
Serangan balasan Sabarewang tidak cuma berhenti di sana saja. tidak tanggung- tanggung jurus 'Lima Sambaran Petir Maut' yang di susul dengan jurus 'Bintang Langit Terpecah' dia mainkan dan langsung saja memakan korban. empat orang roboh terjungkal semburkan darah dengan senjata tongkat bambunya mental berpatahan.
Masih untung kusir kuda itu sengaja mengurangi kekuatan hawa sakti di kedua jurusnya hingga empat orang pengeroyoknya tidak sampai kehilangan nyawa. biarpun begitu luka mereka cukup parah hingga sulit untuk bangkit lagi.
Nyi Pulungan si 'Pengemis Sapu Jagad' yang juga ketua cabang perkumpulan pengemis 'Sembilan Tambalan' wilayah selatan itu meraung gusar melihat banyak anak buahnya yang terjungkal roboh, sementara rekannya si 'Pengemis Penceng' juga masih menderita luka dalam akibat bentrok pukulan sakti dengan 'Ular Sakti Berpedang Iblis'.
Belum lagi ketangguhan jurus pedang buntung si kusir kuda dan senjata rahasia yang terpasang di kereta, sungguh nenek tua itu nyaris tidak percaya anak buahnya bakal kesulitan menghadapi kelompok kecil ini.
Dengan amarah meluap Pengemis Sapu Jagad melipat gandakan tenaga saktinya. sapu lidi besinya di putar kencang lantas menghantam. dua gulungan embun hujan salju melabrak kedepan. sasarannya Respati dan Sabarewang.!
''Hei nenek tua., pertarungan kita belum usai. lawanmu adalah aku, jadi jangan harap dapat menghindar dariku.!'' bentak 'Dewi Malam Beracun berkelebat menghadang sambil lepaskan jurus 'Angin Hujan Jarum Perak'. yang di lambari tenaga ilmu kesaktian 'Cakar Tengkorak Darah'. berpuluh jarum panas kemerahan melesat menembus badai salju Nyi Pulungan. beberapa terpental tapi enam jarum berapi masih sanggup menyusup.!
''Aakh., Setan betina jahanam.!" pekik Nyi Pulungan gusar sekaligus menahan rasa sakit akibat jarum beracun yang merajam tubuhnya. masih untung dia berilmu tinggi hingga kesaktiannya dapat menahan tusukan jarum itu hingga tidak sampai menembus bagian dalam tubuhnya. biarpun begitu rasa panas dan gatal perih sudah merasuki aliran darahnya.
Di pihak lain Roro Wulandari juga bernasib nyaris sama. meskipun separuh jarum apinya sanggup melukai lawan, namun hawa dingin yang menyapu keras membuatnya tersurut mundur tiga langkah bahkan nyaris jatuh terjungkal. wanita ini harus kerahkan tenaga dalamnya agar dapat menahan hawa dingin dan goncangan aliran darahnya agar tidak sampai muntah. sekilas matanya melirik Respati.
"Pengemis tua Nyi Pulungan., aku sengaja sudah mengurangi kekuatan jarum berapiku karena menuruti saran si Ular Sakti. dia berpikir dengan kami sedikit mengalah dapat mencegah kesalahpahaman ini bertambah semakin dalam. tapi sepertinya., kau tidak dapat di kasih hati.."
"Dengar nenek tua bangka., meskipun kami berdua juga si 'Laba- Laba Kuning' sudah bukan lagi anggota kelompok 13 Pembunuh, tapi jiwa pembunuh kami tetap tidak berubah., kalian yang memulainya jadi jangan harap dirimu, si kepala penceng dan para gembel- gembel begundalmu dapat tinggalkan tempat ini dengan selamat.!'' bentak Roro sengit. wanita cantik ini benar- benar sudah mengamuk.
__ADS_1
Kipas perak di tangan kirinya yang terentang lebar dalam sekejab di selimuti kobaran bara api dan sinar merah darah berbau anyir. kedua mata dan rambutnya yang hitam lebat sepingul berjingkrak naik juga berubah semerah darah berlapis kobaran bara api. keadaan ini persis seperti saat Dewi Malam Beracun bertarung sengit melawan Ki Gede Kalacandra si Dewa Serba Putih.
''Hentikan Roro., jangan lakukan itu. mereka semuanya akan mati ditanganmu.!'' seru Respati berusaha mencegah. semua orang yang ada di sana sama gemetar ketakutan. mereka terperangah melihat keadaan Roro yang tidak ubahnya Iblis wanita berapi yang siap membakar dunia.!
''Haa., ha., aku tidak perduli., sudah terlambat. aku ingin mereka semuanya mampus.!'' Roro meraung keras. suaranya bagaikan iblis yang keluar dari liang neraka hingga semua orang tanpa sadar bergidik ngeri dan menyurut mundur.
''Para pengemis bodoh., apa lagi yang kalian tunggu, cepat enyah dari tempat ini sebelum dia membantai kalian semua. aku akan berusaha menahannya.!'' seru Respati menghadang Roro sambil mencabut pedang Iblis Hitamnya.
''Siapapun jangan harap dapat kabur dari sini.!'' teriak Roro sambil hantamkan kipas dan cakar berapinya. Pengemis Penceng yang tidak menyangka bakal diserang seketika kalang kabut bergulingan. hawa sepanas bara api berbau seanyir darah busuk menghantam semak pepohonan di belakang tubuhnya hingga hangus terbakar udara sekitar berubah menjadi sangat panas. semua orang leketkan lidah bingung dan ngeri.
