13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia Pulau Seribu Bisa.


__ADS_3

Sebuah pondokan kayu besar yang berada di tengah hutan itu terlihat baru saja dibangun beberapa hari lalu karena bilah- bilah papan kayu yang menjadi dinding serta tiangnya masih nampak bagus bahkan jika dicium dari dekat akan terasa wangi. mungkin pembuat bangunan kayu ini telah melumurinya dengan sejenis wewangian, pertanda pemiliknya adalah seorang wanita.


Di depan bangunan kayu yang luasnya empat kali lima tombak itu terlihat empat orang perempuan berbaju dan bercadar kain hitam penutup separuh wajah. jika diperhatikan di sudut kiri cadar itu tersulam lambang bulan sabit berwarna keperakan. pada bagian pinggang mereka juga terselip sebilah pedang pendek dan tipis yang bentuknya agak melengkung seperti sabit.


Dari cirinya bisa dipastikan kalau mereka adalah anggota persekutuan 'Bulan Perak'. setelah mereka berempat sekali lagi berjalan keliling untuk memeriksa keamanan daerah sekitar itu, salah satu diantara mereka yang sepertinya menjadi pimpinan memberi isyarat pada seorang rekannya untuk masuk ke dalam bangunan kayu.


Rekannya yang bentuk punggungnya sedikit membungkuk itupun bergegas masuk setelah sebelumnya mengambil seperangkat pakaian hitam dan beberapa helai kain tebal dari dalam buntalan yang dia gendong di belakang pundaknya. setelah lebih dulu mengetuk pintu rumah kayu itu dan mendapat sautan ijin dari dalam perempuan itupun masuk.


Ternyata di dalam bangunan yang cukup luas itu hanya tersedia satu kamar tidur yang berada di pojok ruangan sebelah kanan. tepat di samping kamar tidur itu terdapat sebuah meja makan berukiran indah dengan empat buah kursi kayu. di atas meja itu sudah tersaji berbagai makanan dan minuman yang sebagian sudah disantap.


Yang mengejutkan di bagian tengah ruangan itu terdapat sebuah kolam tempat mandi yang di buat dari susunan batu kali dan bata merah. meskipun ukurannya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung hingga lima atau enam orang sekaligus. bermacam bunga dan rempah yang mengapung di sana membuat kolam itu menebarkan aroma harum.


Dari dalam kolam pemandian itu terdengar suara tawa tiga orang perempuan cantik. seorang diantaranya terpekik kegelian saat dua orang lainnya menggelitik tubuhnya yang telanjang. setelah puas bercanda mereka bertiga sama duduk bersandar di dinding kolam itu sambil sesekali membasuh tubuh mereka dengan air bunga memakai gayung kayu. tinggi air kolam yang tidak begitu dalam membuat buah dada ketiga wanita jelita itu kadang tersembul keluar dari permukaan air.


Wanita yang terhitung paling cantik dan berada di tengah terlihat mengatur rambut hitamnya yang sangat lebat dan panjang sepinggul dengan kedua tangannya yang putih ramping namun kokoh berhias bulu- bulu lembut. kedua rekannya yang duduk di kiri- kanannya sama mengernyit risih melihat kedua ketiak wanita itu hampir penuh dengan bulu- bulu hitam lebat hingga nampak cukup mencolok jika di bandingkan dengan kulitnya yang putih.


''Cuih Roro., apa kau tidak merasa malu punya bulu lebat seperti itu. aku yang melihatnya saja merasa geli. Iiih., risih tau..'' perempuan yang kecantikan wajahnya hampir seimbang dengan wanita bernama Roro itu mengomel kesal. ''Benar apa yang dibilang sobat Puji Seruni. kita sebagai wanita mesti rajin untuk merawat diri. terutama kebersihan tubuh..'' sambung wanita cantik satunya yang duduk di sebelah kanan sambil menggosok bahunya yang samar terdapat bekas luka dengan kain lembut.


''Hallaahh., kalau kalian tidak suka, yah jangan melihatnya. lagi pula itu belum seberapa. kalau mau tahu bulu tubuhku yang lebih lebat lagi nih., lihatlah sepuas kalian.!'' ujar wanita cantik yang memang Roro Wulandari itu lalu berdiri bertolak pinggang sambil membalikkan tubuhnya hingga bagian selakangannya terlihat jelas.


