
Delapan orang yang terdiri dari lima lelaki dan tiga wanita perempuan cantik itu sedang berkumpul di sebuah ruangan batu. beberapa macam makanan rebus dan bakar yang tersaji di depan mereka tinggal tersisa separuh. gadis manis enam belas tahunan berkulit agak sawo dan gayanya seperti lelaki itu yang justru makannya paling banyak.
''Bagaimanapun juga putri Satriyana adalah pewaris Istana Angsa Emaa, jadi seharusnya engkau lebih dapat mengurangi sedikit nafsu makanmu yang agak berlebihan..'' Birunaka memberi nasihat. gadis itu mendelik marah. ''Hei Birunaka., apa maksudmu bicara begitu. atau kau pikir diriku ini gadis rakus.?''
''Dengar., kita mesti menghargai makanan. selagi kita lapar dan ada makanan terhidang di depan kita, yah makan saja. itu juga sebagai penghargaan pada kakang Sabarewang dan Jurata yang telah susah payah memasaknya. paham.!'' semprot Satriyana sewot tanpa perduli mulutnya masih penuh kunyahan ubi bakar hingga dia batuk dan tersedak. segera dia meraih kendi berisi air minum.
''Masalahnya meskipun bertubuh kecil, tapi kau hampir selalu menghabiskan jatah makan untuk dua orang. mungkin Birunaka khawatir nanti tubuhmu berubah gembrot seperti karung beras. jika ada yang dengar tuan putri Istana Angsa Emas bertubuh seperti gentong, kau bakalan jadi bahan tertawaan orang..'' ejek Respati. semua orang seketika tersenyum geli sementara Satriyana cuma bisa melotot kesal.
''Apa yang membuatmu berpikir kalau tempat ini tidak lagi aman untuk kita tinggali.?'' tanya Ki Ageng Bronto sambil mengusap kumis tebalnya. kecuali Respati yang lainnya sama ingin tahu jawabannya. ''Aku meminta maaf pada kalian semua karena., tanpa sengaja aku sudah melupakan sesuatu yang penting..''
Semua orang menatap Dewi Malam Beracun. ''Tidak biasanya kau mau meminta maaf pada orang lain, memangnya apa yang sudah kau lakukan di luar sana.?'' tanya Putri Penjerat. ''Ehmm., sebenarnya tidak ada yang salah dalam rencanaku tapi seharusnya aku tidak membiarkan mayat si bajingan Kamajaya begitu saja. kalau anak buah kelompok 13 Pembunuh yang tersebar di delapan penjuru sampai menemukannya, itu bisa menjadi awal suatu kecurigaan..'' jawab Roro Wulandari menyesali kelalaiannya.
''Tapi belum tentu juga mereka menemukan mayat lelaki keparat itu. malah dengan racun yang menyerang tubuhnya bisa jadi sekarang dia sudah tidak dapat lagi di kenali orang..'' Satriyana memberi pendapat. Jurata, Birunaka dan Sabarewang kelihatan sependapat, tapi tiga orang bekas anggota 13 Pembunuh yang lainnya hanya diam dan agak gelisah.
''Tidak semudah yang kau pikirkan adikku., sebenarnya sejak kami pertama kali masuk menjadi anggota 13 Pembunuh, dalam tubuh kami sudah di masuki sebuah ramuan obat yang memungkinkan bentuk utama tubuh tidak berubah sekalipun kami sudah mati dan membusuk. mayat kami tidak akan mudah hancur karena pembusukan dan akan mengeluarkan semacam bau tertentu yang hanya dapat di kenali para atasan..'' jelas Roro.
__ADS_1
''Ini juga semacam pencegahan bagi anggota yang berkhianat dan berniat menghilangkan jejak. karena percuma saja membuat kematian palsu jika mayatnya dapat di kenali. kalau saja begitu mudah, tentu aku sudah membuat jejak mayat palsu untuk membuat diriku seakan telah mati terbunuh. karenanya aku terpaksa menyamar menjadi Ki Ageng Bronto dan jadi juragan kuda kaya di Wonokerto..'' sambung Ki Ageng Bronto alias 'Pendekar Golok Bayangan Setan'.
Satriyana dan tiga kawannya tertegun. mereka baru sadar betapa menakutkan aturan dalam kelompok 13 Pembunuh itu, sampai keadaan mayat anggotapun juga di perhitungkan asli tidaknya. manusia yang mampu berpikiran sedemikian jauh tentunya bukanlah tokoh sembarangan.
''Si nomor satu sudah memperhitungkan semua yang mungkin terjadi. dia selalu saja menyiapkan jalan mundur dalam setiap gerakannya. Jurata., sekarang katakan berita apa saja yang telah kau ketahui di luaran sana.?'' lelaki dari tanah pasundan itu kumpulkan ingatannya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun,
''Tidak begitu banyak berita yang bisa aku dapatkan. namun sempat kulihat beberapa orang persilatan dan pihak kerajaan mendatangi tempat bekas ledakan di rumah Ki Ageng Bronto. yang mengherankan tidak ada satupun mayat anggota 13 Pembunuh berada di sana..''
''Berita lainnya tanpa sengaja kudengar dari dua orang yang mungkin adalah anggota dari istana Angsa Emas. sesuai dengan perintah yang sudah kau atur, waktu itu aku berpura- pura menjadi penjual minuman tuak legen yang mendirikan tenda kecil di dekat jalan menuju rumah kakang Bronto. kedua orang ini kebetulan beristirahat minum di kedaiku pada malam ke tiga sejak awal aku berjualan..''
