13 Pembunuh

13 Pembunuh
Keturunan


__ADS_3

Dengan perasaan jengkel bercampur geli ketiga orang itu bergegas meninggalkan warung dan menyusul Satriyana. ''Berani betul gadis liar itu membual dan bicara tidak sopan di belakangku, awas saja nanti.!'' gumam Dewi Malam Beracun.


''Benar Nyi Dewi., tambah lama kelakuannya makin ngelunjak dan semaunya sendiri..'' timpal Sabarewang kesal.


''Huhm., kita harus memberinya pelajaran agar tahu yang namanya sopan santun, dia bilang aku sok cantik, genit dan suka memerintah orang lain., dasar sialan.!''


''Tapi bukankah apa yang bocah itu bilang tentangmu memang ada benarnya., lagi pula ini salahmu juga karena selalu melindungi dan membelanya. sifatnya jadi mirip denganmu Roro..'' sindir Respati yang berjalan paling belakang. seketika Roro membalik dan mendelik gusar. ''Kau minta kuhajar yah..?''


''Eeh maa., maaf., mulutku cuma bicara sembarangan. mungkin ini karena Satriyana juga membuat diriku kesal jadi kurang bisa berpikir..'' ujar si pemuda nyengir, kalau Roro sudah marah setanpun takut padanya.


''Kalau begitu kau diam saja dan tutup mulutmu.!'' bentak wanita cantik itu sambil cengkeram leher baju Respati. si pembunuh nomor tiga belas itu angkat kedua tangannya. ''Baa., baik aku diam, he., he..''


''Eeh Nyi Dewi lihat., Satriyana berlari kembali menuju kesini., he., he., pasti dia merasa bersalah dan takut bakal kita marahi jadi buru- buru balik kemari untuk meminta maaf..'' ujar Sabarewang melihat Satriyana yang kembali berlari cepat kearah mereka.


''Huh enak saja., tidak semudah itu untuk memberi maaf padanya. tapi tunggu., kenapa dia terlihat khawatir dan larinya semakin cepat..?'' Roro dan yang lain bingung melihat kelakuan gadis itu.


''Kakak Dewi., Kakang berdua tolong ikut aku, ada sesuatu yang harus kupastikan..!'' teriak Satriyana tanpa hentikan laju larinya. gerakan gadis remaja itu cepat dan tangkas.


''Hei., memangnya kau mau kemana gadis sialan, jangan mencoba berbuat aneh- aneh untuk menghindari hukuman karena sudah membual dan mempermalukan kami..!'' seru Sabarewang gusar. tapi Satriyana malah percepat larinya melewati mereka bertiga. dari arahnya dia berniat kembali ke dalam desa Randung.

__ADS_1


''Ada yang tidak beres dengan anak sialan itu, ayoh kita susul dia..''gumam Roro Wulandari sambil mendahului berkelebat. meskipun geram dan jengkel tapi sebenarnya dialah yang paling menyayangi Satriyana. mungkin karena mereka berdua sesama perempuan. Respati dan Sabarewang turut menyusul berkelebat dan dalam sekejab ketiganya sudah berada di samping Satriyana.


Saat mereka tiba di dekat gapura batas desa Randung, nampak kobaran api yang melalap warung makan milik Birunaka, sementara si pemuda pemilik warung itu terlihat sedang merangkak keluar dari kobaran api.


Seorang pengemis bertangan hitam juga nampak hendak menghabisi nyawa Birunaka dalam sekali hantaman ilmu kesaktian. Satriyana menjerit panik, jarak mereka berempat dengan tempat Birunaka terlalu jauh untuk melepaskan pukulan sakti. sebenarnya dia bisa gunakan panah saktinya untuk menghadang serangan pukulan si pengemis. tapi karena pikirannya kalut, hal sepele ini sampai tidak terlintas di kepalanya.


Untung Roro keburu bertindak cepat, selusin paku dan pisau beracun di lemparkan ke depan di susul dengan hembusan angin kencang dari kibasan kipas peraknya, sehingga membuat kecepatan dan jarak jangakauannya bertambah hebat beberapa kali lipat. Dewi Malam Beracun sengaja memilih pisau dan paku dari pada jarum. karena keduanya lebih berat serta dapat mencapai sasaran yang lebih jauh ketimbang memakai jarum beracun yang lembut dan ringan.


'Sheet., sset., Beet.!'


'Whuuut., wuus.!'


