13 Pembunuh

13 Pembunuh
Menuntut balas


__ADS_3

Lelaki tinggi besar yang bukan lain Sabarewang adanya maju beberapa langkah ke depan, ''Kupikir dirimu sudah lupa dengan orang yang pernah dikhianati, difitnah, dan kau rebut istrinya.,!'' geram Sabarewang penuh dendam.


Joko Luwing seakan masih tidak percaya pada penglihatannya sendiri, tanpa terasa pikirannya melayang kemasa lalu, delapan tahun silam dia dan orang didepannya adalah sahabat dekat bagai kakak beradik meski berasal dari keluarga yang jauh berbeda. orang yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu hanyalah anak seorang janda miskin, sedang dia putra dari keluarga kaya raya di desa mereka. selain itu keduanya juga masih berasal dari satu perguruan silat yang sama, hanya berbeda tingkatan.


Guru mereka bernama Ki Panggul Bayan, selain pesilat tangguh orang ini juga pandai membuat senjata pusaka. karena leluhurnya masih keturunan dari salah satu murid Empu Gandring, seorang ahli pembuat senjata pusaka yang pernah menempakan keris sakti untuk Ken Arok, sang pendiri kerajaan Singasari. Ki Panggul Bayan mempunyai dua orang putri, yang tertua adalah seorang janda muda yang cukup cantik, suaminya adalah mantan muridnya yang menjadi salah satu prajurit pengawal utama adipati dan meninggal karena peperangan. sedangkan anak kedua baru menikah lima bulan lalu dengan seorang pemilik jasa pengawalan barang di kota raja. sejak dia menikah belum pernah kembali ke desanya.


Ki Panggul Bayan sendiri sudah dua tahun ditinggal mati istrinya, sebelum meninggal istrinya berpesan agar menjodohkan putri pertamanya dengan Sabarewang, meskipun bukan dari keluarga berada tapi dia santun dan bertanggung jawab. hal ini menimbulkan rasa tidak puas dan iri hati diantara para murid lainnya, karena beberapa diantara mereka diam- diam juga menaruh hati pada Luh Darmi anak pertama Ki Panggul Bayan, diantara mereka yang paling sakit hati adalah Joko Luwing karena dia merasa jauh lebih baik dalam segala hal dibandingkan Sabarewang, meskipun begitu pemuda ini hanya dapat memendamnya dalam hati. tapi sejak saat itu hubungan baiknya dengan kakak seperguruannya itu perlahan mulai merenggang.


Sabarewang sendiri sebenarnya tidak mempunyai perasaan apapun pada Luh Darmi, tapi karena sangat menghormati gurunya, maka diapun bersedia menikahi wanita itu dan berusaha menjadi suami yang baik baginya. kehidupan awal perkawinan mereka berjalan tanpa masalah apapun.


Joko Luwing juga seakan sudah bisa menerima keadaan itu dan turut berbahagia dengan rumah tangga sahabatnya. dia juga sering memberikan banyak perhiasan serta uang sebagai hadiah perkawinan dan juga pengembangan perguruan silat Ki Panggul Bayan. sebenarnya Sabarewang merasa kurang nyaman dengan pemberian sebanyak itu, tapi karena Luh Darmi dan gurunya suka menerimanya diapun tidak kuasa menolak.


Dua bulan kemudian kerajaan Majapahit yang kala itu mulai dilanda pemberontakan dan kekuasaannya melemah, telah mengundang banyak perguruan silat agar mengirimkan murid- murid terbaiknya untuk membantu para prajurit yang kewalahan melawan kaum pemberontak. Ki Panggul Bayan menyuruh Sabarewang dan Joko Luwing beserta dua murid lainnya untuk memenuhi undangan itu.


Ditengah perjalanan menuju kota raja Majapahit itulah Sabarewang dihabisi oleh Joko Luwing dan kedua kawannya yang sudah terhasut oleh pemuda kaya itu. terlebih dahulu mereka mencampurkan bubuk pelemah tenaga di minuman Sabarewang, disaat racun mulai bekerja, dia dirajam senjata oleh ketiga saudara seperguruannya.


Sabarewang yang masih setengah sadar berusaha melawan, dengan membawa luka parah dia berlari dan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang. sepertinya orang ini lebih memilih bunuh diri dari pada mati ditangan orang- orang licik.


Seharusnya manusia ini mati mengenaskan, tapi rupanya takdir berkata lain. Ki Wikalpa dan kelompok pengawalan barang Garuda Merah yang baru beberapa bulan berdiri dan kebetulan sedang melewati jalanan curam, melihat sesosok tubuh jatuh dari atas tebing. sebenarnya Ki Wikalpa ini tidak perduli siapa orang itu, tapi karena tubuhnya terjatuh tepat diatas kudanya, terpaksa dia harus kerahkan tenaga untuk menahan jatuhnya orang itu.

