
Padukuhan Punggingan adalah suatu perkampungan yang cukup ramai, mungkin dikarenakan tempat ini adalah wilayah perbatasan sebelah timur Kadipaten Wonokerto, membuat orang yang hendak keluar masuk Wonokerto sering singgah ke sana untuk beristirahat atau membeli perbekalan.
Pagi hari sudah lewat separuh, saat kereta kuda yang ditumpangi Respati dan Dewi Malam Beracun memasuki Punggingan. didepan sebuah warung makan yang cukup besar Sabarewang menghentikan keretanya. meski besar tapi warung itu tidak begitu ramai pengunjungnya, hanya ada beberapa orang saja disana.
Kedatangan ketiganya membuat semua orang disana tertegun, terutama saat melihat Dewi Malam Beracun yang cantik dan anggun bersama bayi dalam gendongannya, dengan santai sembari menebar senyuman wanita ini meminta ini dan itu pada pemilik warung dan pelayannya, yang pasti dia minta dihidangkan makanan untuk mereka bertiga serta tempat khusus untuk membersihkan diri dan bayinya. tak tanggung -tanggung dia langsung membayar dimuka dengan sepuluh keping uang perak, jumlah yang lebih dari cukup untuk membayar semua pesanannya. gayanya seperti seorang nyonya besar dari kalangan atas.
''Aku mau mandi dulu bersama Anggana, setelah itu gantian kalian berdua, aku tidak suka seperjalanan dengan para lelaki yang belum mandi.!'' ujar perempuan itu.
''Anggana itu siapa?'' tanya Respati bingung.
''Itu adalah nama bayi ini, Anggana., anak istana angsa., Bagus bukan nama pilihanku?''
katanya sambil masuk kedalam.
Respati cuma menghela nafas. ''Perempuan kalau sudah ada maunya dia sulit ditahan.''
''Dia bilang benci dengan lelaki yang dekil belum mandi, tapi sejak berangkat kemarin pagi di dalam kereta Nyi Dewi terus saja berdekatan denganmu,!'' bisik Sabarewang. ''Jangan kira aku tidak mendengar apa yang sudah kalian bicarakan, termasuk soal Istana Angsa Emas, he he..''
Mata si pemuda melirik tajam orang itu.
''Dinding kereta kuda tidak setebal benteng keraton, tapi yang paling menarik buatku bukan soal Istana Angsa Emas, tapi kejadian saat Dewi Malam Beracun merayumu.,'' ''Kenapa kau bisa begitu bodoh menolaknya?'' tanya Sabarewang penasaran.
''Karena aku masih ingin hidup., kau tidak tahu wanita seperti apa dia sebenarnya,. semakin dia bersikap manis semakin dia berbahaya.!''
''Katakan berapa banyak dia membayarmu jadi kusir ?'' tanya si pemuda tajam. Sabarewang terdiam sesaat, ''Cukup banyak.'' ''Kupikir dari pada nganggur lebih baik aku ikut kalian saja, dia juga memberiku obat penghilang rasa sakit dan membetulkan persendianku, tanganku sudah mampu menggenggam, menekuk siku, tapi aku sudah tidak mampu mengangkat lengan, sendi bahuku sudah patah.''
Keduanya ngobrol sambil habiskan makanan dimeja, terakhir Sabarewang mengambil sepotong paha ayam dan minum air kendi. bersamaan Dewi Malam Beracun sudah selesai mandi bersama bayi yang dinamainya Anggana, wajahnya terlihat segar berseri.
''Sekarang giliran kalian., 'Gila., semua makanan yang kupesan sudah kaliyan habiskan, hanya tersisa sepotong ubi dan jagung rebus untukku.!'' Wanita itu langsung mengomel melihat semua yang ada dimeja, tapi Respati dan Sabarewang sudah keburu masuk ke ruang dalam warung makan. terpaksa wanita cantik ini memesan makanan lagi.
Sambil menunggu pesanannya datang, Dewi Malam Beracun mencoba berpikir tentang hubungan si nomor sembilan alias Ki Ageng Bronto dengan Istana Angsa Emas. Dia seakan baru menyadari bahwa diantara 13 Pembunuh, orang inilah yang paling pendiam, penyendiri, dan misterius, Respati si nomor tiga belas juga demikian sifatnya, tapi dia sudah mengenalnya sejak lama, jauh sebelum mereka masuk Perkumpulan 13 Pembunuh.
