
Perbuatan si pincang Pranacitra yang dengan tiba- tiba mencekik Roro Wulandari bukan saja membuat semua rekannya terperanjat dan kebingungan namun kejadian diluar dugaan ini juga membikin ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' turut keheranan. ''Sebenarnya apa yang sedang terjadi. bukankah mereka punya tujuan yang sama dalam penyerbuan ke pulau kekuasaanku ini.?''
''Aneh., kenapa si bedebah 'Setan Pincang Penyendiri' sepertinya sangat marah saat dia mengetahui si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' kemungkinan telah tewas. memangnya ada hubungan apa bocah pincang itu dengan si tua buntung. keparat., meskipun orang tua yang paling kuandalkan itu kemungkinan sudah dicelakai tapi aku tetap merasa ada yang ganjil dengan masalah ini..'' batin sang ketua sambil terus memulihkan dirinya.
''Celaka., kita lupa tidak memberitahu lebih dulu masalah tipu muslihat si 'Dewi Malam Beracun' pada bocah pincang itu. pantas saja jika dia mengamuk karena salah mengira kakeknya telah binasa..'' ucap 'Maling Nyawa' kebingungan tepuk jidatnya. ''Sialan., kita mesti cepat mencegahnya sebelum wanita genit itu terlanjur mati tercekik.!'' timpal si 'Malaikat Copet' tidak kalah panik.
Sementara Satriyana yang berada dalam perlindungan pihak Istana Angsa Emas juga merasa sangat khawatir hingga meminta pengikutnya untuk menolong Roro. tapi belum sempat mereka bertindak, dua sosok bayangan putih telah melesat lebih dulu ke sana. salah satunya sempat berteriak agar si pincang menghentikan perbuatannya.
''Pranacitra., apa yang kau lakukan pada Roro. kau sudah gila yah., cepat hentikan sekarang juga. lepaskan dia.!'' teriak Puji Seruni yang begitu tiba langsung mencekal tangan pemuda kekasihnya itu. ''Jika ada masalah kita dapat bicarakan baik- baik. jangan sampai kejadian ini dimanfaatkan oleh ketua 13 Pembunuh dan para pesilat aliran hitam.!'' seru Respati yang turut datang mencegah.
''Sudah diam., ini tidak ada hubungannya dengan kalian berdua.!'' hardik Pranacitra sentakkan tangan gadis itu lantas menoleh sekejap dengan pandangan bengis. tanpa sadar Puji Seruni bergidik. selama ini dia belum pernah di damprat begitu keras oleh pemuda itu. sedangkan Respati tetap coba untuk menghalangi. bagaimanapun juga Roro adalah orang yang paling dekat dengan dirinya.
Tubuh pemuda itu bergerak meliuk cepat layaknya ular berbisa. langkah kakinya juga aneh seperti orang mabuk. saat itulah kedua tangannya menyambar ke depan. sepintas pandang seolah berubah menjadi sembilan buah. tahu- tahu telapak tangan kirinya sudah menyasar dada juga bahu kiri Panacitra, sementara yang kanan berkelebat memotong pergelangan lawan sekalian merebut balik tubuh sepupunya.
Sebenarnya yang Respati lakukan adalah bagian dari gerakan jurus pedang 'Iblis Hitam' yang bernama 'Sembilan Patukan Kobra Mabuk'. hanya saja dia lancarkan dengan tangan kosong. yang diserang mendengus. kakinya juga bergerak aneh dengan tubuh kaku setengah membungkuk. jurus 'Langkah Aneh Mayat Hidup' membuatnya lolos dari serangan lawan.
Tapi si pincang tidak mau rugi. tangan kiri masih mencekal Roro, tangan kanannya berputar setengah lingkaran membentuk cakar lantas menghantam. sekejap suasana sekitar seakan menjadi lebih gelap. terdengar sekali ledakan keras. pemuda berbaju putih ini mundur dua tindak kebelakang. walaupun begitu Respati terlihat mantap pijakannya.
Sekejap keduanya saling menatap. dengan gunakan jurus 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' yang sengaja dia kurangi kekuatannya dan harus mencekal Roro, murid lima pentolan aliran hitam itu masih sanggup memukul mundur lawan meskipun dia juga harus tersurut tiga langkah ke belakang.
