13 Pembunuh

13 Pembunuh
Musnahnya Belatung Maut Biru.


__ADS_3

Ajian Belatung Maut Biru yang dilepaskan Santang Wirat kembali menyambar ganas, Respati yang masih merasa penasaran hendak kembali menghantam dengan ilmu pukulan Kobra Kuning Penjebol Karang yang merupakan salah satu dari beberapa ilmu kesaktian yang terdapat dalam kitab pusaka Kobra Iblis hasil curian si Maling Nyawa saat pencuri sakti ini menyatroni pesanggrahan selaksa pedang beberapa tahun silam.


Tapi baru saja dia hendak melepas pukulan saktinya, Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun yang merasa sangat muak dengan Santang Wirat karena sudah ditelanjangi tubuhnya dengan ilmu Mata Hantu Malam si pemuda sumbing yang picak itu sudah lebih dulu melabrak dengan hantamkan ilmu pukulan Cakar Tengkorak Darah.!


Lima larik cahaya merah tajam menyala berbentuk cakar dan menebar bau anyir darah menyambar kemuka menggidikkan hati. ''Mampus kau.!'' bentak Roro sengit.


Yang menjadi sasaran wanita cantik ini bukan belatung birunya, tapi malah langsung menghantam tubuh pemiliknya si Santang Wirat. sementara Belatung Maut Biru yang terbang mengancam kembali dibuat tertahan oleh deru hempasan angin kencang yang di timbulkan oleh kibasan kipas peraknya.!


'Whuuss, whuss,'


'Bheeet., Sraat.'


''Aaakh., Setan betina sialan.!'' maki pemuda sumbing itu sambil jatuhkan diri berguling. dia sungguh tidak menyangka kalau perempuan cantik itu mengincar dirinya. meskipun selamat tapi sebagian kulit punggungnya turut tersambar angin pukulan lawan hingga tergores beberapa bagian. biarpun cuma sedikit tapi rasanya sangat perih dan panas bagai di sundut bara api. dapat dibayangkan kalau sampai terkena langsung, bisa dipastikan nyawanya amblas.!


Sambaran cahaya pukulan Cakar Tengkorak Darah terus menderu. Nyai Bawang menggembor marah. mulutnya meniup tangannya mengibas, kembali nenek jahat ini kerahkan ajian Belatung Asap Neraka untuk membuyarkan ilmu Cakar Tengkorak Darah sekaligus menghantam balik lawannya. sementara Santang Wirat yang susah payah bangkit kembali kibaskan tangannya. untuk ke tiga kalinya Belatung Maut Biru yang tadi terpental kembali melabrak.


Roro Wulandari terperanjat, nyawanya terancam dua ilmu kesaktian lawannya.!


Respati yang tahu keadaan itu tidak tinggal diam, dengan tubuh melesat ke depan dia memutar cepat pedang Iblis Hitam ditangan kanannya seperti sebuah baling- baling lalu dilempar keatas, pusaran cahaya hitam bagai kincir kematian menderu memapaki Belatung Maut Biru yang mengancam Roro. dalam kemarahannya si pemuda sudah kerahkan jurus 'Pedang Terbang Iblis Hitam.! sementara tangan kiri lepaskan ilmu pukulan Kobra Penggerogot Mayat.!


Pemuda yang dalam rimba persilatan diberi julukan Ular Sakti Berpedang Iblis itu terpaksa harus menggunakan jurus Pedang Terbang Iblis Hitam, karena dengan jurus itu dia bisa mengendalikan pedang pusakanya dari jarak jauh tanpa khawatir terkena semburan cairan beracun belatung biru apabila terpotong tubuhnya, meskipun ilmu ini cukup menguras tenaga dalam dan pikirannya.


Segulung kabut putih pekat berbentuk kepala ular kobra raksasa yang menebar cahaya panas menyilaukan mata menyambar.!


'Bheet., beet, Shaat.!'


'Wheess., weees.!'


'Craaass., crees, Blaaaarr.!'


