
Sang ketua dari 'Kelompok 13 Pembunuh' sekilas edarkan pandangannya ke sekeliling tempat pertarungan. meskipun jumlah orang yang bergabung dalam pihaknya hampir dua kali lebih banyak dari pesilat aliran putih yang berada di pihak 'Istana Angsa Emas' namun bukan jaminan kalau 13 Pembunuh dapat memenangkan pertarungan besar- besaran di pulau 'Seribu Bisa' ini.
Bukan saja dikarenakan pasukan mayat hidup telanjang yang kebal senjata serta pukulan sakti andalannya diluar dugaan sekarang ini hanya tersisa empat belas mayat hidup saja setelah si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' tiba- tiba saja muncul dan entah dengan cara bagaimana sanggup membantai mereka. namun yang lebih membuatnya merasa khawatir adalah kehadiran dari si pincang alias 'Pendekar Tanpa Kawan'.
Belum lagi sempat untuk mengatur siasat agar dapat secepatnya membantai para pesilat yang telah berani menyerbu markas rahasianya ini, justru sekarang datang lagi pesilat muda tangguh yang kabarnya punya wilayah terlarang. tuan muda pemalas, sang majikan 'Kota Hantu Pagi' yang selama ini cuma terdengar namanya tetapi sangat jarang orang yang pernah bertemu langsung dengannya.
Mungkin dalam hidupnya baru kali inilah ketua 13 Pembunuh merasakan kepalanya pusing, bingung sekaligus gusar dan benci yang merasuk tulangnya dikarenakan untuk sesaat dia sampai tidak tahu mesti berbuat apa untuk dapat mengatasi semua ini. saat itu juga dia baru menyadari kalau bawahan yang paling dia andalkan, si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' sudah lama tidak nampak batang hidungnya.
''Ada dimana si tua buntung itu sekarang. terakhir kali kulihat dia bertarung melawan tiga orang pesilat dari golongan putih yang bersekutu dengan orang Istana Angsa Emas. meskipun mereka bertiga berilmu tinggi tapi jelas masih bukan tandingan si tua bertangan buntung. jika demikian kenapa dia sampai tidak terlihat di sini.?''
''Ataukah dia mengalami sesuatu kejadian yang diluar dugaan, seperti terjebak oleh para pesilat tangguh lainnya yang menunggunya di salah satu sudut pulau ini.? tapi itu sangat tidak mungkin. si buntung itu paham betul setiap sudut pulau Seribu Bisa ini seperti mengenali telapak tangannya sendiri..'' batin ketua 13 Pembunuh cemas sekaligus mulai timbul kecurigaan dalam hatinya.
Untuk beberapa lama dia seperti terlupa dengan urusan kepingan batu hitam aneh yang dicari oleh tuan muda pemalas. dengan satu isyarat, dia perintahkan si 'Datuk Cebol Naga Guling' beserta beberapa anak buahnya dari 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' untuk mencari tahu keberadaan si Lengan Tunggal Pengejar Roh. masih dirasakan belum cukup, orang jahat tinggi besar bertopeng tengkorak itu juga meminta empat tokoh silat golongan hitam termasuk Ki Maung Gembong dan Ki Kala Mayit untuk ikut serta.
Setelah membungkuk hormat merekapun cepat berkelebat pergi. beberapa orang anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dan pesilat aliran putih yang merasa gelagat mencurigakan mencoba untuk menghadang. tapi hanya dengan beberapa gebrakan saja para pesilat golongan jahat itu dapat membuat mereka semua terjungkal tewas.
__ADS_1
Suara jeritan parau yang disertai tumbangnya tubuh para tokoh persilatan golongan putih seakan membuat yang lainnya tersadar. hampir bersamaan dengan pihak aliran hitam dan Kelompok 13 Pembunuh yang menyerbu, mereka kembali terlibat dengan pertarungan sengit meskipun dengan jumlah yang tidak seimbang. jeritan kematian berkumandang lagi seiring dengan darah yang tertumpah.
Meskipun hampir semua orang yang terlibat dalam pertempuran penuh hujan darah itu adalah para pesilat tangguh yang punya nama besar dan ilmu kesaktian tinggi tapi tidak dapat di pungkiri kalau yang terlihat paling menonjol bukan lain adalah Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis. dengan andalkan pedang pusaka 'Iblis Hitam' dan ilmu 'Roh Kobra Kegelapan' dia membantai semua sisa pasukan mayat hidup.!
Seakan merasa belum cukup menggempur, Respati segera tingkatkan serangannya. jurus terhebat kedua dari kitab pusaka 'Kobra Iblis' yang bernama 'Sepasang Kobra Inti Neraka' juga turut dikerahkan. terlihat dua bayangan ular Kobra hitam raksasa yang menebar angin sangat panas menyapu barisan pesilat aliran hitam.
Biarpun ada beberapa orang mencoba untuk menghentikannya dengan lontarkan pukulan dan bacokan senjata sakti namun semuanya sia- sia. sekali pedang Iblis Hitam bergerak yang di iringi sapuan dua kobra jejadian raksasa, korban jiwa seketika beruntun terjadi. darah juga mayat mereka terlihat hitam hangus dan mengering.!