Kedua perempuan jelita yang pastinya Puji Seruni dan 'Panglima Istana Tengah' sama terpekik melengoskan kepalanya sembari mengumpat jijik. sebaliknya Roro malah tertawa. sekali berkelebat dia sudah berada di luar kolam. dengan santainya wanita cantik yang terkenal sombong dan punya seribu akal muslihat itu berjalan menghampiri anak buahnya yang berdiri di tepi kolam sambil membawa seperangkat pakaian hitam.

__ADS_1


Sebelum mengeringkan tubuhnya dengan kain tebal namun lembut dia masih sempat ngemil segenggam kacang rebus yang tersaji diatas meja. dengan percikan minyak wangi, si cantik ini mengolesi tubuhnya yang indah. sisa minyak wangi dalam guci kecil itu dilemparkan ke Puji Seruni yang baru mentas dari kolam. ''Coba kau pakai, isinya masih banyak. itu minyak wangi mahal lho..'' ucap Roro sambil mulai mengenakan pakaiannya.


''Jubah gaun hitam dan pakaian dalam baru ini sangat nyaman. pasti dibuat dari bahan yang bagus dan mahal. aku merasa puas. nanti kuberikan hadiah untukmu..'' puji Roro pada anak buahnya yang tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih. ''Kau buang saja pakaian lamaku. selain sudah robek- robek juga rada bau asem kena keringatku. sekarang keluar dan panggil pimpinananmu kemari..''


Tanpa sadar anak buahnya mengendus baju dalam Roro yang diambilnya dari lantai. ''Iih., baru kutahu, meskipun sangat cantik, anggun dan selalu wangi tapi kalau sudah sering berkeringat tetap saja tubuh ketua bisa bau asem..'' pikirnya dalam hati. setelah menjura hormat diapun keluar.


Tidak lama kemudian datang pimpinan para penjaga yang ada diluar. dari perawakannya orang ini sedikit lebih tua dibandingkan tiga kawannya yang lain, mungkin sudah lewat tiga puluh tahunan. ''Salam hormat ketua Nyi Dewi Malam Beracun..'' ucapnya menghormat. ''Langsung saja katakan padaku sekarang berita terakhir yang kau dapat.!'' potong Roro kibaskan tangannya.


''Baik ketua., anggota yang kita sebar untuk mencari tahu keberadaan dua orang tokoh silat kawakan si 'Maling Nyawa' dan 'Malaikat Copet' sudah kembali. mereka bukan saja dapat menemukan jejak mereka tapi juga si 'Putri Penjerat' dan seorang pemuda dalam sebuah goa tidak terlalu jauh dari lembah sunyi tempat pertarungan besar beberapa waktu lalu..''


''Sempat terjadi kesalah pahaman diantara orang kita dan Putri Penjerat atau si 'Laba- Laba Kuning' itu, tapi syukurlah dia akhirnya dapat percaya kalau mereka yang datang adalah orangnya Dewi Malam Beracun dan hendak mencari kabar keberadaan dari semua rekannya..''


''Singkatnya terjadi sebuah kesepakatan untuk bertemu dengan ketua dan orang- orang Istana Angsa Emas. sepertinya Putri Penjerat ini sangat percaya dengan ketua sampai mengatakan kalau dia akan mengikuti apapun yang ketua putuskan..'' terang anak buah Roro Wulandari yang jadi pimpinan tiga rekannya.


''Dia juga menitipkan sesuatu untuk diberikan pada ketua..'' sambil bicara dia mengambil sebuah tabung bambu kecil yang lapat- lapat menebarkan bau wangi tajam. Roro tersentak saat mencium aroma yang sangat dikenalnya itu. dengan cepat tangannya merebut tabung bambu itu dari tangan bawahannya.


''Aah bodohnya diriku., hingga hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting. untung saja kakek Maling Nyawa sempat memikirkan masalah ini..'' pikirnya memaki dirinya sendiri yang hampir lalai dan ceroboh. matanya tertuju pada sebaris tulisan kecil yang terukir diluar tabung bambu itu.


''Hanya ini saja yang dapat kuambil dari goa rahasia saat aku diam- diam menyusup ke pulau 'Seribu Bisa'. sudah beberapa kali aku mencari tahu rahasia cairan ini tapi selalu saja gagal. mungkin dirimu yang pernah menjadi murid 'Nenek Tabib Selaksa Racun' dapat menyelidiki bahan apa saja yang terkandung dalam cairan itu..''


Meskipun tidak tertulis siapa yang menulis pesan itu tapi jelas kalau si Maling Nyawa orangnya. ''Sebenarnya apa isi tabung bambu itu Roro.?'' tanya Puji Seruni yang baru saja selesai berpakaian. ''Sepertinya isi tabung bambu itu sangat penting..'' gumam Panglima Istana Tengah turut penasaran.

