13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia bukit Lading (bag1)


__ADS_3

Sabarewang menjalankan laju kereta kudanya dengan santai. Respati hanya berpesan agar sebelum senja datang meraka harus tiba dikaki bukit Lading.


Bukit itu tidak terlalu jauh jaraknya, paling lambat sebelum penghujung siang sudah sampai di sana.


''Kakang Sabarewang, ikan bakar yang kita masak tadi pagi masih banyak lho., kau tidak ingin memakannya.?'' tanya Satriyana sambil melongokkan kepalanya di jendela depan kereta kuda. Sabarewang terkekeh melihat mulut gadis nakal ini yang penuh daging ikan bakar dan kotor berlepotan minyak.


''Hek., he., biarpun bertubuh ceking selera makanmu besar juga gadis bandel. sisakan sedikit saja untukku., sekarang ini aku masih belum lapar. tapi kalau kau mau boleh kau habiskan sekalian jatahku..'' jawab si kusir kuda.


''Benarkah., wah terimakasih kang., kau memang orang yang paling pengertian sedunia setelah kakak Dewi.!'' ucap gadis itu sambil kembali menutup jendela depan kereta. Sabarewang cuma bisa nyengir dan mengeluh. ''Percuma saja bicara basa- basi pada anak itu. umumnya orang akan merasa sungkan kalau di tawari makanan, tapi dia malah tidak perduli. baginya penting perut kenyang duluan, orang lain belakangan.!''


Di dalam kereta kuda Respati terlihat baru saja menyelesaikan latihan semedinya. di depannya Roro Wulandari nampak masih berlatih pernafasan tenaga dalam untuk meningkatkan taraf ilmunya, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi ancaman yang mungkin bakal datang mengahadang.


''Kau seperti tidak pernah merasa kenyang kalau makan, apa perutmu penuh dengan cacing atau punya lubang sedalam sumur..?'' olok Respati bercanda. gadis itu cuma mendelik sebentar lalu melahap habis satu ikan bakar yang terakhir. sekali makan siang gadis ini mampu mengganyang empat ekor ikan bakar yang cukup besar ditambah dua ekor kepiting bakau.


''Bagiku selagi masih bisa makan, ya makan saja toh semuanya bakal berakhir sama..''


''Sama- sama menjadi tai., week.!'' balas Satriyana sambil julurkan lidahnya. Respati ketok jidat gadis itu.


''Anak perempuan jangan suka bicara kotor., kelak tidak akan ada yang mau menjadi suamimu.!'' Satriyana cuma tertawa sambil mengelap mulutnya dengan selembar kain lalu minum air kendi hingga sempat pula bersendawa., 'Hooeeikk.,!'


Sementara di luar Sabarewang terlihat waspada saat di jalan sempat berpapasan dengan tiga orang pengemis yang berjalan cepat. salah satu diantara ketiga pengemis itu adalah seorang nenek tua yang umurnya hampir tujuh puluh tahun dan membekal sebatang tongkat sapu lidi. tapi kalau lebih di perhatikan batang lidinya bukan dari tulang daun kelapa melainkan batang lidi dari kawat baja berwarna kehitaman.!

__ADS_1


Meskipun tidak mengenal siapa nenek pengemis bertongkat sapu lidi baja dan dua orang pengemis lainnya. tapi Sabarewang dapat mengetahui dari kelompok persilatan mana ketiga pengemis itu berasal.


''Perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan.!'' gumam Sabarewang saat melihat ada sembilan buah kain tambalan pada pakaian kumal mereka. ''Setahuku kolompok ini biasa berkeliaran di sekitaran jawa barat dan pesisir selat sunda, paling banter cuma sampai ke perbatasan jawa tengah. tapi kenapa sekarang mereka bergerak sampai jauh ke pusat wilayah tengah ini.?'' pikirnya heran sambil melirik ketiga pengemis yang lewat di samping keretanya.


Kereta kuda terus bergerak, kini jalannya menjadi lebih cepat. sesuai dengan petunjuk jalan yang telah diberikan Respati, sesudah melewati sebuah sungai kecil dan tikungan jalan, sampailah mereka di sekitar kaki bukit Lading sebelah barat. tepat di depan sebuah tebing batu yang tinggi dan dipenuhi tumbuhan menjalar.


Sabarewang memandang berkeliling, dia merasa tempat itu sangat tersembunyi dan tidak pernah di jamah manusia. setelah yakin aman dia mengetuk dinding kereta kuda. ''Kita sudah sampai di kaki bukit, apa kalian mau turun sekarang.?''


Pintu kereta kuda terbuka, tiga orang turun dari sana. Dewi Malam Beracun melangkah mendahului lalu berhenti disamping kuda penarik kereta. dengan berkacak pinggang wanita cantik ini mengamati sekelilingnya. hanya ada semak belukar dan pepohonan lebat dengan daun ranting kering yang berserakan.


