13 Pembunuh

13 Pembunuh
Sejak kapan kau menjadi kakek.?


__ADS_3

Ruangan goa batu itu luasnya cuma dua rentangan tangan orang dewasa beratap rendah dengan tonjolan batu dibeberapa bagian membuat orang mesti menundukan kepala jika hendak memasukinya. panjang lorong goa batu juga hanya belasan langkah saja, hingga dengan adanya lima orang didalam sana membuat ruangan goa itu terasa semakin sempit.


Udara dalam goa terasa lembab dan dingin. tetesan air merembes dari dinding atap goa batu yang hanya diterangi oleh sebuah perapian kecil yang letaknya agak diujung ruangan goa, tidak jauh dari tempat si Putri Penjerat yang sedang duduk bersemedi di atas sebuah batu.


Terlihat kepulan asap kuning berhawa panas membentuk pusaran diatas kepalanya makin menebal. perlahan tangan kanannya yang tinggal satu- satunya itu terangkat lurus. dari gumpalan asap muncul belasan jalur- jalur sinar kuning emas yang mengelilingi telapak tangannya. semua orang merasakan hawa ketegangan. si 'Maling Nyawa' menggeser tubuhnya merapat ke dinding sebelah kiri.


Hampir bersamaan kedua mata sang Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' terbuka. telapak tangannya berputar cepat lalu mengibas dua kali kedepan. belasan larik sinar kekuningan serupa benang emas menyambar bergulungan membentuk tali cambuk.


''Jurus 'Benang Emas Maut Pemintal Jiwa.!'' bentak Putri Penjerat sambil tubuhnya ikut berkelebat kedepan melewati mulut goa. diluar tidak terdengar apapun. tapi sebatang pohon besar yang berada beberapa langkah disana tumbang terpotong- potong gosong menjadi belasan buah.!


Di saat semua orang masih terkesima, Putri Penjerat sudah kembali melesat masuk ke dalam ruangan goa lalu duduk bersila ditempatnya bersemedi. kecuali orang tua yang menghisap pipa cangklong berbau asap kemenyan semuanya sama terkejut dengan ilmu kesaktian yang diperagakan Laba- Laba Kuning.


Maling Nyawa sesaat masih berdiri diam di mulut goa. dari si Putri Penjerat perhatiannya kembali beralih kepada rekan lamanya si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'. karena sejujurnya di masa lalu dalam kelompok 13 Pembunuh seangkatannya selain sang ketua mungkin cuma manusia bertangan kanan buntung inilah yang membuatnya rada ngeri.

__ADS_1


''Kenapa kau bisa berada disini, apakah kau tidak tahu kalau ketua 13 Pembunuh sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk mundur.?'' bertanya pencuri tua itu sambil diam- diam kerahkan tenaga kesaktiannya bersiap menghantam lawannya dengan satu serangan mendadak.


''Goa ini bukan punyamu. jika mereka berdua bisa datang dan pemuda pincang ini juga dapat kemari, lantas kenapa aku tidak boleh hadir disini. kau sendiri., ada urusan apa di goa ini.?'' sindir si Lengan Tunggal balas bertanya. guru Respati itu terhenyak heran. ''Biasanya si buntung ini paling tidak suka banyak bicara. dia tahunya cuma membunuh saja..'' pikirnya dalam hati.


''Hee., he., bertahun- tahun tidak bertemu kau sekarang jadi pandai bicara. diriku jadi penasaran senjata 'Cakar Pisau Setan Hijau' milikmu apa juga ada peningkatan. sayang kita berada ditempat sempit. kalau tidak., aku berniat untuk menjajalmu.!'' ujar si Maling Nyawa menantang. dua pasang mata tajam bentrok pandangan. hawa membunuh yang disertai gelombang tenaga kesaktian dari tubuh kedua pembunuh tua itu cepat menyebar keseluruh goa.


