13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia Istana Angsa Emas. (bag3)


__ADS_3

Segala yang terdengar dari keterangan kedua orang 'Istana Angsa Emas' mengenai rahasia dari tempat itu sungguh diluar dugaan Roro Wulandari. selama ini dia dan mungkin semua kawannya hanya mengira kalau letak dari Istana Angsa Emas berada disuatu tempat yang sangat rahasia entah dibelahan bumi sebelah mana.


Tetapi siapa pernah mengira kalau rupanya Istana itu adalah sebuah tempat yang berada di alam gaib. meskipun Roro paham bahwa di atas bumi ini ada dunia lain yang tidak kasat mata, tempat- tempat angker yang dianggap keramat dan konon di huni oleh bangsa siluman, dimana dia malah pernah bertarung dengan mahkluk jejadian seperti si 'Bocah Perempuan Iblis' jelmaan 'Siluman Bermata Tiga Penghisap Darah' bersama Respati, Kyai Jabar Seto juga I Gede Kalachandra. namun selama ini Roro sendiri belum pernah memasuki dunia gaib seperti itu.


''Satu pertanyaan lagi, apakah Satriyana tahu kalau Istana yang menjadi warisannya berada di luar alam dunia ini. juga apa kalian orang Istana Angsa Emas mengerti bagaimana cara menuju kesana. karena seperti yang Ki Sabda Langitan bilang selain 'Darah Keabadian' juga diperlukan beberapa jenis mantra gaib untuk membuka jalannya..''


''Lantas apa kalian tahu mantra seperti apa itu. karena jika kulihat dari gelagatnya terus terang saja aku ragu kalau diantara kalian semua ada yang benar- benar mengerti isi mantra itu. Aah biar ketebak., mungkin hanya mendiang pimpinanmu si 'Tuan Sesepuh Istana Barat' yang mengetahui semuanya. bukankah demikian 'Panglima Istana Kiri.?'' tanya Roro dingin sambil menatap tajam lelaki jangkung berkulit pucat yang berdiri dekat pintu gubuk.


Tanpa sadar semua orang melihat lelaki itu. dalam hatinya mereka sama bertanya kenapa sikap Dewi Malam Beracun seolah menyelidik orang itu. ''See., semua itu buk., bukanlah urusanmu. memangnya kau siapa hingga berani bicara dan bertanya masalah rahasia keluarga Istana Angsa Emas.!'' bentak Panglima Istana Kiri gelagapan.


''Kenapa kau gugup begitu. ataukah dirimu sebenarnya tahu soal matra rahasia yang Ki Sabda Langitan katakan tadi tapi sengaja menyembunyikannya.!'' tandas Roro dingin hingga membuat suasana semakin tegang. jelas saja lelaki jangkung berjubah kuning itu langsung naik pitam.


''Wanita sundal keparat., tuduhanmu ini sudah keterlaluan. apapun yang terjadi hari ini aku akan menghabisimu.!'' begitu ucapannya selesai Panglima Istana Kiri putar kedua tangannya lalu menghantam ke depan. suara gemerincing nyaring yang menusuk gendang telinga disertai sambaran angin tajam turut mengiringi melesatnya dua belas gelang emas bergerigi tajam.


Pertama dua belas gelang itu seolah bergerak lurus dan langsung ke sasaran tapi ditengah jalan memencar ke segala arah sebelum berputar cepat menghantam Dewi Malam Beracun menyasar kedua belas bagian tubuhnya atas bawah, depan belakang juga dari kiri kanan. Ki Sabda Langitan dan 'Panglima Istana Tengah' sudah tidak sempat untuk mencegah serangan maut rekannya ini.

__ADS_1


Kecuali Roro Wulandari semua orang cepat menggeser tubuhnya menjauh. Puji Seruni sempat berniat untuk turut membantu rekannya untuk menghadang serbuan gelang terbang lawan namun dengan satu isyarat bentangan kipasnya Roro mencegah dan malah memintanya melakukan sesuatu di sudut gubuk. ''Huhm., jurus 'Dua Belas Gelang Kematian.!'' dengus Roro mengenali jurus serangan lawannya.


''Apa hebatnya gelang- gelang rongsokanmu ini. lebih baik kau jual saja ke tukang loak.!'' ejeknya sinis. meskipun di luarnya Roro menghina lawan tapi sebenarnya dalam hati wanita itu cukup terperanjat juga. 'Kipas Darah Bulan Mentari' ditangannya kembali terentang. cahaya merah berbau darah disertai hawa panas terasa membakar udara saat senjata yang asalnya milik partai silat 'Kipas Sangkala' itu dibabatkan beruntun seolah perisai sakti pelindung tubuh.


