
Kegelapan yang menyelimuti pulau 'Seribu Bisa' terasa semakin mencekam. pertarungan besar juga terus saja berlangsung. di pantai karang juga kembali muncul sebuah kapal layar besar dengan penumpang orang- orang persilatan yang terdiri dari satu perkumpulan silat aliran putih serta perorangan. begitu mendarat mereka langsung turut menyerbu.
Namun ibarat laron bertemu cahaya api, mereka seketika menjadi korban ratusan binatang beracun. meskipun merasa sangat ngeri tapi mereka tetap saja bertahan dengan harapan mendapatkan harta pusaka yang jadi idaman, semuanya seakan telah terlupa kalau apapun bentuk keserakahan di hati manusia hanya akan membawanya pada bencana.
Waktu terus bergulir seiring dengan suara jeritan- jeritan menyayat dan bentakan penuh nafsu membunuh. mayat bergelimpangan dengan darah busuk yang mengalir bagaikan sungai. anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dari pihak 'Istana Angsa Emas' yang pada awalnya mampu bertahan bahkan mendesak 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dari kelompok '13 Pembunuh' kini berbalik mulai terdesak.
Ramuan obat penangkal racun yang mereka minum sudah berkurang keampuhannya. hingga beberapa orang sudah tumbang oleh sengatan binatang berbisa yang mulai berani menyerang. beruntung anggota persekutuan 'Bulan Perak' yang meminum ramuan obat penangkal racun buatan Nyi Rumilah dengan tingkat kekebalan yang jauh lebih tinggi bersedia membantu mereka.
Melihat kejadian ini 'Panglima Istana Kiri' dalam hatinya merasa kesal dengan tindakan 'Dewi Malam Beracun' yang sudah lebih dulu menyisihkan jumlah obat penawar racun jauh lebih banyak untuk para bawahannya. tapi dia hanya bisa menerima keputusan itu karena Nyi Rumilah sebagai pencipta obat itu adalah saudara seperguruan Roro Wulandari.
Akhirnya dia hanya dapat menumpahkan semua kemarahan dalam hatinya pada Nyi Balung Geni atau si 'Nenek Tulang Api'. perempuan tua yang terkenal kebal senjata dan tangannya sanggup membuat remuk bahkan lumer meleleh sebilah golok dengan panas yang berasal dari tulang inti tubuhnya itu menjadi semakin gusar karena mulai terdesak hebat.
Walaupun senjata gelang- gelang emas bergerigi terbang andalan Panglima Istana Kiri belum mampu menjebol ilmu kebal lawan tapi setidaknya pakaian merah si nenek telah terkoyak compang- camping dengan kulit mulai dipenuhi goresan- goresan luka kecil akibat tersambar senjata gelang terbangnya.
'Whuuutt., bheeett., bheeett.!'
'Shiiiing., shiiing., traaaang.!'
'Plaaang., claaang.!'
''Bedebah kurang ajar., jangan harap kau dapat mengalahkan diriku. gelang- gelang rongsokanmu akan aku buat hancur lebur berikut nyawamu.!'' bentak Nyi Balung Geni kalap. sambil memutar tubuh dia hantamkan sepasang telapak tangannya ke depan. dua sambaran cahaya berapi berbentuk telapak tangan menggebrak. ''Hek., he., terimalah ajian 'Tapak Balung Agni' ini. modar kowe.!''
Seperti namanya, Agni yang dalam bahasa Hindu Sanskerta berarti Api. ilmu pukulan Tapak Balung Geni memang bersumber pada kekuatan tulang yang berselimut bara api. awalnya Nyi Balung Geni belum mampu menguasai ilmu ini tapi setelah meminum 'Darah Keabadian' kesempurnaan ajian itu dapat dicapainya.
__ADS_1
''Aakh., nenek tua keparat.!'' maki Panglima Istana Kiri yang pada saat itu telah kembali lancarkan jurus 'Dua Belas Gelang Kematian' untuk membobol ilmu kebal sekalian juga merobohkan lawannya. namun perubahan mendadak yang dilakukan Nyi Balung Geni tidak cuma membuat serangannya gagal tapi lima gelang emasnya mesti terpental bahkan dua diantaranya sampai hancur dan meleleh setelah di hantam aji kesaktian lawannya.
