
Birunaka masih tenggelam dalam lamunan hingga tanpa disadari Satriyana dan ketiga rekannya sudah berlalu pergi. masalah yang ada di dalam pikiran pemuda itu sekarang ini memang bukan perkara sembarangan yang gampang untuk diputuskan.
''Dari pesan yang di wariskan para leluhur keluarga kami secara turun temurun sejak ratusan tahun silam, para keturunan anggota keluarga Istana Angsa Emas mempunyai ciri tubuh yang agak berbeda semacam cacat bawaan..''
''Bagi keturunan laki- laki ada pada dua jari manis dan tengah di kaki sebelah kiri yang sama panjangnya. sebaliknya keturunan perempuan ada pada jari kaki sebelah kanan., dan di antara para keturunan itu hanya satu orang saja yang mempunyai 'Darah Keabadian..!''
Jika diamati pada umumnya panjang jari manis dan tengah manusia baik di kaki maupun tangan akan selalu berbeda. jari tengah selalu lebih panjang dari jari manis. kalau ada yang berbeda maka bisa disebut sebuah kelainan atau cacat lahir.
''Semakin lama sisa dari keturunan keluarga Istana Angsa Emas semakin sedikit yang mampu bertahan. dari cerita yang pernah aku dengar dari mendiang ayah., kakeknya adalah salah satu hulubalang kepala pasukan Istana Angsa Emas, sebelum terjadi perselisihan dan pengkhianatan di dalam keluarga itu..''
''Walaupun mendiang kakek dan ayah sudah tidak ingin terlibat lagi dalam urusan Istana Angsa Emas, tapi sumpah setia untuk terus mencari dan melindungi keturunan utama yang memiliki Darah Keabadian tidak boleh terlupakan., karena jika darah keturunan utama itu sampai dikuasai pihak lain yang mempunyai niatan jahat, maka dunia bakal mengalami kegelapan dan bencana yang sangat mengerikan..!''
Birunaka terus berpikir keras, pemuda ini seakan bimbang dalam menentukan sikap, apakah harus mengikuti Satriyana sambil menyelidikinya secara diam- diam, ataukah langsung berterus terang saja. ''Selama ini aku hanya mengenal dua orang saja yang menjadi keturunan keluarga Istana Angsa Emas. selain ayah cuma guruku yang punya ciri jari kaki sama. keduanya juga sudah tiada lagi di dunia ini..''
''Sialan., apa yang mesti kulakukan..'' gumam si pemuda mondar- mandir dalam warung. ''Hhum., belakangan ini juga beredar kabar tentang adanya bayi ajaib dan peta rahasia harta pusaka Istana Angsa Emas., belum lagi kemunculan tiga orang sakti berjubah kuning yang mengaku- ngaku sebagai para panglima istana itu.,''
''Omong kosong., beraninya mereka berbuat seperti itu. jangan- jangan mereka bertiga justru adalah para pengkhianat Istana yang menginginkan Darah Keabadian..?''
Pemuda itu seketika terdiam saat merasakan ada kehadiran seseorang. dia terkejut melihat di depan pintu warungnya telah muncul seorang pengemis tua bercaping daun pandan dan berjubah hitam copang- camping.
''Siapa adanya orang tua ini ?'' batin Birunaka, entah kenapa hatinya bisa merasakan suatu ancaman. meskipun begitu dia tetap bersikap biasa malah memberikan dua buah keping uang tembaga pembayaran Roro pada pengemis tua berjubah hitam itu.
__ADS_1
''Maaf orang tua., hanya ini yang dapat aku berikan untukmu, tapi kalau kau lapar bisa kubungkuskan nasi dan lauk seadanya..'' tawar Birunaka sambil melirik sekejab kedua tangan pengemis itu yang terlihat kehitaman. keadaan tangan hitam itu mengingatkannya pada sesuatu.
''Hek., he., kau pemuda baik., uang tembaga ini aku terima. selanjutnya ingin kutanyakan sesuatu kepadamu., apakah kau kenal dengan gadis pemanah dan ketiga kawannya yang tadi mampir ke warungmu.?'' bertanya si pengemis itu. suaranya terdengar serak sengau dan terputus- putus seakan ada sesuatu yang mengganjal di mulutnya.
''Apa maksud pertanyaanmu pengemis tua, aku baru bertemu gadis pemanah itu. lalu bagaimana bisa kenal..?'' ucap Birunaka balik bertanya. tanpa sadar pemuda ini menjadi waspada.
Mata pengemis tua itu menyorot tajam., kedua kepalan tangannya yang kehitaman mengepal keras. sekilas hawa membunuh terpancar dari tubuh orang ini. ''Ouh sungguh hebat., mengaku tidak mengenal tapi bisa saling bantu menghabisi Kebo Dungkul dan semua anak buahnya., kalau kulihat dari gaya bertarungmu kau pasti murid dari si kaparat Ki Arca Bongkaran alias si Dewa Pentung..!''
''Aku sudah lama berusaha mencarinya tapi setan tua itu lenyap tidak karuan rimbanya, sekarang biarpun cuma bisa mendapatkan muridnya juga tidak masalah, yang penting diriku dapat melampiaskan dendamku. Hek., he., he.!''
