13 Pembunuh

13 Pembunuh
Berpisah sementara atau selamanya.?


__ADS_3

Hari sudah beranjak menuju senja saat kereta kuda yang di tumpangi Respati dan kawan- kawannya keluar tepian hutan. jarak menuju tugu perbatasan Wonokerto sudah tidak terlalu jauh. jika memacu terus kereta kudanya mungkin tengah malam mereka akan sampai di sana.


Sabarewang hentikan laju keretanya. orang tinggi kekar dan brewokan itu termenung diam. matanya menatap lurus ke depan. Satriyana menjadi heran dengan kelakuan kusir kuda ini. baru saja dia hendak menegur dari jendela depan melongok kepala seorang wanita cantik jelita.


''Kenapa kau hentikan kereta kuda ini, ada yang menghadang kita atau bagaimana.?''


Sabarewang cuma menggeleng lemah, ''Maafkan aku Nyi Dewi., karena tanpa perintahmu kereta ini kuhentikan. tidak ada masalah apapun juga tidak ada seorangpun yang menghalangi kita..'' jawab Sabarewang sambil melirik Roro. perempuan ini melihat suatu keraguan di wajah kusir kudanya. rasa jengkelnya berkurang separuh. dia seakan dapat menebak apa yang ada dalam pikiran Sabarewang. sekejap saja tercium bau harum segar yang mengiringi kehadiran si 'Dewi Malam Beracun' di depan kereta kuda.


Tanpa bicara tahu- tahu tubuhnya sudah berada di tengah bangku antara Satriyana dan Sabarewang. dengan gaya santai sedikit menggoda lengan kanannya yang putih mulus dan berbulu halus lembut merangkul bahu Sabarewang. ''Hhm., memangnya apa yang membuatmu gelisah begini kakang Sabarewang.?'' tanya Roro Wulandari dengan suara mendesah, sementara jemarinya yang lentik memainkan bulu- bulu cambang di dagu kusir kuda itu.


Satriyana mendelik sebal ''Dasar kakak Dewi memang genit., mentang- mentang cantik semua lelaki di godanya..'' tapi selain jengkel gadis itu juga merasa geli melihat tingkah Sabarewang yang blingsatan dan gugup.


''Aah Nyi Dewi., bisakah kau tidak bersikap seperti ini, aa., aku., aku..''


''Kau kenapa., apakah diriku ini kurang cantik sehingga kau enggan duduk bersamaku.?'' tanya Roro memelas berlagak menunduk sedih, matanya yang bulat bening berubah sayu. karuan Sabarewang semakin tergagap ''Sia., siapa yang bilang begitu., semua orang tahu kau si Dewi Malam Beracun adalah salah satu wanita tercantik di dunia persilatan ini. jangankan aku, orang buta sekalipun juga pasti tahu kalau kau sangatlah cantik jelita..'' jawab Sabarewang setengah ngawur. Roro dan Satriyana saling pandang lalu tertawa bergelak mendengar ucapan si kusir kuda.


''Sudahlah Roro jangan bertingkah macam- macam., sekarang tanyakan padanya ada masalah apa sebenarnya..'' potong Respati.


''Huhm., kau diam saja di dalam sana 'Ular Jelek. atau Hii., hi., jangan- jangan kau jadi cemburu melihatku merayu Sabarewang.?'' ejek Roro Wulandari terkikik. dari dalam kereta terdengar si pemuda menghela nafas, dia hafal betul kelakuan Roro yang binal dan sering kali mau menang sendiri.


''Baiklah., jangan di masukkan hati. aku cuma bercanda saja. sekarang katakan ada masalah apa.?'' kini Roro bertanya tegas.

__ADS_1


''Aku., aku merasa ragu apakah kali ini kita akan benar- benar dapat masuk ke wilayah Wonokerto, karena sebelumnya sudah dua atau tiga kali kita harus memutar balik ke tempat lain, karena ada masalah yang harus kita selesaikan. padahal kita sudah sangat dekat dengan kadipaten Wonokerto. sepertinya., ada saja yang menghalangi kita untuk datang ke sana..''


''Aa., apa., apakah ini bukan suatu firasat atau pertanda buruk, maksudku semacam peringatan agar kita tidak masuk ke sana..'' ungkap Sabarewang bimbang. ''Maafkan aku Nyi Dewi., karena seharusnya aku tidak bicara demikian di saat seperti ini..''


Dewi Malam Beracun tepuk bahu kekar kusir kuda itu. ''Kenapa kau mesti minta maaf., aku rasa semua itu wajar saja. sempat juga diriku berpikir untuk menghilang saja tanpa harus memberikan peti kayu cendana hitam palsu itu kepada Ki Ageng Bronto di Wonokerto, lalu hidup di tempat yang sangat terpencil. tapi akibatnya kita akan menjadi pelarian dan hidup dalam ancaman untuk seumur hidup..''


''Yang terpenting., kita juga masih harus menyelesaikan masalah besar Satriyana. dia pemilik 'Darah Keabadian'. jangan sampai kaum durjana mendapatkan dirinya.!'' ujar Roro memeluk gadis di sampingnya dengan penuh rasa sayang. Satriyana balas merangkul pinggang Roro yang ramping. dia selalu merasa nyaman di samping wanita ini.


