13 Pembunuh

13 Pembunuh
Wong koplak.


__ADS_3

Pertarungan besar- besaran yang terjadi di pulau 'Seribu Bisa' masih terus berlangsung. bahkan semakin lama terasa bertambah mengerikan. jumlah korban yang sudah melebihi seribu orang dari kedua pihak membuat pulau karang itu di penuhi oleh hamparan mayat yang sebagian besar hanya tinggal tulang belulang.


Entah ada berapa puluh ribu jenis binatang dan tumbuhan beracun yang ada di sana. mereka seolah berpesta menggerogoti korban yang terkapar mati. meskipun banyak juga yang terluka parah lalu menjadi santapan hewan berbisa penghuni pulau itu. mereka semua cuma bisa melolong kesakitan saat merasakan setiap ruas tubuhnya digerogoti hingga nyawanya lenyap dari raga tanpa ada seorangpun yang mampu menolongnya.


Bau anyir darah dari mayat- mayat yang mulai membusuk terasa memenuhi udara hingga membuat orang mual dan muntah. meskipun demikian tidak ada satu orangpun yang sempat melakukannya karena mereka semua terlalu sibuk mempertahankan nyawa sendiri juga semakin dibakar nafsu untuk membunuh lawannya.


Roro Wulandari yang baru saja kembali dari pertarungan hidup matinya melawan 'Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma' nampak tertegun melihat pemandangan mengerikan dari hamparan ribuan mayat. semua ini lebih menyeramkan dibandingkan saat peristiwa di Wonokerto juga pertarungan besar yang terjadi di lembah sunyi beberapa waktu lalu.


''Sebenarnya untuk apa semua ini terjadi. apakah segala harta pusaka, kekuasaan atau nafsu balas dendam dapat sebanding dengan nyawa manusia.?'' batin wanita itu prihatin dan menyesal. tapi tidak ada waktu lagi bagi dirinya untuk berpikir lebih jauh. dia perlu secepatnya menemukan di mana Respati dan Satriyana berada.


''Menurut ingatanku dari puluhan goa rahasia yang berada di pulau ini, setidaknya terdapat tiga buah goa yang biasa dipakai sebagai penjara sekaligus tempat penyiksaan bagi para orang hukuman dan letaknya terpisah cukup jauh antara satu dengan lainnya. Chuih sialan., sebenarnya di goa mana mereka berdua disekap. butuh waktu lama jika harus memeriksa satu persatu. belum lagi mesti berurusan dengan para penjaganya..'' sungut Roro meludah kesal.


Sudut matanya sempat melihat kilatan sinar emas yang menyilaukan sedang saling libas dengan gulungan cahaya hitam yang berasal dari tiga buah pedang sakti. meski jaraknya cukup jauh tetapi Roro Wulandari tahu kalau salah satu dua kelebatan bayangan putih yang menjadi pemilik pedang itu pastilah sahabat karibnya Nyi Puji Seruni alias si 'Dewi Seruni Putih'.


Di lihat dari keadaannya sang penguasa dari 'Lembah Seruni' ini sedang berada di puncak pertarungan melawan salah satu anggota dari 'Kelompok 13 Pembunuh' yang di kenal dengan julukan 'Pendekar Pedang Lali Jiwo'. walaupun sempat berniat untuk membantu sahabat baiknya itu tapi pada akhirnya Roro mengurungkannya.

__ADS_1


Ada dua alasan yang membuat Roro lebih memilih mencari keberadaan Respati dan Satriyana dibandingkan membantu Puji Seruni. selain sedang dikejar waktu dia juga merasa kalau sahabatnya tidak bakal senang jika menerima bantuannya. karena walau bagaimanapun juga seorang pesilat sejati pastilah mempunyai harga diri yang tinggi. lagi pula., Roro sangat yakin dengan tingkat ilmu pedang wanita cantik yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri ini.


Semua itu dapat diperkirakan olehnya karena melihat dua cahaya keemasan yang terpancar dari sepasang pedang 'Walet Emas' ditangan Puji Seruni walaupun sepintas terkurung dalam gulungan cahaya pedang hitam milik Pendekar Pedang Lali Jiwo, namun sekali saja menyerang sudah mampu merobek dan menjebol kurungan pedang lawan hingga cahaya hitamnya semakin memudar.


Sebaliknya dengan gerakan tubuh selincah burung walet yang sedang terbang, murid Nyi Pariseta itu berbalik mendesak orang tua bertubuh pendek yang menjadi lawannya. Roro Wulandari tersenyum kagum. dia paham dengan cara bertarung yang dipilih oleh Puji Seruni dalam memenangkan pertarungan.


Meskipun mungkin kalah pengalaman serta tingkatan ilmu kesaktian tapi dia menang kelincahan, kecepatan dan tenaga mudanya juga masih segar. karena sekuat apapun tubuh seseorang, dia tidak akan bisa menipu keterbatasan tenaganya di usia tua. lebih dulu bertahan sambil memancing lawan untuk menguras tenaganya sebelum dia balas menghabisi lawan secepatnya.