Belatung Maut Biru yang terpotong tiga bagian memuncratkan titik- titik cairan biru busuk penuh racun. Roro yang selamat cepat mencelat menghindar sambil kibaskan kipasnya tiga kali keudara lalu menggebut ke depan. segelombang badai topan datang melanda.!


Meskipun gulungang angin kencang yang di timbulkan oleh jurus 'Kipas Penggulung Awan' sanggup menghempas buyar titik- titik cairan beracun dari Belatung Maut Biru. namun demikian masih ada yang sempat menetes ke sebuah potongan kayu kering.


kayu yang terkena cairan dari tubuh belatung biru itu terlihat mengepulkan asap biru berbau menyengat lalu hancur membusuk. padahal itu hanya setetes saja, bisa dibayangkan jika sampai terkena tubuh.!


Bebarengan itu Nyai Bawang atau Nenek Bawang Beracun Belatung Darah berteriak parau. Cakar Tengkorak Darah dan Kobra Penggerogot Mayat, dua pukulan sakti yang di lepaskan Roro dan Respati itu bukan saja mampu melibas habis ilmu Belatung Asap Neraka si nenek jahat tapi juga membuat keranjang rotan yang berisi bawang belatung busuk andalannya tersambar hingga hangus dan terbakar habis. masih untung dia sempat meraup beberapa butir bawangnya sebagai bekal senjata. kembali nenek peot ini meremas hancur butiran bawang busuk di tangannya lalu mulutnya menyembur.

__ADS_1


''Whhuuuh., Anak- anakku manis bunuh mereka untukku..!'' perintah Nyai Bawang penuh kemarahan. kembali puluhan belatung merah darah melesat secepat siluman terbang. selusin belatung darah ini punya ukuran tiga kali lebih besar, menandakan dia punya kekuatan yang lebih mengerikan dari sebelumnya.


Respati yang baru melepas jurus Pedang Terbang Iblis Hitam dan pukulan Kobra Penggerogot Mayat masih belum sempat memulihkan tenaganya yang terkuras. dia sesaat hanya mampu menghindar sambil gulingkan tubuhnya.


Tapi saat belatung darah itu berbalik kembali menyerang, Respati terpaksa harus kuras sisa tenaga saktinya untuk melepas pukulan Kobra Penggerogot Mayat. karena jurus Pedang Terbang Iblis Hitam belum mungkin lagi dia mainkan. dalam keadaan tubuh masih berguling diatas tanah, si pemuda memaksakan hantamkan tangan kirinya.


'Wheeess., Shraaat., shaat.!'


Karena tenaganya berkurang, daya hancur dan kedigjayaan ilmu pukulan yang cukup ditakuti di dunia kependekaran ini menjadi jauh menurun. hanya sembilan belatung saja yang bisa dipunahkan, tiga lainnya mampu bertahan dan terus melesat maju menyambar tubuh si pemuda.


''Hek., hee., he., modar kowe bocah.,!'' umpat Nyai Bawang bergelak terkekeh.


Roro Wulandari menjerit ngeri, tapi dia tidak mampu menolong karena di hadang pukulan dan tusukan pisau Santang Wirat. karena sudah kehilangan Belatung Maut Biru orang sumbing ini menjadi nekat dan mengamuk dengan sebilah pisau berwarna kebiruan pertanda sudah dilumuri rancun.


Respati jatuh terduduk, mungkin dipagi yang cerah ini riwayatnya bakal tamat. di bawah ancaman maut tiga belatung darah yang ganas menderu, dalam sekelebat waktu itu semua kenangan pahit manis yang pernah dia alami seakan terlintas dikepalanya. apakah semua orang yang hendak mati selalu terkenang seperti ini.,?


Tiba- tiba saja dia merasa takut, bahkan sangat takut. tapi bukan sebab kematian itu sendiri, tapi karena dia takut setelah mati akan kemana, surga ataukah neraka., Respati seorang pembunuh bayaran. orang yang sering menghabisi nyawa manusia lain seperti dia apakah masih ada kata ampunan.,


Dari sebuah ketakutan sekarang si pemuda malah menjadi tenang. dia sadar sejak awal terjun kedunia hitam ini hanya ada satu jalan saja yang terbentang, membunuh atau mati terbunuh.!


