
Saat gelak tawa para manusia berhati iblis itu sirap, sang ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' berucap kesal. ''Meskipun para bedebah tolol yang bosan hidup itu memilih masuk ke lubang maut lebih cepat membuat semua pekerjaan kita menjadi lebih mudah, namun sayangnya., ini juga berarti menghalangi kita untuk dapat menyaksikan pertunjukan besar yang sudah berada di depan mata ini..''
''Tapi sudahlah., urusan yang menunggu di depan kita jauh lebih penting. kumpulkan semua kawanmu juga seluruh 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis'. biarpun Klowor Gombor si Gila Tangan Kudis sudah mengatur banyak jebakan dan perangkap untuk menyambut para calon mayat itu, tapi ada baiknya jika kita lebih hati- hati dalam bertindak..''
''Bagaimana dengan tokoh silat baru sebagai pengganti 'Hantu Caping Getih' yang pernah kau janjikan dulu. apakah dia sudah berhasil kita tarik ke dalam kelompok kita.?'' tanya sang ketua 13 Pembunuh pada 'Setan Arak'. semenjak Kamajaya alias si 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa' tewas, pemabuk tua inilah yang ditugaskan mencari anggota.
Setan Arak teguk kendi minuman kerasnya sampai separuh habis. ''Nenek Mandau Terbang' itu rupanya tidak sehebat yang kusangka dan terlalu gegabah. belum sempat kutemui dia sudah keburu tewas di tangan pimpinan 'Serikat Kalong Hitam'. tapi aku sudah dapatkan yang lebih layak. dia baru datang kemarin malam dan sekarang sedang bersemedi di goa bekas tempat Nyi Sira..'' jawabnya tanpa menyebutkan siapa orang itu.
''Maaf ketua., aku rada penasaran bagaimana semua orang persilatan itu sampai dapat mengetahui letak dari pulau Seribu Bisa ini. padahal kita tahu kalau tempat ini selalu di selubungi oleh kabut gaib dari kekuatan mahkluk siluman 'Datuk Naga Wisa' sesuai dengan perjanjian yang kalian buat.?'' tanya Nyi Balung Geni setengah menggumam.
Si 'Sukma Tertawa' dan 'Iblis Tangan Biru juga' seakan baru menyadarinya. ''Apakah mungkin ada pengkhianat diantara kita yang telah berani mati membocorkan mantra rahasia pembuka kabut gaib itu. keparat betul., jika aku tahu siapa orangnya pasti akan kuhabisi dengan tanganku sendiri.!'' geram si Iblis Tangan Biru.
''Huhm., kau tahu apa Iblis Tangan Biru. tidak ada pengkhianat diantara 13 Pembunuh ini. dunia begitu luas, bukan tidak mungkin ada yang tahu masalah tabir gaib itu di luaran sana. lagi pula juga tidak akan ada bedanya. mereka semuanya pasti mampus di pulau Seribu Bisa ini.!'' potong si Setan Arak bengis.
''Segera keluar dari tempat ini. aku ingin mengadakan pertemuan di tempat biasanya. Hhem., kita biarkan saja kedua bocah ini untuk memilih jalan kematian mana yang akan mereka lalui..'' desis ketua 13 Pembunuh lalu berbalik pergi tinggalkan ruangan penjara di ikuti semua anak buahnya.
Kini tinggal Satriyana yang terus meringkuk kedinginan dengan sekujur tubuh seolah diselimuti uap berhawa dingin. meskipun tubuh gadis itu sangat lemah namun dia masih sadar. sepasang matanya menatap cemas penuh kesedihan pada sosok pemuda yang tubuhnya terantai di sudut seberang.
__ADS_1
Satriyana tahu kalau apa yang dirasakan Respati mungkin jauh lebih menyakitkan dari yang sedang dia alami. tubuh pemuda itu tidak berhenti bergetar sampai kulitnya memerah. jika dia merasakan hawa dingin membekukan tulang, maka sebaliknya Respati justru sedang diamuk hawa panas yang membakar jiwa raganya.
''Saa., Satri., yana., cep., cepat kau ambil kunci itu untuk mem., membuka rantai belenggu di tubuhmu. lalu kaburlah dari tee., tempat cela., celaka ini. mum., pung mereka see., sedang disibukan uur., urusan lain. jang., jangan kau khawatirkan diriku., aak., aku pasti bisa bertahan hidup. cepat lakukan sek., sekarang. kau tung., tunggu apa lagi daa., dasar gadis boo., bodoh.!'' maki Respati gusar menahan amarah dan luapan hawa panas yang makin menggelegak di tubuhnya.
Satriyana menggeleng pelan, dia merasa lebih baik mati dari pada pergi mencari selamat sendiri. ''Kaal., kalau aku pergi, kau pasti akan mati. hidup diatas peng., pee., pengor., banan nyawa orang lain, aa., apa guna., nya. jika harus., maa., mati kita mesti mati berdua. kalau hii., hidup juu., juga harus ber., sama..'' biarpun ucapannya lirih dan terputus tapi tetap jelas terdengar di telinga Respati.
