13 Pembunuh

13 Pembunuh
Titik balik kehidupan si cantik


__ADS_3

Kereta kuda itu entah sudah berapa lama berjalan, ditengah malam buta gerombolan Jalak Gandos terus saja bergerak tanpa henti menyusuri jalanan. tangan kakinya terikat, mulut tersumpal, dan kedua matanya ditutup selembar kain, tapi dia punya kecerdikan. waktu para begundal itu menutup matanya dia sengaja mendongak, dengan demikian ada sedikit celah baginya untuk sekedar mengintip keadaan didalam kereta.


Bersamanya terdapat sepuluh wanita yang juga terikat tak berdaya sepertinya, mereka terlihat panik dan menangis ketakutan. beberapa diantaranya adalah teman- teman sekampungnya di desa Pendamaran. dia tidak tahu mereka hendak dibawa kemana, hanya gadis itu sempat mendengar kalau pemimpin gerombolan begal rampok itu telah membuat suatu perjanjian dengan seorang pedagang emas yang kaya- raya, dan perjanjian itu berkaitan dengannya.


Meskipun merasa takut tapi gadis ini tetap berusaha tenang, dia sadar rasa ketakutan dan panik hanya akan membuat keadaan bertambah buruk, sebaliknya dengan ketenangan dia baru bisa berpikir jernih untuk mencari peluang kabur. tapi., bisakah dia melakukannya.?'


Seandainya ada Respati disampingnya, dia pasti tinggal menyuruhnya seperti ini.,


'Hei cepat pikirkan cara untuk kabur dari sini.,!'


'Aduuh., kau ini lambat sekali berpikirnya, otakmu isinya apa sih., ayoh cepat keluarkan aku sekarang juga,!'


'Kereta ini sempit dan pengap., aku sudah tidak tahan lagi, cepat selamatkan aku,!'


Dan masih banyak kata yang bisa terucap dari bibirnya kepada pemuda itu.


Seperti biasa, pastinya pemuda itu akan selalu punya seribu satu cara untuk membantunya, meskipun diluar mulutnya selalu menggerutu dan ngomel akan sikapnya yang selalu suka memerintah orang seenaknya, tapi gadis itu tahu betul kalau pemuda itulah yang selalu menjaganya selama ini. teringat keadaan sepupu jauhnya, gadis yang bukan lain Roro Wulandari itu jadi menangis tersedu, 'Respati., dimana kau, bagaimana keadaanmu., cepatlah datang menolongku, aku takut sekali.!'


'Aku janji., setelah ini akan selalu menuruti semua katamu, juga tidak akan menyuruhmu semauku lagi, 'Aku., aku., akan jadi gadis yang baik.,!' bisik Roro dalam hati.


Teringat akan hubungannya dengan Respati, gadis itu menjadi sedikit terhibur. meskipun diantara mereka berdua tidak pernah terucap kata saling menyukai, bahkan seringkali bertengkar karena masalah sepele, tapi dari tatapan mata dan sikapnya Roro paham perasaan dihati sipemuda, begitu pula sebaliknya Roro juga yakin kalau pemuda itu mengerti isi hatinya. mungkin benar kata orang mata adalah jendela hati manusia.

__ADS_1


'Tapi kenapa Respati tidak pernah mau mengungkapkan perasaan itu padanya.? 'Apakah karena mereka masih ada hubungan kerabat., Aah., rasanya itu tidak masuk akal, toh hubungan sepupu itu sudah sangat jauh, 'Ataukah., karena dia minder dengan keadaan keluarganya, hidup dia dan Ibunya yang menumpang dirumah keluarga Roro yang kaya raya dan terpandang.? Itu lebih tidak mungkin lagi., Meskipun Ayah Ibunya seorang yang terhormat, tapi tidak pernah memandang harta sebagai ukuran untuk menilai derajat manusia. saat menolong penduduk desa keluarganya juga tIdak pernah mengharapkan imbalan atau pamrih apapun. bahkan seringkali saat para penduduk tidak dapat mengembalikan uang pinjaman, ayahnya juga tidak pernah bersikeras untuk menagihnya.


Seperti saat Ayahnya menolak lamaran anak saudagar emas beberapa tahun lalu., kalau memang harta kekayaan jadi ukuran pasti Ayah Ibunya akan sangat senang berbesan dengan saudagar emas yang punya kekayaan berlimpah.


Teringat saudagar emas itu dia jadi terbayang kembali kejadian mengerikan yang dialaminya saat pemuda putra saudagar itu menculiknya, lalu dia dan beberapa kawannya mati dibakar dalam gubuk oleh Respati saat hendak melakukan perbuatan terkutuk padanya.


Mendadak dalam benaknya tersambung sebuah pemikiran., 'Juragan emas.? 'Apakah orang itu yang telah membuat kesepakatan dengan Jalak Gandos dan menginginkannya, tapi kenapa., jangan- jangan.,?'


Roro Wulandari tidak berani berpikir lebih jauh lagi, tubuhnya menggigil ketakutan seolah membayangkan sesuatu yang sangat buruk sedang menantinya.!


Menjelang pagi kereta kuda itu berhenti, tiga orang anggota gerombolan Jalak Gandos menyeret para wanita itu keluar dari kereta. meski masih terikat tangan dan tersumpal mulut tapi penutup mata mereka sudah dilepaskan. mereka dikumpulkan dibawah sebatang pohon besar dengan ancaman senjata tajam. dibawah keremangan cahaya api obor yang dibawa kawanan begal Roro bisa melihat apa yang terjadi dihadapannya.