Sempat dia melirik Roro Wulandari, gadis sepupunya yang cantik jelita itu menjerit panik menyebut namanya. dua buah rasa penyesalan seketika timbul di hatinya.


Respati menghela nafas panjang pejamkan matanya. tiga belatung darah melesat cepat, dalam jarak setengah tombak lagi akan menghunjam ke dalam tubuh si nomor tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh itu.


'Whees., wees., wess.!'


'Craaab., craas., craat.!'


Tubuh itu akhirnya tertembus juga., tapi bukan tubuh Respati melainkan badan tiga belatung darah yang tertembus tiga anak panah ungu yang entah melesat dari mana datangnya. ketiga anak panah itu terus saja menyambar kearah Nyai Bawang yang masih terkekeh karena merasa yakin menang.


Saat dia tersadar ketiga anak panah ungu itu sudah tinggal sedepa saja dari tubuhnya.!


''Bangsat keparat., Aakh.!'' jerit Nyai Bawang. buru- buru dia mengegos ke samping sambil tangannya menggebut rontok anak panah itu. dua berhasil dikemplang mental. tapi yang satu menancap tembus di lengan kanannya.


''Junjunganku Nyai Bawang.,!'' seru Santang Wirat panik. dengan lebih dulu kirimkan tiga tusukan pisau ke perut dan dada Roro, pemuda picak ini berniat menolong Nyai Bawang. tapi belum sempat dia mendatangi, setitik sinar kekuningan berbentuk bintang segi empat sudah lebih dulu menyambar kepalanya.


Santang Wirat berdiri diam, kepalanya masih sempat menoleh kearah datangnya cahaya sinar bintang itu. disana ada dua orang, seorang gadis berkulit hitam manis lima belas tahunan berbaju hitam dan membekal busur panah. meskipun penampilannya sudah jauh berubah tapi dia masih kenal siapa gadis itu. Satriyana.,

__ADS_1


Di samping si gadis yang pernah beberapa kali hendak di gaulinya berdiri tegak seorang lelaki gagah tinggi besar rada brewokan. meskipun tidak mengenali siapa orang itu tapi dari pedang buntung yang tergenggam di tangan kirinya Santang Wirat tahu dialah yang telah menyerangnya.


Satu rasa teramat sakit disertai muncratnya kucuran darah dari keningnya menyadarkan pemuda sumbing yang picak itu. dia tidak sempat menjerit karena tubuhnya keburu tumbang dengan kepala terpotong empat bagian. darah dan isi kepala berhamburan. untuk ketiga kalinya jurus Bintang Langit Terpecah milik Sabarewang kembali memakan korban.


''Santang Wirat.,!'' jerit Nyai Bawang marah bercampur ngeri, dalam hati dia membatin., ''Dari mana datangnya orang- orang keparat ini, sialan sepertinya aku harus kabur dulu, keranjang bawangku sudah lenyap. kalau cuma mengandalkan ilmu sihir aku khawatir tidak akan mampu menghadapi mereka berempat. Setan alas., aku sudah salah perhitungan. Huuh., tidak ada jalan lain..!''


Sambil mencabut anak panah ungu yang tertancap di lengannya Nenek Bawang Beracun Belatung Darah kibaskan tangan kirinya sambil merapal mantra lalu meniup beberapa kali. empat gumpalan asap putih mendadak muncul di depannya. sesaat kemudian Respati yang baru bangkit dan ketiga rekannya terperangah, gumpalan asap itu menjadi empat sosok tubuh yang menyerupai Nyai Bawang.!


''Saudaraku semuanya., Bunuh mereka untukku..!'' Teriak Nyai Bawang bengis sambil sapukan lengan jubah kirinya. sementara lengan kanannya terlihat membengkak kucurkan darah kehitaman. meskipun terluka dan keracunan tapi nenek tua jahat ini masih terlihat tenang.


