubuhnya yang terasa tergencet dan di sayati ratusan pedang, Panglima Istana Kanan menggembor murka, rantai bajanya disentakkan keras ke udara lalu menghantam. selarik cahaya semerah bara api berbentuk rantai besar melabrak.


Dengan jurus 'Cambuk Petaka Rantai Geni' dia bermaksud menahan ilmu pukulan sakti lawannya. meskipun jurus itu masih sedikit di bawah ilmu 'Amukan Rantai Bara Neraka' yang jadi andalannya, tapi tetap saja sangat menakutkan.

__ADS_1


Saat dua ilmu kesaktian beradu, beberapa orang yang berada di dekat pertarungan itu terpental roboh, sebagian kulit mereka gosong bahkan tercabik- cabik. padahal mereka hanya terkena hempasan tenaga ilmu kesaktian yang saling hantam beberapa kali. maka bisa di bayangkan jika tubuh mereka yang terkena langsung.


''Saudaraku Panglima Istana Kanan.!'' jerit wanita berjubah dan bercadar kuning melihat rekannya terhempas bergulingan dengan tubuh penuh luka cabikan kehijauan. kedua tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit beracun menghantam berulang kali. delapan buah bayangan telapak tangan kuning menyambar bagaikan sukma gentayangan.


''Jurus 'Delapan Tapak Dewi Menebar Bisa.' huh., apa hebatnya.!'' terdengar seseorang mengejek. bersamaan muncul sesosok bayangan manusia berjubah kelabu yang datang menghadang pukulan Panglima Istana Tengah. sepasang tangan kekar dan keras penuh bisul kudis menghamburkan berlusin pukulan sakti. semburan cairan merah berbau anyir darah busuk semburat ke segala penjuru.


''Awas., ilmu 'Seribu Bisul Busuk Darah Setan' dari si Gila Tangan Kudis. lekas menyingkir..!'' seru 'Panglima Istana Kiri' sambil lepaskan gelang- gelang mautnya untuk menggempur 'Datuk Tinggi Mayat Besi' dan si 'Iblis Tua Jenggot Perak' yang mengeroyoknya. namun kedua lawannya bukanlah pesilat kacangan. bukannya sanggup menjebol kurungan, dia malah semakin terdesak.


Panglima Istana Tengah menjerit tertahan. dia maklum betapa berbahayanya jurus kesaktian lawan yang telah mampu menyapu habis tenaga ilmu pukulan Delapan Tapak Dewi Menebar Bisa yang dia lepaskan. wanita bercadar kuning itu mesti buru- buru berkelebat menjauh agar tidak terkena semburan darah kudis beracun lawannya. jurus pukulannya sendiri juga mengandung racun mematikan, tapi kekuatannya masih kalah di banding ilmu si Gila Tangan Kudis.


Meskipun begitu setidaknya dia masih mampu mencegah Naga Urat Hijau untuk terus menghabisi Panglima Istana Kanan, seksligus memberikan kesempatan para anak buahnya agar dapat mengamankan tubuh rekannya yang terkapar luka parah.


''Bagaimana dengan tugasmu, apakah sudah kau selesaikan. bagaimana juga dengan ketua dan yang lainnya.?'' tanya Naga Urat Hijau sambil tekap dadanya. pemuda ini sempat terhuyung nyaris roboh. terlihat mantel jubah hitamnya bagian depan robek besar dan hangus terbakar saat beradu ilmu kesaktian dengan Panglima Istana Kanan.


''Semuanya berjalan dengan lancar. tapi di luar dugaan terjadi pembantaian di luar gerbang timur Wonokerto. anak buah kita sempat melihat api yang membumbung tinggi di sertai ledakan beruntun dari empat kereta kuda. ratusan mayat terkapar jadi korbannya. Hee., he., harus kuakui kalau si pembuat rencana itu sangat luar biasa..''


''Aku tidak melihat para pengkhianat itu. ada di mana mereka sekarang ini.?'' celetuk si Gila Tangan Kudis sambil berkacak pinggang dengan mata jelalatan ke segala penjuru yang di penuhi pertarungan sengit. saling bantai tanpa ampun.


Pembunuh gila ini terkekeh melihat kawan lamanya si 'Setan Arak' dan 'Penjudi Dari Akhirat' sedang sibuk membantai hampir setiap orang yang berada di dekatnya. tangan menghantam, arak beracun dari mulutnya menyembur. korban terkapar berkelojotan dengan kulit terkelupas hangus menghitam tinggal tulang.

__ADS_1


Rekannya si Penjudi Dari Akhirat juga tidak mau kalah berkali- kali dadu besinya mampu melubangi kepala lawan hingga bengkak dan meletus. tapi tidak jarang kaki dan tangannya yang ganti menghantam hancur kepala lawannya.


Tapi Naga Urat Hijau seperti menyadari sesuatu yang ganjil, dia tidak melihat empat buruan mereka yang kabur. di saat merasa ada yang tidak beres dari dalam rumah terdengar suara jeritan yang menyayat hati.


''Aakh., kau., kau kejam sekali Ki Ageng Bronto, semua harta 'Istana Angsa Emas' dan bocah ajaib itu hendak kau miliki sendiri, hingga tega mem., membu., nuh kami ber., tiga.!''


''Haa., ha., akulah yang berhak atas semua ini, salahmu sendiri karena mempercayaiku. matilah menyusul si nomor tiga belas dan si buntung nomor empat itu.!'' terdengar gertak seseorang bengis.


''Itu seperti suara teriakan si nomor dua belas 'Dewi Malam Beracun'., apa yang telah terjadi dengannya. jangan- jangan dia telah terbunuh oleh si nomor sembilan Ki Ageng Bronto.?'' tanpa sadar hampir semua orang bergerak maju ke depan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. karena kereta kuda hitam itu berada di depan pintu rumah besar, membuat pandangan mata mereka menjadi terhalang.


Entah siapa yang berseru duluan, para pesilat serakah itu berebut masuk ke dalam rumah. hampir semuanya bergerak cepat saling mendahului. karena peta harta dan bocah ajaib dengan Darah Keabadian itu terlalu menarik untuk mereka tinggalkan.


Maka saat semuanya sudah terjadi, segala penyesalan jadi terlambat. sebuah ledakan beruntun yang mungkin lebih besar dari pada yang telah terjadi siang tadi di luar gerbang timur Wonokerto kembali berulang. bumi bergoncang keras, langit malam sesaat di taburi pijaran bara api yang membumbung tinggi. teriakan dan jeritan parau yang di sertai semburatnya potongan tubuh ratusan mayat bercampur darah semakin membanjiri pelataran rumah Ki Ageng Bronto.


Bermacam senjata rahasia seperti pisau, jarum, paku sampai bola besi berdiri yang berjumlah ratusan turut berhamburan ke segala penjuru.


Ledakan dan bara api dari Kereta Kuda Maut yang di ikuti semburan beratus- ratus senjata rahasia beracun, membuat tokoh silat kawakan sekalipun akan kesulitan untuk menghindarinya. begitu hebatnya kejadian itu hingga sanggup merobohkan dinding pagar rumah besar yang berjarak cukup jauh.


Sungguh ini mungkin suatu pemandangan paling mengerikan yang pernah terjadi dalam masa itu. pada akhirnya rumah besar milik Ki Ageng Bronto berderak hancur lalu runtuh di lalap bara api.

__ADS_1


__ADS_2