
Sejenak kedua orang suami istri yang jadi ketua padepokan Lutung Ciremai itu tertegun diam. nyaris bersamaan mereka memandang wanita secantik bidadari berjubah gaun hitam yang duduk di kursi seberang meja makan. saat melirik perempuan jelita satu lagi yang memakai jubah putih disebelahnya, meski dia sempat kaget tapi sekarang terlihat santai.
'Raja dan Ratu Lutung Sakti' biarpun merasa keheranan dan sangat penasaran tapi mereka masih berusaha menahan diri untuk tidak bertanya. wanita cantik bernama Roro itu tersenyum sinis sekaligus geli melihat tingkah keduanya. setelah beberapa saat kemudian akhirnya diapun mulai bicara juga.
''Kurang lebih dua tahun lalu aku membentuk suatu perkumpulan rahasia yang anggotanya terdiri dari para wanita dan hampir semuanya punya latar belakang yang mengenaskan. perempuan setengah tua yang ada diluar itu bernama Nyi Sapta Kenanga berjuluk 'Tujuh Bunga Terbang'. dia adalah orang kedua dalam persekutuan 'Bulan Perak.!''
''Awalnya dia adalah sasaranku sesuai dari perintah ketua '13 Pembunuh'. tapi karena aku kemudian tahu Nyi Sapta Kenanga ternyata adalah orang baik yang gemar membantu kaum wanita tertindas sekaligus juga maling budiman, diriku menjadi bersimpati dan singkatnya aku menyamarkan kematiannya..''
''Sejak hampir setahun lalu aku dan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' juga satu lagi rekanku bernama yang Sabarewang tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis bernama Satriyana. tidak disangka rupanya dia bukan lain adalah pewaris dari 'Istana Angsa Emas' sekaligus juga pemilik 'Darah Keabadian' yang jadi incaran kaum persilatan. utamanya., sang ketua 'Kelompok 13 Pembunuh.!''
''Akhirnya kami berempat dengan memakai sebuah kereta kuda yang telah kupasangi banyak peralatan rahasia berangkat menuju Wonokerto, dalam kereta kuda itu juga kami menemukan sebuah peti kayu candana hitam yang isinya adalah peta petunjuk dan kunci menuju Istana Angsa Emas..''
Berbeda dengan Puji Seruni yang sudah pernah mendengar cerita ini dari sahabatnya, tidak demikian dengan Ki Tirtayasa dan Nyi Kunarsih. mereka tanpa sadar tidak dapat tutupi rasa terkejutnya. meskipun sangat tertarik dengan berita ini tapi mereka tetap enggan bertanya.
''Hik., Hi., aku tahu kalau sebenarnya kalian dua orang tua sakti bermuka monyet pasti merasa penasaran dengan semua cerita ini namun merasa malu untuk bertanya padaku bukan.? Aaish., tidak perlu sungkan begitu. akan kujelaskan semuanya..'' Roro Wulandari tertawa menyindir dan berucap seenaknya.
Meskipun rada jengkel disebut sebagai orang tua muka monyet tapi keduanya tidak ambil pusing. apalagi sebelumnya mereka sudah pernah mendengar sifat sombong dari wanita cantik itu. ''Sudahlah Roro., katakan saja semuanya. tidak sopan bicara begitu pada kaum tua..'' tegur Puji Seruni ikut kesal juga.
''Chuih., dari dulu caraku berbicara juga seperti ini Puji Seruni. tapi baiklah., akan aku lanjutkan. setelah melewati berbagai macam kejadian dalam perjalanan kami berempat menuju Wonokerto aku baru tahu kalau peti kayu cendana hitam yang kami bawa adalah barang palsu untuk pancingan bagi orang persilatan yang ingin memilikinya. dari cerita Satriyana aku juga menyadari kalau peti yang asli sangat mungkin masih berada di Kembangsoka. desa tempat tinggal bocah perempuan itu..''
Dari sini Roro sengaja hentikan ucapannya. sepasang matanya yang indah dan bening menatap tajam kedua orang tua yang duduk diseberang meja makan. sikapnya terlihat seperti sengaja hendak memancing amarah lawan bicara. maka tanpa dapat ditahan ketua padepokan silat Lutung Ciremai itu akhirnya bertanya juga.
''Maaf jika aku ingin bertanya. saat terjadi bentrokan antara kami dengan Nyi Balung Geni dan kedua kawannya, bawahanmu yang sedang menyamar menjadi anak buah 13 Pembunuh juga memberikan peti kayu serupa ini kepada Nyi Balung Geni dan 'Pendekar Pedang Lali Jiwo'. sekarang katakan pada kami apa yang sebenarnya telah terjadi.?''
