
Dewi Malam Beracun termangu, ''Kereta Kuda Maut., Serem juga nama pilihanmu..'' gumam nya sambil menguap, ''Aah., tidak terasa sudah lewat tengah malam, aku juga sudah mengantuk, waktunya untuk tidur..''
''Kau juga bisa tidur sekarang., karena aku tahu kau pasti kelelahan dan butuh istirahat. ''Cuma., jangan sampai kau berani bermimpi yang macam- macam yah.,!'' ujar Dewi Malam Beracun sambil memakai kembali gaun hitamnya, lantas melangkah meninggalkan Sabarewang. pria ini hanya mengangguk, dalam hatinya dia ragu apakah masih bisa tidur disisa malam ini.
Respati tersadar dari tidur semedinya saat telinganya mendengar bisikan halus dari suara seorang wanita, pemuda ini melihat Satriyana sudah terlelap disamping Anggana. selimut anak itu dirapikannya lalu melangkah menemui Dewi Malam Beracun yang sudah menunggu tidak jauh dari sana.
''Kerjamu sudah selesai, lalu bagaimana hasilnya ?'' Waniita cantik itu mengangguk. ''Sejujurnya aku masih kurang puas, tapi kurasa cukup lumayan..''
''Dimana Sabarewang.?''
''Kusir itu memilih menggelar alas tidurnya di luar kereta. 'Oh iya., dia juga menamai kereta itu Kereta Kuda Maut.!'' jawab Dewi Malam Beracun. Respati tertawa mendengarnya.
''Sekarang katakan., apakah sudah ada yang kau ketahui tentang anak Itu.?''
''Cukup banyak yang telah kudapatkan, dia juga sudah mulai terbuka dan memparcayai kita..'' jawab Respati lalu mulai menceritakan semua yang dialaminya bersama Satriyana selama mereka berdua berada di Punggingan. Dewi Malam Beracun mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali dia mengangguk dan menggumam tidak jelas, sepertinya wanita cantik ini sedang berpikir keras.
-'Yang membuatku penasaran, sejak aku bilang padanya kalau Anggana adalah keturunan dari keluarga Istana Angsa Emas, anak itu seperti terkejut atau malah takut.!'' ''Entahlah., kurasa itu mungkin perasaanku saja.'' tutur pemuda itu. ''Jadi kau merasa kalau Satriyana mengetahui sesuatu tentang Istana Keramat itu.?'' tanya Dewi Malam Beracun, yang ditanya cuma angkat bahunya tanpa menjawab.
''Dari ceritamu, Satriyana telah ditolong oleh orang tua bernama Ki Mijun yang bukan lain adalah Si Jagal Golok Buntung, bekas orang nomor sembilan di Kelompok 13 Pembunuh.! ''Yang kutahu dia satu angkatan diatas kita, kabarnya sejak orang ini menghilang, Ketua selalu kesulitan untuk mencari penggantinya, baru beberapa tahun lalu Ki Ageng Bronto atau Pendekar Golok Bayangan Setan turut bergabung dan menggantikan kedudukan si nomor sembilan..''
''Lalu di Punggingan kau dihadang oleh Sepasang Pengamen Murung, mereka menginginkan peta Istana Angsa Emas yang diyakini ada padamu., dari mana mereka tahu soal ini.?'' Wanita itu lantas menatap tajam pemuda disampingnya. ''Pertanyaanku adalah., apakah ada hubungan antara Kelompok 13 Pembunuh dengan Istana Angsa Emas.?''
Respati balik menatap wanita disampingnya, ''Itu cuma dugaan bukan suatu kepastian, jadi jangan kau ungkapkan dulu sebelum semuanya menjadi jelas.!''
Dewi malam Beracun cuma diam, otaknya terus bekerja, mencari keterkaitan dari setiap kejadian yang mereka alami. dia semakin yakin kalau Kelompok 13 Pembunuh punya hubungan rahasia dengan Istana Angsa Emas.!
