13 Pembunuh

13 Pembunuh
Prahara di pulau Seribu Bisa. (bag3)


__ADS_3

Orang tua berlengan kanan buntung itu sempat beberapa kali terperanjat saat dia merasakan adanya goncangan keras yang disusul dengan retakan- retakan tanah di pulau 'Seribu Bisa'. beberapa ekor kelabang dan kalajengking beracun yang biasanya menyingkir darinya, kini malah beberapa kali berusaha untuk mendekat dan menyerang.


Bahkan terakhir juga muncul seekor kodok berwarna hijau tua dengan totol- totol merah sebesar telapak tangan berani melompat ke arahnya. si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' meskipun merasakan terkejut dan heran dengan kelakuan hewan beracun itu tapi dia tidak menjadi panik. tanpa menoleh lengan kirinya mengibas beberapa kali. cahaya- cahaya hijau berkelebatan membabat habis puluhan binatang beracun itu hingga musnah.


'Whuuut., shraaatt., shreeet.!'


'Bheett., chraaaass., chreesss.!'


''Kurang ajar., apa yang sebenarnya terjadi dengan gerombolan binatang berbisa di pulau ini. apakah minyak oles juga obat penangkal binatang beracun di tubuhku sudah mulai kehilangan keampuhannya.?'' pikir orang tua itu sembari terus berusaha mencari sesuatu di antara deretan tiga belas kursi batu yang mengitari sebuah meja bundar pualam putih.


''Ataukah., semua ini juga akibat dari amukan mahkluk siluman 'Datuk Naga Wisa' yang merasa tertipu dengan wanita persembahan palsu yang sudah tidak suci lagi.?'' gumam si tua buntung ngeri. di sana terlihat mayat anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang diberikan tugas menjaga tempat pertemuan kaum pembunuh bayaran itu sudah dikerubuti ribuan binatang berbisa hingga nampak tulangnya.


''Aku mesti cepat temukan kepingan batu hitam yang dimaksud cucuku yang pincang itu. setan alas., dimana benda sialan itu berada. ataukah si nomor satu sudah lama membuangnya karena tidak tahu rahasia dari batu itu dan menganggapnya tidak berguna.? Aah., celaka kalau itu sampai terjadi..'' kakek tua buntung itu terus mengomel sendiri.


Saat itulah gerombolan hewan beracun yang sedang sibuk menggerogoti salah satu mayat dari anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis mendadak semburat menjauh sembari keluarkan suara sangat ribut. banyak juga diantaranya sampai berkelojotan sebelum mati. kejadian ini tentu saja menarik perhatian si Lengan Tunggal Pengejar Roh. dengan cepat diapun datang mendekat.


Meskipun sudah teramat sering melihat kejadian mayat manusia habis dimangsa kawanan binatang beracun hingga habis tinggal tulang belulang seperti itu namun entah kenapa sekarang ini hati si tua buntung justru sedikit merasa seram. apakah ini suatu pertanda munculnya kembali rasa simpati manusiawi dalam jiwa orang tua itu yang sudah sangat lama dingin membeku.?


Dengan sekali kibasan cakar pisau setan hijaunya yang tinggal tiga saja akibat patah saat bertarung melawan si 'Datuk Cebol Naga Guling' dia membuat puluhan ekor binatang berbisa penghuni pulau itu yang mencoba beralih menyerangnya tersapu habis. kini terlihat sosok mayat yang tinggal separuh kerangka itu.


Diantara serpihan daging dan usus perut yang masih tersisa, terjepit di sela- sela robekan baju hijau penuh darah busuk dekat pinggang kiri terlihat suatu benda pipih kecil yang samar berpendar cahaya kehitaman. ada juga bau hangus daging tercium dari sana. meskipun semuanya cuma sesaat terjadi sebelum hilang tanpa bekas tapi tidak luput dari mata si tua buntung.


Sekarang di tangannya sudah bertambah dengan sebuah benda kecil berwarna hitam legam yang terbuat batu pipih. sebagian sisinya berbentuk bundar, sedangkan sisi lainnya tidak beraturan. sekilas terasa adanya hawa gelap dan aneh yang entah kenapa seperti pernah dikenalnya. ''Sebenarnya apa rahasia dari kepingan batu hitam ini. kenapa sempat kurasakan adanya kekuatan gaib yang tidak asing bagi diriku.?'' batin si tua buntung rada terkesiap.

__ADS_1


Setelah tidak dapat menemukan jawabannya. Lengan Tunggal Pengejar Roh edarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. saat melihat deretan 13 kursi dan meja besar bundar dari batu pualam putih, tanpa sadar dia termangu. walaupun sudah berkhianat tapi tetap saja berbagai kenangan sebagai anggota lama dari 'Kelompok 13 Pembunuh' tidak pernah bisa hilang dari ingatannya.