''Biarpun mereka sengaja menutupi seragam kuning hitamnya, tapi dari pembicaraannya jelas kalau mereka orang dari Angsa Emas. saat itulah kudengar kalau dalam istana Angsa Emas dulunya terdapat empat tuan sesepuh istana, masing- masing adalah 'Tuan Sesepuh Istana Barat, Timur, Utara dan Tuan Sesepuh Istana Selatan'. bisa jadi salah satu dari mereka adalah sang ketua 13 Pembunuh..'' tutur Jurata sambil minum air kendi.
Jika yang lainnya terlihat terkejut, empat bekas pembunuh bayaran itu malah sudah menduga sejak awal. jubah kuning bersulaman seekor angsa emas bisa menjadi buktinya. tapi siapa jati diri orang ini sebenarnya, tidak satupun yang tahu. namun berita soal ada 'Empat Tuan Sesepuh Istana Angsa Emas' baru kali ini mereka mendengarnya.
''Mayat para anggota 13 Pembunuh yang menghilang pasti sudah di singkirkan untuk menghilangkan jejak, hingga kita dan lawan- lawan mereka kesulitan untuk mencari tahu siapa saja anggota yang tewas. tunggu., dua orang anggota mata- mata istana Angsa Emas yang mampir di kedai tuakmu itu bagaimana bisa dengan mudah membuka mulutnya, apa kau tidak curiga kalau itu cuma jebakan saja.?''
__ADS_1
''Hee., he., Nyi Dewi rupanya lupa dengan barang yang kau berikan sendiri padaku. asap dupa pengharum itu benar- benar luar biasa. awalnya mereka sempat bertanya kenapa aku membakar pedupaan. kubilang saja selain untuk mengusir nyamuk dan serangga malam, juga menghilangkan bau busuk mayat hangus yang masih tercium dari bekas ledakan..''
Dewi Malam Beracun tepuk bahu Jurata, ''Kau memang bisa diandalkan kakang Jurata. aku sebenarnya tidak yakin dengan kekuatan dari asap 'Dupa Sukma Wangi Pelemah Pikiran' pemberian Nyi Sapta Kenanga. minuman tuak legen yang kau jual itu pasti juga telah kau beri bubuk dupa itu hingga tanpa sadar mereka menjadi mabuk dan mengatakan semua yang kau tanyakan. Hii., hi., hi. tidak percuma diriku punya anak buah sepertimu.!'' Roro Wulandari tertawa bangga, sedangkan Jurata cuma bisa nyengir.
Rupanya kotak kayu titipan Nyi Sapta Kenanga alias si 'Tujuh Bunga Terbang' yang diberikan anggota 'Persekutuan Bulan Perak' di tepian sungai tempo hari itu berisikan bubuk dupa pemabuk kelas atas yang mampu membuat pikiran dan jiwa seseorang menjadi lemah dan lebih gampang untuk di pengaruhi.
"Jurata bilang kalau pihak istana Angsa Emas sedang mencari kita, sebenarnya apa yang mereka inginkan. ataukah mereka ingin agar kita menyerahkan Satriyana.?'' tanya Respati. gadis muda itu mencibir, ''Apapun yang mereka bilang aku tidak akan pergi dengan mereka. kalian inilah sahabat dan keluargaku.!''
''Kau tidak perlu cemas begitu, walaupun aku belum yakin tapi kurasa tidak lama lagi orang istana Angsa Emas akan meminta kita untuk bersekutu..'' kata Roro sinis bertolak pinggang. ''Maksudmu kita akan bergabung dengan mereka.?'' tanya Putri Penjerat sangsi. ''Chuih., soal itu kita lihat saja nanti, bila ada dua pihak hendak bekerja sama, tentu mesti melihat dulu untung ruginya. mereka yang ingin bekerja sama, maka kita yang mesti membuat aturannya..'' jelas Dewi Malam Beracun. semuanya mengangguk
''Perutku sudah kenyang, hari juga sudah mulai malam. kukira pertemuan kita cukup sampai di sini saja. kalian bisa beristirahat..'' Roro bangkit berdiri dan melepas jubah hitamnya. kini dia hanya memakai baju dalam kutang hitam. ''Aku masih belum mengantuk lagi pula sisa makanan di sini masih banyak, sayang sekali kalau tidak dihabiskan..'' ujar Satriyana mencomot sepotong ubi bakar di ikuti oleh yang lainnya.
''Terserah kalian saja., aku mau mandi air bunga wangi dulu sebelum tidur. dua hari terakhir kelayapan diluaran sana, diriku belum sempat membersihkan diri. Uuuhh., tubuhku yang indah ini sampai bau asem begini..'' keluh Roro seraya menciumi kedua ketiaknya yang putih tapi belum sempat dia bersihkan bulu- bulu hitamnya itu. melihat tingkah wanita ini, selera makan semua orang langsung menjadi hilang.
*****
__ADS_1
Silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍vote juga favorit👌. Terimakasih 👏bagi para reader yg sudah sudi membuang waktunya untuk mengikuti novel ini dengan segala kekurangannya dan membantu Share novel 13 Pbh dan PTK, maaf jika ada tulisan yg kurang/tidak berkenan. (jorok)., 🙏😓