Mendengar ucapan pengemis tua yang tahu latar belakangnya membuat Birunaka terkesiap juga. ''Pengemis tua., katakan saja siapa kau sebenarnya. jangan berani bicara kurang ajar tentang Ki Arca Bongkaran..!''
''Huhm., kau tidak layak mengetahuinya. cepat jawab siapa dirimu sesungguhnya dan ada urusan apa dengan Ki Arca Bongkaran..!''
Pengemis tua goyangkan kepalanya hingga caping bambunya terlepas, kini terlihatlah mukanya. seraut wajah hitam kusam enam puluh tahunan dengan rahang sebelah kiri sedikit melesak kedalam bekas terpukul. rupanya inilah yang membuatnya tersendat kalau berbicara. dengan tangan kanannya dia membuang jubah hitam lusuh yang menutupi tubuh luarnya. rupanya orang tua ini memakai sebuah pakaian lusuh dengan sembilan buah kain tambalan enam warna.!
''Kau dari perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan., si Pengemis Watu Item..!'' seru Birunaka dengan muka berubah hebat. dari gurunya Ki Arca Bongkaran dia sudah pernah mendengar permusuhan sang guru dengan anggota perkumpulan pengemis yang bermarkas di jawa barat ini. karena rahang kiri yang cacat penyok itu adalah akibat dari pentungan gurunya.
''Bagus kau sudah tahu siapa adanya diriku., sekarang terima saja nasib sialmu..!'' teriak Pengemis Watu Item sambil hantamkan kedua kepalan tangannya yang berubah semakin hitam legam. dalam sekali serang orang ini lancarkan empat pukulan ajian Watu Item. gulungan angin sekeras bongkahan batu melabrak dahsyat.!
Birunaka tercekat ngeri, tapi tidak menjadi panik atau takut. dengan cepat dia melompat mundur sambil ayunkan pentungan kayu sakti di tangannya beberapa kali untuk menahan gempuran jurus ajian Watu Item yang mengancamnya.
__ADS_1
'Whuuk., Whuuk.,!'
'Bheet., Wheeet., Braask..!'
'Dheees., Dhaass..!'
Benturan ilmu pukulan dan senjata sakti yang terjadi berulangkali membuat seisi warung makan itu porak poranda bagai dilanda gempa. tubuh Birunaka tergetar mundur hingga membentur dinding dapur di belakang warung. tungku perapian yang masih menyala turut hancur, bara apinya semburat menyambar dinding dan meja kayu warung hingga mulai terbakar.
''Pengemis tua keparat., ganti warungku dengan nyawamu..!'' damprat Birunaka marah. meskipun cuma sebuah warung kecil tapi menyimpan banyak kenangan baginya. diantara jilatan kobaran api yang makin membesar, si pemuda ganti hantamkan senjatanya hendak mengepruk hancur kepala lawan. deru angin keras mengiringi serangan itu.!
''Jurus Pentungan Penggebuk Anjing..!'' ejek Pengemis Watu Item, ''Apa hebatnya jurus itu..?'' Dengan cepat orang tua ini menghantam langsung senjata pentungan lawannya. dalam perhitungannya jurus Birunaka pasti mampu dihancurkan dalam sekali pukulan. tapi diluar dugaannya senjata pentung yang datang mengepruk kepala dari atas kini malah berputar balik hingga timbulkan tiga pusaran angin tenaga hendak menghajar belakang tubuh Pengemis Watu Item. inilah jurus 'Tiga Gebukan Penghancur Punggung Gunung.!'
Meskipun terperangah tapi tidak ada lagi jalan mundur, terpaksa orang tua itu balikkan badan sambil kembali hantamkan Ajian Watu Item. benturan jurus kesaktian kembali terjadi di dalam warung yang sudah mulai di lalap api.
Pentungan kayu sakti Birunaka terlepas dari tangannya yang kesemutan, meskipun tubuhnya sampai mencelat menabrak dinding warung, tapi salah satu pukulannya mampu membuat Pengemis Watu Item jatuh tersungkur dan muntah darah. susana yang sangat panas dan asap tebal menyesakkan membuat Birunaka harus secepatnya menjauh.
Dengan sisa tenaga dan terbatuk darah si pemuda berhasil meraih kembali senjata pentungannya dan merangkak keluar warung yang sudah dilalap si jago merah. beberapa kali kulit tubuhnya terjilat api hingga melepuh dan terkelupas. dia mengeluh saat didepannya sudah menghadang seseorang dengan tubuh terbungkuk- bungkuk dan darah keluar dari ujung bibirnya.
''Hek., he., mampuslah kau bocah..!'' geram Pengemis Watu Item sembari langsung hantamkan pukulan Watu Itemnya ke kepala Birunaka yang hanya bisa pasrah. meskipun dari tenaga serangannya yang lemah menandakan lawan sudah terluka dalam, tapi tetap saja pukulan itu masih mampu merenggut nyawanya.!
Suara bergemuruh disertai runtuhnya bangunan warungnya yang terbakar membuat hati Birunaka sedih. bertahun- tahun dia hidup di tempat itu. berbagai kenangan pahit manis ada di sana. bersamaan dengan deru pukulan lawan, pemuda itupun merasakan kegelapan datang.
__ADS_1