
Respati yang baru beberapa langkah berjalan mendadak menggigil dan limbung, tubuhnya lalu terjatuh lemas di atas tanah. Satriyana serta Sabarewang yang kaget serentak memburu hendak menolong. Roro yang menduga kalau Respati sedang keracunan cepat mencegah mereka agar tidak menyentuh tubuh si pemuda. ''Cepat hentikan., jangan sampai kalian menyentuh tubuhnya..!''
Kedua orang ini meskipun heran tapi tetap menurut. Roro Wulandari alias Dewi Malam Beracun cepat mendekat, dengan memakai sepasang sarung tangan kulit yang lembut dan kuat dia membuka baju putih si pemuda bagian atas, terlihat tubuhnya yang kekar berotot nampak pucat dan bengkak membiru. ''Celaka., dia pasti terkena cipratan cairan beracun belatung biru. Aah., padahal aku yakin sudah menyapunya habis dengan jurus Kipas Penggulung Awan. tapi tetap saja masih ada yang tersisa dan memercik ke tubuh Respati..!'' batin Roro geram dan menyesal.
''Kakak Dewi., bagaimana keadaan kakang Respati., Aa., apaa., apakah dia bisa diselamatkan.,?'' tanya Satriyana khawatir dan gelisah. ''Kalau ada yang bisa kami bantu katakan saja Nyi Dewi.,!'' sambung Sabarewang tidak kalah cemas.
Sebenarnya diantara mereka bertiga, justru Roro Wulandari yang paling panik. tapi dia sadar harus tetap tenang agar tidak sampai menambah kacau susana hati kedua rekannya. maka dengan penuh perhitungan dia mulai bertindak cepat.
''Kau buat perapian dan masak sekuali air panas di dekat kereta kuda kita, ingat harus sampai mendidih.!'' perintahnya pada Satriyana. berikutnya dia meminta Sabarewang mencari dua dahan kayu dan tali akar pohon sebagai tandu pikulan untuk menggotong tubuh Respati ke dalam kereta kuda karena dia takut kalau mengendong langsung tubuh si pemuda racunnya bisa saja menular.
Kedua orang ini bekerja dengan sigap dan cekatan. setelah berkumpul beberapa bulan membuat ikatan hati diantara mereka jadi semakin erat. setelah semuanya siap Roro meminta kedua orang ini berjaga selama dia melakukan pengobatan pada Respati.
''Kakak Dewi., air dikuali ini sudah mendidih,!'' seru Satriyana. ''Apalagi yang bisa kubantu.?''
''Kau angkat kuali air panas itu ke dalam Kereta Kuda Maut kita. lalu berjaga saja di luar bersama Sabarewang.!'' jawab Dewi Malam Beracun sambil mengatur tubuh Respati yang baru ditandunya bersama Sabarewang. karena dia memakai sarung tangan kulit pelindung, maka Roro agak lebih bebas menyentuh tubuh si pemuda.
__ADS_1
Pintu kereta kuda telah ditutupnya. hawa udara dalam kereta terasa bertambah panas saat Roro memasukkan beberapa bubuk ramuan obat ke dalam kuali besar berisi air panas. perempuan itu melepaskan baju atasnya, dengan hanya memakai pakaian dalam berupa kutang hitam Roro merasa lebih leluasa bergerak sekaligus mengurangi rasa panas ditubuhnya yang mulai dibanjiri keringat.
Dilihatnya tubuh kekar pemuda yang menjadi tambatan hatinya sejak lama, ada perasaan sedih dan bersalah yang terpendam dihati perempuan cantik ini. meskipun Respati tidak pernah mengakuinya tapi Roro tahu kalau alasan sebenarnya pemuda itu turut masuk ke dalam kelompok 13 Pembunuh adalah agar supaya selalu bisa menjaga keselamatan dirinya.
Sebagai seorang wanita tentunya merasa bahagia bila memiliki kekasih yang selalu siap melindungi dan menjaganya. tapi bagi Roro hal itu seperti sebuah beban hutang budi yang tidak akan pernah putus terbayar seumur hidupnya. entah berapa banyak pengorbanan yang sudah dilakukan pemuda ini untuknya. Roro tidak mampu menghitung, juga takut mengingatnya. karena dia sadar betul kalau saja Respati tidak berada dalam kelompok yang sama dengannya, mungkin sudah lebih sepuluh kali dia mati terbunuh.
Sekarang tubuh pemuda itu terbaring lemah dan menggigil, Roro Wulandari sengaja melakukan pengobatan di dalam kereta kuda yang tertutup karena sebenarnya dia juga tidak merasa yakin mampu menyembuhkan racun belatung biru itu. Roro hanya tidak mau kedua rekannya semakin cemas. setelah meyakinkan diri wanita cantik ini mulai mengatur hawa sakti dan tenaga dalam di tubuhnya.
