
Respati mengisi perutnya yang kelaparan sambil duduk bersandar dibawah pepohononan yang tumbuh ditepian sungai kecil. suasana sepi membuat hatinya nyaman, nafsu makanpun makin bertambah. dilihatnya Sabarewang baru saja menghabiskan bungkusan nasi berlauk ikan mujair goreng dan tumisan kangkung. lalu bersendawa setelah meneguk air kendinya.
''Nasi bungkus berlauk ikan mujair goreng dan tumisan kangkung ini sangat enak. sambalnya juga mantap rasanya..'' puji kusir kuda itu sambil mencuci tangannya di aliran sungai kecil.
Respati tidak menanggapinya, mulutnya sudah penuh mengunyah nasinya. ''Hhmm., memang rasanya nikmat sekali. pasti ada tambahan bumbu rahasia didalamnya..'' batin si pemuda mengakui. sebentar saja nasi bungkus daun pisang itu sudah habis di santapnya. dengan meneguk air kendi yang diberikan Sabarewang membuat perutnya terisi penuh.
''Bagaimana keadaan pemuda yang berada di dalam kereta itu, dia belum sadar juga..?''
Respati menggeleng malas. ''Dia sudah lebih baik, hanya memang belum sadar. tapi yang penting nyawanya tidak lagi terancam..''
''Pukulan Watu Item mengandalkan tenaga berat dan kekerasan yang menghancurkan. untungnya ilmu pemuda bernama Birunaka itu cukup tinggi, cuma ada beberapa tulangnya yang retak. kurasa Dewi Malam Beracun sedikit bekerja keras dalam mengobatinya..''
''Saat kita diam- diam mengikuti Satriyana, aku melihat sendiri kalau jurus- jurus pentung sakti pemuda itu cukup hebat. aku juga tidak menyangka Satriyana sudah mampu menguasai ilmu Busur Panah Srikandinya., latihan keras anak itu dibukit Lading benar- benar membawa hasil. Hak., ha., ha..!'' dengan acungkan jempolnya Sabarewang tertawa memuji.
''Eeh apa yang sedang kau pikirkan sobat., katakan padaku..!'' desak Sabarewang melihat rekannya cuma diam saja.
Respati seperti berpikir keras sebelum menjawab. ''Awalnya saat aku di perintahkan untuk merebut kotak kayu cendana hitam dari Ki Wikalpa, aku merasa tugas ini sangat gampang tapi juga aneh., kau tahu selama lebih tiga tahun diriku bergabung dalam kelompok 13 Pembunuh, baru kali ini aku menerima tugas untuk merampok barang kawalan orang lain. biasanya ketua kami selalu memberi pekerjaan untuk menghabisi nyawa seseorang sesuai dengan keinginan sang pemesan..''
Sabarewang terdiam, tanpa sadar dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Respati dan Dewi Malam Beracun. ''Maaf kalau aku bertanya, tapi apakah selama ini pekerjaan kalian hanya membunuh orang saja atau ada yang lain., maksudku pernahkah anggota kelompokmu menerima tugas untuk mencuri atau merampok seperti yang kamu lakukan..?''
__ADS_1
Respati angkat bahunya, ''Entahlah., kami di larang ikut campur urusan tugas anggota yang lain., sejujurnya meskipun berada dalam satu kelompok yang sama tapi kami selalu menjaga jarak dan saling mencurigai. bahkan ada persaingan sengit. anggota yang satu berharap anggota yang lainnya mati..!'' ujar Respati sambil melirik ke arah kereta. ''Perseteruan Dewi Malam Beracun dengan pembunuh nomor delapan si Iblis Betina Mawar ****** bisa menjadi contohnya..'' sambungnya pelan.
Sabarewang menarik nafas berat, walaupun dia tahu kalau kehidupan orang persilatan memang penuh dengan genangan darah, hujan senjata dan ancaman maut tapi saat mendengar cerita Respati tanpa sadar dia menjadi ngeri sendiri. sekali masuk kedalam dunia hitam maka tidak ada jalan untuk kembali, semuanya akan bermuara pada satu kalimat, membunuh atau mati terbunuh.!
Saat keduanya tenggelam dalam pikiran masing- masing dari dalam kereta terdengar sedikit keributan dan seruan tertahan Satriyana. bergegas mereka menuju ke dalam kereta kuda maut untuk melihat apa yang telah terjadi.
Peti kayu cendana hitam di tangan gadis itu sudah terbuka. jelas Dewi Malam Beracun yang membukanya. ''Apakah kau yakin dengan semua yang kau katakan tadi..?'' desak Roro Wulandari. raut wajah wanita cantik itu terlihat tegang dan bingung.
''Sebenarnya apa yang sudah terjadi, ada apa dengan kalian berdua..?'' tanya Respati
''Anak ini bilang kita telah tertipu sejak awal. peti kayu cendana hitam yang hendak kita bawa ke Wonokerto ini berbeda dengan dengan yang pernah dia lihat semasa kecil alias peti palsu..!''
