13 Pembunuh

13 Pembunuh
Menyusup, Membakar lalu Menghilang.


__ADS_3

Respati sengaja menjauh terlebih dahulu baru bergerak ke sekeliling tembok yang tingginya sama rata dua tombak. meskipun dia belum sehebat orang tua berjari buntung tapi bukan perkara sulit untuk bisa melompatinya. yang jadi masalah dia tidak tahu pasti keadaan didalam sana. meskipun sempat mengintai dari atas pohon tapi tetap saja tidak dapat terlihat isi keseluruhan rumah besar ini.


Dari pengamatannya rumah besar yang menghadap ke arah utara ini memiliki dua buah pintu keluar di bagian depan dan belakang yang masing- masing dijaga oleh dua orang. Respati mendongak ke atas, cahaya rembulan tertutup awan.


"Kurasa orang tua itu sudah berada ditempatnya sekarang. kali ini terpaksa aku yang jadi umpan.'' batin pemuda itu lalu berkelebat mendekat merapat dinding tembok sebelah barat. setelah memastikan semua aman Respati menggenjot tubuhnya melayang ke atas tembok dan langsung mendekam disana beberapa lama sambil mengamati keadaan. cahaya obor yang terpasang di beberapa sudut halaman rumah membuatnya dapat melihat dengan jelas.


Dibawah sana terlihat berseliweran belasan orang penjaga berbaju jingga dengan membekal pedang. kini dapat terlihat olehnya kalau rumah itu tidak cuma besar tapi juga punya banyak sekali pintu masuk. sungguh suatu rumah yang aneh.!


Respati tidak lagi bisa berpikir lama karena beberapa orang penjaga berseragam jingga berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di bawah dinding tembok tempatnya bersembunyi.


"Lagi- lagi kedua orang itu datang kemari, aku sebal sekali dengan mereka..''


"Aku juga muak dengan lagak keduanya yang sombong, tadi kudengar kawan kita yang berjaga dipintu depan sempat dimakinya..''


"Semenjak diangkat menjadi murid utama Nyi Sumbar Geni majikan kita, mereka berdua semakin bertingkah seenaknya. kuharap suatu ketika keduanya mampus tanpa kuburan secepatnya.!''


Rupanya para penjaga itu sedang kesal membicarakan kelakuan dua orang murid utama Nyi Sumbar Geni yang baru datang. ketiga penjaga itu masih menggerutu beberapa lama ditempat itu. Respati yang mendekam diatas tembok merasa khawatir bakal kepergok.


"Dari pada ketahuan lebih baik kuhantam saja duluan.'' putus si pemuda sambil melompat turun. belum lagi kakinya menjejak tanah kedua tangannya sudah lebih dahulu bergerak berturut- turut menghajar keras tengkuk, rahang dan tengah dada dua orang penjaga hingga terjatuh pingsan.


Satu orang yang berdiri agak terpisah sempat mencabut pedangnya, tapi orang ini cuma bisa lepaskan dua buah sabetan pedang yang dengan mudah dapat di hindari lalu roboh terjungkal setelah kepalan dan tendangan Respati menghantam kening serta lambungnya.


Setelah mematikan obor yang dibawa salah satu penjaga Respati langsung berkelebat menyusup ke sudut gelap dengan berlindung dibalik sebuah pohon sawo. pemuda ini sesaat bingung menentukan pintu mana yang harus dimasukinya. jarak antara tempatnya bersembunyi dengan pintu- pintu rumah besar hampir sepuluh tombak, tidak mungkin baginya memeriksa pintu satu persatu.


Akhirnya dia melemparkan beberapa batu kerikil ke genting rumah, suara ribut batu yang bergulir diatap menarik perhatian para penjaga termasuk yang ada didalam rumah. mereka keluar untuk memeriksa.


"Suara apa itu tadi,?'' tanya salah satu penjaga yang baru keluar sambil terkantuk mengusap mulutnya. rupanya dia tadi sedang tidur sambil ngiler.

__ADS_1


"Ada batu kerikil jatuh dari atap, mungkin ada orang iseng yang sengaja melemparnya.'' jawab rekannya. sesaat mereka memandang sekeliling dengan waspada.


