13 Pembunuh

13 Pembunuh
Ooohh.,


__ADS_3

Dalam kehidupan di dunia ini terkadang ada sebagian orang yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan harga diri sampai rela berkorban nyawa demi seseorang. sebaliknya terdapat juga yang tega berkhianat hanya untuk mendapatkan harta dan kemuliaan, meskipun harus mengorbankan sahabat baik, kekasih atau bahkan saudara sendiri.


Di sisi lain hubungan cinta kasih antara orang tua terhadap anaknya bisa disebut pula hubungan kasih sayang yang paling murni. tapi seringkali rasa sayang orang tua kepada sang buah hati masih kalah dengan rasa sayang seorang kakek atau nenek terhadap cucu kesayangannya.


Jika seorang anak berbuat kesalahan orang tua pasti memberikan peringatan atau bahkan memarahinya. tapi kalau sang cucu berbuat suatu kenakalan, kakek dan neneknya cenderung lebih dapat memaklumi atau bahkan membelanya jika ada orang yang menegur sang cucu.


Apa yang terjadi dalam kehidupan diluar sana juga dirasakan oleh seorang tokoh silat tua yang sekaligus pembunuh kawakan dari kelompok '13 Pembunuh'. si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' yang terkenal dingin kejam tanpa ampun, bahkan tidak memiliki sikap hormat pada pimpinannya juga tidak luput dari perasaan sayang antara kakek dan cucu lelakinya.


Bedanya adalah., orang tua bertangan kanan buntung ini masih enggan untuk berkhianat langsung terhadap anggota kelompoknya. bagaimanapun juga tetap ada ikatan kuat diantara mereka karena sudah sangat lama mereka berjuang bersama dalam kelompok 13 Pembunuh.


Dia sengaja mengatakan sebagian kebenaran dalam ucapannya seperti bertarung dengan si pincang juga memburunya. disisi lain orang tua itu tidak mengatakan soal 'Pengemis Tua Mata Setan' yang telah tewas ditangannya. beberapa bagian cerita sengaja dihilangkan sebagian lagi malah ditambahi.


Semua itu dimaksudkan agar sang ketua dan kedua rekannya untuk berpikir keras tentang masalah yang terjadi sebenarnya diluar sana. dengan demikian perhatian mereka menjadi rada terpecah. bagi seorang pesilat kawakan hati dan pikiran mesti menyatu dalam setiap menentukan langkah pertarungan.

__ADS_1


Ilmu silat dan kesaktian tingkat tinggi atau senjata pusaka yang sakti mandraguna sekalipun tidak akan berguna jika sedikit saja salah melangkah. karena meskipun hanya seruas garis saja terjadi kesalahan bertindak maka akibatnya nyawa akan melayang dari raga.


''Kurasa hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari pengganti si 'Hantu Caping Getih' sekalian memerintahkan anak buah kita yang ada diluar sana agar menyelidiki jejak Pengemis Tua Mata Setan..'' ujar Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' sambil korek- korek lubang hidungnya yang kotor beringus. melihat kelakuannya ketiga orang lainnya sama mendengus karena merasa jijik.


''Aku punya kenalan seorang tokoh silat dari tanah Banjar yang bergelar 'Nenek Mandau Terbang'. kudengar dia sedang datang ke tanah Jawa ini karena suatu urusan dendam lama berkaitan dengan 'Serikat Kalong Hitam' yang telah membunuh keponakannya.jika kita berjanji untuk membantu membalaskan dendamnya dan memberi dia barang satu atau dua harta pusaka dari gudang 'Istana Angsa Emas' mungkin dia dapat kita tarik untuk bergabung..'' kali ini si 'Setan Arak' yang mengajukan usul sambil tidak lupa menanggak minuman kerasnya.


''Kau atur saja demikian, jangan lupa untuk mengingatkan si 'Momok Jelaga Hitam' agar terus meminum ramuan obat penguat tubuh karena serangan hawa dingin akibat pukulan sakti dari 'Dewa Serba Putih yang masih mengeram didalam tubuhnya. meskipun minum ramuan obat itu terasa menyakitkan tapi tetap harus dia lakukan. aku tidak mau sia- sia menyelamatkan nyawanya dari kematian jika akhirnya dia cuma menjadi mayat.!''


Begitu selesai bicara tubuh tinggi besar berjubah kuning itupun berkelebat lenyap dari sana. ketiga orang anak buahnya cuma saling lirik. ''Kita mesti siapkan segalanya dipulau 'Seribu Bisa' ini. baik itu jebakan maut atau barisan 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis. biar diriku yang mengaturnya..'' ujar Klowor Gombor lantas menyusul lenyap dibalik kegelapan.