Wanita itu mengumpat, pikirannya buyar saat Respati berkata pelan, ''Aku merasa ada yang baru datang dan sedang mengawasi kita dari kejauhan, kau ingin memancingnya atau
membunuhnya ditempat.?''
Wanita cantik itu sesaat tersenyum sadis, ''Aku paling benci kalau waktu istirahatku terganggu, apalagi hanya karena kaum cecunguk rendahan.! 'Tapi sekali ini biar kau saja yang mengurus, terserah mau kau apakan orangnya., aku ngantuk pingin tidur jadi jangan kau ganggu.,!''
__ADS_1
Respati hanya menghela nafas sambil melirik Dewi Malam Beracun yang berjalan menuju tikar pembaringan, lalu dia tertidur disamping Anggana. ''Sejak dulu sifatnya yang selalu ingin menang sendiri, merasa paling berkuasa, dan suka memerintah orang lain tidak pernah berubah.!'' batin pemuda itu tertawa sendiri.
Tanpa disadari ingatannya melayang jauh ke masa lampau.,
Di satu desa bernama Pendamaran yang berada di kaki bukit Damaraja., Pagi hari itu seorang anak laki- laki sedang berlari pontang- panting melewati jalanan desa, dibelakangnya turut mengejar belasan anak sebayanya sambil berteriak- teriak, mungkin mereka itu sedang bermain kejar- kejaran atau semacamnya. anak yang didepan rupanya sedang terpojok karena salah masuk kejalan buntu. didepannya cuma ada sebuah sungai, dan dinding batu.dia celingukan mencari tempat sembunyi.
''Ha,.ha., kena kau,! kali ini kami tidak akan mengampunimu.''
''Seharusnya sedari tadi kau menyerah saja, supaya kita tidak perlu capek mengejarmu, dasar sialan.!''
Suara gerombolan anak- anak ini terdengar ribut sekali.
''Sekarang kita apakan bocah ini., kita ceburkan ke comberan, beri dia ulat bulu, atau kita paksa dia mengambil sarang semut rang- rang saja.?'' tanya anak yang paling besar dan gemuk tubuhnya pada teman- temannya, sepertinya dia pemimpin gerombolan anak- anak ini. temannya yang lain banyak yang setuju namun ada juga yang memilih untuk menghajar saja bocah yang sedang terpojok itu. anehnya meski cuma sendirian tapi anak laki- laki itu sepertinya tidak merasa takut bakal di keroyok, malahan dia berani mengejek lawannya.
''Kenapa tidak kau sendiri saja yang mengambil sarang semut itu, makan ulat bulu, lalu sekalian mandi di comberan, dasar gendut besar berotak udang.!''
''Apa kau bilang., berani benar kau memakiku, kau memang harus dihajar., 'Ayoh kita pukul dia.!'' geram si gendut marah, bersama dua orang temannya dia menggebuki anak lelaki yang tubuhnya agak kurus itu, sementara yang lainnya bersorak riuh. meskipun berusaha melawan tapi anak ini tetap saja kalah dan jatuh tersungkur dengan tubuh lebam dan lecet.
''Yang jadi kepala keamanan itu ayahnya dan bukan dia., jadi kenapa aku harus menuruti semua omongannya.? 'Mikir dulu sebelum bicara., Bodoh.,!'' balas anak itu sambil berdiri, meski bertubuh lebih kecil, tapi anak ini cukup kuat dan pemberani. tapi akibatnya dia kembali harus menerima hajaran dari si gendut dan teman- temannya.
''Hentikan sekarang juga.!'' seru suara seorang anak perempuan, anehnya mendengar itu si bocah gendut dan yang lainnya segera berhenti memukuli bocah laki- laki kurus itu. demikian juga yang lainnya, mereka seakan takut atau segan dengan pemilik suara merdu tapi galak ini.