''Apa bagusnya tempat ini., sudah panas, kotor dan membosankan. sangat jauh kalau di bandingkan tempat tinggalku di gunung Lawu yang sejuk dan indah.!'' omel wanita cantik ini setengah menghina. kalau orang lain yang mendengar pasti merasa jengkel atau tersinggung dengan ucapan Roro. tapi Respati dan kedua kawannya yang sudah tahu sifat si cantik yang sombong ini cuma bisa tersenyum kecut.


''Bicara tanpa bukti adalah kebohongan, ayoh ajak kami melihatnya sekarang.!''


''Benar..! benar banget kata kak Dewi., aku penasaran seperti apa sih tempat tinggalmu itu.?''desak Satriyana tidak sabaran. Sabarewang cuma nyengir tanpa bicara apapun. meski dalam hatinya dia juga ingin tahu rupa tempat tinggal sahabatnya itu.


''Kita tunggu sampai hari beranjak senja, sementara itu kalian tunggu dulu disini, aku mau mencari sesuatu, mudah- mudahan benda itu masih ada di tempatnya.! kata Respati sambil berlalu. ''Hei., kau sebenarnya kau mau kemana.?' seru Roro Wulandari. tapi si pemuda sudah lenyap di balik pepohonan.


''Huh., awas kalau dia berani main- main, aku tidak akan mengampuninya. kenapa juga dia berlaku sok rahasia segala.!'' gerutu Roro kesal.


''Nyi Dewi., tadi di jalan aku sempat melihat tiga anggota partai Pengemis Sembilan Tambalan sedang berjalan cepat sepertinya mereka terburu- buru.!'' kata Sabarewang pada Roro Wulandari alias Dewi Malam Beracun. ''Pengemis Sembilan Tambalan., mau apa mereka muncul di daerah ini, ataukah perkumpulan kaum gembel itu juga mau ikut dalam perebutan peta harta Istana Keramat Angsa Emas.?'' gumam Roro heran.

__ADS_1


''Satu orang diantara mereka adalah seorang nenek tua yang membekal sebatang tongkat sapu lidi baja., aku merasa nenek ini sangat menakutkan.!'' tambah Sabarewang.


Roro Wulandari tertegun seakan kaget. ''Kalau benar orang itu yang muncul, maka bisa kukatakan kalau dia lebih menakutkan dari yang kau kira. karena nenek tua ini bukan lain adalah Nyi Pulungan si 'Pengemis Sapu Jagad' ketua cabang selatan dari partai Pengemis Sembilan Tambalan.!''


''Pasti ada urusan yang sangat penting hingga seorang ketua cabang sampai mau turun tangan sendiri., Huh pasti soal peta harta itu.!'' dengus Roro sebal.


''Lihat kakang Respati sudah kembali.!'' seru Satriyana yang sedari tadi diam. di sana pemuda berjuluk Ular Sakti Berpedang Iblis tengah berjalan cepat sambil memanggul sebuah batu berkilau sebesar kepala kerbau. saat batu itu di letakkan di tanah dapat terlihat kalau itu sejenis batu pualam hijau berbentuk kerucut segi lima yang sangat halus.


Respati mengambil pisau belati dari balik bajunya lalu membabat dahan pohon dan semak belukar yang menghalangi cahaya mentari senja. dengan penuh perhitungan Respsti menggeser batu hijau itu beberapa jengkal lalu meminta semuanya berdiri menjauh agar tidak menghalangi cahaya matahari.


Meski heran tapi semuanya menurut. sinar mentari senja yang mulai turun ke ufuk barat terlihat merambat pelan, saat cahaya itu menyinari batu pulam hijau, dari sana muncul lima jalur sinar kehijauan yang mengarah ke atas dinding tebing bukit yang penuh tumbuhan menjalar.


Tumbuhan belukar itu seperti terbakar dan rontok ke bawah. selanjutnya terdengar suara berderak keras seperti ada sesuatu yang berat sedang bergeser. saat semuanya berhenti tiga tombak di atas dinding tebing bukit telah muncul sebuah goa rahasia yang memancarkan cahaya hijau berkilauan.!


Roro Wulandari dan kedua rekannya ternganga mulutnya, mereka sungguh tidak menyangka ada goa rahasia ditempat sunyi ini dan hanya dapat di buka dengan cara yang aneh.!


''Respati sayang., kenapa kau tidak pernah menceritakan soal tempat ini kepadaku sebelumnya., kau ini betul- betul jahat.!''


Si pemuda hanya tersenyum dingin. sekali tubuhnya bergerak dia sudah berada di atas mulut goa batu. sebagai orang yang pernah di gembleng si Maling Nyawa, pastilah ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi.


Roro Wulandari kebingungan, baginya bukan hal sulit untuk mencapai goa batu yang tingginya hampir empat tombak itu. tapi bagaimana dengan Satriyana dan Sabarewang.? semuanya terjawab saat Respati menurunkan sebuah tangga bertali dari atas goa itu.

__ADS_1


__ADS_2