"Hoii., ada penyusup masuk., lihat beberapa kawan kita tergeletak disini.!'' teriak seorang penjaga. "Cepat periksa tempat ini, laporkan juga pada Nyi Sumbar Geni.!'' seru lainnya.


Rupanya para penjaga itu sudah menemukan rekannya yang tergeletak pingsan setelah dihajar Respati. kawanan penjaga langsung berlarian, seketika keributan terjadi disana. keadaan ini digunakan Respati untuk menyusup masuk ke dalam rumah melalui pintu yang masih terbuka. baru saja masuk dia sudah berpapasan dengan seorang penjaga yang hendak keluar. tapi dengan jotosan cepat diperut dan dagu, orang inipun roboh.


"Menurut orang tua itu, tempat penyimpanan barang pusaka ada di ruang belakang, aku harus secepatnya masuk kesana lalu menyelesaikan tugasku.''


"Sebenarnya barang pusaka macam apa yang dicarinya sampai harus membuat rencana serumit ini., biasanya dia langsung menyelinap masuk lalu keluar dengan cepat sambil membawa barang curiannya tanpa ada seorangpun yang tahu.'' batin si pemuda sambil terus berkelebat melewati lorong- lorong ruangan yang diterangi lampu minyak.


Pemuda ini cepat kebutkan lengannya untuk memadamkan dua api lentera minyak yang tergantung di dinding lorong, lalu menahan nafas sambil merapatkan tubuhnya ke dinding saat telinganya mendengar ada dua orang mendatangi dari arah depan. langkah keduanya ringan tapi mantap pertanda mereka cukup berilmu.


Meskipun di sekitarnya gelap tapi di ujung lorong masih terdapat cahaya, membuat Respati dapat melihat dua orang berjubah hitam dan membekal pedang panjang di punggungnya sedang berdiri menghadang disana. mungkin mereka murid utama Nyi Sumbar Geni yang sempat dilihatnya diluar.


"Dua lentera minyak di dinding tidak mungkin padam begitu saja, pasti ada yang tidak beres..'' bisik si jubah hitam sebelah kiri.


Dari balik kegelapan Respati menyeringai dingin. lorong ruangan itu meskipun cukup panjang tapi tidak begitu lebar. sangat menguntungkan dirinya dalam pertarungan cepat jarak dekat.


Saat keduanya mulai memasuki daerah gelap si pemuda langsung bergerak. dengan membekal pisau belati yang sudah siap ditangan kanan dia berkelebat maju sambil merunduk babatkan pisaunya. sasaran yang diincarnya perut si jubah hitam yang ada sebelah kanan, tapi ditengah jalan berubah naik menikam leher orang yang ada dikiri.!


"Setan alas., Bedebah.,!'' rutuk kedua orang itu sambil menghindar dan sabetkan pedangnya pada si penyerang yang belum kelihatan jelas tampangnya.


Meskipun bisa selamatkan lehernya tapi tak urung kulitnya sempat sedikit tersayat juga. demikian juga rekannya, walau pedangnya dapat menggores lengan si penyusup tapi satu tendangan keras juga mampu menghantam pinggangnya hingga dia terjengkang kesakitan didinding lorong. sebenarnya ilmu kedua orang ini lumayan juga, tapi diserang mendadak di kegelapan begini membuat mereka kelabakan.


Gebrakan penyusup berbaju putih ini tidak berhenti sampai disitu saja, malahan dengan dengan cepat dia terus mendesak sambil lancarkan empat tusukan pisau sekaligus disusul dua buah pukulan telapak tangan bertenaga dalam tinggi.


Menghadapi tikaman pisau lawan yang datang susul menyusul membuat kedua orang ini terkejut. tapi mereka tidak menjadi gugup karena sudah mampu menyesuaikan diri dalam suasana lorong yang rada gelap. kedua pedang bergerak serentak, satu berputar menangkis yang lainnya menusuk ke dada sekaligus membabat leher lawan.!

__ADS_1


Pertarungan jarak dekat yang cepat dan sengit terjadi beberapa jurus. lorong yang sempit dan gelap cukup menguntungkan Respati yang memakai pisau belati. namun sebaliknya agak sulit bagi kedua lawannya untuk mengerahkan ilmu pedangnya yang panjang.