__ADS_1
''Hik., Hi., pada akhirnya kalian mau juga menurunkan harga diri untuk membuka mulut. baiklah akan kuperjelas., saat diriku sadar kalau peti kayu cendana hitam yang asli masih berada ditempatnya, segera saja aku perintahkan anak buahku untuk mencarinya. bahkan kuminta Nyi Sapta Kenanga untuk ikut langsung turun tangan..''
''Hanya berdasarkan ingatan Satriyana yang agak kabur karena kejadiannya sudah sangat lama dan waktu itu dia masih bocah kecil, pihak kami sempat merasa sangat kesulitan untuk menemukan benda itu sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat mencarinya..''
''Apalagi aku juga mendapat laporan secara rahasia dari para bawahanku, kalau ternyata belakangan ini banyak orang persilatan bahkan pihak kerajaan baik wilayah barat atau timur bahkan pihak kerajaan yang berasal dari tanah seberang ikut pula muncul ditempat ini secara diam- diam. Huhm., sialan betul mereka semua.!'' gerutu Roro kesal sambil tepuk- tepuk ujung meja makan.
''Untuk itulah aku minta bantuan kepada sahabatku tersayang yang cantik jelita, anggun, sakti mandraguna dan baik hati ini, Nyi Puji Seruni sang 'Dewi Seruni Putih' penguasa dari 'Lembah Seruni' untuk turut melindungi bawahanku jika mereka sudah mendapatkan barang incaran. untuk itu aku haturkan Terima kasih padamu Nyi Puji Seruni..'' ucap Roro Wulandari memberi pujian sembari menjura hormat.
''Huhm., aku kenal betul kelakuan licikmu Roro, kau sengaja memujiku setinggi langit karena ada maunya, juga agar diriku tidak jadi marah karena telah kau manfaatkan bukan. ayoh mengaku saja.!'' bentak Puji Seruni sewot. ''Haa., ha., kau sadar juga yah. maaf., tapi saat kubilang kalau dirimu sangat cantik dan berilmu tinggi juga baik hati itu sungguh dari lubuk hatiku lho..'' ucap Dewi Malam Beracun dengan raut wajah bersungguh- sungguh hingga sahabatnya berkurang hawa amarahnya.
Namun wanita jelita murid Nyi Pariseta itu jadi melotot gusar, bahkan ingin memukuli mulut sahabatnya yang suka bicara seenak perutnya saat Roro sengaja menambahi kata ejekan di akhir ucapannya, ''Eehmm., meskipun mungkin kau tetap tidak secantik aku sih..'' biarpun dia tahu itu cuma gurauan Roro tapi tetap saja terasa menyebalkan.
''Singkat cerita., bawahanku berhasil juga menemukan barang yang dicari. masalahnya banyak pesilat tangguh dan anak buah dari kelompok 13 Pembunuh yang berkeliaran di sekitar desa ini hingga mereka sulit membawanya keluar. saat mendengar berita itu secara rahasia dari Nyi Sapta Kenanga, aku masih berada bersama orang- orang Istana Angsa Emas dimarkas rahasia mereka setelah kami mengalami pertarungan besar- besaran yang sangat melelahkan melawan kelompok 13 Pembunuh..''
''Dengan petunjukku maka dibuatlah peti kayu tiruan. agar terlihat lebih meyakinkan bahan kayunya juga harus kusam, tua dan penuh lumpur bekas terpendam dalam tanah. meski belum dapat membawa keluar dari tempatnya tapi anak buahku masih sempat melihat semua ciri yang ada di kotak kayu itu. yang jelas., segalanya mesti sama persis.!''
''Dengan membawa peti kayu cendana hitam palsu mereka mengajak kawanannya untuk menemui ketiga pesilat tangguh yang sempat menjadi lawan kalian lalu memberikannya pada Nyi Balung Geni dan kedua rekannya. sementara anak buahku yang lainnya sudah bergerak kearah lain untuk memberikan peti kayu cendana hitam yang asli kepadaku..''
''Hehm., cerita selanjutnya., kalian dua orang tua sudah sama tahu. kita lalu bertemu dan makan malam disini..'' tutur Roro Wulandari menutup penjelasannya sambil tentang kan kedua tangannya. ''Peti inilah yang jadi rebutan semua orang. asal tahu saja isinya adalah kunci rahasia Istana Angsa Emas..''
Meskipun Dewi Malam Beracun cuma bergumam tapi semua yang hadir didalam gubuk itu sama jelas mendengarnya. dalam hati kedua ketua perguruan Lutung Ciremai selain terperanjat dan memuji kecerdikan siasat wanita itu, mereka juga berpikir apakah peti palsu yang dibawa Nyi Balung Geni dan kawannya cuma sebuah peti kosong belaka.?