Gelombang pukulan Tapak Balung Agni masih terus menderu. raut wajah dingin Panglima Istana Kiri yang masih mengatur pernafasan dan dadanya yang sesak akibat bentrokan jurus kesaktian berubah semakin pucat. dengan terpaksa dia gunakan kembali sisa senjata gelang terbangnya dengan pengendalian tenaga dalam untuk menahan serangan maut Nyi Balung Geni.
Dalam sekejap mata senjata gelang emas bergerigi yang tinggal sepuluh berputaran mengelilingi tubuhnya. mestinya jurus yang dinamai 'Tameng Gelang- Gelang Sakti' ini menggunakan dua belas gelang emas untuk dapat mencapai puncak kesaktiannya, maka tidak heran jika sekarang kemampuan jurus ini dalam menangkis pukulan lawan menjadi berkurang.
Tiga pukulan yang datang beruntun dari ajian Tapak Balung Geni masih mampu dibendung oleh sepuluh gelang emas yang berputar cepat mengelilingi tubuh Panglima Istana Kiri bahkan sesekali dia gunakan untuk balas menyerang meskipun tidak banyak merubah keadaannya yang terdesak hebat.
Tetapi untuk selanjutnya senjata gelang- gelang emasnya mulai runtuh satu persatu. saat melihat hanya tinggal enam gelang emas lawannya yang masih tersisa Nyi Balung Geni menggembor buas. dengan kerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya dia menggempur habis- habisan pertahanan lawan.!
''Pergilah ke neraka bocah jangkung pucat.!'' hardik Nyi Balung Geni. sepasang telapak berapi yang dia lontarkan terlihat hampir dua kali lebih besar dan panas dari sebelumnya. enam gelang emas rontok meleleh, terpecah bermentalan. Panglima Istana Kiri menjerit tertahan. sambil gulingkan tubuhnya dia coba lepaskan satu pukulan sakti untuk menahan serangan lawan namun gagal. nyawa orang inipun berada di ambang kematian.
Jeritan menyayat hati terdengar dari tubuh yang remuk terbakar api. tidak hanya satu melainkan tiga sekaligus. rupanya melihat nyawa pimpinannya terancam, tiga orang anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti berbuat nekat mengorbankan tubuhnya sebagai perisai pelindung setelah lebih dulu sempat menyerang Nyi Balung Geni dengan tikaman dan sabetan pedang mereka.
''Nenek tua jahanam., kau mesti serahkan nyawamu malam ini. lebih baik aku mati jika tidak mampu menghabisi nyawamu.!'' teriak Panglima Istana Kiri kalap. dengan kedua tangan terentang di kiri- kanan, gulungan cahaya kuning keemasan berkumpul di sana dan semakin lama bertambah panas serta menyilaukan pandangan mata.
''Ilmu kesaktian ini memang belum sempurna kupelajari tapi akan aku pergunakan untuk mengirim nyawa anjingmu ke neraka.!'' geram lelaki itu penuh hawa dendam. ''Nyi Balung Geni keparat, terimalah aji kesaktian 'Kepakan Sayap Emas Pemusnah Jiwa' ini.!'' bentak Panglima Istana Kiri sembari hantaman kedua tangannya dengan gerakan seperti seekor angsa sedang mengepakkan sayap.
Nyi Balung Geni atau si Nenek Tulang Api sama sekali tidak mengira kalau lawannya masih menyimpan ilmu kesaktian sehebat itu. tapi dengan rasa percaya diri tinggi diapun lepaskan kembali ajian 'Tapak Balung Agni' dengan tenaga kesaktian penuh. tidak dapat dicegah lagi benturan ilmu kesaktian terjadi hingga mengguncang tempat pertarungan.
'Whuuuuss., whuuuuss., wheess.!'
'Slaaaass., blaaaaamm., blaaaarr.!'