Rupanya sang ketua 13 Pembunuh sengaja memberikan batu hitam itu pada pimpinan Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang bertugas menjaga daerah tempat berkumpulnya para anggota 13 Pembunuh. ada dua alasan dia melakukannya. pertama sang ketua tidak tahu rahasia dari benda itu dan menganggapnya tidak berguna. yang kedua adalah dengan menerima batu hitam yang dianggap sakti pemberian ketuanya, pemimpin pasukan penjaga itu pasti merasa bangga dan akan bekerja padanya dengan sepenuh jiwa.


................


Ki Gembong Brangas alias si 'Iblis Topan Hitam' dan belasan anak buahnya dari perkumpulan silat 'Topan Kegelapan' terus berusaha meringkus Satriyana. dibantu oleh dua orang tokoh silat jahat yang menjadi rekannya, dalam waktu singkat mereka berhasil mendesak 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' yang mengawal gadis itu.


Bahkan 'Panglima Istana Kiri' dan 'Panglima Istana Tengah' yang menjadi pemimpinnya juga dibuat sangat kerepotan. tenaga yang terkuras akibat pertarungan berkepanjangan juga keadaan alam di wilayah pulau yang tiba- tiba saja mengamuk membuat ilmu silat dan kesaktian tinggi keduanya tidak lagi banyak berguna.


Sementara itu Satriyana juga tidak mau tinggal diam. meskipun sebagai seorang junjungan tertinggi dalam Istana Angsa Emas dia berhak mendapatkan perlindungan dari para bawahannya tapi gadis itu turut pula melawan. beruntung senjata 'Busur Panah Srikandi' miliknya sempat ditemukan oleh si Maling Nyawa sehingga membuatnya dapat mempersenjatai diri.


Dalam keadaan tenaga kesaktiannya yang sudah menurun setelah dirinya menyerahkan 'Darah Keabadaian' murni pada Respati, senjata pusaka itu lumayan membantunya. tapi orang Istana Angsa Emas tetap tidak mampu bertahan lama. dengan gunakan ajian 'Topan Sewu Gempur Karang' dalam sekejap saja Ki Gembong Brangas membantai lima orang anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti sampai tubuh mereka terlempar tiga tombak lalu mati dalam keadaan tubuh hancur remuk.


Biarpun sudah dicegah oleh pimpinannya mereka tetap nekat beradu jiwa. niat kedua orang itu terwujud. pedang masing- masing berhasil membunuh dua orang anak buah Ki Gembong Brangas sekalian melukai tiga orang lainnya. bahkan sanggup membuntungi pergelangan tangan salah satu diantaranya. tekad seseorang yang diambang ajal sering kali menghasilkan sesuatu yang diluar nalar.


Tubuh kedua bawahan itu sudah seperti manusia berdarah. seragam kuning hitamnya berubah merah. tidak terhitung berapa banyak luka sabetan pedang disana. walaupun Ki Gembong Brangas membuat hancur lebur raga mereka tapi kedua orang ini mati dengan penuh kehormatan dan rasa bangga. air mata Satriyana meleleh, hatinya seperti tercabik. dia bahkan tidak mengenal satu orangpun nama bawahannya tapi justru mereka rela menjadi tameng hidup baginya.


Kedua panglima yang menjadi pelindung terakhir meraung gusar. selain dendam sebab kematian anak buahnya mereka juga marah pada diri sendiri yang tidak berdaya. sekali saling melirik hati mereka sudah sama sepakat, meski harus berkorban nyawa keduanya bersumpah akan tetap melindungi Satriyana.


''Serahkan saja urusan perempuan bercadar kuning ini pada kami berdua. kau cukup menghadapi si jangkung bermuka pucat itu. sedangkan anak buahmu tetap mengepung gadis pemilik Darah Keabadian.!'' seru pesilat bertubuh tinggi besar bertelanjang dada yang membekal senjata gada berduri. sementara kawannya yang berbaju hijau justru sudah lebih dulu lancarkan empat pukulan telapak yang diakhiri dengan dua buah tendangan menggunting dengan sasaran perut dan iga kanan Panglima Istana Tengah.


Hebatnya meskipun orang yang masih muda ini tidak membekal senjata tapi serangannya justru sangat berbahaya. pusaran angin tajam kehijauan mengiringi setiap jurusnya. dalam waktu singkat dia mampu membuat wanita bernama asli Indahsari itu terdesak hebat. yang membuat dia terperanjat, orang berbaju hijau tua ini seolah terlihat menjadi dua sosok kembar di matanya hingga tidak dapat diketahui mana raga aslinya atau yang cuma bayangan.

