
Kakek tua bergelar Pengemis Jari Biru sang pemimpin perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan itu sejenak hentikan bicaranya sembari memandang semua yang hadir di ruangan itu. meskipun semuanya hanya diam membisu tapi jelas terlihat ketegangan di wajah mereka.
''Meskipun kita tidak memiliki sangkut paut ataupun keinginan untuk ikut serta dalam perebutan peta wasiat itu, tapi kita semua harus tetap waspada agar tidak terseret kedalamnya.!''
''Satu masalah lagi adalah tentang bayi istana keramat yang dikatakan ajaib karena kabarnya dapat memberikan kekuatan gaib bagi orang yang meminum darahnya. aku perintahkan agar jangan pernah ikut campur dengan dua masalah ini., siapapun anggota yang berani melanggarnya akan mendapatkan hukuman berat.!" tegas ketua perkumpulan itu dengan penuh tekanan.
Jangan dikata tubuh kurusnya seperti orang penyakitan. saat berbicara sinar matanya menyorot sangat tajam, gema suaranya juga mampu menggetarkan jiwa semua orang pertanda kakek tua ini punya kekuatan yang sukar dikira.
Beberapa anggota perkumpulan yang hadir mengangguk, sedang sisanya berkata akan mematuhi perintah ketuanya. setelah memakan sepotong ketela rebus dan minum wedang gula arennya, Pengemis Jari Biru kembali menyambung ucapannya "Sekarang aku ingin bertanya kenapa belum juga ada kabar berita tentang keberadaan Ki Manggal bekas anggota kita yang telah berkhianat.?"
"Apakah lebih dari lima ratus orang anggota kita cuma bisa makan dan tidur saja.?" bentaknya sambil jarinya yang bengkak membiru bergerak meremas gelas tanah liatnya hingga hancur lebur menjadi lelehan lumpur berwarna kebiruan.
"Orang ini sudah membunuh Nyai Wisesa., si 'Tabib Pengemis Welas Asih' yang juga wakil ketua perkumpulan kita hanya karena menginginkan ramuan obat miliknya.!" rutuk sang Ketua dengan wajah kelam membesi. sementara jari birunya terus meremas gelas yang sudah menjadi cairan lumpur kebiruan.
Lumpur biru itu kemudian menetes dari celah jemarinya ke lantai batu hingga menimbulkan suara berdesis dan asap kebiruan berbau menyengat. saat dilihat lantai batu yang keras itu sudah berlubang cukup dalam. semua yang hadir di sana terkesiap ngeri melihatnya.!
"Harap ketua perkumpulan bersabar, aku yakin tidak lama lagi bedebah pengkhianat itu akan dapat di bekuk kemari, karena Nyi Pulungan si Pengemis Sapu Jagat serta Ki Jagalaga dari cabang kidul dan barat laut sudah ikut bergerak memburunya.!" ucap pengemis tua bertambalan enam warna itu mencoba menenangkan amarah ketuanya.
''Hhm., baguslah. karena kalau dalam waktu satu bulan ke depan belum ada kabarnya, terpaksa aku akan turun tangan sendiri.!''
Saat itulah seorang anggota perkumpulan pengemis yang masih muda tergopoh- gopoh masuk ke dalam ruangan tanpa sempat ucapkan permisi.
''Hei., apa kau tidak punya sopan santun main nyelonong masuk begitu saja.!'' damprat salah satu orang di dalam yang kakinya sempat terinjak si pengemis.
''Di sini sedang ada pertemuan penting, baru jadi anggota tingkat dua warna saja sudah berani bertingkah.!'' umpat yang lainnya.
Tanpa perdulikan makian orang, pengemis muda ini langsung berlutut menghadap ketuanya. wajahnya terlihat kelelahan, pucat berkeringat dengan nafas yang memburu pertanda dia telah berlarian kemari.
__ADS_1
''Harap maafmu Ketua., nama saya Mahesa Gering orang baru dalam perkumpulan ini. saya baru saja pulang setelah tiga hari mengemis di daerah Sumedang.,'' tutur pengemis muda bernama Mahesa Gering itu. saat matanya melihat ada gelas berisi minuman, tanpa minta ijin dia langsung meneguknya habis.
''Saat tiba di kaki bukit ini saya mendengar ada suara lirih meminta tolong, karena jalan yang saya lalui adalah jalan rahasia yang hanya diketahui anggota perkumpulan kita, maka saya menduga itu pasti suara salah satu saudara perkumpulan.!'' sampai disini wajah si pengemis muda semakin ngeri dan bingung. membuat semua orang terkejut dan penasaran.
''Mahesa Gering., sebenarnya apa yang telah kau lihat di bawah sana., cepat jawab.!'' bentak pengemis tua bertambalan enam warna. tadi gelas minumnyalah yang telah diambil Mahesa Gering. tidak heran masih ada kemarahan di hati orang ini.
''Baik Ki., maafkan kelancanganku tadi. saat itu saya langsung mencari asal suara, rupanya suara rintihan itu berasal dari dalam jurang yang ada di sisi tebing bukit. di tepian jurang itu juga ada ceceran darah.!''
''Karena jurang itu tidak begitu dalam aku mencoba turun ke bawah, disana kutemukan sesosok tubuh pengemis wanita setengah tua bertambalan kain tujuh warna.!''
Semua orang seketika berseru kaget. ''Dia pasti Nyi Dawuhan.!''
Hanya ada satu orang perempuan di dalam perkumpulan Pengemis Sembilan Tambalan yang mempunyai tingkatan tujuh warna. dia Nyi Dawuhan dari cabang tenggara.
''Lalu dimana Nyi Dawuhan sekarang ini.?'' tanya pengemis tua bertambalan enam warna yang bernama Ki Galang Rawa cemas. ''Karena sulit membawanya ke atas aku menyandarkan tubuhnya di tempat yang terlindung lalu segera kemari.''