Pulau Seribu Bisa.,
__ADS_1
Sebuah meja bundar besar dari batu pualam putih itu dikelilingi oleh tiga belas orang yang masing- masing sedang duduk diatas sebuah kursi batu yang juga terbuat dari batu pualam putih. dari dalam tubuh mereka seakan sama terpancar hawa jahat dan kesaktian tinggi.
Orang yang sedang duduk diatas kursi batu pualam putih yang berukuran lebih besar dan tinggi dibandingkan dua belas kursi batu pualam lainnya itu memakai sebuah jubah kuning keemasan dengan sulaman seekor angsa emas. raut wajahnya tidak terlihat karena tertutup sebuah topeng tengkorak menyeramkan dari campuran besi dan perak.
Sepasang mata manusia tinggi besar yang bukan lain adalah ketua dari kelompok pembunuh bayaran yang terkuat di dunia persilatan itu sedang menatap tajam sebuah peti kayu cendana hitam yang masih terlihat rada kotor berlepotan tanah lumpur. demikian juga dua belas orang yang berada disekeliling meja pualam putih. meskipun hanya diam tapi dari sikapnya jelas mereka merasakan ketegangan.
Orang yang duduk paling dekat disebelah kiri dengan si topeng tengkorak adalah seorang lelaki tua berparas dingin kejam dan hanya memiliki sebelah tangan saja. biarpun biasanya dia selalu tidak perduli dengan apapun yang terjadi tapi kali ini orang berjuluk 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' itu turut gelisah. hal ini tidak lepas dari pengamatan sang ketua.
''Kau yang kembali paling akhir ke pulau ini. sejak hari itu kulihat sikapmu jadi rada aneh. apa ada masalah yang belum kau ceritakan kepadaku.?'' tegur ketua 13 Pembunuh. saat bicara suara orang ini terdengar menggaung seram seakan berasal dari dunia lain.
''Memang ada sedikit masalah tapi nanti saja kukatakan padamu. sekarang juga harap kau segera membuka peti kayu itu. masa depan kita berada didalamnya..'' jawab si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' lugas dan dingin. saat bicara dia seolah tidak punya rasa hormat pada ketuanya.
Ketua 13 Pembunuh sekilas menyapu wajah semua anak buahnya. tangan kirinya perlahan mengibas. selarik cahaya kuning keemasan yang disertai angin tajam menyambar peti kayu. rantai besi berkarat yang mengikatnya seketika putus dan sebagian lumer meleleh. dengan tangan kanan dia membuka penutup peti itu.
Begitu terbuka dari dalam peti melesat lima buah pisau terbang. tanpa menghindar kedua tangan sang ketua menggebut ringan seakan tidak bertenaga. tapi hebatnya kelima pisau itu sama tertahan hanya dua jengkal saja dari tubuhnya sebelum jatuh rontok berpatahan. semua orang yang melihat sama mengakui kesaktian ketua 13 Pembunuh itu.
Didalam kotak kayu itu terdapat sebuah pisau berwarna hitam yang terlihat agak aneh bentuknya seperti ditempa secara asal. selain itu ada terdapat juga satu tusuk kundai emas berbentuk bulan sabit dan selembar sapu tangan hitam yang terasa agak lembab. ketua 13 Pembunuh tidak dapat menahan hawa kemarahannya saat dia membaca pesan yang tertulis di sapu tangan hitam itu.
''Pisau itu bentuknya jelek dan jelas palsu. maklum aku bukan empu pembuat senjata. tusuk kundai emas kuhadiahkan padamu karena bagaimanapun juga kau pernah menjadi majikanku. sapu tangan itu juga milikku. hanya saja., mungkin sudah kotor dan rada bau asem karena biasa kugunakan untuk menghapus keringat diketiakku saat selesai berlatih silat..''
''Maaf ketua., kau belum beruntung untuk mendapatkan barang yang kau incar. pisau yang asli berada di tanganku. jadi., silahkan mencobanya lagi, siapa tahu., kau lebih tidak beruntung. kutahu Satriyana dan mungkin juga si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' berada ditanganmu. harap kau jaga mereka berdua baik- baik. karena tidak lama lagi kita akan bertemu kembali di pulau 'Seribu Bisa.!''
''Hanya itu saja yang bisa kusampaikan saat ini. sekarang kau boleh merasa kesal dan mengamuk. Haa., ha.!'' ketua 13 Pembunuh meraung murka. kotak kayu sekaligus meja pualam putih yang berada di depannya dihantam hancur berkeping-keping. semua orang sama berseru kaget dan menghindar sejauhnya. mungkin jika dalam bahasa jaman sekarang orang jahat tinggi besar itu baru saja terkena., Prank.!'
__ADS_1
*****
Mohon maaf🙏 jika ada tulisan yang kurang berkenan. silahkan tulis komentar anda juga like👍 juga vote👌 jika Anda suka. Terima kasih.