Melihat kejadian itu, ketua 13 Pembunuh dan juga para anak buahnya merutuk penuh kegusaran. biarpun begitu otak manusia licik berhati iblis itu masih dapat berpikir jernih. ''Huhm., bocah jahanam si Ular Sakti. jika hari ini aku tidak dapat mencincang tubuhmu sampai ribuan potongan, rasanya hatiku tidak akan puas.!'' batinnya menahan murka.
''Terus terang saja, dari awal kedatanganmu yang mengejutkan aku dapat mengira kalau kau tidak hadir sendirian disini. paling tidak., dugaanku kedua orang pemuda berbaju putih yang punya tangan dan kaki keperakan sekeras besi itu pastilah anak buahmu. jika kau mau memerintahkan mereka berdua untuk setidaknya menahan si pincang keparat itu agar tidak turut serta menyerang pihakku, kepingan batu hitam yang kuberikan padamu tidak cuma satu melainkan dua kepingan.!''
Apa yang dikatakan ketua 13 Pembunuh itu seketika membuat raut muka si tuan muda pemalas dari Kota Hantu Pagi berubah hebat. ''Ketua 13 Pembunuh, apakah ucapanmu ini dapat dipercaya. benarkah kau mempunyai dua buah lempengan batu hitam yang sudah lama kucari keberadaannya.? kuharap kau jangan mencoba bermain dalam masalah ini dengan diriku atau kau bakal menyesalinya.!'' bentak pemuda pemalas itu penuh nada tekanan sembari maju mendekat beberapa langkah.
Melihat lawan yang hendak dia peralat seperti sudah tertarik dengan tawarannya, ketua 13 Pembunuh tertawa dalam hatinya. "Hee., he., dasar tolol. jelas sekali dia sangat bernafsu untuk mendapatkan batu hitam aneh itu. Chuih., aku jadi turut merasa penasaran apa sebenarnya rahasia dari benda itu.." pikirnya terkekeh dibalik topeng.
__ADS_1
"Meskipun aku bukanlah orang baik- baik tapi masih punya kehormatan dan harga diri. aku memang memiliki kedua lempengan batu hitam yang kau cari itu. bahkan jika keadaan memungkinkan., kita berdua bisa saja menjadi sekutu yang saling menguntungkan dan meraih kejayaan bersama.." ujar ketua 13 Pembunuh terus mencoba bermain tipu muslihat adu domba.
"Coba saja engkau bayangkan, jika Kelompok 13 Pembunuh dan Kota Hantu Pagi dapat bersatu, memangnya siapa lagi di dunia persilatan yang sanggup untuk menandingi kekuatan kita. bahkan partai 'Gapura Iblis' sekalipun juga akan dapat kita musnahkan hanya dengan sekali hantam.!"
"Haa., ha., benar kata ketua kami. kurasa ini adalah sebuah kesepakatan yang luar biasa jika dapat terwujud.." timpal si Setan Arak sambil tertawa teguk minuman kerasnya. "Wahai tuan muda majikan Kota Hantu Pagi, kesempatan baik tidak akan datang dua kali. jadi tunggu apa lagi. cepat setujui tawaran ketua agar kedua pihak dapat bersama meraih puncak kekuasan di dunia persilatan.!" sambung 'Momok Jelaga Hitam' turut pula membujuk.
"Tuan muda majikan Kota Hantu Pagi, harap kau jangan terpengaruh bujukan licik dari manusia iblis itu.!" seru Kyai Jabar Seto yang masih terlibat pertarungan. "Benar sobat muda. bangsat berhati keji itu hanya akan memperalatmu saja.!" teriak Dewa Serba Putih dari tengah kalangan pertempuran.
"Sudah diam kalian semua. apapun yang akan aku putuskan tidak ada hubungannya dengan orang Istana Angsa Emas.!" bentak si tuan muda pemalas bengis. kini pandangannya yang dipenuhi nafsu membunuh tertuju ke Respati lalu mengedar hingga pada akhirnya berhenti pada sosok Pranacitra.
"Huhm., biarpun diriku termasuk orang yang paling enggan bertarung tapi sepertinya kita berdua memang terpaksa harus mengadu kekuatan. bagaimanapun juga kepingan batu yang lama kuincar itu harus jatuh ketanganku. apalagi orang ini bilang kalau dia memiliki dua buah lempengan batu hitam. penawaran itu tidak dapat kutolak.!'' ucap si pemalas mulai kerahkan tenaga kesaktiannya hingga jubah putihnya mengembang berkibaran.
Pranacitra mundur dua tindak. tongkat besi hitam kepala tengkorak bergerak menyaruk tanah berbatu. pusaran tenaga kesaktian bergulungan keras mengitari tubuhnya. suasana sekitarnya berubah menjadi sangat menegangkan. semua orang tanpa sadar bergerak menjauhi. sementara itu seringai keji tersungging dari balik topeng tengkorak sang ketua, karena dia tidak mengira begitu mudah untuk bisa menghasut lawannya.
..............
__ADS_1
Silahkan menuliskan komentar Anda, Like๐, Vote๐, Share novel ini jika suka, juga kritik sarannya. Terima kasih dan Merdeka.! ๐ฎ๐ฉ๐ช.