13 Pembunuh

13 Pembunuh
Mereka menghilang.


__ADS_3

Ruangan kamar tidur Ki Ageng Bronto sangat luas. panjangnya mencapai empat tombak dengan lebar hampir tiga tombak. tanpa minta persetujuan pemiliknya terlebih dulu, Roro langsung menyuruh ke empat rekannya untuk membaringkan Sabarewang dan Putri Penjerat yang mereka tandu ke atas tempat tidur mewah dengan kasurnya yang tebal dan empuk serta beraroma wangi.


Ki Ageng Bronto sebagai pemilik rumah juga maklum dengan keadaan. selain dua orang rekannya terluka parah dan membutuhkan tempat untuk pengobatan, dia juga malas jika harus berdebat dengan Dewi Malam Beracun hanya karena masalah tempat tidur.


Wanita secantik bidadari kahyangan yang juga bekas pembunuh bayaran nomor dua belas di kelompok 13 Pembunuh itu seakan tahu betul semua seluk- beluk kamar tidur Ki Ageng Bronto. setelah menurukkan tubuh Satriyana ke lantai kamar yang sebagian beralaskan permadani berwarna merah, dia menuju ke sudut ruangan yang terdapat sebuah patung dua ekor harimau putih sedang mendekam.


Kedua patung itu terbuat dari batu pualam hasil karya seorang pengrajin patung ternama yang menjadi langganan kaum bangsawan keraton dan terkenal sangat halus buatannya. dengan tangannya Roro memutar kepala patung harimau yang sebelah kiri. terdengar suara bergeser halus, di sebelah patung itu sudah muncul sebuah pintu rahasia.


Terdengar ada suara gemericik air mengalir dan hawa sejuk bercampur uap air yang wangi menyeruak keluar dari sana. saat Birunaka melongok terlihatlah sebuah kolam air yang cukup besar dengan patung berbentuk seekor naga di tepinya. air yang sejuk dan wangi tidak pernah berhenti mengucur dari mulut patung naga itu.


Rupanya itu adalah sebuah tempat pemandian rahasia. dengan hiasan patung batu pualam dan puluhan permata yang warna- warni membuat ruangan pemandian itu bercahaya dan terlihat indah. jika di lihat tempat ini mirip dengan pemandian yang ada di bawah lantai kamar tabib Rumilah, kakak seperguruan Roro.


Saat keluar dari sana wanita itu membawa sebuah kuali berisi air yang dia letakkan diatas sebuah meja kayu berukir. tanpa membuang waktu dia mengambil kotak kayu pemberian wakil persekutuan 'Bulan Perak' alias si 'Tujuh Bunga Terbang' dari buntelan kulit miliknya. saat di buka isinya puluhan butir obat dan banyak lagi benda lainnya.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, ke empat rekannya cuma bisa melihat semua yang di lakukan Roro Wulandari. lima butir obat warna kuning di masukkan kedalam kuali besar. dengan menggunakan tenaga dalamnya dia letakkan kedua tangannya ke sisi kuali. ada kepulan asap kemerahan yang panas muncul dari sana.


Sepeminum teh kemudian air dalam kualipun mendidih hingga melarutkan butiran obat yang ada di dalamnya. Roro menarik nafas panjang. biasanya dalam keadaan seperti ini dia sudah keringatan, tapi karena ruangan tidur Ki Ageng Bronto di buat dari batu- batuan khusus yang memancarkan hawa sejuk serta aliran udara yang mengalir dari luar, semua orang tetap merasa nyaman bahkan sedikit dingin.


''Birunaka., carilah kain yang bersih lalu ganti pembalut luka Sabarewang. lebih dulu basahi kain itu dengan cairan obat yang kubuat. minumkan juga tiga tegukan air obat padanya. lakukan itu dua kali lagi hingga tiba waktu malam hari. biarkan Sabarewang beristirahat. setelah itu aku akan melakukan pengobatan yang sama pada sobatku si 'Putri Penjerat..''


''Baik Nyi Dewi., tapi kenapa tidak sekalian saja aku mengobati Putri Penjerat, jadi Nyi Dewi sebagai ketua tidak perlu repot turun tangan..'' sahut Birunaka mengusulkan. suasana jadi hening sesaat. semua orang melihat pemuda itu dengan pandangan mengasihani. Birunaka seakan tidak mengerti kenapa Roro sampai melotot seakan hendak merobek mulutnya.