'Traang., trang.,!'


'Sheeet., breet.,!'


Benturan senjata tajam terdengar cepat beberapa kali, disusul suara robekan kain baju dan keluhan tertahan. dengan miringkan tubuh Respati mampu selamat dari tikaman pedang si jubah hitam sebelah kiri yang hidungnya besar seperti moncong babi, meskipun bajunya robek besar di bahu. dia lalu berguling ke depan sambil babatkan pisaunya ke kaki si jubah hitam yang tadi menangkis empat tusukan pisaunya.


"Anjing sial.!'' rutuk sibaju hitam yang kakinya terluka, sementara lawannya justru sudah melesat kabur. sialnya disepanjang lorong menuju ruangan dalam si penyusup juga membanting belasan lampu minyak yang tergantung disana hingga membakar dinding dan lantai kayu. api dengan cepat membesar, asap panas mulai memenuhi ruangan. membuat kedua orang ini terhambat larinya.


''Jahanam gila., Ayoh kejar dia.!'' bentak si hidung besar sambil berkelebat mendahului disusul rekannya yang berlari sambil menahan rasa sakit dikakinya. beberapa penjaga yang mendengar ada keributan di dalam segera masuk, sebagian sibuk memadamkan api yang lainnya turut memburu si penyusup yang kabur.


Dua orang berjubah hitam seketika hentikan larinya saat melihat ada sesosok tubuh penjaga yang tergeletak di lantai. satu luka tikaman pisau di dada kiri menamatkan riwayatnya. meskipun cuma satu mayat tapi anehnya ada banyak tetesan darah dilantai dan mengarah ke dalam. keduanya menyeringai karena merasa si penyusup sudah terluka.!


Dengan mengikuti ceceran darah di lantai keduanya bergerak cepat ke depan bersama empat orang penjaga berbaju jingga. mereka harus melewati beberapa kobaran api yang berasal dari tumpahan minyak lentera penerangan tanpa sempat memadamkan. sepertinya semua ini sengaja dibuat oleh si penyusup. tetesan darah itu berhenti didepan sebuah pintu kamar.


"Kalian tahu kamar siapa ini.?'' tanya si jubah hidung besar. "Ini salah satu ruangan tempat penyimpanan senjata pusaka Nyi Sumbar Geni, biasanya ada yang berjaga di depan pintu.,!'' jawab salah satu penjaga.


Kedua jubah hitam saling lirik, bersamaan kakinya menendang pintu hingga jebol. dengan babatkan pedang mereka menyerbu masuk ke dalam ruangan yang gelap. sesosok tubuh melayang turun dari atas yang langsung disambut sambaran hujan senjata tajam. darah dan potongan tubuh seketika membanjiri ruangan itu.


"Setan alas., kita tertipu.!'' maki jubah hitam yang terluka kakinya saat melihat mayat itu bukan lain adalah si penjaga pintu ruangan pusaka.


Belum lagi mereka bersiap, terdengar suara sambaran senjata tajam dari atas atap disusul jeritan menyayat dari dua orang penjaga berbaju jingga yang tergorok belakang lehernya. bersamaan tumbangnya tubuh kedua orang itu kelantai, si penyusup lemparkan pisau belatinya beserta dua benda berbentuk bulatan. pisau menancap bahu si hidung besar, sementara dua benda bulat berhasil dibabat pedang.


Suara letupan seketika terdengar disusul semburan gumpalan asap hitam yang berbau busuk menyesakkan. saat semuanya sirnah si penyusup sudah menghilang dari sana.


"Keparat., Jahanam.!'' maki mereka sambil terbatuk sesak nafas. "Pedang pusaka yang ada di sini telah lenyap., pasti bangs*t penyusup itu yang mengambilnya.!' teriak penjaga baju kuning panik. dua orang berjubah hitam tak kalah geramnya. kalau guru mereka Nyi Sumbar Geni alias Dewi Pedang Api yang saat itu sedang bersemedi tahu kejadian ini nyawa mereka bisa saja melayang.

__ADS_1


"Kumpulkan orang- orang., kita harus lakukan pengejaran sekarang juga.!'' seru si hidung besar. bersama mereka mengejar si penyusup yang sudah kabur entah kemana.


__ADS_2