__ADS_1


Dia terkejut saat mendapati tubuh tinggi besar, keracunan dan terluka parah itu ternyata masih hidup, ini membuktikan kalau daya tahan tubuhnya sangat kuat. timbul pikiran Ki Wikalpa untuk menyelamatkan orang asing itu dengan harapan dia kelak dapat menggunakan tenaganya.


Apa yang diharapkan Ki Wikalpa atau Garuda Alis Merah akhirnya terwujud, dengan bantuan tenaga Sabarewang nama perkumpulan jasa pengawalan barang Garuda Merah semakin berkibar dan terkenal di dunia persilatan. orang inipun dipercaya sebagai tangan kanan Ki Wikalpa. meskipun begitu dalam hatinya Sabarewang tetap menyimpan dendam kesumat yang mesti dibalaskan.


Diam- diam dia datang untuk menyelidik, tapi dia tidak berdaya saat tahu Luh Darmi istrinya sudah menjadi milik Joko Luwing musuh besarnya bahkan kini sedang hamil tua. yang lebih menyakitkan guru dan hampir semua saudaranya percaya kalau dia sudah mabuk jabatan serta wanita di dalam keraton Majapahit. hatinya semakin pedih kala tahu Ibunya juga telah meninggal karena memikirkannya hingga jatuh sakit.


Tujuh tahun berlalu., Sabarewang juga sudah ikhlas menerimanya dan terus melanjutkan hidup, tapi sungguh tidak disangka kalau malam ini dia harus kembali mengorek luka dan dendam lamanya.!


Kini dua orang bekas saudara seguru itu saling berhadapan. Joko Luwing yang sudah bisa menenangkan hatinya tertawa lebar, ''Aah., Kakang Sabarewang, rupanya dirimu masih hidup. kemana saja saja kau selama ini kenapa tidak pernah mengunjungiku.,?'' sapanya seolah tidak ada ganjalan apapun. ''Untuk apa mengunjungimu., toh wanita itu sudah bukan milikku lagi, nama baikku juga sudah tercoreng, lebih baik aku melanjutkan hidup dari pada bergelut dengan masa lalu.,!'' jawab Sabarewang tenang hingga membuat Joko Luwing sesaat tertegun.


''Haa., ha., Kakang Sabarewang memang orang yang berhati besar, 'Aku., aku sungguh merasa menyesal atas kejadian silam.,!'' ujar Joko Luwing, ''Tidak ada gunanya menyesali kejadian yang sudah lewat., sekarang kau boleh memulainya.,!'' sahut Sabarewang sambil lintangkan pedang buntungnya didepan dada. pemuda baju kuning itu terkejut, ''Tapi Kakang., bukankah tadi kau bilang sudah melupakan kejadian lalu, dan memulai kembali persaudaraan kita.,?''


Wajah Sabarewang berubah membesi, ''Persaudaraan apa.,? 'Melupakan masa lalu dan mengembalikan kehormatan adalah dua hal yang berbeda, kalau cuma soal wanita gila harta itu meskipun berat aku masih bisa menerimanya, 'Tapi., fitnah yang kau sebarkan kalau diriku sudah sengaja meninggalkan istri dan perguruan demi uang, perempuan dan kedudukan itulah yang tidak dapat kuterima.!'' damprat Sabarewang murka.


Joko Luwing mengumpat dalam hati, tapi dia harus tenang dalam bersiasat. ''Tadi wanita itu bilang kau harus mampu mengalahkanku dalam sepuluh jurus., 'Bagaimana kalau aku bisa bertahan selama itu.,?''


Sabarewang berubah dingin, ''Sebenarnya aku ingin sedikit bermain- main denganmu sambil mengenang masa lalu. tapi sekarang kuputuskan untuk segera mengirimmu ke neraka.!''


Belum juga selesai bicara Sabarewang sudah melabrak kedepan, tubuhnya yang tinggi kekar bergerak cepat sambil memutar pedang buntungnya hingga seakan berubah menjadi lima buah, saat pedang buntung itu menikam, lima buah mata pedangnyapun menyambar secepat kilat.!

__ADS_1


''Jurus Lima Sambaran Petir Maut.,!'' jerit Joko Luwing mengenali jurus lawannya, karena jurus ini hanya dimiliki oleh para murid utama Ki Panggul Bayan yang menjadi guru mereka. dia sebenarnya juga sempat diwarisi jurus ini oleh gurunya, tapi hingga saat ini dia belum sempurna menguasainya. maka tidak heran kalau Joko Luwing merasa agak takut menghadapinya. meskipun demikian dia tidak ingin terlihat gugup dan lemah, dengan gunakan ilmu silat yang dinamai 'Keris Trisula Bersatu Padu,!' dia mencoba menghadang jurus lawan.!


'Traang., traang.,! 'Whuut., whut.!'