''Ular Sakti Berpedang Iblis'., kutahu kau punya hubungan dekat dengan Dewi Malam Beracun. tapi masalah ini tidak ada kaitan apapun denganmu. menyingkirkan atau kau akan terima akibatnya.!'' bentak Pranacitra tanpa mengendurkan cekalannya di leher Roro Wulandari. ''Kau boleh menahannya tapi lepaskan dulu cekikanmu dilehernya.!'' tukas Respati sedikit mengalah. baginya asalkan Roro dapat selamat tidak masalah jika dia masih berada dalam kekuasaan lawan.
__ADS_1
''Benar Pranacitra., meski aku tidak tahu telah terjadi masalah apa diantara kalian berdua tapi kumohon lepaskan dulu cengkeramanmu di leher Roro. dengarkan ucapan Respati. aku merasa pasti ini ada suatu kesalahpahaman..'' Puji Seruni turut membujuk. pemuda ini melirik gadis jelita murid mendiang Nyi Pariseta. cekalannya sedikit mengendur sampai akhirnya dia cuma mencekal lengan kiri Roro.
Perempuan cantik itu terbatuk dengan nafas tersengal. meskipun merasa marah juga bingung dengan kelakuan Pranacitra tapi dia masih bisa bersabar. ''Sebenarnya apa salah diriku sampai kau seperti orang kesetanan lalu mencekik leherku.?'' tanya Roro setengah berteriak gusar. ''Katakan apa yang telah kau lakukan pada si tua buntung alias Lengan Tunggal Pengejar Roh.!'' damprat Pranacitra memotong ucapan Roro.
Dua orang kakek tua tahu- tahu sudah berada di sana. jika Malaikat Copet menyeret pergi si pemuda lalu membisikkan sesuatu padanya, maka si Maling Nyawa juga bicara perlahan pada Roro Wulandari. diakhir penuturnya dia malah kena semprot Dewi Malam Beracun. ''Dasar maling tua pikun., kenapa kau tidak bilang sebelumnya kalau si pincang yang gila ini adalah cucu dari orang tua buntung itu. Huhm., hampir saja aku mampus tercekik. sialan.!''
Walaupun ucapan kerasnya tidak disengaja, tapi cukup mengejutkan bagi orang yang mendengarnya. Pranacitra tertegun juga rada menyesali perbuatannya yang keburu nafsu. Respati juga Puji Seruni tercekat kaget mendengarnya. mereka sempat tidak percaya ada hubungan rahasia diantara si buntung tua dan si pincang ini.
''Gadis bodoh., kenapa kau malah berteriak. rahasia ini jangan sampai terdengar oleh orang lain.!'' Maling Nyawa balik membentak. Roro Wulandari seketika sadar telah lakukan kesalahan besar. tetapi semuanya sudah terjadi. bukan saja orang Istana Angsa Emas yang berada dekat dengan mereka namun pihak Kelompok 13 Pembunuh juga telah mendengarnya.
"Ini tidak mungkin. sejak kapan sobat kita si buntung tua itu mempunyai kerabat. bahkan dia ternyata adalah si 'Iblis Pincang Kesepian'. tapi jika yang tadi terdengar di telinga cuma kesalahan, kenapa juga pemuda itu marah besar melihat potongan tangan kiri orang tua itu.?" geram si 'Setan Arak' ragu. "Kalau tadi Maling Nyawa yang bicara sendiri pastilah benar. tapi aku jadi penasaran, sejak kapan pencuri keparat itu tahu semua rahasia ini.?" gumam Klowor Gombor.
"Huhm., persetan.! apapun kaitannya, aku mesti membantai mereka semuanya. sangat kebetulan jika sekarang terjadi perselisihan paham diantara para bedebah itu. majikan 'Kota Hantu Pagi' juga sudah menyingkir. ini kesempatan bagus untuk melibas mereka dalem sekali hantam.!" gembor ketua 13 Pembunuh. seketika semua anak buah juga para pesilat jahat yang bersekutu dengannya ikut terbangkit kembali nafsu membunuhnya.
Jika aji kesaktian yang pertama mampu mengeluarkan cahaya kuning emas yang besar dan lebar berhawa sangat panas seolah sepasang sayap burung angsa berapi raksasa, maka ilmu kedigyaan yang kedua sanggup melesatkan ratusan cahaya kuning membentuk bulu- bulu burung setaham pisau belati yang punya daya bunuh mengerikan.
'Whuuusss., whuuusss., sheeeett., shaaatt.!'
'Blaaaammm., blaaaammm., blaarrr.!'
''Aaaaaakh., aaakh., uaaaaghh.!''