''Di tengah jalan saya sempat bertemu dengan dua orang saudara perkumpulan, mereka sudah kumintai tolong untuk menjaga Nyi Dawuhan di bawah jurang.!''
''Ajian Watu Item.!'' desis Ki Galang Rawa. ''Jangan- jangan Nyi Dawuhan sudah di lukai oleh si pengkhianat jahanam itu, karena hanya dia yang menguasai Ajian Watu Item dengan sempurna.!'' geram Ki Galang Rawa sambil hantamkan tinjunya ke lantai batu hingga rengkah.
''Kalian cepat pergi menolong Nyi Dawuhan., bawa kemari dengan selamat, pertemuan kita lanjutkan nanti.!'' perintah Pengemis Jari Biru. serentak beberapa orang berkelebat keluar ruangan.
''Saudara Ketua perkumpulan., ada satu hal yang membuatku heran., manusia biadab dan pengkhianat itu meski berilmu tinggi tapi dia baru mencapai tingkatan enam sepertiku, jadi bagaimana bisa dia dapat mengalahkan Nyi Dawuhan dari tingkatan tambalan tujuh warna.?''
''Apa yang dipikirkan saudara Ki Galang Rawa juga ada di dalam benakku.,'' bisik Pengemis Jari Biru. ''Hanya ada dua kemungkinan, pertama Ki Manggal berhasil membokong secara licik Nyi Dawuhan tapi kemungkinan itu sangat kecil..''
''Berarti kemungkinan kedua yang lebih masuk akal, ada pihak lain yang membantu manusia keparat itu., tapi siapa.?'' gumam Ki Galang Rawa sambil menatap ketuanya yang kesepuluh jarinya seakan semakin biru membengkak. dia merasa ngeri karena paham betul kalau saat ini sang pemimpin perkumpulan pengemis itu sedang berusaha mengendalikan hawa kemarahannya.
__ADS_1
Di Sebuah pulau terpencil yang sangat jauh dari pantai selatan tanah jawa., pulau Seribu Bisa.!
''Dimana Setan Arak dan si buntung, aku tidak melihat mereka beberapa hari ini.?'' tanya orang bermata sipit seperti garis pada lelaki tampan yang sedang memandangi hasil ukiran boneka cantik di tangannya.
''Kenapa kau tanyakan mereka, kalau cuma ingin berjudi aku bisa menemanimu.!" jawab si tampan sambil selonjorkan kakinya di atas meja batu pulam putih. orang ini sangat suka bersantai, apalagi kalau ditemani wanita cantik.
Si mata sipit terkekeh " Hek., he., he. Tidak biasanya kau tertarik berjudi denganku, apa yang sekarang ada di dalam otak licikmu.?"
"Penjudi Dari Akhirat., ucapanmu membuat hatiku terluka, seorang yang penuh perasaan halus sepertiku mana mungkin bisa berbuat jahat dan licik seperti tuduhanmu.!" bentak si tampan pengukir boneka kayu. sesaat lamanya kedua orang ini bentrok pandangan seakan hendak saling labrak. tapi kejab berikutnya keduanya tertawa bergelak.
"Hak., ha., Hati yang penuh perasaan halus., kau pintar melawak juga sobatku Kamajaya si Pendekar Romantis Pencabut Nyawa, karena yang benar adalah kau gemar membunuh lawanmu dengan lembut penuh perasaan, hingga dia tidak menyadari kalau nyawanya sudah terbang ke neraka.!"
"Hak., ha., Wah., wah. aku jadi tersanjung dengan pujianmu kawan.." ujar orang bernama Kamajaya ini sambil menjura hormat.
"Soal pertanyaanmu tadi., si buntung nomor dua sekarang ini sedang bersama Ketua untuk menemui 'Datuk Naga Wisa' siluman penguasa pulau Seribu Bisa ini sekaligus memberikan sesaji dan tumbal persembahan karena kita sudah di ijinkan untuk tinggal di pulau ini.." ujar Kamajaya sambil memainkan pisau kecilnya.
"Aah., Hampir aku lupa. memang sudah waktunya bagi kita untuk memberikan tumbal gadis perawan kepada mahluk siluman yang juga pembantu Nyi Roro Kidul, sang Ratu penguasa laut selatan.!" gumam si mata sipit sambil tepuk keningnya. "Lalu ada dimana si Setan Arak.?"
"Manusia pemabukan itu sedang mengambil seseorang untuk mengisi tempat pembunuh nomor lima yang sedang lowong.,"
"Siapa orang itu., memangnya dia layak masuk kelompok 13 Pembunuh.?"
Kamajaya menyeringai licik, "Mana ada orang yang benar- benar layak berada di dalam perkumpulan kita., mereka hanyalah alat yang bisa kita korbankan. orang ini adalah bekas anggota perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan yang bernama Ki Manggal, atau si Pengemis Watu Item.!"
"Hhm., boleh juga. tapi bagaimana dengan pengganti Gada Rahwana si nomor enam, kita juga tidak boleh membiarkan tempatnya kosong terlalu lama.!" bertanya Penjudi Dari Akhirat.
"Sangat sulit mencari pengganti yang sepadan dengan Gada Rahwana. kalau terpaksa kita bisa juga mengundang kembali orang lama seangkatan kita untuk mengantikan kedudukannya.!"
__ADS_1
"Kau sudah punya bayangan siapa orangnya, karena tidak mudah untuk menemukan dimana kawan- kawan lama kita sekarang berada. lebih sulit lagi untuk mengajaknya kembali bergabung.!" desak si mata sipit penasaran.
Yang ditanya cuma terdiam., entah apa yang ada di dalam pikiran orang ini.