Suara benturan senjata disertai bunga api terdengar, pertarungan yang cukup seru kembali terjadi di jalanan yang membelah hutan itu. jurus Lima Sambaran Petir Maut berhasil dihadang meski masih sanggup menggores pipi dan pundak kiri Joko Luwing. pemuda ini menyumpah menahan rasa perih, setelah mundur setindak dia langsung memutar tubuh maju sambil putar kedua senjatanya secara rapat hingga pedang buntung Sabarewang sempat terjepit diantara celah trisula lawan, sementara keris ditangan kanan si pemuda licik ini cepat menikam perut dan jantung Sabarewang.!


Bekas anggota kelompok Garuda Merah ini mendengus, dengan menendang perut dan paha lawan sambil menyentakan pedangnya, senjata itu dapat terlepas kembali dari jepitan trisula Joko Luwing. tapi perutnya juga sempat terluka oleh tusukan keris lawannya, masih untung tidak sampai terlalu dalam hingga nyawanya masih selamat. sebaliknya pemuda bekas saudara seperguruannya itu juga jatuh terjengkang, tapi dengan sigap dia cepat bangkit dan langsung balas menyerang.!


Sabarewang mengernyit, dia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, saat melirik ke bawah dilihatnya darah yang mengucur dari kulit perutnya berwarna kekuningan, orang ini sadar telah keracunan keris lawan. dalam hatinya dia bisa menebak kalau ilmu silat keris dan trisula Joko Luwing didapatnya dari orang lain, karena Ki Panggul Bayan hanya menguasai ilmu pedang saja.


Selagi dia berpikir keris dan trisula lawan sudah kembali mengancam, Sabarewang hanya bisa menangkis gempuran keris dan trisula Joko Luwing yang datang susul- menyusul lalu cepat melompat mundur dua tindak, tubuh dan pedangnya berputar setengah lingkaran lalu menusuk selarik cahaya kekuningan berbentuk bintang segi empat menyambar, inilah jurus 'Bintang Langit Terpecah.!'


'Sheeet., Traang., trang.,! ''Aaaakh.,!'' Jerit kesakitan keluar dari mulut Joko Luwing, kedua senjatanya terpental, mulai siku sampai bahu kanannya buntung terpotong empat bagian, dadanya tersayat robek bersilangan, pemuda ini terkapar diatas tanah. tapi dia belum mati dengan tubuh bersimbah darah Joko Luwing berusaha bangkit lalu menangis dan meratap minta ampun seperti anak kecil. Sabarewang meludah, dia merasa kesal dan jijik melihat kelakuan pemuda itu. sementara rasa sakit di perutnya semakin menjadi, tanpa sadar dia menunduk sambil mendekap perutnya yang terluka, saat itulah Joko Luwing mendadak bangkit dan menerjang maju, tangan kirinya yang entah sejak kapan menggenggam pisau belati bergerak menikam,!


''Matilah kau anjing sial.,!'' maki Joko Luwing kalap. hanya tinggal sejengkal pisau itu menembus tenggorokan Sabarewang, tapi anehnya dia tidak sanggup meneruskannya, malahan dari lehernya muncul sebuah ujung pedang berwarna hitam pekat.!


''Ghrook., grrook., Akhrooghk.,!'' hanya suara itu yang dapat dia keluarkan dari mulutnya, semburan darah merah kehitaman menyertai ucapannya. seiring tercabutnya pedang hitam itu dari lehernya, tubuh Joko Luwing juga tergelimpang ketanah dengan mata mendelik, mungkin dia penasaran kenapa dilehernya bisa muncul sebuah ujung pedang hitam. sayangnya sampai nyawanya amblas dia tetap tidak pernah tahu jawabannya.


Pemilik pedang itu seorang pemuda berbaju putih, mukanya dIngin dan rada pucat, dengan cepat dia memanggul Sabarewang yang pingsan, sekali dia berkelebat tubuhnya lenyap dikegelapan. tanpa banyak bicara tubuh orang ini dibaringkan di lantai kereta kuda, Roro Wulandari yang memeriksanya terlihat tegang, ''Meski racun ini cukup ganas tapi aku bisa menawarkannya, cuma.,''

__ADS_1


''Cuma apa., katakan yang jelas.!'' desak Respati. gadis itu menghela nafas menyesal, ''Sementara ini aku hanya bisa menahan menjalarnya racun. aku tidak punya obat penawarnya.,!''


''Sialan., aku sudah memeriksa tubuh Joko Luwing, tapi tidak kutemukan obat apapun.!'' rutuk Respati kesal. ''Sepertinya kita harus merubah arah perjalanan, mungkin juga sudah waktunya bagiku untuk mengunjungi dirinya.,'' gumam Dewi Malam Beracun. ''Siapa yang sedang kau bicarakan Roro.,?'' tanya Respati penasaran. tapi gadis sepupunya cuma berkata, ''Kau Kendalikan kudanya, kita pergi ke daerah Jepara malam ini juga.!''


__ADS_2