13 Pembunuh

13 Pembunuh
Geger di Kembangsoka. (bag6).


__ADS_3

Dimasa silam, selama bertahun-tahun 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' tidak sembarangan mengeluarkan ilmu pukulan 'Jari Lutung Nirwana' ini jika tidak dalam keadaan yang memaksa. meskipun bukan ilmu kesaktian tertinggi yang mereka miliki tapi kehebatan pukulan ini jelas tidak dapat disaksikan lagi.


Saat asap dan cahaya putih berkilauan yang menyambar dari ujung jari- jari kedua orang itu, korban pertamanya adalah enam orang anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang menyerbu paling depan. serbuan mereka bukan saja tertahan, bahkan nyawa mereka dibuat amblas seketika.


Tanpa sempat menjerit mereka terjungkal roboh dengan dada serta kepala pecah berlubang hingga tembus ke belakang. dari lukanya tersembur darah disertai kepulan asap putih. serangan kedua orang bermuka monyet ini tidak hanya berhenti disitu saja, dengan berkelebat seolah monyet terbang mereka terus melabrak 'Hantu Caping Getih' dan Nyi Balung Geni.


Pukulan sakti 'Jari Lutung Nirwana' kembali menyambar disusul gerakan mencabik dan mencengkeram yang mengancam bagian leher, dada juga perut kedua lawannya. setiap jurus serangannya membersitkan hawa panas. dari ujung jari mereka mencuat keluar kuku- kuku yang membentuk cakar tajam putih berkilauan. sementara dari mulut keduanya terdengar jeritan- jeritan menguik mirip suara kawanan monyet liar.


''Jurus 'Cabikan Kuku Lutung Gila.!'' teriak Nyi Balung Geni mengenali jurus serangan yang dilancarkan kedua lawannya. hampir saja punggungnya tercabik cakar si Ratu Lutung Sakti yang tiba- tiba saja sudah berkelebat dibelakangnya. meski dia dapat menghindar tapi angin tajam dari jurus sakti lawan tetap terasa perih menggurat kulit luarnya.


Belum lagi bersiap sebuah tendangan sudah mengancam iga kirinya. Nyi Balung Geni mendengus gusar. dari dalam lengan kirinya keluar asap merah lantas mengibas dan balik menghantam. dua kekuatan beradu beberapa kali sebelum akhirnya tubuh mereka sama terpental.


Sesaat lamanya kedua perempuan tua itu saling lirik. Nyi Balung Geni tidak dapat menutupi rasa terkejutnya melihat dia harus mundur sampai lebih tiga tindak kebelakang tanda tingkat tenaga dalam lawannya sedikit lebih tinggi darinya. sementara si Ratu Lutung Sakti dalam hatinya juga terkesiap. karena meski dia hanya mundur dua langkah namun kakinya terasa sakit dan terbakar seakan baru membentur tiang besi panas.


''Ajian 'Balung Geni' atau ilmu kebal 'Tulang Api' yang diyakini nenek tua ini memang tidak dapat dianggap remeh. sepertinya hari ini diriku mesti keluar tenaga lebih banyak untuk dapat merobohkannya..'' batin salah satu ketua perguruan silat Lutung Ciremai itu.


Tanpa banyak bicara nenek muka monyet itu kembali menyerang dengan gerakan jurus 'Cabikan Kuku Lutung Gila' disusul pukulan 'Jari Lutung Nirwana' yang segera disambut dengan lontaran tiga pukulan maut lawan yang dilambari ajian Balung Geni. dalam sekejap saja mereka sudah saling labrak lebih sepuluh jurus dengan sengitnya.


Pertarungan kedua nenek tua ini membuat daerah sekitar menjadi kacau oleh sambaran angin pukulan sakti yang saling libas hingga sisa anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis tidak berani mendekat. mereka cuma berdiri mengepung sekeliling dengan tombak ditangannya.


Disisi lain 'Hantu Caping Getih' juga sudah beradu jurus silat dan kesaktian dengan si 'Raja Lutung Sakti' yang memakai jurus yang sama dengan sang istri. namun bedanya tenaga kesaktian kakek muka monyet itu setingkat lebih tinggi. maka tidaklah heran kalau belum sepuluh jurus Hantu Caping Getih sudah dibuatnya keteteran.

__ADS_1


''Bangsat Ki Tirtayasa., jangan kau kira dapat mengalahkanku. lihat serangan.!'' bentak orang tua yang caping besi berdarahnya hampir terbelah separuh akibat serangan pedang kembar 'Walet Emas' Nyi Puji Seruni. tangan kiri- kanan mengibas hamburkan puluhan senjata rahasia 'Caping- Caping Terbang Pemburu Darah.!'


Raja Lutung Sakti mendengus hina. meskipun sadar kalau tenaga serangan senjata caping terbang lawan lebih menakutkan dibanding sebelumnya tapi dia tidak menjadi gentar. ''Cuih., ilmu picisan mainan Anak- anak begini hendak kau pamerkan didepanku. hancur semua.!'' balasnya mendamprat. sepuluh jari mengibas dan mencengkram. cahaya asap putih kembali menderu.


'Whuuusss., whuuutt.!'


'Plaaaang., traaaang., dheeeess.!'


Meski puluhan senjata caping terbang dibuat bermentalan tapi dengan gunakan kibasan dua lengannya dari jarak jauh, Hantu Caping Getih sanggup mengendalikan gerakan serbuan caping terbang berdarahnya hingga kembali meluruk tubuh Ki Tirtayasa dari empat penjuru angin.!