''Cepat selamatkan diri kalian. Nyi Pulungan, Pengemis Penceng, jangan katakan kalau aku tidak pernah memperingatkan kalian. asal tahu saja wanita ini sudah kerasukan siluman api yang sangat ganas.!'' seru Respati. kedua pimpinan cabang perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan itu saling pandang.
''Apa., apakah benar kalian sudah bukan lagi anggota kelompok 13 Pembunuh.?'' bertanya Pengemis Penceng sangsi. sementara Nyi Pulungan juga mulai mundur menjauh.
''Bukan cuma mereka berdua, tapi aku si 'Putri Penjerat' juga sudah di buang oleh ketua perkumpulan. sekarang kami bertiga menjadi buruan mereka. soal Ki Manggal., bekas kawan kalian itu sudah mati karena terluka dalam sangat parah..''
''Aku di perintahkan untuk membunuhnya, tapi hatiku merasa tidak tega menghabisi orang yang sudah sekarat. akhirnya si nomor tujuh 'Datuk Tinggi Mayat Besi' yang menghabisinya.!'' terdengar seruan seorang perempuan dari dalam kereta kuda.
Kedua orang tua itu terkejut saling pandang, dalam hati mereka menyumpah serapah. rupanya keduanya mendapat berita soal keberadaan si nomor empat dalam kereta kuda itu justru dari Datuk Tinggi Mayat Besi tanpa mengatakan adanya pembunuh nomor dua belas dan tiga belas yang menyertainya.
__ADS_1
''Setan alas., Nyi Pulungan rupanya kita sudah tertipu. kurasa tidak ada gunanya lagi kita bertahan di sini..''
''Kau benar sobatku Pengemis Penceng., apa sebaiknya kita pergi saja sekarang juga.?'' di saat kedua orang pengemis tua itu masih ragu bertindak, gulungan angin panas dan cakar berapi berbau anyir darah berkelebat membeset udara. Pengemis Penceng dan Pengemis Sapu Jagad sama menjerit ngeri. setelah sempat hantamkan satu pukulan sakti juga kibaskan senjata sapu mautnya untuk menahan serangan lawan, kedua orang itu lenyap di ikuti semua anak buahnya.
Api yang membakar semak belukar dan batang pepohonan sudah mulai mengecil, sebagian ada juga yang padam karena rintik hujan yang turun ke bumi setelah sekian lamanya di landa kemarau panjang. semua penghadang juga telah pergi dari tempat itu. hujan pertama yang menyegarkan raga dan jiwa. musim kemarau panjang sudah sampai di batas ujungnya.
''Hei Roro., sampai kapan kau berpura- pura menjadi wanita iblis api seperti itu.?'' tegur Respati sinis. baik Sabarewang maupun Satriyana sama tertegun tidak mengerti. lain halnya si Laba- Laba Kuning, dia sampai terkesima melihat semuanya. sungguh perempuan ini tidak menyangka kalau bekas rekannya dalam 13 Pembunuh itu punya ilmu yang begitu menakutkan. tapi anehnya Respati malah bilang itu cuma pura- pura.!
''Aku tidak terima saat kau bilang diriku sudah kerasukan siluman api ganas., dengar Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis, wanita pintar secantik aku tidak akan mungkin kerasukan. lain kali buatlah alasan yang lebih masuk akal dan enak di dengar., paham.!'' bentak Roro marah.
Perlahan rambutnya yang berselimut kobaran api kemerahan melembut. matanya yang semerah darah kembali jernih menarik hati. dia sudah kembali menjadi Roro Wulandari sang Dewi Malam Beracun yang cantik, genit dan sombong seperti biasanya.
''Huhm., asalkan bisa mengusir mereka dari jalan kita, kurasa tidak mengapa berpura- pura kerasukan siluman. ada untungnya juga dirimu sudah mampu mengendalikan ilmu 'Api Iblis Tengkorak Darah' hingga mampu mengatur berapa banyak kekuatan tenaga sakti yang kau butuhkan untuk menipu mereka..'' potong Respati mendengus.
''Aku tahu kau lebih suka menghabisi semua pengemis itu, tapi saat ini sebaiknya kita jangan banyak menanam permusuhan baru dengan pihak lain. ingat Roro., kita sekarang bukan lagi anggota kelompok 13 Pembunuh yang ditakuti delapan penjuru rimba persilatan.!''
Roro membalik bertolak pinggang. ''Justru karena itulah kita harus bertindak lebih keras lagi. agar semua orang persilatan tahu bahwa meskipun sekarang ini kau dan aku, juga si Putri Penjerat bukan lagi anggota kelompok 13 Pembunuh., tapi kita tetap punya naluri pembunuh yang mematikan.!''
''Huhm., kau tahu bukan., aku paling benci kalau sampai ada pihak lain yang berani memandang sebelah mata pada kehebatan kita berdua.!'' Roro mendengus sebal.
__ADS_1
Mendengar ucapan Roro dan Respati, barulah ketiga orang lainnya sadar jika ini cuma siasat tipuan untuk menggertak anggota pengemis Sembilan Tambalan tanpa harus membunuh lawannya. tapi kapankah kedua orang yang masih bersepupu itu merencanakannya., tidak ada seorangpun yang tahu.