13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pembunuh licik dan pembunuh jalang.


__ADS_3

Meskipun malam sudah berakhir dan pagi hari telah tiba, tapi suasana saat itu masih terlihat gelap dan sepi. matahari mungkin masih malas untuk muncul di ufuk timur. atau bisa jadi dia sudah mulai muak melihat tingkah polah manusia yang bodoh, kejam dan serakah.


Seekor kuda coklat melesat keluar dari mulut sebuah lembah yang dipenuhi bunga seruni dengan kecepatan tinggi. penunggangnya seorang wanita cantik dan anggun yang memakai sebuah gaun jubah berwarna hitam. di punggung wanita ini tergembol sebuah buntelan besar dari kulit menjangan.


Meskipun buntalan kulit itu berlapis dua, tertutup rapat dan terikat sangat erat, tapi bagi mereka yang punya daya penciuman tajam mungkin masih dapat merasakan bau aneh yang samar terpancar dari dalam buntalan kulit itu. pada saat masuk ke dalam lembah itu kemarin sore wanita ini tidak membawa suatu apapun. berarti dia mendapatkan buntelan kulit itu dari dalam lembah. entah apa pula isinya.


''Kau yakin mau melakukan rencanamu ini., sebaiknya kau pikirkan lagi baik- buruknya. jika sampai ada kesalahan kau pasti menyesal seumur hidup.!''


''Hhem., aku juga berharap tidak akan pernah melakukan hal ini., tapi kalau lawan terlalu mendesak kami, yah., apa boleh buat, akan kukirim semua orang berhati serakah itu ke akhirat.!''


Itulah sepenggal percakapan terakhir antara wanita berjubah hitam yang bukan lain Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun dengan sahabat lamanya Puji Seruni si Dewi Seruni Putih yang jadi penguasa Lembah Seruni sebelum Roro keluar Lembah dari itu.


Roro masih sempat menoleh ke belakang melihat mulut lembah seruni yang.penuh bunga. meskipun cuma mampir sebentar, tapi dia merasa nyaman dan kerasan berada di sana. dalam hatinya dia merasa bersyukur sekaligus iri dengan kehidupan sahabatnya yang tenang dan jauh dari pertumpahan darah dunia persilatan.


Roro masih ingat betul dulunya lembah ini hanyalah sebuah lembah liar dan menjadi sarang tiga manusia jahat yang gemar menculik kaum perempuan. Roro Wulandari yang pada waktu itu belum setahun turun gunung dan menyelesaikan pembalasan dendamnya pada keluarga juragan emas yang pernah menistanya tanpa sengaja mendengar soal lembah ini.

__ADS_1


Dasar Roro masih hijau dan berdarah panas, meskipun dia berotak cerdik tapi belum begitu berpengalaman juga rada sok jagoan. tanpa perhitungan matang seorang diri dia nekat menyerbu kedalam lembah dan menantang tiga orang jahat penghuni tempat itu. meskipun sebenarnya ilmu silat dan kesaktiannya cukup untuk mengalahkan ketiga orang jahat penghuni lembah liar. tapi karena terlalu percaya diri dan sembrono dia malah terjebak ke dalam sebuah lubang rahasia yang di penuhi ular berbisa.


Beruntung otaknya cepat bekerja, dengan merayu mengandalkan tubuh molek dan paras cantiknya Roro berhasil memikat tiga lelaki buas itu. untuk sementara dia selamat meskipun tubuhnya tertotok dan mungkin sebentar lagi harus melayani nafsu binatang mereka.


Saat itu dia sudah terbaring di sebuah kamar, dan cuma berselimut selembar kain tipis. sebenarnya Roro sanggup membebaskan totokan lawan yang membuat tubuhnya kaku tapi itu membutuhkan waktu. sementara ketiga bajingan ini sudah berada di depannya dengan badan bugil dan wajah penuh gairah menjijikkan.


Roro menjerit dalam hati, dia merasa tidak sanggup hidup jika harus mengalami hal yang sama. kembali terbayang saat lelaki biadab yang bernama Gumoro merusak kehormatannya.


Nasibnya masih mujur, karena bersamaan terdengar jeritan ngeri dari luar kamar. tiga anak buah mereka datang melaporkan bahwa ada dua orang penyusup masuk dan membantai semua orang yang ada di sana.


Belum lagi mereka memberesi pakaiannya yang terlanjur dilepas, di sana sudah keburu muncul seorang wanita cantik berbaju putih yang membekal sepasang pedang pendek bersinar keemasan.


