
Sesosok tubuh lelaki tua berkulit dan bertangan hitam yang tergeletak ditepian jalan desa Randung perlahan menggeliat. entah sudah berapa lama tubuh itu pingsan dijalanan. panasnya kobaran api dari sebuah warung yang terbakar tidak jauh darinya membuat kulit tubuhnya tersengat hingga membuat dia seketika tersadar. sekuatnya sosok berdandan pengemis tua ini berguling menjauhi, nafasnya tersengal dengan muka dan hampir sekujur tubuh memar. pukulan dan tendangan bertubi- tubi yang dia terima dari wanita cantik si pembunuh nomor dua belas telah membuatnya terkapar tidak sadarkan diri.
Meskipun dia sempat pingsan tapi otaknya masih dapat berpikir. perlahan dia berusaha untuk bangun tapi gagal. kepalanya berdenyut dan terasa sakit. ujung matanya melihat beberapa penduduk desa yang punya keberanian datang mendekatinya. beberapa orang lagi bergergas memadamkan api yang sudah melalap habis warung kecil itu.
Dengan dibantu dua orang pemuda desa pengemis tua itupun mampu duduk bersila. dengan sikap dingin kaku dan mendengus dia mengucapkan terima kasih.
''Sudah di tolong tapi sikapnya terlihat sombong..''
''Dasar pengemis tua tidak tahu diri, lebih baik tinggalkan saja dia..'' gumam kedua orang pemuda itu saling berbisik lalu pergi menjauh.
Meskipun mendengarnya tapi orang tua bermuka dan bertangan kehitaman ini tidak perdulikan sindiran kedua pemuda desa Randung itu. secepatnya dia bersemedi untuk memulihkan dirinya, setidaknya sampai tubuhnya kembali terasa kuat untuk berdiri.
Sepeminum teh kemudian orang tua yang bukan lain adalah Pengemis Watu Item yang punya nama asli Ki Manggal membuka kedua matanya. meskipun belum pulih benar tapi setidaknya dia sudah bisa bangkit. saat dia membalikkan tubuhnya hendak berlalu, di depannya entah sejak kapan telah muncul delapan orang pengemis yang langsung bergerak mengurungnya.
Enam orang pengemis yang masih berusia muda membekal sebatang tongkat bambu berwarna hijau kehitaman sepanjang setengah tombak. konon tongkat bambu itu telah direndam terlebih dahulu kedalam sejenis cairan rahasia hingga kekuatannya hampir tiga kali lipat dibanding bambu biasanya.
Dua orang pengemis yang lainnya adalah seorang nenek enam puluh lima tahunan yang membekal sebatang tongkat sapu lidi. anehnya lidi itu bukan dibuat dari tulang daun pohon kelapa melainkan terbuat dari batangan kawat besi. seorang lagi pengemis setengah umur berkepala lonjong botak dan berkumis tipis. yang aneh tubuh dan kepala orang ini seperti agak doyong dan miring- miring ke arah kiri.
''Celaka, setan alas., dia 'Pengemis Sapu Jagad' Nyi Pulungan ketua cabang kidul dan si 'Pengemis Penceng' dari cabang wetan..!'' batin Pengemis Watu Item dengan muka berubah hebat. dia seakan sadar sedang terancam kematian.
__ADS_1
''Bagaimana kabarmu Ki Manggal., sudah lama juga kita tidak bertemu..'' sapa Pengemis Penceng dengan sesekali condongkan kepalanya yang botak lonjong dan sedikit beruban pendek ke kiri mirip orang salah urat leher. orang yang mengepalai perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan cabang wetan atau daerah perbatasan timur tanah sunda itu mempunyai kedudukan sama dengan Pengemis Watu Item. tingkat tambalan enam warna.
''Eehm., keadaanku lumayan baik, cuma sedikit kelelahan., bagaimana pula dengan kalian berdua yang datang jauh dari wetan dan kidul.?'' jawab Ki Manggal alias Pengemis Watu Item seraya balik bertanya. dia sadar kali ini sangat sulit lolos dari kepungan bekas para kawannya. dia sengaja bicara untuk mengulur waktu sambil mencari celah untuk kabur. diam- diam orang ini juga meminum beberapa butir obat pemulih tenaga.
''Sepertinya keadaanmu sedang terluka, ada baiknya kau ikut kami ke bukit Gandaruwa agar bisa mendapat pengobatan..'' ujar nenek tua berumur tujuh puluhan berjubah putih lusuh bertambalan sembilan dengan tujuh warna kain yang berbeda. saat bicara dan meludah ujung bibirnya yang peot meneteskan cairan kemerahan. nenek tua bernama Nyi Pulungan berjuluk Pengemis Sapu Jagad ini gemar mengunyah pinang sirih. dia adalah ketua cabang kidul atau daerah selatan.
''Tapi Nyi Pulungan., aku tidak yakin kalau orang ini mau menerima tawaran baik kita untuk kembali ke bukit Gandaruwa..''
Nyi Pulungan meludah, ''Kalau dia tidak mau diobati di sana, kita berdua masih sanggup membantunya terlepas dari penderitaan dan rasa sakit yang dialaminya., sekarang juga..!"