__ADS_1
Jeritan parau terdengar dari mulut para tokoh silat golongan putih yang terkena dua jenis pukulan sakti itu. tubuh mereka ada yang putus terpanggang, sebagian juga terajam gosong hingga tembus depan belakang. tapi anehnya, teriakan ngeri itu juga terdengar dari para pesilat aliran hitam. beberapa orang sama terjungkal berkelojotan dengan mulut berbusa darah sementara kulit tubuh mereka berubah kehitaman pertanda terkena racun.!
Yang lebih mengagetkan adalah begitu raga mereka tumbang ke tanah, puluhan binatang beracun penghuni pulau 'Seribu Bisa' ini sama berebut memangsanya. padahal ketua 13 Pembunuh sudah memberikan mantra sihir pada semua pesilat golongan hitam yang bersekutu dengan pihaknya, agar ribuan hewan beracun itu dapat membedakan mana yang menjadi mangsanya. tapi sekarang ini., semuanya seperti tidak berguna lagi. segera saja kejadian ini membuat kegemparan.
Bukan itu saja, binatang- binatang beracun seperti ular, kelabang, kalajengking, laba- laba juga tawon bahkan biawak sekarang sudah mulai berani menyerang para pesilat aliran hitam dan anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis'. padahal mereka adalah penghuni lama sekaligus anak buah langsung dari Kelompok 13 Pembunuh.
''Bangsat., dasar binatang beracun sialan. kenapa mereka sekarang jadi menyerang kita juga.!'' teriak para pesilat aliran hitam marah. ''Apakah obat rahasia dan mantra sihir gaib penangkal binatang beracun dari yang mulia ketua 13 Pembunuh sudah mulai kehilangan pengaruhnya.?'' seru anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis turut panik.
Dalam sekejab saja segala kekacauan ini sudah memakan korban nyawa. biarpun mempunyai kesaktian tinggi tapi menghadapi ribuan binantang beracun yang menggila tentulah sangat merepotkan. keadaan semakin bertambah makin runyam karena entah mengapa gelombang lautan luas yang mengelilingi pulau Seribu Bisa mendadak bergejolak. suara gemuruh sangat keras yang diiringi gumpalan awan hitam dan guntur petir bersautan diangkasa membuat suasana sangat mencekam.
''Lihat di lautan sana ada gulungan angin topan raksasa yang sedang bergerak menuju kemari.!'' seru seseorang ketakutan. masih dilanda kengerian yang semakin kacau, orang persilatan dari berbagai golongan yang saling bunuh itu menjadi bertambah bingung saat terasa bumi yang mereka pijak bergetar keras. tanah batu karang berderak pecah dan rengkah terbelah. ''Awas, cepat berlindung. pulau keparat ini sedang dilanda gempa besar.!'' teriak para tokoh silat.
Kejadian aneh sekaligus mengerikan itu membuat kepanikan semakin memuncak. beberapa orang jatuh terperosok ke dalam tanah yang rengkah. sementara itu barisan tonjolan batu karang setinggi dua hingga tiga tombak yang berada di tepian pantai mulai hancur remuk dihantam ombak lautan yang sedang mengamuk.
Pecahan batuan karang berbagai ukuran yang terlontar berserabutan menghantam tubuh para pesilat. mereka yang sudah sangat kepayahan kehabisan tenaga akibat pertarungan besar tidak kuat lagi bertahan saat angin topan menghempaskan raga mereka hingga lenyap tersapu bersama ribuan mayat korban pertempuran itu.
Maling Nyawa seakan teringat akan sesuatu masalah penting. sekali melirik rekannya si Malaikat Copet, kedua orang pentolan kaum pencoleng itu serentak berkelebat menjauh dari gelanggang pertarungan besar, setelah sebelumnya memberi tanda isyarat pada yang lainnya. Roro Wulandari dan semua rekannya tidak mau ayal. mereka segera bergerak menyusul, meskipun belum tahu betul apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Di waktu yang sama., agak jauh di salah satu sudut tepian pantai karang di bagian timur pulau Seribu Bisa, terlihat seorang lelaki tua berlengan kanan buntung sedang berdiri merapat ke dinding karang. hempasan ombak lautan setinggi bukit yang mengamuk membuatnya harus kerahkan tenaga dalam agar tidak turut tersapu. dalam hatinya dia berpikir. ''Hehm., pada akhirnya prahara besar ini terjadi juga. mahkluk siluman itu sudah memulai amukannya..''
.......................................
__ADS_1
Silahkan untuk menuliskan komentar, kritik, saran, like👍, vote☝, favorit, juga share novel ini jika Anda suka🙏. Terima kasih👏.