__ADS_1


''Aduuh., celakalah kau bocah..'' desis Respati tepuk jidatnya. ''Kenapa pemuda ini sampai tidak menyadari kebodohan ucapannya..'' gumam Ki Ageng Bronto geleng- geleng kepala. ''Sebenarnya dia terlalu lugu atau memang goblok sejak lahir.?'' Jurata ikut bicara.


''Hei Birunaka., kau ingin kuhajar sekarang juga atau memilih menyumpal mulutmu sendiri dengan batu.?'' bentak Roro geram. ''Meskipun tangannya buntung sebelah, si Putri Penjerat tetap seorang perempuan cantik yang masih sangat muda. sedangkan dirimu adalah kaum pria. untuk dapat mengobatinya sama dengan Sabarewang, mesti membuka pakaiannya lebih dulu..''


''Memangnya kau tidak tahu batasan antara lelaki dan perempuan. kalau mau bicara pakai dulu otakmu, dasar tukang pentung tolol.!'' sungut Dewi Malam Beracun kesal. Birunaka yang baru menyadari kesalahannya langsung diam menunduk tanpa berani bicara lagi.


''Kau., besok sebelum pagi tiba pergilah keluar. cari tahu segala kejadian yang terjadi setelah ledakan di rumah Ki Ageng Bronto. diantara kita yang ada di sini, hanya dirimu saja yang jarang di kenali orang. apa kau bisa lakukan tugas ini Jurata.?'' tanya Roro menunjuk lelaki dari daerah tanah Pasundan itu.


Jurata mengangguk mantap. ''Selain itu apa ada tugas lainnya untukku Nyi Dewi.?'' Roro berpikir sebentar, ''Eehm., seharian ini kita belum makan, jadi carilah bahan makanan sebanyak mungkin. karena kita akan berada di tempat ini agak lama sambil memikirkan rencana selanjutnya..''


''Baik Nyi Dewi soal itu serahkan semuanya padaku, hanya ada sedikit masalah saja..'' ujar Jurata ragu, hingga Roro mengernyit alis tidak mengerti. ''Masalahnya aku khawatir jika harus keluar tempat ini lewat lorong tadi. selain takut tersesat, diriku juga ngeri dengan perangkap senjata rahasia buatanmu. aa., aku masih ingin hidup ketua Dewi Malam Beracun..'' ucap Jurata nyengir.


Sesaat Respati dan semua orang merasa heran, ''Apakah kau sudah merasa bosan dengan ilmu silat 'Kipas Perak' yang selama ini kau andalkan, hingga mendadak sekarang dirimu ingin belajar ilmu pedang dariku. bahkan memilih jurus yang punya kemampuan membunuh dengan cepat.?''


Roro tidak menjawab, dia cuma tersenyum manis sedikit licik sambil mencabut pedang panjang yang tipis berkilauan bekas milik Nyi Sira si 'Mambang Wanita Buta' dari tongkat merah yang menjadi sarungnya. jika yang lainnya masih saling pandang tidak mengerti, lain pula dengan Respati. dia paham apa yang bakal di perbuat sepupunya itu.


''Tapi sebelumnya aku dan Satriyana mau membersihkan diri dulu sambil memanjakan tubuh kami di air kolam kamar mandi Ki Ageng Bronto. kurasa kalian juga butuh istirahat..'' kata Roro Wulandari sambil meraih lengan Satriyana. kedua perempuan itupun masuk ke dalam ruangan tempat pemandian tanpa menutup pintunya. entah mereka lupa atau memang sengaja, tapi dari dalam sana sudah terdengar suara dua tubuh menceburkan diri ke dalam air.


Empat lelaki itu saling pandang. entah siapa yang memulai duluan, mereka sama bergerak mengintai dari balik pintu batu. ''Untuk apa mengintip begitu., kalau mau sekalian saja masuk kemari biar lebih jelas melihat tubuh kami berdua..'' seru Roro dari dalam kolam.


''Kakak Dewi., bagaimana kau bisa bicara yang menjijikkan begitu. kalau para pria mesum itu sampai benar- benar masuk kemari, tubuh kita berdua akan jadi tontonan gratis.!'' damprat Satriyana geram. sementara di luar terdengar seruan ribut dan langkah kaki yang berebutan masuk.

__ADS_1


''Aash., kenapa kau takut begini, mereka boleh masuk kemari dan menonton kita berdua mandi. tapi sayangnya mereka tidak bakalan bisa melihat apapun juga. karena jarum- jarum terbangku akan melubangi kedua biji mata mereka. Hii., hi., hi.!'' terang Roro pada gadis itu lantas keduanya tertawa mengikik. sementara dari luar terdengar suara banyak langkah kaki menjauh di barengi gerutu makian dan sumpah serapah.