Selagi dia merenung, tiga orang laki-laki berpakaian hitam dan berikat kepala kulit harimau terlihat memasuki warung dan langsung memesan makanan, lagak mereka jumawa. ''Cepat hidangkan makanan terenak di warung ini, juga arak yang paling bagus,!''
''Kalau kami puas, kuberi uang tambahan yang lumayan.''
''Baik tuan., segera kami siapkan pesananmu.'' kata pemilik warung, segera dia dan dua pelayannya sibuk di dapur, arak keras lebih dulu terhidang di meja ketiganya.
__ADS_1
''Rejeki kita memang datang tanpa diduga, tanpa kerja keras kita bisa mendapatkan kepala salah satu dari 13 Pembunuh,!'' ujar salah satu diantaranya sambil meneguk arak di gelas bambu.
''Kau benar, untung saja kita bertiga lewat jalan sepi itu, tapi aku penasaran siapa orang yang mampu membunuh Gada Rahwana yang terkenal kebal dan bertenaga besar?''
tanya orang yang berkumis tipis.
''Apa kalian ingat, disana juga ada belasan mayat kelompok pengawalan barang Garuda Merah, malah ketuanya Ki Wikalpa juga turut binasa secara mengerikan, apakah keduanya bertarung lalu sama-sama tewas ? peristiwa ini pasti membuat semua orang geger.!'' timpal orang yang badannya paling besar, lalu mulai melahap makanan yang sudah terhidang.
''Hei pelayan., hendak kau bawa kemana makanan itu, letakkan semuanya kemari,!'' bentak orang yang berambut keriting dan paling tinggi. ''Tapi makanan ini untuk nona yang ada disana, dia yang memesan lebih dulu,'' jelas wanita pelayan warung itu.
Sebenarnya si keriting ini sudah mulai mabuk, jawaban pelayan itu membuatnya naik darah, tapi saat melihat nona yang ditunjuk sipelayan, orang ini jadi nyengir dan blingsatan. ''Ooh kiranya untuk nona cantik itu., sini biar aku yang bawakan,!'' sementara dua temannya ikut menghampiri.
''Pagi-pagi begini nona sendirian saja,? ini kubawakan makanan pesananmu,'' kata si keriting sambil duduk di depan Dewi Malam Beracun, kedua temanya ikut mendekat.
''Aku sendirian saja bersama bayiku, sungguh malang nian nasibku tuan, suamiku tega meninggalkan kami, dan pergi bersama wanita lain.'' ratapnya pelan. ''Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, tidak ada orang yang bisa menolong kami.,''
Ketiganya tertawa saling pandang, ''Lelaki busuk seperti suamimu itu tidak tahu diuntung, sudah punya istri secantik bidadari masih saja cari perempuan lain, lebih baik kau ikut saja dengan kami, kujamin hidupmu akan senang.!''
''Benarkah tuan-tuan yang gagah dan mulia ini mau menolongku dan bayiku?''
''Haa.,ha., tentu saja nona manis.''
''Silahkan tuan meminumnya.'' kata wanita itu, dengan gaya jagoan lelaki keriting itu meneguk habis wedang gula aren itu, lalu tertawa bergelak. sekejab kemudian tawanya berhenti, mukanya mendadak pucat, mata mendelik seperti tercekik, tubuhnya roboh kejang-kejang lalu terbujur dengan mulut berbusa campur darah.!'
Semua yang ada disana menjadi geger.! kedua teman si keriting terjingkat kaget, mereka saling pandang, lalu menatap tajam wanita didepannya yang terlihat sedang bercanda dengan bayinya.
''Anggana sayang., paman yang keriting itu bohong yah., tadi bilang mau menolong kita, tapi sekarang dia malah tidur di tanah.''
''Perempuan sialan, apa yang sudah kau perbuat pada kawan kami,?''
''Keparat,!' cepat katakan siapa kau sebenarnya, sebelum kami bertindak kasar.''
rutuk keduanya marah.
''Jangan ribut, suara kalian membuat bayiku menangis.!' cup.,cup.,sayang., jangan takut Ibu ada disini.''
''Hei., bukankah kalian bertiga ini cecunguk kecil yang berjuluk 'Tiga Macan Ireng?'' ''Dengar baik-baik, temanmu mati kuracuni berikutnya kaliyan bakal menyusul.!''
