
Hari sudah mulai gelap, suara jangkrik dan serangga malam terdengar menyelip diantara keheningan. diatas langit nampak cerah, cahaya bintang yang bertaburan dan rembulan yang terpotong separuh sudah cukup menjadi penerang bagi Dewi Malam Beracun yang sedang memacu kudanya menuju bukit Lading.
Setelah bertarung sengit melawan wanita pembunuh nomor delapan si Iblis Betina Mawar Jalang, Roro Wulandari seakan hampir kehabisan tenaga, rasa lelah dan sakit di tubuhnya membuatnya terpaksa harus berhenti untuk sekedar beristirahat. setelah menemukan tempat yang terlindung di belakang tiga buah rimbunan pohon bambu kuning, Roro turun dari punggung kudanya. dengan perasaan sayang dia mengelus leher kuda cokelat itu.
''Kuda yang baik dan kuat., terima kasih karena kau dan temanmu sudah mengantarkan kami berempat selama hampir dua bulan ini. kelak jika semus urusan ini selesai kalian berdua akan kubebaskan..''
''Aah., tidak nanti akan kucarikan dua ekor kuda betina yang cantik untuk pasangan. jadi kalian berdua bisa punya banyak anak. he., he., bagaimana kau senang.,?'' bisik Roro tertawa sendiri.
''Huhm., rupanya rasa sakit dan kekelahan di tubuhku sudah membuat diriku gila hingga mau- maunya berbicara dengan seekor kuda..'' dengusnya kesal. wanita cantik ini mengambil gulungan tikar pandan kecil yang terselip di punggung kudanya. dia berjalan agak masuk ke dalam hutan bambu kuning itu. dari sini Roro dapat melihat kudanya yang tertambat di kejauhan.
Setelah dirasa aman diapun menggelar tikar pandannya dan duduk bersila. buntelan kulit menjangan di punggungnya diletakkan dipangkuannya, lalu mulai duduk bersemedi mengatur pernafasan dan tenaga dalam di tubuhnya.
Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun sudah menjadikan ini aturan dalam mengembara. biasanya orang cenderung akan beristirahat berdekatan dengan kuda tunggangannya agar dapat cepat pergi jika ada bahaya mengancam. tapi Roro lain, dia membiarkan kudanya sebagai umpan. orang yang hendak berniat mencelakainya pasti akan menunggu di sekitar kudanya berada tanpa sadar Roro Wulandari sedang mengintainya dari kejauhan.
Kalau jumlah lawan sedikit dan Roro merasa mampu, maka tanpa ampun dia pasti bakal menghajar atau bahkan menghabisi orang- orang yang berani menggangunya. tapi jika dirasa cukup berbahaya, dia akan langsung kabur dan menghilang., Dasar wanita licik.!
Selama ini kebiasaan itu memang selalu membawa hasil yang baik baginya, tapi kadang sesuatu yang diluar perhitungan bisa saja terjadi. selalu ada yang pertama dalam hidup manusia.
Rasa sakit dan kelelahan akibat pertarungan yang menguras tenaga dan pikirannya membuat Roro cepat hanyut didalam semedinya. waktu terus berjalan, hembusan angin malam merontokkan dedaunan bambu yang menua. sepenanak nasi kemudian Roro kembali menarik nafas panjang dan dalam. seiring hembusan nafasnya pembunuh nomor dua belas inipun selesai bersemedi.
__ADS_1
Roro Wulandari seakan baru tersengat lebah berbisa saat melihat ada seekor laba- laba sebesar dua kali telapak tangan orang dewasa berwarna kuning keemasan muncul hanya selangkah kaki di depannya. dalam kegelapan malam warna kuning emas dan sorot mata merah menyala dari binatang itu seakan memancarkan cahaya tajam yang menggidikan hati.
Perlahan Roro beringsut mundur, buntelan kulit menjangan kembali digembolnya. meskipun bukan yang pertama melihat laba- laba besar berwarna kuning emas itu, tapi Roro tetap saja merasa ngeri dan jijik. diapun menyadari kalau yang lebih menakutkan adalah si pemilik binatang itu.
''Keluarlah., kalau ada urusan cepat katakan saja padaku..'' ucap Roro entah kepada siapa. sementara bicara matanya melihat sekeliling diatasnya.
Dari atas rimbunan daun dan batang bambu keluar sesosok tubuh kecil dan langsing yang menebat bau harum. dari sosok itu meluncur dua buah jalur benang berwarna kuning yang terjulur kebawah. dengan gaya lembut dan ringan sosok kecil itu turun dengan menggunakan dua buah benang kuning itu.
Benang kuning itu kecil dan tipis, tapi orang ini mampu meluncur turun dengan ringan dari atas rimbunan bambu menggunakan benang itu sebagai tangganya tanpa membuatnya terputus. ini menandakan dua hal, pertama ilmu peringan tubuh orang ini sangat tinggi atau bisa juga benang kuning emas itu bukanlah benang sembarangan.