Dua orang tua berjubah kain putih itu berdiri diam di hadapan seorang lelaki lain yang umurnya terlihat lebih tua, dan sedang duduk di atas sebuah kursi. meskipun kurus dan keriput tapi dia jelas lebih punya wibawa serta kekuatan yang terpancar dari dalam dirinya. jubah kuning dengan sulaman seekor angsa emas yang dia kenakan membuatnya semakin bertambah angker.


''Semua yang terjadi di Wonokerto sungguh di luar dugaan siapapun. salah kita juga karena sempat tidak mempercayai ucapan pemuda yang bernama Birunaka itu, sehingga saat terjadi ledakan besar di rumah juragan kuda kaya yang bernama Ki Ageng Bronto itu korban dari pihak kita cukup banyak..'' geram orang tua berjubah putih yang hampir seluruh kulit tubuhnya putih mengkilap. dia bukan lain adalah I Gede Kalacandra, si Dewa Serba Putih. tokoh silat sakti dari pulau dewata Bali.


''Hhm., itu bisa di maklumi karena siapa juga yang bakal menyangka terjadi peristiwa sedahsyat itu. lagi pula., selain kita korban dari para tokoh silat baik dari aliran hitam maupun putih juga sangat banyak. bahkan menurut penyelidikan kita, ada lebih dari dua ribuan orang tewas akibat pertempuran besar dan ledakan yang terjadi di luar gerbang timur dan rumah Ki Ageng Bronto..'' ucap orang tua yang berjubah dan bersorban kain putih.


Sambil pejamkan mata jemarinya memutar biji tasbih kayu cendana yang ada di tangan kanannya. dari bibirnya terucap pelan kalimat- kalimat doa suci kaum Muslim. orang tua itu bernama Kyai Jabar Seto, seorang sahabat lama I Gede Kalacandra. di masa lalu kedua orang tua ini adalah bekas kulubalang kepala pasukan 'Istana Angsa Emas.!'


Orang tua yang duduk diatas kursi perak menatap kursi kosong yang terlihat megah dan tinggi berukiran seekor angsa merentang sayap dan terbuat dari emas. sekilas dia matanya memandang ke sekeliling ruangan besar yang terbuat dari batu pualam yang memancarkan cahaya redup dan sejuk hingga ruangan batu itu menjadi terang serta nyaman.


''Meskipun kita kehilangan 'Panglima Istana Kanan' karena lukanya teramat parah, tapi dari pihak kelompok 13 Pembunuh pastinya juga mengalami hal yang sama. sayang kita tidak dapat mengetahui siapa saja para jahanam yang sudah tewas di sana..'' keluh orang tua berjubah kuning dengan sulaman angsa emas itu geram dan kecewa.


''Orang yang telah merencanakan semua permainan tipu muslihat ini sungguh punya nyali dan otak yang luar bisa cerdik. saat ini Panglima Istana Kiri dan Panglima Istana Tengah sedang di rundung kesedihan akibat kehilangan saudara mereka yang tidak dapat tertolong nyawanya. aku merasa khawatir keduanya akan bertindak nekat di luar kendali. aku harap kalian berdua dapat mengawasi mereka..''


''Apa yang 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' perintahkan akan kami lakukan. tapi kita juga mesti bertindak cepat, jangan sampai ketua 13 Pembunuh dapat kembali menyusun kekuatan setelah dia kehilangan banyak orangnya dalam pertempuran besar di Wonokerto..'' sahut Kyai Jabar Seto yang di benarkan oleh rekannya.


''Sialnya kita seakan kehilangan jejak tuan putri Satriyana. sudah hampir satu bulan berlalu sejak peristiwa itu terjadi, tapi mata- mata kita tidak dapat menemukan petunjuk apapun juga. seakan mereka menghilang begitu saja bagaikan lenyap ditelan bumi. mungkin bukan keputusan yang tepat telah mempercayakan putri mendiang pangeran Kunta Angsana pada bekas anggota kelompok 13 Pembunuh..'' ujar I Gede Kalacandra menyesali keputusan mereka berdua.


''Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. tetap cari jejak mereka, juga berita soal 13 Pembunuh. satu lagi., hubungi juga bekas kulubalang kepala pasukan yang masih berada di luar agar segera bergabung dengan kita di sini. tapi ingat., pastikan dulu mereka tetap setia pada Istana Angsa Emas.!'' perintah Tuan Sesepuh Pelindung Istana. kedua bawahannya menjura hormat sebelum berlalu tinggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2