__ADS_1
''Perempuan hina.! ada silang sengketa apa diantara kita sampai kau membunuh teman kami?'' bentak si kumis tipis sambil cabut golok di pinggangnya.
''Untuk apa banyak tanya,! habisi saja dia, tapi kalau bisa kita tangkap hidup-hidup, lalu kita bisa bersenang-senang sampai bosan, baru membunuhnya.,'' ujar kawannya sambil menyeringai.
''Hik.,hi.,kalian bisa bersenang-senang dineraka.!'' Sambil bicara tangan kanannya bergerak menyambar kendi berisi wedang aren panas lalu dilemparkan ke kepala si badan besar, karena jaraknya cukup dekat dia tak sempat menghindar, mukanya langsung berdarah terkena kendi yang pecah, orangnya meraung kepanasan.
Sikumis tipis lepaskan tiga kali bacokkan golok, wanita itu cuma mundur sedikit, golokpun lewat melabrak meja hingga terbelah, bersama sibesar mereka mengeroyok wanita itu.
Meski menggendong bayinya dan diserang dua orang, tapi Dewi Malam Beracun tidak nampak kesulitan menghadapinya, dengan enaknya tubuhnya bergerak diantara sabetan golok lawan, bibirnya terus tersenyum menggoda, sejauh ini dia cuma menghindar tanpa membalas.
Saat itu Respati dan Sabarewang baru saja selesai mandi. melihat apa yang terjadi di sana Sabarewang berniat hendak membantu wanita itu, tapi Respati menahannya.
''Sebentar lagi kau akan tahu kalau wanita ini lebih berbahaya dari seribu kalajengking, bibirnya menebarkan senyuman, tapi hatinya menjanjikan kematian,!''
Tubuh langsing Dewi Malam Beracun melenting ringan lalu turun tepat diatas meja yang tadinya ditempati para penyerangnya, jari telunjuknya mencelup kedalam gelas berisi arak hingga bersuara mendesis dan berasap, saat serangan golok si kumis tipis datang kembali, gelas berisi arak itu di lemparkan kemukanya.!
''Cheess.,sess.,! Aaakkh.,!'' Suara mendesis dibarengi jeritan parau terdengar menyayat. si kumis tipis berguling-guling sambil dekap wajahnya yang mandi darah mengepulkan asap, saat tubuh itu berhenti bergerak terlihat wajah orang ini sudah lenyap tinggal tengkorak dan daging busuk.!
Semua orang disana bergidik ngeri, Sibadan besar jatuh gemetar terduduk lemas, celana dibawah perutnya basah, saking takutnya dia sampai terkencing. wanita bergaun hitam itu tertawa lepas, ''Haa, ha., setua ini masih saja ngompol., Kemarilah, aku mau bertanya sesuatu, jawab dengan jujur, maka kau tidak akan mati di dalam warung ini seperti kedua temanmu itu, kau paham ucapanku,?''
Si badan besar beringsut maju dan mengangguk.
''Kau apakan kepala Gada Rahwana?''
''Itu.,itu., kepalanya sudah kami potong, lalu kami serahkan pada pejabat keraton Demak untuk mendapat uang iimm.,imbalannya,!'' jawabnya si besar gugup.
Wanita itu mengernyitkan alisnya. ''Ada urusan apa Gada Rahwana dengan Demak?''
Yang ditanya menggeleng, ''Soal itu saya tidak tahu.''
Wanita itu termenung sesaat lalu tersenyum manis., ''Baiklah, sekarang kau boleh pergi.''
Orang itu seakan tak percaya, dengan munduk-munduk diapun pergi, tapi baru dua langkah keluar dari warung, sebatang jarum terbang telak menghunjam belakang lehernya.!'
Tubuh besarnya langsung ambruk meregang nyawa tanpa dia tahu siapa pembunuhnya.
Dewi Malam Beracun menoleh kearah dua rekannya, ''Aku wanita yang selalu pegang janji., kubilang tak akan membunuhnya didalam warung ini., tapi tidak diluarnya,!''
__ADS_1
''Kita berangkat sekarang, selera makanku sudah hilang., ehmm., kau harus menganti bajumu yang robek dan bau, karena aku tidak suka laki-laki yang tidak rapi.!'' katanya sambil menuding Respati. si pemuda hanya menarik nafas, Sabarewang masih bergidik, dia baru sadar betapa menakutkan wanita cantik ini.