''Apa bedanya dia datang atau tidak. kalau pencuri licik itu berani muncul, kita bunuh secepatnya. jika tidak datang anggap saja dia sudah takut mati..'' jawab Lengan Tunggal Pengejar Roh dengan suara dingin. sekali bergerak tubuhnya lenyap dari samping si Setan Arak. dalam hatinya pemabuk tua itu membatin. ''Hehm., orang ini masih saja tidak berubah. dimatanya semua yang berani melawannya tidak lebih dari sesosok mayat.!''


Suara kokok ayam jantan mengiringi mentari pagi yang baru saja terbit dari ufuk timur. sinarnya yang cerah dan hangat menyapu pucuk- pucuk dedaunan juga ranting pohon yang basah karena hujan semalaman. udara pagi hari itu berhembus cukup dingin.

__ADS_1


Gelak tawa dua orang wanita muda beberapa kali terdengar dari dalam sebuah gubuk bambu yang berada agak menjorok dari tepian sebuah hutan. jika diamati ada dua orang perempuan berpakaian dan bercadar kain hitam yang berdiri diluar gubuk itu seakan sengaja berjaga di sana.


''Haa., ha., otakmu bukan saja licin tapi juga jorok. bagaimana kau bisa kepikiran untuk memberikan sapu tangan bekas keringatmu ke dalam kotak kayu cendana hitam palsu itu. dapat kubayangkan betapa marahnya ketua dari kelompok 13 Pembunuh itu jika dia tahu isi kotak kayu yang lama dia idamkan..'' ucap seorang gadis cantik berjubah putih yang sedang duduk diatas kursi kayu.


Di dalam gubuk bambu itu selain dirinya juga ada dua orang tua bermuka mirip monyet dengan kulit tubuh berbulu putih kecoklatan juga seorang wanita muda berparas sangat cantik dengan jubah gaun hitam. mereka berempat sejak tadi malam duduk dan mengobrol sambil menyantap makanan yang terhidang diatas meja persegi.


Begitu makanan dan minuman habis, salah satu dari dua perempuan yang berjaga diluar gubuk segera menggantunya dengan hidangan yang baru. empat orang itu punya nafsu makan dan minum yang cukup besar. apalagi suasana hati mereka juga sedang gembira.


''Hee., he., kami sudah pernah mendengar kehebatan tipu muslihat dari 'Dewi Malam Beracun' tapi baru kali ini aku mengakuinya..'' ujar si nenek tua bermuka monyet. ''Jika tidak mengalaminya sendiri diriku juga masih merasa sangsi. maklumlah., orang persilatan sering kali menambahi bumbu dalam setiap ceritanya..'' sambung si kakek tua yang juga berwujud mirip monyet lutung turut memuji.


Yang dikagumi oleh ketiga orang itu adalah si wanita cantik berjubah gaun hitam. dengan sunggingkan senyuman sombong dia cuma kibaskan sebelah tangannya dan mendesah, ''Aash., itu cuma permainan kecil saja. tidak perlu dibesarkan. sekarang aku bertanya pada kalian dua ketua perguruan 'Lutung Ciremai'. siapakah orang yang telah mengutus kalian berdua jauh- jauh datang ke mari.?''


Sepasang orang tua bermuka monyet yang bukan lain adalah Ki Tirtayasa dan istrinya Nyi Kunarsih alias si 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' saling pandang sesaat sebelum menjawab. ''Beberapa tahun lalu perguruan silat kami punya hutang budi dan nyawa yang sangat besar dengan seorang pemuda sakti yang dulunya pernah menjadi yang terkuat dalam sepuluh pesilat muda pendatang baru..''

__ADS_1


''Tung., tunggu dulu. kau., kau bilang dia pernah menjadi yang teratas dalam jajaran pesilat muda terkuat pada masa lalu. apakah dia seorang pemuda berkaki pincang dengan sebatang tongkat besi hitam ditangannya.?'' potong gadis berjubah putih yang memang Puji Seruni itu dengan raut wajah sumringah penuh harap.


''Itu memang benar. tapi bagaimana kau bisa tahu. apakah Nyi Puji Seruni kenal dengan pemuda itu.?'' dengan heran Nyi Kunarsih balik bertanya. gadis itu cuma diam tertunduk seolah ada suatu pikiran berat di kepalanya. yang menjawab adalah Roro. ''Dia bukan saja kenal. asal kalian tahu saja, mereka berdua adalah sepasang kekasih..'' kedua orang tua itu tertegun dan tersenyum saling pandang. dari mulut mereka cuma terdengar suara panjang ''Ooohh..''


__ADS_2