
Waktu terus berjalan. tanpa terasa perasaan semua orang menjadi lebih tegang. Setelah melewati beberapa gugusan pulau- pulau kecil dua buah kapal besar yang di iringi oleh dua kapal kecil lainnya milik pihak Istana Angsa Emas akhirnya sampai juga di wilayah samudra pantai selatan Jawa bagian tengah.
Kegelapan malam seolah mulai membungkus dunia seiring malam yang telah turun. debur ombak dan hembusan angin laut membuat hati siapapun menjadi gelisah. sepasang mata 'Dewi Malam Beracun' memandang ke sekelilingnya. agak jauh dari tempat keempat mereka juga terlihat setidaknya lima buah kapal lain dengan ukuran cukup besar.
Belum terhitung beberapa kapal kecil atau perahu yang ditumpangi satu hingga tiga orang. meskipun semuanya hanya berlayar dengan jalur masing- masing dan seperti saling menjaga jarak tetapi dari arahnya jelas diketahui kalau mereka punya tujuan yang sama, pulau 'Seribu Bisa.!'
Dari kelima kapal besar itu, ada tiga kapal yang sengaja mengibarkan bendera lambang dari perkumpulannya agar pihak lain tahu dan berpikir ulang jika hendak mencari masalah dengan mereka. sekali lihat Roro sudah bisa mengenali kalau dua diantaranya berasal dari perguruan silat besar aliran putih, sedangkan satu lagi dari golongan hitam.
Dua kapal besar lainnya tidak dapat dikenali, namun pastinya juga berisikan para pesilat tangguh. bahkan mungkin juga ada utusan rahasia dari pihak kerajaan baik dari wilayah barat atau timur yang berniat ikut menyusup. Roro hanya tersenyum sinis. dia tidak perduli siapa saja yang bakal datang meramaikan acara bunuh membunuh di pulau itu.
Sementara itu di geladak anjungan atas kapal besar milik Istana Angsa Emas yang lainnya juga terlihat olehnya Kyai Jabar Seto, I Gede Kalacandra alias si 'Dewa Serba Putih, Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan, Sabarewang, Jurata dan Birunaka. dua kapal besar ini selalu berlayar berdampingan agar lebih mudah bagi mereka untuk saling menyampaikan kabar.
Sedangkan sahabatnya Puji Seruni, 'Raja Ratu Lutung Sakti' dari gunung Ciremai dan Ki Sabda Langitan si 'Tangan Penggoncang Langit' yang berada dalam satu kapal dengan Roro serta kedua panglima istana juga sudah naik ke atas geladak kapal. mereka terlihat cukup terkejut dengan begitu banyaknya orang persilatan yang sama berlayar ke pulau Seribu Bisa.
Saat hari mulai larut malam, ketegangan juga mulai memuncak. tiba- tiba saja sudut mata Dewi Malam Beracun melihat sesuatu datang dari kejauhan. selintas tidak ada yang aneh dengan kapal berukuran sedang itu. tapi jika diamati lebih lama, orang akan melihat kalau kapal berwarna putih ini yang sepintas hanya bergerak cukup lamban namun justru dapat mengimbangi kecepatan kapal- kapal lainnya. padahal yang mendayung kapal itu hanya ada dua orang lelaki berbaju ringkas warna putih saja di bagian kiri- kanannya.
Pada bagian tengah kapal putih itu dibangun sebuah pondokan kecil tempat berteduh namun terlihat kokoh dan berkelas. seorang pemuda berjubah putih terlihat duduk santai di atas sebuah kursi malas dengan selimut tebal menutupi separuh tubuhnya dan di dampingi oleh dua orang wanita yang juga berpakaian putih. tidak terdapat tanda khusus pada kapal itu kecuali warna putih seperti warna pakaian kelima orang penumpangnya.
__ADS_1
Tanpa sadar semua orang di atas kapal pihak Istana Angsa Emas sama mengikuti arah pandangan mata Roro yang terlihat kaget, heran bercampur tegang. ''Apa kau kenal dengan orang- orang yang berada di atas kapal putih itu.?'' tanya Puji Seruni setengah berbisik. sebagai jawaban Roro malah balik ucapkan suatu pertanyaan aneh, ''Kenapa mereka juga ikut hadir di sini.?'' gumamnya khawatir.
Karena belum mendapatkan jawaban Puji Seruni dan yang lainnya jadi penasaran. tapi saat itulah mereka sama melihat kalau kapal putih itu seperti bergerak perlahan mendekati keempat kapal mereka. antara sengaja dan tidak orang berjubah putih yang sedang bersantai diatas kursi malas itu menoleh sekejap kearah Roro berada. satu senyuman manis jenaka bercampur sedikit kecabulan tersungging di bibirnya. sambil anggukkan kepala sebelah tangannya melambai seolah menyapa.
Meskipun hanya beberapa kejap mata saja tapi Puji Seruni dan semua orang di atas kapal dapat melihat kalau pemuda berjubah putih yang umurnya mungkin baru dua puluh lima tahunan ini punya paras tampan namun terkesan sangat pemalas dan agak sombong. kedua wanita pendampingnya juga terlihat cantik jelita.
Bahkan jika dibandingkan Roro Wulandari dan Puji Seruni si 'Dewi Seruni Putih, tingkat kecantikan keduanya boleh dikatakan setara. yang seorang umurnya sedikit lebih tua dari si pemuda serta membekal gulungan cambuk dipinggangnya. sedangkan satu lagi baru belasan tahun dan masih jelas tersisa sifat kekanakannya. di bibir merah mereka tersungging senyuman ramah namun membawa suatu keagungan.