''Itu benar., meskipun dari bentuk, ukuran dan warna bahannya sama, tapi aku ingat betul saat itu pernah melihat kakekku membuka peti kayu cendana hitam miliknya. namun cara membukanya berbeda, bagian tutupnya tidak dilepas seperti ini, melainkan di geser ke bawah..'' jawab Satriyana penuh yakin.
''Sayangnya kakek memergoki aku. karena takut dan terkejut kotak kayu itu terjatuh ke lantai batu hingga bagian ujungnya gempil. saat itulah penutup kotak jadi agak terbuka. hari itu untuk pertama kalinya kakek sangat marah kepadaku. bahkan kedua paha kakiku dia pukuli sampai memar merah. tapi kalian lihat kotak ini, semuanya masih terlihat utuh mengkilap tanpa cacat sedikitpun. malahan kurasa kotak ini sepertinya baru di buat..''
Ketiga kawannya saling pandang. mereka tahu kalau gadis ini punya daya ingat yang melebihi siapapun dan tidak mungkin bicara dusta. tapi kalau kotak ini hanya kotak tiruan, lalu apa gunanya diperebutkan.?
''Tadi kau bilang pernah melihat kakekmu Ki Jarot Winongko atau si Pedang Geledek membuka kotak kayu itu dengan menggeser tutupnya ke bawah. apakah kau juga sempat melihat apa isinya..?'' Roro ajukan pertanyaan.
__ADS_1
Yang ditanya terdiam pejamkan matanya seakan berusaha mengingat kejadian dimasa silam lalu perlahan menggeleng. ''Aku tidak yakin itu benda apa, sepertinya gulungan kulit dan juga sebilah pisau., entahlah..''
''Sebelum aku pergi meninggalkan desaku, Ki Mijun sempat berkata kalau peti kayu cendana hitam milik kakekku itu sebenarnya adalah titipan dari seseorang. dulu pamanku Ki Sarpa juga menginginkan peti itu dan beberapa kali mencarinya dirumah mendiang kakek, tapi dia selalu gagal menemukannya..''
tutur gadis itu dengan mata mulai sembab. ''Seringkali Ki Sarpa dan orang- orangnya menyiksaku agar mau mengatakan dimana peti hitam itu disimpan., tapi aku cuma bisa diam karena memang tidak tahu apa- apa..'' gadis ini terbayang kembali akan semua penderitaannya saat berada di tangan Ki Sarpa. tanpa dapat di tahan Satriyana tertunduk menangis.
Melihat keadaan adik angkatnya Roro jadi tidak tega. dia langsung merengkuh bahu Satriyana dan memeluknya erat. ''Sudahlah., lupakan semua kenangan pahitmu, sekarang kau adalah adik dari Dewi Malam Beracun. tidak kuijinkan siapapun menyakitimu..!''
''Benar kata Nyi Dewi., sekarang kau bukan lagi Satriyana yang kurus, dekil, lemah dan bau badan. tapi sudah menjelma menjadi gadis remaja cantik yang tangguh.!'' timpal Sabarewang turut menghiburnya.
Satriyana tersenyum sandarkan dirinya ke dada Roro. gadis itu bersyukur mempunyai dua orang sahabat dan kakak perempuan angkat yang selalu melindunginya. biarpun sering bersikap sombong, galak dan selalu mau menang sendiri. tapi Roro Wulandarilah yang paling menyayanginya.
''Sabarewang., kalau tidak salah ingat dulu kau pernah bilang kalau yang menyerahkan kotak peti cendana hitam pada Ki Wikalpa serta memintanya mengantarkan kepada Ki Ageng Bronto di Wonokerto adalah seorang perempuan kenalan mendiang ketuamu., bisakah kau jelaskan pada kami bagaimana orangnya..?'' tanya Respati tiba- tiba hingga membuat Sabarewang seakan teringat sesuatu.
''Aku sulit mengatakannya, perempuan itu masih muda mungkin belum tiga puluh tahunanan berbaju kebaya. wajahnya tertutup kerudung hingga tidak terlihat., saat datang dia memakai sebuah kereta kuda yang sangat mentereng mirip punya orang keraton..''
''Aah aku ingat sekarang., wanita ini tidak datang sendirian. ada tiga orang lain yang bersamanya. dua orang berbaju hijau dan bercaping bambu, tapi sekilas sempat kulihat keduanya juga memakai sebuah topeng tengkorak putih..!'' ujar Sabarewang membuat Roro dan Respati terkesiap saling lirik. seragam hijau dan bertopeng tengkorak, itulah ciri dari orang bawahan di pulau Seribu Bisa.!
''Seorang lagi lelaki tinggi kekar berjubah dan bertutup kepala hitam. meskipun tidak kelihatan jelas bagaimana tampangnya tapi sepasang tangan orang ini sangat kokoh sekaligus menakutkan karena penuh dengan sisik dan jalur- jalur aneh yang bersinar kehijauan..''
__ADS_1
''Gila., dia pasti si nomor dua..!'' seru Roro Wulandari dengan muka berubah hebat.
''Si nomor dua dari 13 Pembunuh., jika bukan sesuatu yang sangat penting ketua tidak bakal memberi perintah kepada orang ini. satu- satunya pembunuh yang belum pernah kalah., si 'Naga Urat Hijau..!'' desis Respati.