13 Pembunuh

13 Pembunuh
Satriyana., cerdik atau licik.?


__ADS_3

Ucapan Respati seketika menghentikan Sabarewang dan Satriyana yang sedang ribut. keduanya menoleh kesatu arah. dari kejauhan terlihat dua orang berjubah kuning sedang berjalan menuju ke tempat mereka berada.


Meskipun langkah kaki keduanya terlihat perlahan saja, tapi hebatnya dalam sekejab sudah berdiri lima langkah dari tempat Respati membakar ikan.


Satriyana perlahan menggeser duduknya berlindung di belakang tubuh si pemuda. sementara tangan kiri Sabarewang sudah meraba gagang pedang buntungnya. sikap si kusir kuda terlihat waspada. hanya Respati yang tetap tenang membakar ikan yang berada di atas bara perapian.


Bau ikan segar berbumbu pedas racikan sabarewang menebar aroma wangi sedap yang membuat air liur siapapun menetes kelaparan. tapi sepertinya kedua orang panglima Istana Angsa Emas ini tidak sedang berselera makan. mereka menatap tajam Satriyana yang berlindung di punggung Respati.


''Di sini ada ikan bakar yang sudah siap santap. jika suka silahkan kalian berdua mengambilnya sendiri.'' ujar Respati sambil mendahului mengambil seekor ikan bakar, diikuti Satriyana yang langsung melahapnya. saking bernafsunya makan dia sempat batuk karena tersedak duri ikan. sementara itu Sabarewang masih diam mengawasi kedua orang ini.


Meskipun merasa perut kedua Panglima Istana Angsa Emas itu mulai keroncongan, tapi mereka enggan untuk menerima tawaran itu. Panglima Istana Kiri menatap tajam Satriyana yang baru saja mengambil ikan bakarnya yang kedua. biarpun anak ini rada kurus tapi makannya cukup rakus.


Rekannya si Panglima Istana Kanan mengedarkan pandangan. sorot matanya berhenti pada kereta kuda bercat hitam yang berada agak jauh dari sana. ''Siapa yang berada di dalam kereta kuda itu.?''


''Seorang wanita cantik yang galak.!" jawab Respati. kedua orang istana Angsa Emas itu saling melirik lalu melangkah mendekati kereta kuda. Sabarewang langsung menghadang. "Kalian berdua mau apa.?"


"Menyingkirlah., kami tidak ada urusan denganmu.!" gertak Panglima Istana Kiri.


Satriyana mencibir "Sedari awal bertemu aku sudah tahu kalau kalian bukan manusia baik- baik, mereka sudah berani melihat tubuhku saat mandi di sungai.!"


"Gadis gila., mulut busukmu harus disumpal kotoran biar tidak bicara sembarangan.!" bentak Panglima Istana Kanan. "Ingat kami akan membuat perhitungan denganmu.!" timpal rekannya marah bercampur malu.


Sabarewang marah besar "Jadi kalian sudah berbuat mesum pada anak gadis semuda ini., Chuih., menjijikkan.!" rutuknya meludah. "Gadis Keparat., bisa- bisanya kau memfitnah kami."


"Bukan itu saja mereka juga bilang kalau aku berasal dari tempat pelacuran.!" ujar gadis itu, rupanya dia berniat melampiaskan kekesalannya pada kedua orang itu dengan memakai tangan Sabarewang. rupanya otaknya sudah mulai tertular kelicikan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun.

__ADS_1


"Kalau kau kalah tenaga., gunakan otakmu untuk bersiasat. paling gampang berpura- pura saja jadi perempuan lemah untuk mencari simpati, lalu adu domba lawanmu. dan di saat mereka lengah, kau bisa menghajarnya dengan mudah.!" itulah pelajaran yang diberikan Roro Wulandari kepadanya.


Bedanya dalam masalah ini dia tidak berniat mengadu domba Sabarewang, hanya ingin rekannya cepat menggebuk habis kedua orang yang telah melihat tubuhnya saat mandi di sungai. walaupun sebenarnya Satriyana tahu kalau itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan, tapi gadis bandel dan keras kepala seperti dia mana mau mengakuinya.


Sejak jaman dulu kaum muda sering berlaku seperti itu, yang penting gebuk duluan soal benar salah urusan belakangan. tidak perduli masalah bakal bertambah 'ora karuan.'


''Katakan siapa kalian berdua sebenarnya dan mau apa.?'' akhirnya Respati jengkel juga dengan sikap angkuh kedua orang berjubah kuning ini. meskipun sebenarnya si pemuda sudah dapat mengira berasal dari golongan mana saat melihat gambar seekor angsa berwarna keemasan yang tersulam di jubah kuning mereka.


"Kami sedang mencari seorang kawan yang hilang terbawa arus sungai, dari jejaknya kemungkinan dia berada di daerah sini." jelas Panglima Istana Kanan. sementara matanya terus mengawasi kereta kuda hitam.


"Sedari tadi kami tidak melihat siapapun, jadi kalian cari saja ditempat lain., Satriyana kau masuk ke dalam kereta, bawa semua ikan bakar dan perabot masakan. kita segera berangkat.,!" Respati memberi perintah.