Mendengar senjata gelang terbang yang dia andalkan dipandang remeh lawan membuat Panglima Istana Kiri merutuk. kebenciannya pada wanita licik yang dianggapnya sangat sombong itu semakin menjadi. dengan lipat gandakan tenaga saktinya dia kibaskan kedua lengannya berulang kali hingga kecepatan pusaran gelang berdurinya bertambah hebat.


Roro Wulandari mendengus hina. kipasnya turut berputar lebih cepat menahan semua gempuran gelang- gelang lawan hingga bermentalan ke udara. empat kursi kayu disapu tendangannya sampai hancur melabrak tubuh Panglima Istana Kiri. lelaki itu menggembor marah meskipun itu tidak sampai melukainya tapi cukup memaksanya mundur beberapa tindak.


'Whuuukk., whuuuutt., wheeett.!'


'Traaaang., traaaaang., claaaang.!'


''Awas., cepat menyingkir.!'' seru Ki Tirtayasa sambil mendahului berkelebat keluar di ikuti istrinya dan Puji Seruni. sementara Ki Sabda Langitan serta wanita bergelar Panglima Istana Tengah yang berada di dekat pintu sudah lebih dulu keluar melihat senjata gelang rekannya bermentalan akibat dari beradunya ilmu kesakitan.


'Blaaaamm., sraaakk., blaaarr.!'

__ADS_1


Gubuk itu kecil juga tidak tinggi. dengan hawa tenaga pertarungan yang saling hantam dengan ganasnya jelas saja tidak mampu bertahan. bersama dengan ledakan keras dan keluarnya beberapa sosok tubuh yang menjebol dinding. gubuk itupun berderak roboh lalu hancur terbakar.


Di atas udara dua buah bayangan kuning dan hitam terlihat saling sambar dan hantam dengan sengitnya. cahaya kuning emas dari dua belas gelang maut yang berputar bagai gasing berulang kali dibuat terpental oleh kibasan kipas merah yang menebar hawa panas dan bau anyir darah. ''Kau bilang ingin membunuhku. Chuih., kalau mimpi jangan terlampau muluk. cukup satu jurus bisa kubuat dirimu mampus.!'' maki Roro meludah.


Masih melayang tiga tombak diudara, kedua mata Roro Wulandari berubah memerah. cahaya kemerahan berseling emas dan perak menyelimuti tangan hingga ke pangkal lengan. kipas ditangannya bergetar keras lalu membabat secara bersilangan. cahaya perak emas diantara gelombang merah darah menyambar. inilah jurus pertama dari ilmu Kipas Sangkala. 'Bulan Berkabung Mentari Meredup.!'


Panglima Istana Kiri keluarkan jeritan keras. dua belas gelang mautnya bukan saja dibuat berjatuhan bagai daun kering tubuhnya juga terhempas hingga lebih lima tombak jauhnya sebelum tersungkur ke tanah. jubah kuningnya terkoyak hancur sampai dia nyaris telanjang. lelaki itu jatuh terduduk. meskipun dua kali sempat muntah darah dan terkapar lemas tapi orangnya masih sadar.


Ki Sabda Langitan alias si 'Tangan Penggoncang Langit' mendengus gusar. Panglima Istana Tengah berteriak khawatir. meskipun dilanda kemarahan tapi mereka harus pastikan keadaan rekannya lebih dulu sebelum membuat perhitungan dengan Dewi Malam Beracun.


Namun saat sampai di tempat lelaki jangkung itu mereka sama tertegun. di bagian dada dan perut dari tubuh pucat yang nyaris telanjang itu terdapat banyak guratan rajahan gambar dan huruf- huruf kuno berwarna keemasan. kedua orang tua muda itu saling pandang dengan curiga.


''Sudah kuduga., dia memang menyimpan sesuatu. biarpun tidak tahu apa artinya tapi kalau boleh aku menebak., rajahan itu adalah mantra rahasia yang dibutuhkan untuk membuka jalan ke Istana Angsa Emas..'' ucap Roro yang baru melayang turun dengan anggunnya dari atas udara. ''Kalian berdua jangan khawatir, meskipun terluka tapi dia tidak akan mati karena tenaga serangan jurusku sengaja aku kurangi..''


Biarpun si Dewi Malam Beracun sekan cuma bicara sembarangan tapi bagi telinga semua orang terutamanya mereka berdua, ucapan itu seakan guntur di siang bolong. dalam hati mereka tidak percaya jika guratan- guratan aneh yang seakan memancarkan sinar keemasan di atas tubuh rekannya itu adalah sebuah mantra.

__ADS_1


*****


Silahkan tulis komentar dan kritik saran Anda. like👍 juga vote👌bila suka yah., Terima kasih🙏.


__ADS_2