13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kereta kuda maut


__ADS_3

Ular Sakti Berpedang Iblis usap dagunya, ''Sebelumnya aku sempat berharap setelah mendengar ceritamu, semua permasalahan mengenai kotak kayu cendana hitam ini akan terurai jelas. tapi sekarang aku malah semakin bingung., tapi terima kasih kau sudah mulai mau mengatakannya, aku sangat menghargai itu..'' ujar si pemuda sembari berdiri. ''Anak itu sudah tidur.?''


Satriyana mengangguk, ''Anggana ini bayi yang lucu, ganteng dan menarik. dari dulu aku ingin sekali punya adik, teman- teman didesaku semuanya mempunyai saudara, cuma aku yang anak tunggal..''


Respati tersenyum tipis, ''Mungkin karena dia bukan bayi biasa, anak ini boleh dikatakan masih berdarah biru.!''


''Maksudmu dia ini seorang pangeran, anak keturunan raja.,?'' tanya Satriyana setengah tak percaya.


''Kau pernah mendengar soal Istana Angsa Emas.,?'' si pemuda balik bertanya, Satriyana bergetar keras hatinya, kala mendengar nama Istana keramat itu disebut. tetapi dia hanya diam menunggu Respati bicara.


''Kabarnya Istana Itu tempat para raja dan kaum bangsawan di masa lalu, seluruh istana terbuat dari emas, selain harta dan perhiasan yang bertumpuk- tumpuk, disana juga tersimpan berbagai macam benda pusaka yang tidak terhitung jumlahnya. maka tidak heran kalau Istana itu sudah menjadi incaran orang sejak ratusan tahun silam.!'' tutur Respati sambil usap- usap kepala Anggana. ''La., lalu apa hubungannya dengan Anggana.?'' desak Satriyana dengan hati berdebar kencang.


Pemuda itu mendongak, dilangit terang penuh bintang yang bertaburan, sebuah bintang jatuh terlihat bercahaya panjang bagaikan ekor naga, sungguh malam yang indah, tapi keindahan itu tidak mampu menghalau kerisauan hatinya. Respati menghela nafas berat sebelum menjawab, ''Aku hanya bisa berkata kalau bayi yang sedang kau gendong itu mungkin adalah satu- satunya keturunan dari keluarga Istana Angsa Emas yang masih tersisa.!''


Satriyana hanya diam membisu, Respati meliriknya sekejap ''Kenapa kau diam., sepertinya ada yang sedang kau pikirkan.?''


''Aa., apa kau bilang tadi.,?'' tanya gadis itu gelagapan. pemuda itu menatap mata Satriyana, ''Ada apa dengan dirimu., saat kubilang soal Istana Angsa Emas kau seakan kaget dan ketakutan.? atau., jangan- jangan kau tahu sesuatu tentang Istana itu.!''


''Ngawur.,! 'Kau ini bicara apa, aku terkejut karena mendengar bayi ini adalah keturunan dari keluarga Istana itu, karenanya aku takut dengan keselamatan Anggana.!'' jawab Satriyana agak marah.

__ADS_1


''Ooh., kiranya begitu., 'Baiklah, hari sudah malam, segeralah tidur, kau beri selimut yang agak tebal buat Anggana, selain udara dingin juga banyak nyamuk. Aku akan berjaga disini.!'' ujar Respati lalu duduk bersila mengatur penafasan. sementara Satriyana mencoba tidur disamping Anggana, tapi tidak bisa, pikiran dan hatinya terlalu kalut.


''Kalau benar Anggana dan aku adalah keturunan dari keluarga Istana Angsa Emas, berarti kami berdua masih ada hubungan darah, boleh dikatakan dia adalah adikku.!'' batin Satriyana sambil membelai Anggana yang terlelap disampingnya.


Sementara itu didalam kereta kuda Dewi Malam Beracun dan Sabarewang masih sibuk dengan pekerjaannya, setiap akan melakukan sesuatu Dewi Malam Beracun selalu melakukannya dengan penuh perhitungan. setiap bentuk, jarak, ukuran, letak, serta kegunaan suatu benda atau senjata diperhitungkan dengan sangat teliti. bahkan sampai sebab dan akibat yang mungkin ditimbulkan juga sudah diperkirakan. Sabarewang sampai tidak dapat berkata apapun, dalam hatinya selain rasa takut kini juga timbul kekaguman pada kecerdasan otak wanita cantik ini.