Beberapa gadis meronta dan berusaha kabur, tetapi semuanya sia- sia. akhirnya tinggal dia dan seorang gadis kurus berkulit pucat yang masih tertinggal, sepertinya gadis ini sedang sakit dan ketakutan. Roro berusaha mendekat, tangannya yang masih terikat menggenggam lembut tangan gadis itu seolah berusaha memberi kekuatan dan mengatakan bahwa dia tidak sendirian disana.


Tidak lama kemudian muncul sebuah kereta kuda yang terlihat mentereng, beberapa orang pengawal berkuda mengiringi kereta itu. Jalak Gandos dan Gempal Codet menyambut kedatangan kereta kuda mewah itu, seorang pengawal membuka pintu kereta kuda, dari dalam muncul seorang lelaki setengah umur bertubuh tambun, berkumis pajang dan berpakaian jubah berwarna keemasan, hampir semua jarinya yang besar memakai cincin emas bermata berlian yang harganya pasti sangat mahal. dikepalanya orang ini memakai semacam sorban kuning berhias untaian emas.


Meskipun sudah menduganya tapi Roro Wulandari tetap merasa cemas dan takut dengan kedatangan saudagar emas yang pernah menginginkan dia untuk menjadi menantunya. ternyata orang itu tidak sendirian di dalam keretanya, ada dua orang lagi yang turun belakangan dari kereta kuda. seorang perempuan setengah umur yang masih kelihatan cantik tapi sombong. dia berdandan menor, dengan memakai baju panjang sutra merah yang mahal, hampir seluruh bagian tubuhnya dipasangi perhiasan emas dan permata. sayangnya wajah perempuan ini seakan menyimpan kemarahan dan dendam. dia adalah istri juragan emas itu.


Yang satu lagi adalah seorang pemuda tinggi besar dan gemuk, Roro melotot tak percaya kala melihat orang itu bukan lain adalah salah satu dari pemuda didesanya yang bernama Gumoro, anak dari Ki Kebo Riwut yang menjabat jogoboyo kepala keamanan di desa Pendamaran. mau apa dia disini, apakah dia tidak tahu tentang apa yang terjadi didesanya,? sebuah ingatan buruk yang melintas dikepala membuatnya semakin merasa ngeri.


'Jadi bocah ini yang telah membuat anakku semata wayang tergila- gila,?" gumam perempuan berbaju merah itu sambil maju mendekat, setelah puas mengamati Roro istri juragan emas itu lalu melayangkan tamparan pulang balik ke wajah Gadis itu hingga membuat pipinya memar memerah dan bibir pecah berdarah.

__ADS_1


Gumoro terkejut melihatnya, dengan cepat dia berusaha menahan kemarahan perempuan itu, 'Nyai juragan., aku harap bisa kau menahan dulu kemarahanmu.!'


Wanita itu mendelik dan membentak, 'Menahan kemarahanku katamu.,? 'Bagaimana aku bisa menahannya dihadapan gadis jahanam yang telah menjadi pnyebab kematian Brajawana anakku?'


'Aku mengerti perasaanmu., tapi kuharap kau ingat dengan perjanjian kita,!' ujar pemuda itu pelan.


'Perjan., perjanjian.,? perjanjian apa yang kau maksudkan Gumoro., 'Ken., kenapa kau bisa berada bersama mereka ini, apakah kau tidak tahu dengan apa yang telah terjadi di desa kita,? tanya Roro Wulandari terbata, dia berusaha berontak tapi dua orang pengawal menahan tubuhnya. 'Jawab aku Gumoro.,!' bentak gadis itu saat melihat anak kepala jogoboyo itu hanya diam membisu.


Satu gamparan kembali menerpa pipi kirinya, kali ini nyaris saja istri juragan emas itu kalap, dengan mencabut golok di pinggang salah satu pengawalnya dia bermaksud untuk membunuh Roro dengan tangannya sendiri.! untungnya suaminya cepat menahannya. 'Tenangkan dirimu istriku.,!'


'Tapi dia adalah penyebab kematian anak kita satu- satunya, katakan bagaimana aku bisa tenang melihatnya.,?'


Juragan emas itu memerah wajahnya, 'Aku juga ingin membunuhnya Nyai., tapi kalau cuma mati begitu saja, itu terlalu enak baginya, dia harus merasakan penderitaan dan hinaan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.!'


'Dan kau gadis laknat anak Sindu Wijoyo., akan kujawab pertanyaanmu pada Gumoro tadi, dari ceritanyalah aku mengetahui penyebab kematian anakku.!'


'Soal perjanjian itu., sebagai imbalannya aku bersedia memberikan dirimu padanya, karena dia bilang sudah berkali- kali mengatakan cinta dan ingin memperistrimu tapi kau selalu menolaknya.! 'Dengar gadis sombong., hukum karma akan berlaku padamu, mulai sekarang hidupmu akan penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya., Haa., ha, ha.,!' juragan emas itu tertawa bergelak sambil memberikan dua kantung penuh uang emas kepada Jalak Gandos.


Kepala gerombolan rampok itu terkekeh menerimanya, dua kantong uang emas itu diberikan pada wakilnya si Gempal Codet, 'Aku senang berdagang denganmu juragan., sebagai tanda pertemanan, biar kuberikan gadis yang satunya lagi padamu,!' ujar Jalak Gandos, lalu bersama seluruh anak buahnya mereka bergerak tinggalkan tempat itu.


Gumoro menatap Roro dengan pandangan licik. gadis itu menangis meratapi nasibnya yang malang, di depannya seakan sudah terbayang jalan kehidupan seperti di neraka.!

__ADS_1


__ADS_2