''Haa., ha., mampus kau Raja Lutung keparat.!'' ejek Hantu Caping Getih tertawa bergelak. kepala orang ini bergoyang mengibas. caping besi berdarah yang menutupi separuh kepalanya menyambar kedepan. cahaya merah berbau anyir mengiringi serangan jurus yang dinamai 'Caping Getih Jagal Rogo.!'


''Awas suamiku., cepat menghindar. jangan paksakan diri untuk adu kekuatan.!'' teriak Nyi Kunarsih khawatir. walaupun ingin membantu tapi dia sendiri masih harus merobohkan Nyi Balung Geni. ilmu kebal nenek itu sungguh menyulitkannya, berkali- kali pukulannya sanggup menghajar tubuh lawan hingga nyaris terjungkal roboh, tapi nenek tua itu hanya menyeringai dan kembali bangkit balas menghantam.


''Jangan mengurusi suami monyetmu itu Nyi Kunarsih. urusanmu denganku masih belum selesai. sebaiknya sekarang kau tinggalkan saja nyawamu disini.!'' damprat Nyi Balung Geni sembari kirimkan tiga buah jotosan yang mengancam perut dada serta kepala lawan. kembali dua nenek tua itu terlibat adu jurus pukulan.


''Ingin membunuhku dengan ilmu rendahan begini. kau ini mimpi.!'' sambil membentak Ki Tirtayasa mengejek. cepat dia kepalkan erat kedua tangannya kiri- kanan. dengan tubuh setengah membungkuk dia menghantam beruntun. terlihat sepuluh buah kepalan tangan besar yang berselimut cahaya putih menyambar ganas.inilah ilmu 'Sepuluh Kepalan Lutung Dewa.!'


'Whuuuss., whuuuuss., wheess.!'


'Blaaaamm., blaaaamm., blaaang.!'

__ADS_1


Ledakan berantai terdengar bersautan. yang paling akhir terasa lebih keras menggoncang daerah pertarungan. puluhan caping- caping terbang kecil bermentalan hancur. sementara caping besi berdarah Hantu Caping Getih malah sudah pecah terbelah tiga. si pemilik caping terbang juga terpelanting bergulingan dihempas pukulan lawan hingga muntah darah.


Ki Tirtayasa berdiri agak sempoyongan. jubah hitamnya terkotak beberapa bagian. sanggup memusnahkan serangan lawan tapi masih ada tiga caping terbang berdarah yang mampir ditubuhnya. bahu kanan, paha serta lengan kirinya terlihat robek bengkak dan mengucurkan darah.


Saat si Raja Lutung Sakti cepat mencabut caping darah dari tubuhnya, darah merah kehitaman seketika makin mengucur lebih deras. dengan kerahkan tenaga dalam dan menotok mulut luka juga meminum dua butir obat dia berusaha menekan hawa panas sekaligus mendesak keluar racun di lukanya agar tidak semakin menyebar.


''Huhm., seharusnya kau berpikir berulang kali jika hendak mencari perkara dengan diriku. sayangnya tidak ada lagi kesempatan buatmu untuk selamat. penyesalan tidak akan ada gunanya. jadi., serahkan saja nyawamu Hantu Caping Getih.!'' gertak Raja Lutung Sakti melangkah mendekat dengan menyeringai buas.


Sisa anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis berusaha menjauhi menghalangi dengan kirimkan tusukan tombaknya tapi hanya dengan tiga kali kibasan lengan disusul empat kali jotosan yang mengandung tenaga dalam tinggi mereka dibuat terjungkal roboh dengan tubuh remuk bermandi darah. karuan saja Hantu Caping Getih pucat pias mukanya.


Beberapa kali dia berusaha bangun tapi kembali terkapar roboh. ''Nny., Nyi Bal., Balung Geni, Pen., 'Pendekar Pedang La., Lali Jiwo'., cep., cepat kalian too., tolong aku., Huuahk.!'' ratap Hantu Caping Getih sembari merayap mundur ketakutan dan muntah darah. ''Hee., he., tidak ada gunanya kau berkoar minta pertolongan. pergilah ke neraka.!'' gertak Ki Tirtayasa. bulu putih ditubuhnya berjingkrak naik. hawa membunuh menyebar dari tubuh orang tua bermuka monyet itu.


Baru saja ketua perguruan 'Lutung Ciremai' ini hendak menghantam, dari seberang sana terdengar lebih lima kali bentrokan senjata. cahaya kuning emas terlihat semburat diantara hawa hitam pekat yang menyelimuti kedua jago pedang yang sedang beradu kekuatan. Puji Seruni menjerit tertahan. tubuh langsingnya terlempar hampir sepuluh langkah.


Meskipun gadis murid Nyi Pariseta ini dapat mempertahankan dirinya agar tidak jatuh tapi jelas jubah putihnya penuh robekan cabikan senjata. dari sudut bibirnya yang merah tanpa gincu menetes cairan merah. sinar sepasang pedang Walet Emas yang tergenggam ditangannya terlihat meredup dan hampir terlepas. kedua matanya menatap satu jalur besar, dalam dan panjang yang seolah membelah tanah bebatuan ditengah kalangan hingga terbongkar.


Jika diurutkan sumber dari tanah terbelah ini adalah pedang besar hitam yang tergenggam di tangan Pendekar Pedang Lali Jiwo. orang tua cebol yang tinggi badannya sama dengan panjang pedangnya itu berdiri tegak dengan raut muka penuh amarah dan angkuh. biarpun begitu dalam hatinya dia terperanjat juga dengan kemampuan gadis muda itu yang sanggup menahan jurus pedangnya.


*****


Asalamualaikum., sebenarnya sudah dapat kiriman cerita 13 Pembunuh kemarin pagi, tapi baru sekarang bisa update. maaf🙏 saya kurang sehat 😓. inipun saya update pas antri periksa di klinik🤭. Terima kasih. Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2