__ADS_1
Kejadian ini tidak hanya mengejutkan pihak kelompok 13 Pembunuh yang kebetulan melihatnya tapi juga membuat terperanjat para pimpinan Istana Angsa Emas seperti wanita bercadar kuning yang bergelar 'Panglima Istana Tengah, I Gede Kalacandra, Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan alias si 'Tangan Penggoncang Langit'.
Mereka sama sekali tidak pernah mengetahui kalau ternyata Panglima Istana Kiri mewarisi ilmu kesaktian yang menjadi andalan dari mendiang pimpinan mereka sang 'Tuan Sesepuh Istana Barat' atau yang juga disebut juga sebagai Tuan Sesepuh Pelindung Istana. namun mereka tidak dapat berpikir lebih jauh lagi karena mesti menghadapi gempuran musuhnya.
..............
Malam semakin larut bahkan mungkin sudah melewati pertengahan waktunya. di dalam sebuah goa yang runtuh tertimbun bebatuan itu terlihat beberapa orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis sedang berusaha membongkar reruntuhan goa batu, sementara seorang yang lainnya berjaga di sekitarnya. biarpun tempat goa runtuh itu cukup jauh dari tempat pertarungan besar namun suara teriakan dan denting beradunya senjata masih dapat terdengar jelas.
Meskipun mereka yakin tidak akan ada orang yang bisa lolos dari maut saat goa ini runtuh terkena goncangan bahan peledak, namun perintah atasan tidak berani mereka langgar. apalagi pimpinannya menjanjikan hadiah bagi mereka yang dapat menemukan mayat para musuh yang ingin masuk ke dalam pulau Seribu Bisa dengan menyusup lewat jalan rahasia meskipun itu hanya berupa potongan tubuh.
''Menurut pimpinan kita, orang yang dulunya pernah menghuni goa ini adalah anggota lama dari 'Kelompok 13 Pembunuh' yang di juluki sebagai si 'Maling Nyawa'. kabarnya orang ini sangat ahli dalam membuat dan membongkar jebakan maut juga peralatan rahasia..'' ujar salah satu diantara mereka yang mungkin menjadi pimpinan sambil terus mengawasi sekitarnya.
Enam orang lain yang bertugas membongkar reruntuhan goa saling lirik dan menyahuti. ''Mungkin karena itulah pimpinan kita ingin memastikan kalau para penyusup itu mati. karena bagaimanapun juga si Maling Nyawa ini sangat mengenal betul keadaan pulau Seribu Bisa. tapi sehebat apapun orang itu, dia pasti mampus terkena ledakan sekuat itu. apalagi rekan kita sebelumnya juga melihat ada ceceran darah disekitar goa..''
''Hee., he., jika itu benar berarti rejeki besar sudah berada di depan mata kita. walaupun aku adalah pimpinan kelompok ini tapi diriku tidak akan mengambil yang lebih banyak. kita bagi rata saja karena kalianlah yang sudah bersusah payah membongkar reruntuhan goa ini..'' ujar si pimpinan tertawa mengekeh.
Enam kawannya saling pandang lantas turut tertawa senang. ''Haa., ha., tidak salah kami memilih dirimu menjadi pimpinan, kau orang yang tahu bagaimana berlaku adil pada semua rekanmu. susah atau senang kita nikmati bersama..'' dengan bersemangat mereka terus menyingkirkan reruntuhan batu yang menutupi bagian dalam goa.
''Kita sudah berhasil membongkar batu- batu yang menutupi lorong goa, tapi kenapa tidak kujumpai ada tanda- tanda mayat di sekitar sini.?'' gumam orang yang berada paling depan. ''Apakah mungkin., para penyusup tolol itu sudah hancur lebur tubuhnya tanpa tersisa terkena ledakan. kalau demikian hilang sudah rejeki besar kita.!'' gerutu yang lain.
Dengan berbekal tiga buah obor sebagai penerangan mereka terus mencoba mencari tahu keberadaan mayat para penyusup. salah satu diantara mereka mendadak menjerit tertahan. obor ditangannya terjatuh bersama dengan batok kepalanya yang bergulir ke tanah. darah menyembur dari leher seiring dengan tubuhnya yang tersungkur bermandi darah.
........
__ADS_1
Silahkan menuliskan komentar Anda, Terima kasih👏.