Sabarewang membusung dadanya. air muka kusir kuda ini perlahan berubah garang penuh semangat bertarung. Roro Wulandari menyeringai, dia tahu rekannya itu sudah kembali menemukan kepercayaan dirinya. tanpa bicara dia sudah kembali masuk ke dalam 'Kereta Kuda Maut'.


''Bodoh., kenapa aku sampai bicara seperti seorang pengecut., sunguh memalukan.!'' umpatnya sendiri.


''Satriyana., kau siapkan panah saktimu. bila saatnya tiba, mari kita buat kegemparan terhebat di Wonokerto..'' gertak Sabarewang sambil gebrak kereta kudanya.


Kereta Kuda Maut berhenti tepat di bawah dua buah pohon besar dan agak terlindung oleh semak belukar. Roro yang menyuruh mereka untuk berhenti, sepertinya wanita cantik bekas pembunuh nomor dua belas di kelompok 13 Pembunuh yang terkenal punya banyak akal muslihat ini sedang menunggu seseorang.


Akhirnya yang dia nantikan muncul juga, dua orang laki- laki berusia tiga puluh tahunan yang membekal golok besar. dan seorang pemuda berbaju biru lengan pendek yang memanggul pentungan kayu. mereka tidak datang dengan tangan kosong melainkan membawa juga empat ekor kuda.


''Jurata., Birunaka., rupanya kalian yang datang kemari.!'' sambut Sabarewang dan Satriyana hampir bersamaan. gadis manis itu tanpa malu langsung merangkul bahu si pemuda seakan dia tidak perduli batasan. Birunaka tersenyum malu sendiri. dalam keremangan malam terlihat wajahnya yang memerah.


''Semua yang kalian perintahkan sudah kami laksanakan. dalam pekerjaan itu kita berdua mendapat bantuan dari beberapa orang perempuan berbaju bercadar hitam yang mengaku sebagai utusanmu Dewi Malam Beracun. dari tanda sulaman bulan sabit perak di cadarnya kakang Jurata menduga mereka dari persekutuan 'Bulan Perak..''

__ADS_1


''Itu benar., mulanya kami merasa curiga, bahkan hampir saja terjadi pertarungan. beruntung mereka menunjukkan tanda pengenalmu, mereka juga berpesan untuk menyampaikan padamu bahwa tugas rahasia di wilayah Jepara sudah di lakukan dengan sebaik mungkin..'' sambung Jurata sambil memberikan sebuah tusuk kundai emas berbentuk bulan sabit kepada Roro.


''Haa., ha., baguslah kalau demikian. kita mulai saja permainan ini. sekarang kita berada agak jauh di gerbang barat Wonokerto. kita lakukan sesuai rencana., Satriyana bersama Sabarewang, Jurata dan Birunaka pergi ke gapura timur. bergeraklah secara senyap..''


''Cari tempat tersembunyi yang agak jauh dari pedataran gapura timur. usahakan lawan tidak dapat melihat kalian, tapi sebaliknya kalian mudah mengamati setiap gerakan mereka..''


Roro Wulandari berbalik mendekap Satriyana, ''Tugasmu cukup menentukan. saatnya menunjukkan kemampuan ilmu memanahmu. lakukan jika kau yakin mampu. tapi jika ragu cepat menyingkir bersama Sabarewang dan yang lainnya. tunggu kami di tempat yang sudah kita sepakati.!''


''Kalau dalam tiga hari kami tidak muncul., kalian bisa mengambil jalan hidup masing- masing. tapi kuminta lebih dulu kalian bawa Satriyana menemui I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto..'' pungkas Respati. semua orang seketika terdiam, ini hanyalah sebuah perpisahan sementara saja. tapi bisa juga untuk selamanya.


Satriyana berusaha tegar sekuatnya untuk tidak terisak di rangkulan Roro. wanita yang sudah seperti kakaknya sendiri itu mengelus rambut si gadis dengan penuh rasa sayang. sebenarnya di balik sifatnya yang kejam Roro seorang wanita yang sangat perasa dan mudah tersentuh.


''Bagaimana dengan dirimu.?'' tanya Respati pada Putri Penjerat, si Laba- Laba Kuning. perempuan cantik bertubuh kecil dan tangannya buntung sebelah itu mendongak ke langit yang terang penuh bintang. cuaca malam terasa panas, padahal pagi tadi hujan sudah mulai turun. apakah musim kemarau benar sudah berakhir atau masih terus berlanjut.?


''Sebenarnya aku belum begitu paham dengan rencana kalian berdua, tapi sekarang ini kita bertiga sama- sama orang buangan. buronan kelompok 13 Pembunuh..'' gumam si Laba- Laba Kuning.


''Kurasa menarik juga mengikuti perjalanan yang aneh ini. aku juga penasaran seperti apa ujungnya..'' Putri Penjerat tersenyum lalu mendahului masuk ke dalam kereta kuda.


Respati tepuk bahu Sabarewang dan ke tiga kawannya lalu melompat ke bangku kusir.


''Ingat jaga diri kalian baik- baik., lakukan jika yakin berhasil. kalau ragu cepat mundur..'' pesan Roro Wulandari sebelum menyusul masuk kereta kuda. segera kereta melaju menuju gerbang gapura barat Wonokerto.

__ADS_1


''Kalian bertiga juga mesti bertahan hidup dan bertemu kembali dengan kita.!'' seru Satriyana lalu bersama tiga kawannya menggebrak kudanya ke arah timur.


__ADS_2