''Uuh., panas sekali disini.,!'' keluh Dewi Malam Beracun, jubah gaun hitamnya bagian luar sebelah atas dilepasnya, kini dia cuma memakai pakaian dalam berupa baju kutang berwarna hitam, butiran keringat membasahi bahu serta lengannya yang putih mulus dan berbulu halus itu. meskipun demikian aroma tubuhnya masih harum segar. Sabarewang buru- buru memutar badannya, tidak berani memandang terlalu lama.


Dewi Malam Beracun tersenyum geli, timbul niatnya untuk menggoda orang yang sudah dianggap sebagai anak buahnya itu. ''Aku capek sekali., bisakah kau pijit aku sebentar saja.,?'' pinta wanita itu dengan suara lirih.


Sabarewang masih diam menunduk dan membelakangi Dewi Malam Beracun. ''Kenapa kau tidak menjawab Sabarewang., apakah kau tidak mau menolongku.?'' bisik wanita genit itu. Sabarewang menggeleng keras, ''Kau.,kau suruh Respati saja, Aak, aku tidak bisa memijit wanita, sebentar aku panggil dia.,!'' katanya sambil bergegas turun dari kereta kuda, tapi sebuah tangan halus menahan bahunya, tawa berderai yang merdu terdengar ditelinganya. ''Sudahlah., aku cuma bercanda, asal kau tidak berpikir yang macam- macam, aku tidak keberatan kalau kau melirik- lirik tubuhku.,! Ayoh., pekerjaan kita masih banyak, nanti akan kutambahkan upahmu.!'' ujar Dewi Malam Beracun sambil kembali meneruskan pekerjaannya, Sabarewang menelan ludah, dia tidak tahu yang dialaminya ini rejeki ataukah bencana.


''Nyi Dewi bercanda yah., kereta kuda sehebat ini cuma kau bilang cukup., senjata dan perangkap yang terpasang disini, kuyakin tidak akan ada tandingannya di muka bumi.! 'Bahkan sepasukan besar prajurit berkuda yang paling tangguh sekalipun juga bakalan mudah dihancurkan kereta ini.!'''


''Aku Sabarewang merasa sangat beruntung bisa ikut membantu, sekalian dapat belajar darimu.!'' ujar Sabarewang sambil menjura hormat.


Wanita itu tersenyum manis, ''Sejak kapan kau jadi pintar memuji., asal kau ingat aku ini benci penjilat.! 'Tapi aku ingin tahu berapa umurmu sekarang.,?''


Sabarewang terdiam sebentar, pertanyaan wanita ini agak diluar dugaan, ''Eehm, kenapa Nyi Dewi ingin tahu umurku.?''

__ADS_1


''Oouh., jadi kau keberatan menjawabnya,?'' desak Dewi Malam Beracun.


Sabarewang langsung menggeleng keras, ''Bukan begitu., eeh maksudku umurku sudah empat puluh tiga tahun.,''


Dewi Malam Beracun mengernyit alis, ''Empat puluh tiga tahun., kau masih sendiri atau sudah berkeluarga.?'' Sabarewang menunduk lesu, ''Dulu aku pernah punya istri, tapi dia lari dengan lelaki lain. salahku juga., mungkin karena aku miskin dan tidak setampan pemuda idamannya.!''


''Huh., alasan dungu.! 'kaya miskin memang bisa jadi pertimbangan, tapi itu bukan yang utama dalam sebuah perkawinan. lagi pula kurasa kau juga tidak jelek.!''


''Sekarang coba kau lihat aku., menurutmu berapa usiaku.?'' tanya Dewi Malam Beracun.


''Aah itu mudah sekali, paling banter Nyi Dewi sekarang berumur duapuluh satu atau dua puluh dua tahun.!'' jawab Sabarewang yakin.


Wanita itu tersentak lalu tertawa geli, ''Jauh sekali., Dengarkan dua bulan lagi usiaku sudah genap tiga puluh tahun., Hii.,hi, hi.!'' ''Tapi., terima kasih atas pujianmu.' aku jadi merasa awet muda..''


Sabarewang ternganga, baginya perempuan cantik ini benar- benar ajaib dan selalu penuh rahasia.


''Sekarang kau boleh memberi nama untuk kereta ini, yah itung- itung kau juga sudah membantuku.!''


''Aku.,?' kenapa.?'' Sabarewang menunjuk hidungnya sendiri. Dewi Malam Beracun mencorong tajam sepasang matanya, seketika itu Sabarewang berpikir keras, ''Kurasa nama yang pantas untuknya adalah 'Kereta Kuda Maut.!' 'Yah., kereta berkuda yang membawa maut bagi siapapun yang berani menghalangi jalannya.!''

__ADS_1


__ADS_2