
Ratusan sosok mayat yang bergelimpangan dan darah yang mengalir membanjiri pedataran itu menyebarkan bau anyir memuakkan saat di hembus angin. meskipun waktu baru lewat tengah hari tapi suasana sudah terlihat begitu menyeramkan.
Jurata merasakan kengerian melihat semua itu. biarpun sudah cukup lama dia bergelut dalam dunia hitam rimba persilatan, tapi baru sekarang dia melihat pembantaian besar- besaran seperti ini. dalam hati Jurata membatin, ''Kalau di dalam hati manusia telah di selimuti keserakahan., tidak akan ada lagi perasaan belas kasihan dalam jiwa mereka..''
Di sana masih bertahan lebih lima puluh orang tokoh silat juga para prajurit Demak. bukan tidak mungkin masih ada orang pendatang baru lagi yang turut bersaing memperebutkan peti kayu cendana hitam yang mereka yakini berisi peta rahasia istana 'Angsa Emas'.
Setelah menghela nafas prihatin orang ini balikkan tubuhnya dan tinggalkan tempat itu. selain merasa tidak sampai hati melihat ratusan manusia yang terus saling bunuh, dia juga masih harus melakukan sesuatu yang di tugaskan Respati si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' kepadanya.
Seorang tokoh silat wanita setengah umur berjubah kemerahan yang bernama Nyi Wisa Geni mengernyit. sambil terus babatkan pedang 'Naga Geni' di tangannya untuk menghabisi beberapa orang pesilat yang terus mengeroyoknya, pendekar perempuan ini berpikir ''Surat wasiat sudah berhasil aku dapatkan dari tangan 'Empat Mayat Hijau'. tapi aku tidak yakin ini surat yang asli karena belum sempat kubaca..''
Setelah berpikir sekejap Nyi Wisa Geni membentak keras sambil putar pedangnya lebih cepat hingga seakan menjadi sebuah dinding perisai berapi. tiga pengeroyoknya seketika terjungkal roboh demgan goresan hitam hangus di perutnya tersambar pedang Naga Geni. menggunakan kesempatan itu Nyi Wisa Geni cepat mencelat menjauhi kalangan pertarungan.
Saat masih berada di udara, dia kebutkan lipatan kain biru bernoda darah kering yang baru di rebutnya dari Empat Mayat Hijau. meskipun cuma selintas membacanya tapi jelas kalau isi lembaran kain itu bukanlah berisi peta rahasia istana Angsa Emas, melainkan cuma sebuah pesan terakhir dari 'Sepasang Pengamen Murung'.
''Sialan., keparat., kita semua tertipu.!'' teriak Nyi Wisa Geni gusar. karena seruan ini di sertai aliran tenaga dalam tinggi, membuat gemanya cukup menggetarkan seluruh tempat itu. tanpa sadar semua orang cepat menoleh hentikan pertarungan. kesempatan ini di gunakan oleh sebagian orang untuk memulihkan diri atau sekedar mengobati luka- luka di tubuhnya.
''Apa maksudmu Nyi Wisa Geni., jangan coba bermain muslihat di sini..!'' gertak 'Iblis Cebol Kepala Plontos'. sebelum bicara orang kate ini masih sempat menghantamkan beberapa jurus pukulan 'Tumbukan Kembar Palu Geledek' ke pintu salah satu kereta kuda hitam namun sempat di halangi Ki Lembu Singkil alias 'Raja Celurit Emas' dan anak buahnya dari perkumpulan 'Celurit Kembar'.
__ADS_1
''Huh., di saat kacau seperti ini bisa- bisanya kau mencoba mengalihkan perhatian orang..'' sambung Ki Lembu Singkil mengejek.
''Sudahlah Nyi Wisa Geni., kau serahkan saja surat rahasia peta istana Angsa Emas yang berada di tanganmu itu.!'' desak para tokoh silat lainnya yang hadir di sana.
''Setan alas., apanya yang peta rahasia. lihat lembaran kain ini cuma berisi pesan terakhir dari 'Sepasang Pengamen Murung' yang mengatakan kalau peta istana keramat itu berada di tangan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis.!'' Nyi Wisa Geni balik mendamprat sambil lemparkan lembaran kain itu ke udara yang cepat menjadi rebutan puluhan pesilat hebat yang ada di sana.
Seketika itu juga Iblis Cebol Kepala Plontos, si Sukma Tertawa, Raja Celurit Emas, ketua perguruan silat Pangrango Sakti juga tidak ketinggalan Ki Maruta si Pendekar Belibis Putih dan belasan pesilat lainnya sama berkelebat ke atas, di sana tangan, kaki dan senjata mereka saling beradu dengan sengitnya. beberapa pesilat yang berilmu lebih rendah langsung berjatuhan ke tanah dengan nyawa amblas.