Kapal putih itu cuma lewat selintas saja lantas mulai bergerak menjauh. diam- diam Roro hembuskan nafas lega meskipun tetap nampak ada kekhawatiran di wajah cantiknya. ''Kenapa mereka juga ikut datang kemari.?'' batin Roro bingung.
''Aa., aku., aku tidak berani bilang mengenal mereka, aa., aku hanya kebetulan saja pernah melihat pemuda berjubah putih itu di suatu tempat..'' ucap Roro rada tergagap membuat semuanya makin penasaran dibuatnya. ''Saat itu dia juga duduk diatas kursi malasnya dan dengan kemalasan memerintahkan seorang bawahannya untuk membunuh pesilat hebat yang sebenarnya adalah sasaranku..''
''Meskipun ini memalukan tapi sejujurnya waktu itu diriku hampir celaka karena salah perhitungan dalam menilai lawanku. sungguh diluar dugaan hanya butuh tiga atau empat gebrakan saja bagi bawahan pemuda itu untuk dapat menghabisi orang yang menjadi sasaranku. orang setengah tua berjubah hijau tua itu mengambil sesuatu dari tubuh mayat lantas diberikan dengan rasa hormat pada si pemuda..'' terang Roro Wulandari dengan suara tersendat. wanita ini seperti rada takut.
''Dengan sebuah bisikan dan isyarat dia menyuruh bawahannya untuk mengatakan sesuatu padaku. jika sebelumnya aku belum bisa mengenali siapa orang ini karena gelap malam tapi saat dia mendekat barulah diriku paham sedang bertemu dengan siapa. lelaki setengah umur ini bukan lain adalah Daeng Labisa si 'Hantu Jubah Hijau Bermata Satu'. seorang tokoh silat berilmu tinggi dari tanah Bugis.!''
''Orang bermata kanan picak ini mengatakan kalau majikannya memberi ijin padaku untuk membawa kepala si mayat karena dia tahu kalau aku mendapatkan perintah untuk membunuhnya. saat diriku bermaksud menghampiri agar dapat berterima kasih, pemuda ini dengan gaya kemalasan memberi isyarat jari agar aku tetap diam. anehnya aku menurut saja tanpa mampu membantah..''
__ADS_1
''Berikutnya dari kegelapan muncul sebuah kereta kuda. dengan cepat si kusir turun dan membuka pintu kereta. kusir kuda inipun juga bukan orang biasa karena aku mengenalinya sebagai 'Garong Rawit Bolot'. bekas kepala salah satu gerombolan rampok hutan Roban. dengan gayanya yang malas pemuda itupun menaiki kereta bersama dengan bawahannya lalu pergi tinggalkan tempat itu..'' Roro sesaat hentikan kisahnya seperti tersirat rasa ngeri bercampur kagum.
''Karena saking penasaran akupun berusaha mencari tahu siapa pemuda yang sanggup menjadikan dua orang pesilat tangguh sekelas Hantu Jubah Hijau Bermata Satu dan Garong Rawit Bolot sebagai budaknya. sampai akhirnya diriku mengetahui kalau dia bukan lain adalah penguasa dari sebuah kota terlarang yang sampai mambuat partai terkuat aliran hitam 'Gapura Iblis' sekalipun kabarnya enggan membuat perkara di wilayah orang ini..''
''Semenjak kemunculannya konon pemuda ini hampir tidak pernah terdengar terlibat suatu pertarungan secara langsung. dia pemalas yang hanya tahu bersantai dan memberikan perintah saja. tapi disekelilingnya kabarnya ada puluhan pesilat hebat yang dengan patuh, setia dan senang hati mengikutinya..''
''Maka bagiku sangat luar biasa jika sekarang tiba- tiba saja majikan dari 'Kota Hantu Pagi' yang hampir tidak pernah beranjak dari kursi malasnya sampai mau keluar dari sarang hanya untuk ikut mengunjungi pulau Seribu Bisa. apa yang membuatnya tertarik ikut datang kemari.?''
Masih mending jika Roro Wulandari tidak mengatakan siapa pemuda diatas kapal putih itu. karena begitu nama 'Kota Hantu Pagi' disebutkan, suara- suara terperanjat dan tidak percaya segera terdengar dari mulut para tokoh silat di kedua kapal Istana Angsa Emas terutama yang sudah terhitung kawakan.
Setelah mendengar siapa adanya pemuda itu semuanya terdiam sesaat lamanya, hingga suara berat Ki Ageng Bronto memecah keheningan. ''Menurut berita yang juga pernah aku dengar, penguasa dari kota Hantu Pagi itu memang masih berusia sangat muda. bahkan kalau tidak salah dulu dia juga pernah dimasukkan dalam jajaran sepuluh pesilat muda pendatang baru terhebat seangkatan Dewi Malam Beracun, Respati juga si pincang..''
''Namun hanya sebentar saja kedudukannya telah di gantikan oleh pesilat lainnya karena dia sangat jarang terlihat dan tidak ada satu orangpun yang tahu tentangnya. semua orang kembali menatap Roro Wulandari yang cuma mengangguk membenarkan. saat itulah ada dua kapal kecil milik orang persilatan yang berada jauh di depan sana mendadak hancur terpecah di sertai jeritan parau yang sangat menyayat hati. suara kematian itu seolah menjadi pertanda di mulainya kegemparan.!
*****
Silahkan tulis komentar, kritik saran Anda, juga like👍vote👌 jika suka. Terimakasih😊.
__ADS_1