Bagi murid si 'Maling Nyawa' ini semua yang diucapkan Satriyana seolah sebilah pisau yang menyayat hatinya. rasa tidak berdaya karena gagal melindungi seorang perempuan membuat harga dirinya runtuh. saat itulah dia melihat Satriyana beringsut mendekat ke tengah ruangan. suara belenggu rantai besi berkarat yang menggores lantai batu seakan membuat perasaan tercabik.
''Baa., bagus Satriyana. lee., lebih baik sall., salah satu diantara kita aad., ada yang hidup. cepat kau., kau kabur dari sini. sam., sampai., kan maaf dan hor., matku pada guruku, juga semua sahabat teruta., ma., utamanya Roo., Roro..'' teringat semua peristiwa yang dia lalui bersama sepupu jauhnya yang cantik jelita, licik dan sombong itu membuat Respati tanpa sadar tertawa pahit sendiri.
Suara bunyi kunci diputar dan rantai belenggu yang berjatuhan lepas ke lantai menyadarkan lamunan Respati. dilihatnya Satriyana yang telah terbebas berdiri menatap sayu pemuda itu. entah kenapa Respati merasa hatinya ikut bergetar. dengan perlahan gadis pewaris 'Istana Angsa Emas' ini berdiri. tanpa bicara apapun dia melangkah mendekati si pemuda.
''Selama ini kau, kakak 'Dewi Malam Beracun, kakang Sabarewang juga para sahabat yang lainnya selalu bertaruh nyawa hanya untuk melindungiku. meski diriku sangat bersyukur punya teman- teman sebaik kalian tapi disisi lain aku juga sangat malu karena merasa lemah dan tidak berguna. sekarang., ijinkan diriku untuk melakukan semuanya..''
Siksaan selama berhari- hari didalam ruang tahanan itu membuat tubuh telanjang gadis manis ini sangat kurus dan kotor. meskipun demikian dia masih mampu membuat jiwa setiap lelaki yang melihatnya berkecamuk di landa gairah. apalagi bagi seorang pemuda yang sedang berusaha sangat keras untuk mengendalikan gejolak nafsu birahinya akibat racun jahat.
Respati meraung gusar. dia tidak tahu antara kemarahan, kesedihan, terharu ataukah rasa tidak berdaya yang membuatnya geram. ''Kau., kau jang., jangan berbuat tolol Satri., Satriya., na. ingatlah dii., dirimu adalah pewar., pewaris tunggal Istana Angsa Emas. cep., cepat kau hentikan keb., kebodohan., mu ini.!'' maki Respati beringsut mundur menjauh. tapi sayang dinding ruangan menahannya.
__ADS_1
''Kaa., kau tahu kakang Respati., sejak perta., pertama kita berkuda berdua di Punggingan, haa., hatiku sudah tertarik dee,, dengan dirimu. mes., meskipun kusadari kau milik mbak Roro tapi aa., aku tidak dapat lagi membohongi perasaan ini. laa., lagi pula mungkin ini ter., terakhir kalinya kii. kita dap., dapat bersama..'' sebuah ucapan polos yang terputus- putus dari ungkapan hati seorang gadis serasa panah yang menusuk relung hati Respati.
Pemuda itu berontak dan berteriak. sungguh dia tidak dapat menerima semua itu. biarpun berusaha terus bertahan tapi tubuh Satriyana yang telanjang bulat terus memeluknya dengan erat. Respati tidak tahu meski menangis, marah atau tertawa dengan garis nasib mereka berdua.
Bayangan wajah cantik jelita Roro Wulandari seakan sedang menyeringai jijik. menatap penuh kebencian dan penghinaan atas segala kelemahan dirinya. dengan meraung bagai harimau buas si pemuda balik memeluk lebih erat. pertahanan jiwanya runtuh. disana hanya terdengar suara dengusan memburu yang berseling rintihan. peristiwa terkutuk sekaligus menyayat hati itupun terjadi juga.
--------
Sementara itu diatas sebuah kapal besar berbendera kuning dengan lambang seekor angsa keemasan terlihat seorang wanita secantik bidadari sedang berdiri termenung menghadap ke samudra luas. angin lautan yang berhembus menerpa wajah jelita dan rambut hitam lebatnya yang panjang sepingul.
Dia seperti sengaja misahkan diri dari semua rekannya ke bagian buritan kapal besar itu. padahal seharusnya dengan otaknya yang terkenal cerdik dengan seribu satu siasat, saat ini wanita berjubah gaun hitam itu mesti turut mengatur semua rencana penyerbuan ke pulau Seribu Bisa.
Wanita yang memang adalah Roro Wulandari sang Dewi Malam Beracun itu sejak awal pagi tadi merasa sangat gelisah. bahkan selalu saja gagal saat dia mencoba bersemedi untuk mengatur hawa murni dan ketenangan jiwanya. seumur hidup perempuan cantik itu belum pernah mengalami keadaan seperti ini.
Tiba- tiba saja Roro menjerit tertahan sambil pegangi dadanya yang seakan tertusuk benda tajam. wajah cantiknya sekilas memucat. ''Aa., apa yang terjadi dengan diriku. kenapa aku merasakan kesakitan, takut, marah juga sedih.?'' batinnya bingung. seketika dia teringat dengan Respati dan Satriyana. ''Jangan- jangan telah terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua..'' desis Roro semakin gelisah.
*****
__ADS_1
Silahkan tulis komentar Anda. Terima kasih, 👌👍🙏.