Tapi Roro paham kalau kalau kedua alasan itu semuanya benar. baik orang maupun benangnya bukanlah sembarangan.!
''Apa yang membuatmu muncul kemari, daerah ini tempat sarangmu atau memang sengaja mengikutiku.?'' tanya Roro Wuladari pada orang yang baru datang.
Sebuah rantai berbentuk jaring melilit kening dan rambutnya yang hitam. sekilas dia mirip si wanita Panglima Istana Tengah dari Istana Angsa Emas tapi tubuhnya sedikit lebih kecil dan pendek, kalau dibandingkan Roro tinggi badannya cuma sepundak.
Dibagian leher dan kedua lengan tangan wanita itu tergelung selembar selendang kuning dan bergulung- gulung benang yang juga kuning emas. beberapa ekor laba- laba terlihat sedang merayap di tubuhnya.
''Pheiissss., pheiss.,!'' terdengar suara mendesis dari bibir tipis wanita ini, laba- laba besar yang berada di depan Roro mendadak mencelat ke atas lalu mendekam di pundak kiri wanita itu. perlahan Roro Wulabdari menghembuskan nafas lega seakan baru terlepas dari cengkeraman kematian.
__ADS_1
Dewi Malam Beracun menatap tajam wanita kecil didepannya. ''Sekarang katakan saja apa maumu.!''
''Si jalang nomor delapan itu kaukah yang telah membunuhnya.?'' tanya wanita itu. saat bicara suranya terdengar perlahan namun punya daya getar. padahal bibirnya yang merah dan tipis seakan tidak terbuka.
''Dia yang mulai cari gara- gara denganku, perempuan cabul itu berpikir kalau aku telah merebut tuan Kamajaya darinya..''
''Aku tidak perlu alasan, katakan saja benar kau pelakunya atau bukan.!'' bentak wanita itu garang. Roro mulai naik darah. ''Yah., akulah pelakunya, memangnya kau mau apa hah.?''
Yang dibentak memyeringai sinis, balikkan tubuhnya lalu melangkah pergi. ini sungguh diluar dugaan Roro.
''Hei., sebenarnya apa maumu., kau dapat perintah untuk membunuhku atau bagaimana. kalau benar kenapa tidak kau lakukan.?'' seru Roro heran karena sadar kalau saat dia bersemedi tadi, sebenarnya dengan mudah wanita itu dapat saja membunuhnya dengan laba- laba raksaasa peliharaannya.
Wanita itu hentikan langkahnya, tanpa berbalik dia menjawab ''Anggap saja kita tidak bertemu., lagipula aku masih punya hutang nyawa padamu saat kita dan si nomor delapan ditugaskan menghabisi gerombolan bajak laut di timur pulau besar andalas. sekarang kita sudah impas.!''
''Atasan meminta semua anggota untuk segera bertindak menurut tugas masing- masing. kudengar pembunuh nomor tiga si 'Kaki Tumbal' telah tewas, aku juga sempat mendengar ada dua orang lama yang datang ke pulau Seribu Bisa. kurasa semua ini bakal mencapai puncaknya saat kalian tiba di Wonokerto..'' ujar wanita itu sambil menoleh. ''Di lain waktu saat kita bertemu kembali, mungkin kita berdua akan saling bunuh., jadi jaga dirimu baik- baik sampai saat itu tiba..!'' desisnya dingin sambil berkelebat lenyap.
Roro termenung sesaat, dia masih ingat peristiwa di pulau andalas. dimana Roro, si nomor delapan dan juga wanita di depannya ditugaskan untuk menghancurkan sarang bajak laut ganas dan merampas semua harta mereka. Roro sempat menolong wanita berbaju kuning ini saat dia hampir dicelakai sang ketua gerombolan bajak laut itu.
''Putri Penjerat.' alias si 'Laba- Laba Kuning'., pembunuh nomor empat di Kelompok13 Pembunuh.!'' batinnya tercekat, baginya wanita itu lebih berbahaya dibandingkan dengan si nomor delapan, 'Iblis Betina Mawar Jalang' yang telah mati dibunuhnya. Roro cepat kembali ke kudanya, dia terkejut saat melihat ada dua sosok tubuh berbaju hijau bertopeng tengkorak putih terkapar didekat kuda cokelatnya. ''Mereka anggota bawahan perkumpulan, kenapa ada disini, apakah untuk mengawasi aku dan Respati.?'' batin Roro tegang.
__ADS_1
Saat didekati keduanya sudah menjadi mayat, mati dengan dengan leher terjerat nyaris putus dan sekujur tubuh membusuk bengkak menguning diselimuti jaring laba- laba.!
''Pembunuh nomor empat si Laba- laba Kuning., alias sang Putri Penjerat., apakah aku kelak harus menghadapinya.?'' desis Roro Wulandari ngeri. dia harus segera tiba dibukit Lading untuk bertemu ketiga kawannya dan secepatnya menjalankan semua rencananya.