__ADS_1


Dilain pihak Panglima Istana Kiri juga sudah terdesak hebat oleh serangan Ki Gembong Brangas. meskipun dia sudah mempelajari ilmu kesaktian 'Kepakan Sayap Angsa Pemusnah Jiwa' dari mendiang 'Tuan Sesepuh Istana Barat' tapi karena belum sempurna dan kehabisan tenaga, ajian itu seakan tidak banyak gunanya.


Saat dia tanpa sengaja melirik Satriyana, gadis itu masih mampu bertahan dengan andalkan kelincahan tubuhnya dan senjata busur panah srikandi untuk menghadapi keroyokan enam orang anak buah Ki Gembong Brangas. jika saja dia tidak dalam keadaan lemah mungkin masih sanggup membuat lawan terkapar roboh.


Sayangnya kekuatan sakti didalam tubuh Satriyana sudah menurun hingga lambat laun diapun semakin terjepit. beberapa bagian tubuhnya mulai dihiasi luka sabetan senjata lawan. kedua panglima yang melindunginya hanya dapat merutuk gusar karena tidak kuasa membantunya. ''Haa., ha., jangan kau urusi gadis itu, karena nyawamu sendiri juga tidak akan selamat.!'' ejek Ki Gembong Brangas tergelak.


''Perempuan bercadar ini punya bentuk tubuh bagus. pasti wajahnya sangat cantik. sayang sekali jika terbunuh begitu saja. aku ingin menikmatinya dulu.!'' sahut si tubuh besar bertelanjang dada sembari ayunkan gada berdurinya. beruntung Panglima Istana Tengah mampu menghindar meskipun harus terima tendangan si baju hijau yang menderu dari samping kiri. wanita itu terjungkal roboh muntah darah.


Melihat Satriyana dan kekasihnya terancam maut, Panglima Istana Kiri meraung buas. tanpa perduli apapun dia kembali lontarkan gelang- gelang bergerigi terbangnya untuk menahan serangan Ki Gembong Brangas. dalam keadaan kalut dia masih dapat berpikir jernih. biarpun Satriyana juga terluka tapi masih bisa bertahan untuk sementara waktu. maka dia lebih memilih hantamkan pukulan sakti ke arah si baju hijau sekaligus berguling untuk memukul bagian bawah perut si besar telanjang dada.


Walaupun serangan ini cukup cepat dan jitu tapi tenaga kesaktiannya sudah melemah. lawan dengan mudah menghindar lantas balas menghantam. lelaki jangkung itu hanya dapat gunakan tangan dan tubuhnya sebagai perisai pelindung tubuh kekasihnya. saat satu pukulan mengarah pelipis masih mampu di tangkis, jotosan ke perut disusul tendangan ke punggungnya tidak lagi sanggup dihindari.


''Mampuslah kau jangkung pucat keparat. teman wanitamu biar menjadi tanggungan kami. Hee., he.!'' gelak tawa mengekeh dari si tinggi besar sesaat masih terdengar sebelum muncul sekelebatan bayangan putih yang bergerak cepat meliuk- liuk seperti ular berbisa. tahu- tahu di tenggorokan orang ini muncul sebilah ujung pedang hitam. darah tersembur bersama dengan kepalanya yang terpotong.


Bayangan putih itu kembali berkelebat meliuk diantara senjata para pengeroyok Satriyana. hanya terdengar bunyi benturan suara senjata beradu. meski sebenarnya terjadi berulang kali tapi hanya terdengar sekali saja di telinga. saat bayangan putih itu berdiri di samping gadis pewaris Istana Angsa Emas, enam orang anak buah Ki Gembong Brangas telah tersungkur roboh tanpa kepala.!


Kejadian yang begitu cepat berlangsung di depan mata Ki Gembong Brangas dan si baju hijau membuat mereka yang tercekat kaget. Satriyana menatap sosok berbaju putih yang berada disisinya. hatinya terasa hangat meski dia cuma melihat seraut wajah penuh nafsu membunuh. satu usapan lembut di kepala dan sebuah kecupan ringan diatas kening si gadis sudah membuatnya bahagia.


Seakan tidak perduli apapun tangan kiri si pendatang terus menghantam ke dua arah sekaligus. dua gelombang kabut bersama cahaya putih keperakan berbentuk kepala seekor ular kobra ganas menyambar ke depan, dibarengi dengan suara mendesis keras dan hawa busuk yang teramat panas. pukulan sakti 'Kobra Penggerogot Mayat.!'


.............


Silahkan tuliskan komentar Anda. Matur suwun.,🙏😊.

__ADS_1


__ADS_2