Empat sosok Nyai Bawang jejadian meluruk pentangkan cakarnya. Roro, Sabarewang dan Satriyana melesat menghadang dengan babatkan senjatanya masing- masing. meskipun mereka sudah berkali kali mampu menebas habis sosok Nyai Bawang jejadian menjadi asap putih, tapi gumpalan asap itu mampu terbentuk kembali seperti semula hingga Sabarewang dan Satriyana menjadi kesal dan bingung.


Sebaliknya saat cakar keempat mahluk sihir jejadian itu menyambar, deru angin tajamnya seakan mampu merobek kulit tubuh mereka.


Berkali- kali gagal memusnahkan ilmu sihir lawan membuat Roro Wulandari berpikir keras, oleh gurunya sebenarnya Roro juga dibekali ilmu sihir yang mungkin dapat menangkal sihir lawan, hanya masih kurang sempurna. dia jadi menyesal karena selalu malas melatih ilmu itu.


Akhirnya Roro jadi nekat juga, mulutnya komat- kamit merapal mantra sihir, ujung jarinya di gigit hingga berdarah lalu dioleskan ke kipas peraknya. ''Dari asap kembali ke asap., dari tanah kembali ke tanah., dari asal kembali ke asalnya., Buyar., Musnah., semuanya..!'' bentak Roro sambil kibaskan kipas peraknya.


'Wheeess., wheeess.,!'


Gelombang angin kencang kemerahan melabrak, terdengar jeritan menggerung dari mulut empat mahluk sihir itu seiring dengan tubuh mereka yang lenyap terhempas angin.


Pucat pias wajah Nyai Bawang., ''Bangsat., bagaimana mungkin perempuan ini bisa memusnahkan ilmu sihirku., dari mana dia mendapatkan ilmu itu, siapa dia sebenarnya.''


''Aah jangan- jangan dia., tapi itu tidak mungkin terjadi. orangnya pasti sudah mati, aku sudah memburunya kedelapan penjuru dan tidak kutemukan jejaknya..!'' gumam Nyai Bawang yang mulai dilanda rasa takut.


''Kalau saja aku masih membekal keranjang Bawangku, mereka semua bisa saja dengan mudah kuhabisi, apa yang harus kuperbuat.!''


Saat dia ragu, telinganya mendengar bisikan lirih. ''Nyai Bawang., jika ingin selamat cepat kau kabur ke arah timur untuk mengacaukan jejak, lalu beralih ke selatan dan langsung menuju pulau Seribu Bisa.!''


''Sii., siapa kau., bagaimana dapat tahu pulau Seribu Bisa.?'' bisik Nyai Bawang tersentak kaget. sepasang mata tuanya yang cekung memandang sekeliling.


''Aku pembunuh nomor delapan yang di utus untuk menjemputmu, tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. segeralah Nyai pergi, urusan disini serahkan padaku..!'' bisik suara yang mirip perempuan muda itu


''Nyai Bawang., apalagi yang hendak kau lakukan.,apa kau berniat kabur dar sini?'' bentak Roro kereng.


''Huuhh., bocah kemarin sore hendak bertingkah sombong dihadapanku., rasakan ini.!'' gertak Nyai Bawang sambil kibaskan lengannya sambil meniup. tiga gulung asap putih berbentuk golok besar menyambar.!

__ADS_1


Roro mendengus kembali dia memutar kipas peraknya beberapa kali, tiga golok sihir terpental lalu buyar. asap putih menyesakkan dada memenuhi udara, semuanya serentak mencelat mundur menjauh sambil menutup jalan pernafasannya karena sadar asap itu beracun. dan saat semuanya hilang tubuh Nyai Bawang sudah lenyap dari sana.


''Jahanam tua itu kabur., anjing sialan.! maki Roro Wulandari marah sambil hantamkankan cakar mautnya ke tubuh Santang Wirat hingga mayatnya semakin hancur tidak terbentuk.


__ADS_2