Segala macam siasat seperti ini sangat mudah diucapkan tetapi bukannya gampang untuk dapat melakukannya. dari pengalaman dia bertarung pedang dengan orang tua ini, Puji Seruni sudah memahami kalau ilmu pedang lawan sangat hebat dalam serangan lurus searah. daya hancurnya terlampau menakutkan untuk ditahan. kalau nekat beradu kekuatan secara langsung dia pasti tewas sejak tadi


Beberapa kali dia berkelebatan diantara celah batu karang pantai untuk berlindung dari tenaga tebasan pedang lawannya, lantas secepat kilat balik menyerang dari sudut sempit yang tidak terduga. walaupun belum mampu melukai lawan dengan berat tapi setidaknya dia bisa menguras tenaga musuh juga membuat orang tua itu semakin malu dan murka.


''Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. kadang otak Puji Seruni lebih cerdik dariku..'' gumam Dewi Malam Beracun' lantas berpikir sekejap sembari pejamkan kedua matanya. sebuah ingatan terlintas di dalam pikirannya. saat kembali membuka mata sebuah senyuman sombong dan licik telah tersungging di bibirnya yang indah. sekali sosok tubuhnya berkelebat di kegelapan, diapun lenyap tinggalkan tempat itu.


Saat tubuhnya melesat menuju ke suatu tempat Roro tidak lupa untuk membunuh beberapa orang anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' maupun orang persilatan dari golongan hitam yang kebetulan menghalangi jalannya. terakhir tiga orang murid perguruan silat 'Topan Kegelapan' pimpinan Ki Gembong Brangas alias si 'Iblis Topan Hitam' turut juga menjadi korbannya.

__ADS_1


Walaupun sudah memiliki rencana untuk bisa menemukan dimana Respati dan Satriyana berada tapi dia juga tidak begitu yakin akan berhasil. masalahnya adalah sampai saat ini ketua dari Kelompok 13 Pembunuh belum juga menampakkan dirinya. Roro Wulandari merasa hal ini sangatlah aneh karena sang pimpinan justru tidak muncul saat daerah kekuasaannya di serang pihak luar.


Sambil berpikir keras Dewi Malam Beracun terus melesatkan tubuhnya menembusi kegelapan malam. matanya juga sempat melihat wakilnya Nyi Sapta Kenanga di dalam persekutuan 'Bulan Perak' yang sedang bertarung sengit dengan seorang tokoh silat jahat bergelar 'Elmaut Dua Belas Jari'. dilihat dari gerakan wakilnya yang agak tertahan menandakan kalau wanita itu sedang terluka.


Sekali jejakkan kedua kakinya ke tanah tubuh langsing Roro mampu meluncur lebih cepat. jemari tangan kiri yang menjepit sepuluh batang jarum dan paku beracun mengibas. lima orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang hendak melakukan serangan gelap pada bawahannya tersungkur roboh dihajar senjata rahasia yang dilepaskan Roro.


Bukan hanya si nenek ceking bungkuk berjuluk Elmaut Dua Belas Jari yang terkejut menyaksikan kematian lima anak buahnya. tapi juga Nyi Sapta Kenanga atau si 'Tujuh Bunga Terbang'. sejak merasa kesulitan untuk membunuh Nyi Sapta Kenanga, nenek ceking yang punya dua jemari lebih banyak dari jari manusia pada umumnya itu telah memberi perintah pada anak buahnya agar turut membantu menghabisi Nyi Sapta Kenanga jika ada kesempatan, tidak perduli apapun caranya.


Rencananya cukup berhasil karena sebuah anak panah kecil yang dilepaskan melalui alat pelontar sempat menggores kaki dan paha kanan lawannya sehingga gerakan tubuh Nyi Sapta Kenanga menjadi tidak leluasa. meski mampu menahan menjalarnya racun panah ke dalam aliran darah namun tetap saja dia merasakan kesakitan.


Tapi sekarang rencana si nenek yang nyaris berhasil kini gagal didepan mata membuat orang ini menjadi gusar bukan kepalang. ''Bangsat., siapa yang berani turut campur urusanku.!'' bukannya melayani si nenek ceking berjubah kelabu itu, Roro malah mendamprat Nyi Sapta Kenanga. ''Kau jangan membuatku malu. jika menghadapi kunyuk betina peot ini saja kau gagal, lebih baik turun saja dari jabatanmu sebagai wakil ketua.!''


''Sepuluh jurus kedepan aku mau bedebah ini sudah terkapar mampus.!'' dengan bengis Roro berseru memberi perintah. ''Baik ketua.!'' sahut Nyi Sapta Kenanga yang langsung menggebrak lawan bertubi- tubi. tanpa bicara si Dewi Malam Beracun berkelebat pergi. dia cukup yakin dengan kemampuan wakilnya. dalam hati Roro tertawa dan membatin, ''Haa., ha., memang paling enak menjadi pimpinan, karena ini sesuai dengan kebiasaan diriku yang suka memerintah orang lain..'' (Iih., dasar si Roro.. koplak.!)


------Silahkan tuliskan komentar Anda jika suka. 🙏👌---

__ADS_1


__ADS_2