13 Pembunuh

13 Pembunuh
Maling Nyawa dan pemuda pincang.


__ADS_3

Meskipun kelinci bakar itu sudah cukup lama terpanggang diatas bara api, tapi anehnya tidak terlihat ada dagingnya yang hangus. kemampuan pemuda bermuka dingin pucat seperti orang penyakitan itu dalam mengolah bahan masakan mungkin sudah bisa disetarakan dengan tukang masak di istana para raja.


Aroma daging kelinci panggang yang gurih manis dan sedikit pedas sudah semakin menyebar kesekitar hingga membuat orang tua berambut panjang dikuncir ekor kuda, berbaju kelabu dengan celana hitam yang duduk didepan si dingin pucat semakin tidak sabaran ingin melahapnya.


Sebenarnya kalau turut kemampuannya, dengan sangat mudah dia dapat merebut dua ekor kelinci bakar itu. karena jangankan cuma daging bakar yang berada didepan mata, intan permata dan harta pusaka yang terpendam didalam bumi atau disimpan dalam lemari besi dengan penjagaan terketat, diruang paling rahasia sekalipun juga dapat dengan mudah dia sikat habis.


Sebagai salah satu dari dua dedengkot kaum pencoleng di rimba persilatan, selain 'Malaikat Copet' nama si 'Maling Nyawa' juga bukan julukan kosong. karena dimasa lalu kedua orang tua inilah yang mendirikan perkumpulan 'Maling Kilat'. sebuah perkumpulan silat beranggoratan kaum tangan panjang yang sanggup mengambil segala macam benda pusaka dimanapun dia tersimpan.


''Kampret pucat., sampai kapan aku mesti menunggu. berapa lama lagi baru akan matang kedua kelinci bakar itu.?'' bentak orang tua bergelar si Maling Nyawa itu kesal. dalam rimba persilatan orang ini sempat dikenal sebagai salah satu anggota dari 'Kelompok 13 Pembunuh' angkatan lama yang menghilang.


''Eehm., sudah sejak sepeminun teh tadi kedua daging kelinci bakar ini matang..'' ujar pemuda pucat itu. ''Sialan., lalu kenapa tidak kau bilang dari tadi dan memberikannya padaku. asal kau tahu saja, si Malaikat Copet yang terhitung gurumu itupun tidak berani bertindak kurang sopan denganku.!''


''Dasar kau kampret pucat sialan., anak muda jaman sekarang sungguh tidak punya rasa hormat dan sopan santun pada kaum tua.!'' damprat Maling Nyawa mendelik kesal. pemuda itu hanya tersenyum sinis. ''Seingatku kau tidak pernah bertanya, juga tidak pernah meminta padaku daging kelinci bakar ini. yang kuingat hanya tanganmu saja yang sedari tadi berusaha mengambilnya. memangnya., tangan kaum pencuri sakti bisa bicara yah.?'' ejeknya.

__ADS_1


Si Maling Nyawa seketika menjadi gusar, tanpa banyak bicara tangan kirinya bergerak aneh dan selicin belut. jika disebut sangat cepat orang akan melihat gerakan itu justru terkesan lambat. tapi kalau orang melihat sebuah kelambanan, gerakan tangan itu justru sudah mencengkeram leher baju gelap pemuda didepannya tanpa lawan sempat menghindar.


Dalam dunia persilatan pemuda bermuka pucat dengan sorot mata dingin seakan tanpa perasaan itu bukanlah orang sembarangan. lebih lima tahun silam dia pernah didaulat menjadi orang teratas dalam jajaran sepuluh pendekar muda pendatang baru terkuat. kabarnya selama petualangannya, pemuda ini sudah mencabut nyawa korban ratusan pesilat tangguh dari berbagai aliran.


Dengan menyandang banyak gelaran angker dan menyeramkan seperti si 'Iblis Pucat Kesepian, 'Siulan Kematian, si 'Muka Pucat Dingin, 'Gelandangan Hantu atau 'Pendekar Tanpa Kawan' juga bermacam julukan sangar dan aneh lainnya, membuat dia ditakuti orang persilatan. meskipun demikian dengan tingkat ketinggian ilmunya dia masih tidak sanggup menghindar dari jurus cengkeraman lawan. tanpa terasa keringat dingin menetes dikening pemuda itu.


''Hek., he., jangan dikira karena kau punya banyak guru berilmu tinggi yang semuanya pernah membuat goncang jagat persilatan lantas aku takut denganmu. kecuali si 'Setan Kuburan' empat orang tua lainnya sudah pernah aku hadapi dimasa lalu. dan kau lihat., sampai sekarang aku masih hidup..''


Pemuda pucat itu telan air liurnya. entah kenapa dia merasa kalau dibalik sikap Maling Nyawa yang selalu nampak lugu dan tenang tersembunyi sifat kejam yang menakutkan. perlahan kedua tangan pemuda itu mengambil sebuah daging kelinci bakar dan dengan agak membungkuk hormat memberikannya pada si Maling Nyawa. ''Seekor kelinci bakar bumbu pedas manis., silahkan tuan besar Maling Nyawa menikmatinya..''