''Siapa yang berani ikut campur urusanku.?'' ''Aku bilang tangkap anak ini, dan bawa kepadaku.,!'' bentak anak perempuan yang baru datang, meskipun baru berumur dua belas atau tiga belas tahun, tapi anak perempuan ini sudah terlihat cantik dan menarik hati, saat berjalan terlihat begitu santai tapi penuh keanggunan, sepasang matanya yang bulat bening bersinar tajam, bibirnya mungil kemerahan seakan selalu tersenyum simpul. dua lesung pipit dan dagu terbelah menambah kecantikan wajah anak perempuan ini, rambutnya yang panjang, lebat, dan hitam menebarkan aroma wangi. anak ini memakai perhiasan rambut, gelang dan kalung berbantuk bulan sabit kecil yang dibuat dari emas, pakaiannya terbuat dari kain sutra hitam yang panjang menambah daya tarik anak perempuan ini. sepertinya dia anak dari keluarga terpandang.
Anak yang gendut besar maju kedepan, ''Roro., anak ini sangat menyebalkan, jadi aku mewakilimu untuk menghajarnya, agar kau tidak perlu susah payah melakukannya dan mengotori tangnmu yang halus.!'' katanya sambil tertawa- tawa, ''Benar sekali Roro., sayang kau datang terlambat, seharusnya kau bisa melihat anak sialan ini menjerit- jerit minta ampun saat Gumoro dan kami menghajarnya.,!'' tambah anak disebelahnya.
''Ouh., begitukah,? Bagus., bagus sekali.,!'' kata anak perempuan yang bernama Roro itu sambil tersenyum manis, kakinya melangkah anggun mendekati anak lelaki kurus yang babak belur itu. kemudian dia menoleh ''Benar kau yang memukulinya.?'' tanyanya pada anak gendut besar yang bernama Gumoro. ''Iya., tentu saja. itu soal mudah bagiku.,!'' jawabnya dengan busungkan dada. rupanya dia ingin dianggap gagah dan kuat oleh anak perempuan itu.
''Uuih., Pasti kau ini sangat kuat yaa, Gumoro.,'' puji Roro. ''Cobalah lebih mendekat padaku.,!'' pintanya manja. Gumoro, bocah dua belas tahunan yang gemuk besar itu cengar- cengir kesenangan, dengan busungkan dadanya dia melangkah didepan Roro, anak perempuan cantik ini sempat kedipkan sebelah matanya sebelum., 'Plak.,plak.!'
Gumoro melongo bodoh, anak yang lain hanya ternganga, melihat Roro menampar kedua pipi tembem Gumoro pulang balik, belum sadar apa yang terjadi, Roro sudah membentak galak., ''Gumoro.! Berani betul kau memukulinya., memangnya kau tahu siapa anak ini, Hah.! 'Dengarkan kalian semua,! 'Meskipun aku benci dengannya., tapi Ibu dari Respati adalah saudara sepupu jauh dari Ibuku.! jadi yang berhak untuk menghajarnya adalah aku sendiri, cuma aku.! Kalian mengerti?''
__ADS_1
''Dan kau Gumoro., kau pikir siapa yang menjadikan bapakmu Jogoboyo kepala keamanan disini.,? Tentu saja karena jasa ayahku yang mengangkatnya.!''
''Juga kalian semua, orang tua kalian semuanya bekerja di sawah, ladang dan peternakan lembu milik keluargaku, setiap kali ada kesusahan menimpa kalian, keluargakulah yang menolong., 'Ingat hanya keluargaku.!'' Roro dengan sombongnya membentak marah.
Serentak mereka semua mengangguk dan menunduk, entah karena takut atau malu.
Anak cantik yang congkak bernama Roro ini tersenyum sinis, tiba- tiba matanya tertuju pada seorang anak perempuan yang memegang boneka kelinci kayu yang menarik, Tanpa bicara boneka itu direbutnya, anak perempuan itu kaget, dan berusaha meminta kembali bonekanya. ''Roro., tolong jangan kau ambil bonekaku,!'' pintanya memelas. anak cantik yang sombong itu mendelik. ''Hei., sejak Bapakmu mati, Ibumu sering kerumahku untuk meminta beras dan makanan, dan kami selalu memberikannya.'' ''Sekarang aku minta boneka kayu ini, tapi kau berani menolaknya.,?'' semprot Roro.