Setelah sempat berpindah tangan beberapa kali di udara, Ki Maruta si Pendekar Belibis Putih berhasil mendapatkan lembaran kain itu. tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama. belum sempat tubuhnya kembali menjejak bumi, mendadak muncul seekor burung gagak hitam yang ukurannya hampir tiga kali burung gagak biasa dan bermata semerah bara api dengan bersuara parau.
'Ggaaak., ggaak.!'
'Whuut., whuut., traang.!'
''Burung gagak jahanam.!'' rutuk Ki Maruta. sambaran cakar burung gagak itu bukan saja mampu merebut lembaran kain namun juga merobek pergelangan tangan kirinya. biarpun pedang 'Sayap Belibis Sakti' di tangannya sempat dua kali membabat burung itu tapi cuma satu saja yang berhasil mengenainya. itupun tidak membawa akibat apapun bagi burung gagak itu seakan bulu- bulu hitamnya terbuat dari besi.!
Semua orang menoleh, di bawah sebuah tandu yang di kawal tiga orang gadis cantik yang membekal cambuk berduri, terlihat duduk seorang wanita berwajah jelita namun berkaki buntung. di bahu kiri wanita ini bertengger burung gagak besar mata merah yang mampu merebut lembaran kain biru dari tangan Ki Maruta.
__ADS_1
''Ratu Siluman Gagak.!'' desis semua orang yang berada di sana geram. wanita berkaki buntung itu sama sekali tidak menggubris omongan orang. sekali saja dia membaca isi surat kain itu, tangannya langsung meremas lembaran kain yang tergenggam hingga hancur menjadi bubuk. semua orang di sana menjadi geger dan beringas.
''Kalian tidak perlu berebut lagi soal surat kain ini. Nyi Wisa Geni benar., kita mungkin sudah tertipu. isinya cuma pesan terakhir dari Sepasang Pengamen Murung..''
''Kedua tua bangka itu berpesan sebelum mati, kalau Ular Sakti Berpedang Iblis telah merebut peta rahasia istana Angsa Emas dari mereka. tapi., entah bagaimana surat wasiat ini malah bisa berada di tangan Empat Mayat Hijau..'' terang wanita cantik bergelar Ratu Siluman Gagak. penguasa dari pulau 'Gagak Hantu' ini terlihat berusaha menindih kemarahannya.
Dalam pertempuran besar ini dia membawa empat orang anak buahnya yang paling hebat. tapi satu di antaranya sudah menjadi korban. pulau Gagak Hantu ini letaknya jauh berada di selatan selat Sunda. konon Ratu Siluman Gagak sengaja mengumpulkan para wanita cantik yang pernah di sakiti kaum lelaki, lalu mendidik mereka dengan keras agar kelak dapat membalaskan dendam. maka bisa di maklumi jika hubungan antara para wanita penghuni pulau misterius itu sangat erat karena kesamaan nasib.
''Ular Sakti Berpedang Iblis., bukankah orang ini adalah anggota nomor tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh..'' gumam para pesilat itu dengan muka berubah hebat.
''Jangan- jangan., kelompok pembunuh bayaran itu bakal turut datang ke mari. tapi itu juga tidak mungkin., bukankah ada kabar yang mengatakan kalau kereta hitam yang di tumpangi oleh si nomor tiga belas itu tidak lagi membawa peti kayu cendana hitam dan bayi ajaib..'' gerutu si Sukma Tertawa sambil mengusap bekas luka lama di bahu kirinya. kabarnya dulu orang ini sempat terluka cukup parah karena berebut sebuah batu sakti bernama Nirmala Biru. sialnya dia malah termakan oleh tipuan seorang pemuda yang pincang kakinya.
''Benar., malah aku mendengar sendiri kalau peti kayu cendana hitam itu justru di curi oleh 'Empat Mayat Hijau'. tapi tidak ada barang apapun di mayat mereka..'' geram Raja Celurit Emas. rupanya orang ini sempat ikut mengintai Respati dan kawan- kawannya saat bertarung dengan 'Sepasang Ular Nusakambangan'.
''Sialan., kalau memang kain itu bukan berisi peta istana keramat, lalu untuk apa kita saling bunuh. setan jahanam., siapa bangsat yang telah menipu kita semua.?'' geram para tokoh silat murka. mata mereka perlahan beralih pada empat buah kereta kuda hitam yang pintunya terikat rantai besi. apakah peti kayu hitam wasiat itu berada di dalam salah satu kereta kuda itu.?
Semua orang mulai saling lirik curiga, hawa pembunuhan kembali menyebar. tapi tidak satupun yang berani duluan bergerak. meskipun begitu sudah terbayang kalau sebentar lagi jeritan menyayat yang menggema di sertai darah yang tertumpah akan kembali terdengar seiring dengan para tokoh silat yang berebut untuk masuk ke dalam kereta hitam.
__ADS_1
Padahal mereka belum dapat memastikan benda apa yang berada dalam empat kereta hitam itu, sebuah keberuntungan atau malah malapetaka maut yang menunggu mereka.