''Luar biasa., jarang aku memuji masakan orang lain karena akupun juga seorang tukang masak. Aahs., aku jadi teringat anak itu. dia juga pandai membuat ayam bakar. kurasa dia seumuran denganmu. sayang sekali., setelah semua kekacauan yang menyebalkan ini usai kalian berdua mesti bertarung untuk guru masing- masing. jika tidak., mungkin kau dan dia bisa jadi teman baik..'' gumam Maling Nyawa sambil mengusap mulutnya yang berlepotan minyak daging.


''Jika yang kau maksudkan sebagai dia adalah muridmu yang disebut sebagai si 'Ular Sakti Berpedang Iblis', kebetulan kami sudah pernah bertemu beberapa kali. hubungan kita berdua meski bukanlah teman akrab, tapi juga tidak buruk. soal apakah kami mesti bertarung demi pertaruhan lama kalian dua orang tua sesepuh kaum pencoleng, kurasa itu soal nanti..''

__ADS_1


''Begitukah., bagaimana menurutmu dengan anak asuhanku itu, lumayan bisa diandalkan bukan. dulu dia juga pernah masuk dalam sepuluh pesilat muda pendatang baru terkuat sama sepertimu. tapi sekarang., golongan kalian itu sudah tidak lagi masuk didalamnya. kaum pendekar muda yang baru lainnya sudah bermunculan menggantikan angkatan kalian..''


Kedua tua muda itu seketika hentikan obrolan. sekelebat bayangan hitam melesat cepat diantara pepohonan dan dengan sekejap mata sudah tiba disana. begitu sampai orang tua berblangkon hitam yang menghisap asap pipa cangklong beraroma kemenyan itu langsung membaringkan sosok tubuh wanita bertangan kiri buntung yang baju kuningnya penuh darah.


''Tidak ada banyak waktu lagi untuk memberi penjelasan soal wanita ini pada kalian. orang ini adalah si Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning'. bekas nomor empat dalam keompok 13 Pembunuh seangkatan dengan bocah asuhanmu. dia memiliki ajian langka 'Mecah Rogo Mecah Sukmo' aku mesti mempelajari rahasia ilmu itu agar tahu kelemahannya. karena bajingan tua itu juga memilikinya..''


Berkilat tajam mata tua si Maling Nyawa, ''Maksudmu kabar yang kudengar kalau ketua 13 Pembunuh memiliki ilmu sakti itu memang benar adanya.?'' orang tua berpakaian hitam perlente yang punya julukan 'Malaikat Copet' itu hanya menganguk. ''Kita tidak punya banyak waktu. mungkin sudah saatnya kau bertemu dengan bekas teman- teman lamamu dulu di 13 Pembunuh. lagi pula sepintas keadaan disana semakin kacau. orang Istana Angsa Emas sudah mulai terdesak..''


Maling Nyawa perlahan bangkit. sepintas mata tuanya memancarkan kilatan hawa membunuh yang kejam. ''Ada kalanya kita tidak dapat menghindar dari urusan masa lalu meskipun sudah berusaha untuk melupakannya. tapi itu tidak masalah., aku juga belum tentu mati..'' desisnya dingin. setelah meneguk kendi tuak orang tua itupun berkelebat pergi.


Malaikat Copet hanya mengikuti dengan ujung matanya. ''Kau sendiri tetap menunggu disini atau bagaimana.?'' sambil menghela nafas dia bertanya pada si pemuda pucat. ''Sepertinya aku mesti kesana juga, dalam beberapa bulan belakangan diriku baru tahu kalau aku punya seseorang yang masih terhitung saudara seperguruan..''


''Dia seorang wanita yang terkenal cerdik, rada sombong dan cantik jelita yang jadi murid 'Nenek Tabib Selaksa Racun' adik dari salah satu mendiang guru si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'. selain itu., dia juga sahabat dari seorang kenalan baikku dari Lembah Seruni..''

__ADS_1


''Bagaimanapun juga tidak dapat aku biarkan terjadi sesuatu dengannya..'' setelah menjura hormat pada si Malaikat Copet, pemuda pucat itu meraih sebatang tongkat besi hitam kepala tengkorak lantas mulai berjalan terseok pelan tinggalkan tempat itu.


Cara berjalan pemuda ini terlihat agak aneh. pertama kaki kanannya menapak ke depan yang kiri terseret dibelakangnya. yang kanan selangkah maju, kaki kirinya terseok menyusul ke muka. rupanya pemuda ini seorang yang pincang kaki kirinya. meskipun terlihat berat dan lambat tapi dalam beberapa kejapan mata saja sosoknya juga sudah lenyap dikegelapan.


__ADS_2