Saat itu dia seperti sempat mendengar ada sedikit suara ribut Sabarewang dengan seorang perempuan, apakah Satriyana.? rasanya bukan. tapi Roro sendiri seakan pernah mendengar suara wanita ini. tapi dia tidak dapat berpikir jauh. segenap perhatian dan tenaganya mesti di curahkan pada sosok pemuda yang terbujur lemah di depannya.
Saat ketujuh jarum dicabut, titik- titik darah merah kebiruan mengucur dari sana. Roro sesaat gugup tapi segera tersadar, dengan cepat dia kembali menusuk beberapa bagian tubuh si pemuda dengan jarum peraknya. lalu di cabut kembali, seperti sebelumnya darah kebiruan berbau anyir mengucur.
Respati terlihat semakin lemah, tetapi tubuhnya sudah tidak lagi menggigil. darah yang keluar juga tidak berwarna kebiruan, merah seperti darah umumnya. Roro merasa lega. meskipun terlihat mudah tapi dia tahu betul jika sedikit saja salah menusuk jalan darah pemuda itu. bisa dipastikan darah akan terus menyembur tanpa henti, dan Respati bakal mati kehabisan darah.
Dewi Malam Beracun mengambil sebuah mangkok perak lalu diisinya dengan cairan ramuan obat yang ada di kuali. dengan memakai sebuah sendok dari kayu jati dia mulai menyuapi si pemuda dengan ramuan obat itu. beberapa kali Respati terbatuk hingga cairan obat termuntah keluar, dengan sabar dan telaten Roro membersihkan bibir si pemuda lalu kembali menyuapinya. rasa cinta dan sayang di hati seseorang memang bisa merubah semuanya. padahal dalam keadaan lain biar di bayar mahal sekalipun wanita cantik ini tidak bakalan sudi melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
Dengan sebuah gayung dari batok kelapa Roro mengambil cairan obat dari kuali panas lalu perlahan sedikit demi sedikit di siramkan ke tubuh Respati. hal itu terus diulangi sampai sekujur tubuh si pemuda bersih dari darah kotor beracun. Roro melepas sarung tangan kulit yang dipakainya. dengan penuh rasa sayang dibelainya wajah si pemuda. dia tidak perduli hampir seluruh lantai kereta menjadi basah. baginya nyawa pemuda ini jauh lebih berarti dari apapun bahkan mungkin nyawanya sendiri.
Dengan muka bersemu merah Roro melepas semua pakaian Respati yang basah dan kotor, kini si pemuda yang masih pingsan telanjang bulat. dengan selembar kain dikeringkannya tubuh pemuda itu. Roro sempat melirik bagian pusat si pemuda. dia jadi teringat dulu dimasa kecil kalau sedang mandi bersama teman- temannya Respati sering beradu air kencing siapa yang paling lama dan jauh. meskipun tubuhnya kecil tapi dia sering menang. Roro tertawa sendiri., ''Dasar anak- anak tolol, pertandingan konyol seperti itu juga bisa dimainkan.,'' pikirnya geli. setelah mengelap lantai kereta yang basah dia menutupi tubuh Respati dengan selimut.
Saat Roro keluar kereta hari sudah beranjak siang. Sabarewang dan Satriyana langsung menghambur dan bertanya. mereka baru bisa bernafas lega saat tahu kalau racun belatung biru sudah dapat dihilangkan dari tubuh Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis. tapi mereka rada kecewa karena tidak boleh melihat langsung rekannya.
''Sepertinya perjalanan kita ke Wonokerto harus tertunda beberapa hari lagi. Respati perlu istirahat yang cukup. Eeh., apakah selama aku berada di dalam kereta kuda tidak ada sesuatu yang terjadi.?'' tanya Roro tiba- tiba.
Sabarewang dan Satriyana sesaat saling lirik sebelum menjawab. ''Eehm., tadi memang ada seseorang yang lewat dan menanyakan sesuatu. tapi aku sudah menyuruhnya pergi dari sini..''
''Dia seorang perempuan yang cantik berbaju merah muda, digelungan rambutnya terselip sekuntum bunga mawar merah..''
Roro langsung berubah hebat., ''Lalu apa yang dia katakan.,?''
''Aah., dia menanyakan siapa yang berada di dalam kereta kuda. anehnya saat kukatakan tidak ada siapapun di dalam, wanita itu cuma tertawa lalu meninggalkan benda ini sambil berkata ''Sampaikan pada mereka berdua, selesaikan tugas secepatnya.!''
__ADS_1
Sabarewang dan Satriyana bersambungan menjawab. terakhir gadis itu menunjukkan sebuah benda bundar berwarna merah menyala berukiran tiga belas muka tengkorak menyeramkan. Lencana Ketua 13 Pembunuh.!