Gadis itu cepat mengerjakan semuanya. dia paham sebentar lagi pertarungan mungkin bakal berlangsung.


"Sebelum kami periksa kereta kuda itu, jangan harap kalian bisa pergi dari sini.!" ancam Panglima Istana Kiri. "Lagi pula kami belum membuat perhitungan dengan gadis tak tahu malu bermulut kotor itu.,!" timpal rekannya bengis.


Si gadis berlari menuju kereta kuda, dua orang jubah kuning bergerak mengejar. Sabarewang yang berangasan dan sudah sedari tadi menahan amarah langsung menghadang dengan lintangkan pedangnya.


''Kau sendiri yang cari penyakit.!" bentak Panglima Istana Kanan. orang yang perawakannya sama tinggi besar dan brewokan seperti Sabarewang ini cepat memutar sepasang telapak tangannya kedepan dengan sepuluh jari menekuk. ini adalah jurus menghantam, mencakar sekaligus mencengkeram remuk pergelangan tangan lawan.


Sabarewang mendengus gusar, sambil mundur setindak dia babatkan pedang buntungnya tiga kali bersilangan di depan dada lalu menusuk. dalam sejurus kusir kuda ini hendak menebas putus kedua tangan sekaligus melubangi leher lawannya.!


Si jubah kuning terkesiap tapi tidak menjadi gugup. dengan lincah tubuh besarnya berkelit sementara kedua telapak tangannya mengemplang balik serangan pedang buntung lawan. dari sepuluh jari tangan mencengkeram berubah mengepal lantas menjotos empat sasaran di kepala dan dada Sabarewang. deru pusaran angin keras mengiringi serangannya.!


Pertarungan seru berlangsung dengan cepat. meskipun bertangan kosong namun Panglima Istana Kanan bukan saja sanggup menghadapi Sabarewang yang membekal senjata pedang, tapi juga perlahan mampu mendesaknya. gerakan jurus serangannya yang cepat dan mantap seakan mengandung tenaga penghancur yang dahsyat.

__ADS_1


Sabarewang berkali- kali hampir termakan pukulan lawan, masih untung pedang buntung ditangannya mampu menjadi perisai pelindung diri. untuk sementara waktu dia masih dapat bertahan.


Panglima Istana Kiri melesat mengejar Satriyana yang berlari menuju kereta kuda. Respati cepat menghadang gerakan orang itu. dia sengaja tidak mencabut pedang Iblis Hitamnya karena lawan juga bertangan kosong. dengan gerakan yang dinamai 'Sepasang Kobra Hitam Berebut Bangkai' kedua telapak tangannya berubah menjadi dua buah bayangan hitam pekat yang menyambar cepat dada dan tenggorokan lawan.!


'Whuut., Bheeet., Beet.!'


'Breeet., Dheess.,!'


"Setan alas.!'' maki Panglima Istana Kiri. dalam dua jurus saja si pemuda bukan saja mampu merobek bagian depan jubah kuningnya, bahkan hampir saja leher dan dadanya remuk dimakan pukulan lawan yang datang bagaikan sambaran ular hingga terpaksa dia menangkis dengan pergelangan tangannya yang penuh gelang berduri.


Seharusnya tangan lawan pasti hancur atau setidaknya cedera parah setelah beradu tenaga dan terkena gelang berdurinya. tapi dia terkejut saat melihat kedua tangan si pemuda yang berubah hitam legam sampai ke siku seakan tidak mengalami suatu apapun.


''Katakan siapa kau.!'' bentak Panglima Istana Kiri. salah satu dari tiga panglima utama Istana Angsa Emas ini menjadi waspada dengan Respati. sikapnya yang tadi sombong dan memandang remeh lawan langsung berubah. "Kenapa., kau hendak berkenalan lalu mengajakku kencan., He., he, maaf saja aku cuma tertarik wanita cantik, bukan sesama jenis.!" ejek Respati untuk memanasi hati lawannya.


Benar saja Panglima Istana Kiri seketika mengamuk dengan menghamburkan selusin gelang bergerginya sekaligus untuk membantai Respati. si nomor tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh ini tertawa bergelak, akhirnya pedang Iblis Hitam keluar juga dari dalam sarungnya.!


Hawa hitam busuk berselimut kegelapan yang menggidikkan hati terasa menyelimuti tempat pertarungan. dua belas gelang emas berduri yang berputar menyambar bagai cakra maut disambut babatan pedang Iblis Hitam Respati.


'Shiing., Shiiing., Bheeet.,!'


'Traaang., traang., taang!'


Suara benturan senjata disertai percikan bunga api terjadi berulang kali. dengan ilmunya yang tinggi Panglima Istana Kiri terus mengendalikan gerakan dua belas senjata gelang berduri terbangnya hingga mampu mengurung si pemuda untuk beberapa waktu lamanya.


Respati membentak keras, pedang Iblis Hitamnya berubah menjadi puluhan bayangan ular kobra hitam yang saling hantam dengan gelang- gelang berduri lawan. benturan dua ilmu kesaktian ini berulang kali membuat pijaran bunga api besar.

__ADS_1


Deru sambaran angin senjata tajam dan cahaya hitam yang menggumpal membuat gelanggang pertarungan seakan di selimuti hawa maut.


__ADS_2