Terjadi pertarungan yang seru namun cukup singkat. dengan sebatang tongkat besi berkepala tengkorak, si pemuda menghabisi salah satu dari tiga manusia jahat berikut ketiga anak buahnya. sejurus kemudian orang kedua juga tumbang setelah dada dan punggungnya di babat sepasang pedang emas si gadis cantik berbaju putih.


Roro yang baru berhasil membebaskan diri dari totokan lawan tidak tinggal diam, seakan tidak perduli dengan keadaan tubuhnya yang masih nyaris telanjang, dia menghantam pecah kepala orang terakhir dengan pukulan 'Tapak Peremuk Tulang'. ilmu yang menjadi andalan Rumilah kakak seperguruannya.

__ADS_1


Dari perjumpaan itu Roro akhirnya dapat berkenalan dengan gadis penolongnya yang bernama Puji Seruni. saat hendak menyapa si pemuda, orang pincang itu ternyata sudah lenyap. dari Puji Seruni baru dia ketahui kalau pemuda pincang itu memang agak penyendiri karena ada banyak pihak yang ingin menghabisinya.!


''Kelihatannya temanmu itu orang yang baik, tapi kenapa malah banyak yang inginkan dia mati.?'' tanya Roro seakan heran. sobat barunya itu cuma dapat menghela nafas sedih. ''Jalan hidup manusia tidak dapat dipastikan arahnya. yang gelap belum pasti jahat, yang nampak terang belum tentu juga benar..'' ujarnya pelan. meskipun tidak mengerti, tapi Roro dapat menduga kalau si pincang itu pasti punya pengalaman hidup yang sangat pahit.


Dari dalam lembah terkurung lebih dari lima puluh wanita culikan yang menjadi pemuas nafsu tiga lelaki kejam itu bersama para anak buahnya. setelah bebas sebelas orang wanita di antaranya malah tidak ingin pergi dan memilih hidup di sana, mereka beralasan sudah tidak punya keluarga, juga tidak tahu hendak kemana. dua orang lainnya malah berlutut minta jadi pengikut Puji Seruni. celakanya yang lainnya ikut- ikutan juga.


Karena kelabakan dan tidak tahu harus berbuat apa akhirnya gadis itu pasrah saja. karena jika dia menolak, bekas para wanita pemuas nafsu ini ada yang memilih bunuh diri. meskipun mungkin cuma gertakan saja tapi siapa pula yang dapat memastikannya.?


Sebagai penghargaan para wanita malang itu membersihkan hampir seluruh lembah liar dan menanaminya dengan bunga seruni sesuai nama gadis penolongnya. semenjak itulah Lembah Seruni mulai terdengar.


Kejadian itu mungkin sudah terlewat tujuh tahun lalu, tapi bagi Roro seakan baru berlalu beberapa bulan saja. tidak di sangkanya kini pengikut Dewi Seruni Putih semakin banyak. Roro tersenyum simpul, kelak dia juga ingin hidup tenang seperti sahabatnya itu. dengan terus gebrak tali kekang kudanya dia berniat kembali tiba secepatnya di bukit Lading. ada banyak rencana dan siasat yang terpahat di dalam otaknya. sementara itu hari mulai terang, mentari pagi yang malas bangun sudah kembali beranjak naik ke atas langit singgasananya.


Sebelum tiba tengah hari Roro sudah melewati separuh perjalanan. dia hanya berhenti untuk sekedar buang air kecil dan memberi waktu istirahat makan bagi kuda coklatnya, lalu kembali berpacu. dia merasa lega saat melihat bayangan sebuah bukit kecil yang samar. itulah bukit Lading. tempat dimana ketiga rekannya sedang menunggu. dalam hati Roro membatin mungkin sebelum senja tiba dia sudah bisa sampai ke bukit itu.


Tetapi rupanya dia terlalu cepat merasa senang, di depannya telah menghadang seseorang. walaupun jaraknya masih cukup jauh tapi dari warna pakaian merah muda serta dandanannya yang mencolok Roro bisa mengira dengan siapa dia bakal berhadapan.

__ADS_1


''Mau apa setan betina ****** yang gila itu muncul disini., sepertinya dia memang sengaja berniat mencari gara- gara dengan diriku..''


''Aah., biarlah. memang sudah lama kami berdua saling membenci satu sama lain. mungkin hari ini adalah saatnya untuk menentukan pembunuh cantik nomor berapa yang masih dapat bertahan hidup.!'' gumam Roro sembari tersenyum, senyuman manis yang lebih menyerupai seringai licik.!


__ADS_2