Meskipun mempunyai ilmu kesaktian tinggi, namun dikarenakan serangan senjata rahasia beracun yang menyambar dari belakang tubuhnya datang tanpa diduga, membuat pengemis tua itu sangat terperanjat. untuk melompat menghindar sudah tidak mungkin. lagi pula sebagian tubuhnya terasa remuk dan terluka dalam akibat terkena hantaman pentung sakti si pemuda yang kini sudah jatuh tersungkur di depannya.


Sambil membalikkan tubuh terpaksa orang tua yang pastinya si Pengemis Watu Item itu hantamkan ajian Watu Item miliknya untuk memukul balik belasan paku dan pisau beracun terbang yang datang bagaikan hujan.


Segelombang angin keras kehitaman menggebrak. paku dan pisau terbang dibuat bermentalan keudara, tapi sayangnya masih ada dua buah pisau dan paku terbang yang mampu melesat lolos terus menancap di lengan kiri serta menyerempet kulit perutnya.


Belum lagi Pengemis Watu Item bersiap, dari depan sudah kembali datang serangan yang lebih menakutkan. lima larik sinar merah berhawa panas serta menebar bau anyir darah menderu ganas.!

__ADS_1


''Dasar wanita keparat., aku orang sendiri dari 13 Pembunuh, si pembunuh nomor lima.!'' jerit Pengemis Watu Item ngeri. sambil jatuhkan tubuhnya, tangan kanannya mengacungkan suatu benda yang terlihat bersinar kemerahan.


Kereta kuda maut melaju cepat menuju Wonokerto, yang menjadi kusirnya tetap Sabarewang. orang tinggi gagah dan brewokan ini berkali- kali mengumpat kesal. ''Sialan., setan alas., sungguh membuatku muak. kenapa ada saja masalah di depan yang menghadang perjalanan kami..''


''Wonokerto tinggal satu sampai dua hari perjalanan. tapi akibat peristiwa di desa Randung, Nyi Dewi memintaku untuk mencari tempat yang agak tersembunyi, agar dia dapat mengobati luka dalam pemuda berbaju biru itu., sebenarnya ada hubungan apa Satriyana dengan pemuda bernama Birunaka ini. sialan betul., sudah siang begini aku juga belum sempat sarapan. sungguh hari yang menyebalkan.!''


Di dalam kereta terlihat sesosok pemuda berbaju biru tergeletak lemas, nafasnya walaupun sangat lemah tapi cukup lancar. kalau saja Respati terlambat memberinya tambahan tenaga dalam mungkin pemuda ini sudah keburu mati.


Di sudut lain nampak Satriyana menatap tak berkesip jemari kaki kiri Birunaka, sekali waktu ganti melirik jari- jari di kaki kanannya sendiri. perasaan gadis itu campur aduk.


Roro Wulandari merangkul gadis itu dari belakang. ''Ternyata masih ada orang lain yang mungkin punya hubungan darah keluarga dengan dirimu.. beruntung kau bisa teringat ciri ditubuhnya..'' bisik Roro lembut. dia masih ingat betul di dalam kitab wasiat Ki Mijun ada bagian yang menuliskan ciri tubuh para keturunan keluarga Istana Angsa Emas.


Setiap anggota keturunan keluarga itu mempunyai ciri tubuh sedikit berbeda dari orang lain. yang wanita jari manis dan jari tengah di kaki kanan sama panjangnya. sebaliknya bagi keturunan pria ciri yang sama ada di kaki kirinya.


Sementara itu di waktu yang sama di dalam sebuah pulau terpencil yang di huni ribuan binatang dan tumbuhan beracun, terlihat sesosok tubuh manusia berjubah kuning sedang duduk sendiri diatas sebuah kursi batu pulam putih. wajah manusia ini tidak terlihat karena tertutupi sebuah topeng perak berbentuk tengkorak menyeramkan.


Sebenarnya manusia ini tidak benar- benar sendirian, masih ada seorang lelaki tua setengah umur bermuka dingin seperti mayat hidup dan berlengan buntung sebelah. orang ini berdiri tiga langkah dibelakang si topeng tengkorak. walaupun hanya berdiri diam tapi hawa maut seakan terpancar dari tubuhnya yang kurus.


Dengan enggan si jubah kuning melepas alas kakinya yang terbuat dari kayu dan anyaman kulit binatang. sepasang kaki si jubah kuning lantas diselonjorkan di atas sebuah meja bundar besar yang juga terbuat batu pulam putih. kedua kaki berikut jemarinya terlihat bersih mengkilap, kekar dan kokoh bagaikan batangan besi. kalau diamati ada sedikit perbedaan pada kakinya sebelah kiri, jari manis dan tengah sama panjangnya.!

__ADS_1


__ADS_2