''Kalian berdua ini sudah tua bangka tapi kelakuan seperti anak kecil saja. mentang- mentang berasal dari kaum pembunuh sekali bertemu maunya saling hantam. jika mau beradu ilmu silahkan keluar dari goa ini.!'' satu suara dingin namun penuh tekanan terdengar dari mulut pemuda berbaju hitam yang duduk bersandar dinding goa.


''Seharusnya kalian kaum tua merasa malu dengan anak muda pincang ini. Maling Nyawa., kau tidak perlu perdulikan bekas kawanmu yang buntung itu. dia tidak akan mengganggu urusanmu dengan kelompok 13 Pembunuh. bahkan bisa jadi., si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' akan berbalik menjadi sekutumu.!'' kali ini orang tua berblangkon hitam dan menghisap pipa cangklong bicara. dialah si Malaikat Copet.


Raut muka lugu si Maling Nyawa terlihat semakin tolol. ''Dia jadi sekutu kau bilang.? Hei copet tua., kau tidak sedang sakit kepala bukan. sejak dulu orang ini tidak pernah mau punya hubungan dekat dengan orang lain. bahkan dengan ketuanya saja si buntung ini tidak sudi bicara hormat.!''


''Bagaimana mungkin orang buntung yang tinggi hati sepertinya mau merendahkan diri untuk membantu orang lain. jika itu terjadi., Hee., he., aku akan membungkuk hormat padanya dan menyebut dia sebagai tuan besar..'' ujar si Maling Nyawa terkekeh. rekannya Malaikat Copet tertegun lantas tergelak. ''Kau mesti pegang ucapanmu karena dirimu pasti menyesalinya..''

__ADS_1


''Apa yang membuatku menyesal, mengharap bantuan orang angkuh sepertinya sama saja menunggu kucing bisa menggonggong atau tikus dapat berkokok..'' potong pencuri tua itu mencibir. ''Kalau begitu kakek Maling Nyawa harus menghormat dan menyebut kakek tua buntung ini tuan besar kerena dia pasti membantumu dan orang- orang Istana Angsa Emas..''


Karuan saja Maling Nyawa menghardik keras si pemuda pincang atas ucapanya yang dianggapnya kurang ajar. ''Bocah pincang sialan., memangnya kau ini siapa sampai berani memintaku melakukannya. jangan dipikir jadi murid si copet tua membuat kau bisa berlaku kurang ajar padaku.!''


''Huhm., Maling Nyawa, apalagi yang kau tunggu. cepat menghormat dan panggil diriku tuan besar seperti yang cucuku katakan tadi.!'' hardik si Lengan Tunggal Pengejar Roh hingga membuat guru Respati itu terhuyung kaget bahkan nyaris muntah. dengan mata melotot jarinya menuding si buntung. ''Cuu., cucu., cucumu.? sej., sejak kap., kapan kau jaa., jadi seorang kakek.?''


Pemuda bermuka agak pucat yang sedari awal duduk bersandar bangkit berdiri dan menoleh. ''Dia memang masih terhitung sebagai kakekku. sebenarnya kami berdua juga baru menyadarinya tadi malam saat pertarungan besar masih berlangsung..''


Maling Nyawa melongo. tampangnya terlihat makin menggelikan. dia menatap keempat orang disana bergantian. meskipun masih tidak percaya namun dari air muka mereka jelas menunjukkan kalau semuanya benar. ''Aish., tuu., tuan bes., besar. aa., aku mem., memberi hor., mat paa., pada., mu..'' gumamnya tergagap lemas sambil membungkuk.


*****


Maaf cuma dapat up date sedikit saja.🙏. Meskipun bukan penggemar sepak bola, kami juga turut berbela sungkawa atas kejadian meninggalnya para seporter bola di Kanjuruan Malang. Semoga para korban di terima disisi Allah Swt. dan keluarganya diberikan ketabahan. Amin.

__ADS_1


__ADS_2