''Ta., tapi itu boneka buatan ayahku sendiri, dan beliau sudah meninggal.,!'' tutur anak itu mulai menangis.
''Hik.,hi. Dasar anak cengeng.!'' ejek Roro, sambil melempar- lempar boneka kayu ke udara, anak perempuan itu semakin takut bonekanya rusak, tapi tidak berani melawan, dia cuma bisa menangis.
Sekali lagi boneka itu dilempar keudara, kali ini jauh lebih tinggi, anak itu menjerit, tapi Roro semakin tidak perduli. saat boneka itu jatuh, Roro terlambat menangkapnya, hingga boneka kayu itu hampir terjatuh ke sungai. untungnya anak lelaki kurus yang bernama Respati itu dengan sigap menangkapnya, boneka itu lalu dikembalikan pada anak perempuan itu.
''Hei, Respati.! beraninya kau berikan boneka itu padanya.,!'' geram Roro mendelik, meskipun cantik tapi disaat marah mukanya seram juga. Respati membisikan sesuatu ketelinga Roro, anak perempuan itu bergidik, dengan panik dan jijik dia mengibas- ngibaskan tangannya yang halus putih.
''Pergi kau., jangan pernah perlihatkan lagi boneka itu didepanku.! 'Kalian semua juga, pergi semuanya, sekarang.!'' jerit Roro mengamuk. meski bingung, tapi semuanya cepat semburat pergi.
''Iih., aku harus cepat pulang untuk mencuci tanganku, 'Aah tidak., sebaiknya aku mandi lagi. Sialan., boneka kelinci itu bau kencing tikus dan bekas dimakan rayap, 'Iiihh., Jijik banget.!'' teriak Roro sambil berlari pulang.
''Roro Wulandari.!' Mandilah yang bersih., kalau tidak, tiap malam tikus dan rayap akan mengigitmu.!'' seru Respati tertawa geli.
Pemuda itu tersenyum pahit, kadang dia tertawa sendiri bila teringat cerita masa- masa kecilnya.
Perhatiannya tertuju kembali pada si pendatang yang sedang mengintai dibalik kegelapan.
'Hhm., yang datang setahuku cuma dua orang. tapi aku merasa masih ada yang lainnya, mungkin sengaja menyembunyikan dirinya., Dengan santai Respati berjalan masuk ke dalam kereta kuda, lalu menutup pintunya. karena kereta itu diletakan agak masuk ke dalam hutan, maka tidak gampang terlihat, apalagi diwaktu malam hari seperti saat ini. suasana semakin sepi dan dingin, nyala api unggun sudah mulai padam, hanya ada suara hembusan angin dan nyanyian serangga malam.
''Kurasa mereka semua sudah tidur, sesuai dengan tugas kita, setelah mengetahui jumlah mereka kita harus segera melapor.!'' bisik orang yang ada di sebelah kiri, ''Tapi., apa kau benar yakin kalau pemuda yang berbaju putih itu memang Si Ular Sakti Berpedang Iblis.?'' tanya orang yang ada di sampingnya. Karena suasana gelap dan terlindung rimbunan semak, wajah kedua orang ini tidak dapat terlihat jelas.
Yang ditanya anggukan kepalanya ''Meskipun belum pernah melihatnya secara langsung, tapi dari ciri- cirinya aku sudah berani memastikan kalau pemuda itu memang dia adanya.,! 'Tapi., aku penasaran siapa bidadari jelita berjubah hitam yang tadi berbicara dengannya.?''
__ADS_1
Temannya membenarkan, ''Disuasana malam dan jarak yang jauh begini rupa saja, kita masih dapat melihat wajah cantiknya, apalagi disaat terang tanah., sayang sekali kita tidak diijinkan berbuat lain, kalau tidak aku pasti sudah mengambilnya, hee, he.!''