__ADS_1


Roro termenung sesaat sebelum menjawab. ''Isi dari tabung bambu ini memang sangat penting karena merupakan salah satu kunci utama bagi kita untuk dapat masuk ke dalam pulau Seribu Bisa. kalian tahu kenapa markas rahasia 'Kelompok 13 Pembunuh' itu disebut sebagai pulau Seribu Bisa.?'' kecuali Puji Seruni yang sudah pernah mendengar cerita dari Roro, Panglima Istana Tengah dan anak buahnya saling pandang tidak mengerti.


''Pulau itu adalah sebuah pulau karang yang letaknya berada sangat jauh di laut selatan. pulau itu penuh dengan ribuan jenis binatang dan tumbuhan beracun yang setiap tetes racunnya sanggup membunuh seekor kerbau atau bahkan gajah hanya dalam waktu beberapa kejapan mata. selain itu., kabarnya ketua 13 Pembunuh sudah membuat suatu perjanjian dengan mahkluk siluman yang jadi penguasa pulau itu dan tinggal di dalam laut..''


''Untuk dapat hidup disana tanpa gangguan ribuan binatang beracun, kami seluruh anggota 13 Pembunuh dan anak buahnya diberikan sejenis minyak oles yang punya ketahanan sampai beberapa bulan lamanya. bau minyak itu adalah penangkal dari segala binatang dan tumbuhan beracun. mereka tidak menyukai aroma minyak ini. bahkan dapat mati jika nekat menggigit tubuh kami..''


''Sayangnya hanya ketua dan Kamajaya saja yang tahu bahan- bahan pembuat minyak ini. singkatnya, kita tidak mungkin dapat masuk kesana tanpa celaka jika tidak memilikinya. sialan., waktunya terlalu singkat. aku mulai khawatir Satriyana dan Respati tidak dapat bertahan..'' geram Roro gusar mondar- mandir gelisah. jari telunjuknya menyentuh ujung hidungnya yang mancung. kilatan cahaya tajam mendadak muncul dimatanya pertanda dia sudah membuat keputusan.


''Kau bagi isi tabung ini menjadi dua, separuh berikan padaku. sisanya cepat antarkan pada Nyi Rumilah, pemilik pondok pengobatan 'Mata Hati' yang berada di daerah Jepara. katakan padanya, walau bagaimanapun juga secepatnya dia mesti dapat memecahkan apa saja bahan yang terkandung dalam tabung bambu ini sekaligus membuatnya sebanyak mungkin..''


''Kerahkan lima orang, Aah tidak., sepuluh orang kawanmu untuk membantunya membuat cairan ini. bilang pada Nyi Rumilah kalau hidup mati adik seguru juga semua rekannya tergantung pada hasil usahanya.!'' perintah Roro tegas. anak buahnya segera menyahut setelah menjura hormat diapun berkelebat keluar laksanakan perintah ketuanya.


''Sobatku Indahsari., hubungi semua orangmu secepatnya. aku mesti terangkan pada mereka keadaan pulau Seribu Bisa dan cara untuk bisa pergi kesana. kurasa Sabarewang dan kawan- kawanku yang lainnya juga sudah bersiap dan menunggu keputusan berangkat..'' kata Roro menyebut nama asli Panglima Istana Tengah.


Suasana berubah menjadi tegang. ''Sobatku Puji Seruni, mungkin di pulau itu nantinya kau dapat bertemu dengan pemuda tambatan hatimu dan menyelesaikan semua ganjalan masalah diantara kalian berdua..''bisik Roro pada murid Nyi Pariseta itu yang hanya bisa menghela nafas berat seakan ada beban dan kebingungan dalam hatinya.


Roro yang tahu masalah sahabatnya cepat mengalihkan pembicaraan. ''Dari keterangan anak buahku., banyak tokoh- tokoh persilatan dari berbagai aliran yang juga berniat pergi ke sana untuk mencari peruntungan. Hik., hi., apa mereka pikir pulau Seribu Bisa itu sejenis tempat wisata. dasar tolol., kurasa mereka hanyalah sekumpulan manusia dungu yang sudah bosan hidup.!'' maki Roro tertawa sinis.


*****


Mohon maaf., novel 13 Pembunuh tidak dapat update selama seminggu karena Authornya sedang sibuk pekerjaan. Terima Kasih 🙏.

__ADS_1


Jangan lupa untuk menuliskan komentar Anda yah., 😊👌.


__ADS_2