Begitu dua kata terakhir selesai terucap dari mulutnya yang penuh pinang sirih, enam orang anggota perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan cepat menyerbu sambil hantamkan tongkat bambu yang ada di tangan masing- masing. mereka bergerak serentak dengan mengincar enam sasaran berbeda. paha, pinggang, perut, punggung, leher dan batok kepala Ki Manggal. suara deru angin gebukan senjata enam tongkat bambu terdengar keras.
'Wheet., Sheet., Dhees..!'
Ki Manggal merutuk dalam hati, dengan terpaksa dia menangkis enam gebukan tongkat lawannya dengan kedua tangannya yang sudah dilambari ilmu ajian Watu Item. jika pada saat lain mungkin.serangan seperti itu cuma dia pandang sebelah mata. tapi saat dia terluka dalam seperti sekarang ini, jelas enam gebukan tongkat bambu lawan cukup menyulitkannya.
Tapi orang tua itu cukup ulet bertahan. pengalamannya bertahun- tahun di dunia persilatan cukup banyak membantunya dalam menghadapi ancaman lawan. dengan mendengus kedua kepalan tangannya digerakkan bersilangan ke depan dan belakang bergantian, ini adalah jurus menangkis sekaligus balik menghantam. sementara itu tubuhnya membungkuk berputar untuk menghindari tongkat bambu yang mengancam kepala dan lehernya. kedua kakinya juga tidak tinggal diam, secepat geledek kaki kanannya menendang perut dua orang penyerangnya yang paling dekat.
'Braakh., dhees., dheeess.,!'
__ADS_1
''Aakh.,!''
Kalau di terangkan gebrakan jurus- jurus pertarungan satu lawan enam ini mungkin terasa lama dan ruwet, tapi sebenarnya semua itu berlangsung sangat cepat dan sengit. saat kepalan tangan ajian Watu Item bertemu dengan tongkat bambu lawan, berkali- kali terdengar suara berderak keras. di sertai keluhan dan jeritan tertahan.
Dua orang pengemis jatuh terjengkang pegangi perutnya yang terasa jebol dihantam tendangan Ki Manggal. tapi keduanya masih berusaha bangkit. sebaliknya orang tua itu juga mengeluh saat punggungnya sedikit terkena gebukan tongkat lawannya hingga dia hampir terjungkal. beruntung orang ini sempat membalik hingga punggungnya tidak sampai cedera parah.
''Bangsat., kalau saja aku tidak terluka dalam sudah kuhancurkan tongkat bambu berikut kepala kalian semua..!'' geram Ki Manggal dalam hatinya. orang ini tidak sempat berpikir lama karena keenam pengemis muda termasuk dua yang sempat ditendangnya sudah kembali menyerbu. dalam waktu singkat pertarungan seru kembali terjadi di jalanan desa Randung itu.
''Pengkhianat tua ini sudah kepayahan, gempur terus dia tanpa ampun..!'' teriak Pengemis Penceng geram karena sudah belasan jurus berlalu cepat tapi keenam anak buahnya belum mampu merobohkan buruannya.
''Tangkap bedebah tua itu hidup atau mati, siapapun yang berhasil membekuknya akan berjasa besar pada perkumpulan dan berhak mendapatkan imbalan besar..'' Nyi Pulungan si Pengemis Sapu Jagad ikut berseru. karuan enam anak buahnya makin kesetanan dan bersemangat untuk menghabisi Ki Manggal.
''Jahanam., mampuslah kalian semuanya..!'' bentak Pengemis Watu Item. dengan nekat dia menerobos kepungan tongkat bambu lawan yang terus datang melabrak sambil hantamkan ajian Watu Itemnya beberapa kali. gulungan angin keras dan berat menggebrak kedepan, asap hitam turut mengiringi serangan yang memggunakan segenap sisa tenaga dalam Ki Manggal. maka tak ampun lagi tiga orang pengemis langsung terjungkal roboh dengan bagian dada melesak hancur kehitaman. akibat di terjang ajian Watu Item..!
Melihat kenekatan orang tua itu terkesiap juga Pengemis Penceng dan rekannya. tanpa buang waktu orang berkepala lonjong dan botak yang selalu tengleng ke kiri itu melesat ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. hebatnya dia tidak menggunakan tangan kaki atau senjata untuk menyerang melainkan langsung menumbukkan kepalanya ke tubuh Ki Manggal..!
''Jurus 'Tumbukan Maut Kepala Batu..!'' jerit Ki Manggal panik. sebab dia tahu betul kepala Pengemis Penceng jauh lebih keras dari batu karang dan tidak mempan di bacok senjata tajam.!
Untuk menghindari jelas sudah tidak bisa. maka dengan segala sisa tenaganya yang sudah terkuras Ki Manggal meraung dan hantamkan ajian Watu Itemnya ke kepala Pengemis Penceng yang meluruk laksana meriam. dua kesaktian bertemu. terdengar derak tulang patah dibarengi lolongan setinggi langit dari mulut Ki Manggal. tubuhnya mencelat bergulingan dengan tangan kanan hancur sampai ke pangkal lengan.
__ADS_1
Pengemis pengkhianat ini langsung di sambut pukulan tongkat bambu sisa anak buah Pengemis Penceng yang merasa dendam karena kematian ketiga rekannya.!