13 Pembunuh

13 Pembunuh
Takdir Pertarungan.


__ADS_3

Hujan masih turun dengan lebatnya, gemuruh suara angin kencang dan guntur geledek terdengar bersautan. suasana terasa dingin mencekam. pelataran luas yang ada di depan rumah besar Ki Ageng Bronto sudah tergenang air hujan yang kemerahan bercampur darah.


Putri Penjerat alias Laba- Laba Kuning langsung berubah raut wajahnya setelah mendengar siapa adanya nenek tua yang berdiri di bawah teras pendopo rumah Ki Ageng Bronto. wanita bertangan buntung ini segera sadar kalau mereka berdua bakal bertemu lawan yang sangat menakutkan.


Seorang nenek tua yang bungkuk dan ringkih, berjubah serta berkerudung putih terlihat berjalan tertatih menuju ke tengah halaman. tangan kirinya yang kurus keriput menjinjing sebuah keranjang rotan yang di tutupi selembar kain hitam.


Wajah si nenek tidak terlihat jelas karena menunduk dan tertutupi kerudung kain putih. perlahan Nyai Bawang terus bergerak. setiap langkah kakinya seperti membawa hawa kematian.


Meskipun langkahnya terlihat perlahan seakan hendak roboh, tapi hebatnya nenek tua kurus itu dengan sekejap saja sudah sampai di tengah pelataran. di sini terlihat suatu keanehan, walaupun saat itu suasana hujan lebat dan angin badai berhembus kencang tapi tubuh si nenek tua seakan tidak merasakan apapun. air hujan yang mengenai pakaiannya seketika menguap.!


Nenek tua itu perlahan mengangkat kepalanya. dari balik kerudung putihnya terlihat cahaya matanya menyorot kejam dan licik. raut mukanya yang pucat keriput penuh dengan hawa jahat. sekujur tubuh si nenek seakan di selimuti tenaga kesaktian yang mengerikan.


Nyai Bawang., si 'Nenek Bawang Beracun Belatung Darah' memang bukanlah tokoh silat sembarangan. kekejaman dan tingkat ketinggian ilmunya sudah tidak dapat di pertanyakan lagi. kini bekas pembunuh nomor dua belas angkatan lama dalam kelompok 13 Pembunuh itu sedang berdiri menatap tajam wanita berjubah hitam yang berdiri di depannya.


Roro Wulandari tanpa sadar tersurut mundur. entah kenapa dia merasa sedikit ketakutan saat berhadapan dengan nenek ini. dulu mendiang gurunya pernah memperingatkan kalau tidak yakin betul, jangan pernah berani mencoba untuk beradu kesaktian dengan Nyai Bawang.!


''Hik., hi., hi., kita bertemu lagi gadis cantik, sungguh aku tidak mengira kalau kau inilah yang menjadi pengganti diriku. nomor dua belas dalam kelompok 13 Pembunuh., si 'Dewi Malam Beracun'. hmm., julukanmu bagus juga..''


''Kenapa tidak kau katakan saja terus terang saat kita bertemu pertama kali di kaki bukit Lading. aih., aih., kulihat dirimu memang cantik jelita, pantas saja Kamajaya sampai tergila- gila denganmu sampai dia berpesan agar aku tidak membunuhmu..'' ujar Nyai Bawang sambil geleng- geleng kepala menatap Roro.

__ADS_1


Meskipun berbicara cukup halus, namun sorot matanya yang menggidikkan hati tetap tidak berubah. Roro Wulandari tekan kobaran hawa amarah yang mulai menyala di dalam dadanya. dirinya merasa sangat muak saat nama Kamajaya di sebutkan. dengan memasang senyuman wanita cantik itu menjura hormat.


''Sungguh kehormatan bagiku dapat bertemu kembali dengan Nyai Bawang, si Nenek Bawang Beracun Belatung Darah. maafkan kalau aku ragu untuk memperkenalkan diri. aku hanya merasa tidak pantas di sejajarkan dengan seorang pembunuh kawakan sehebat dirimu..''


''Hik., hi., hi., ucapanmu sungguh indah terdengar Cah Ayu., aku merasa tersanjung. meskipun diriku suka denganmu tapi sayang sekali kau dan juga kawanmu yang berbaju kuning itu mesti mati malam ini.!"


''Huhm., Nyai Bawang si Nenek Bawang Beracun Belatung Darah. kuakui namamu memang besar. tapi tidak semudah itu membunuh kami berdua..'' dengus Putri Penjerat sambil siapkan senjata benang bajanya. tapi di luar dugaan Roro malah menahannya. ''Ini pertarunganku., cepat atau lambat aku mesti berhadapan dengan tua bangka sialan ini. tolong kau urusi saja para keroco itu..''


Si Laba- Laba Kuning jelas enggan menurut. tapi saat hendak membantah Dewi Malam Beracun sudah kembali berbisik. ''Guruku punya sengketa lama dengan Nyai Bawang, aku berkewajiban menyelesaikan urusan itu. mungkin juga kami berdua sudah ditakdirkan untuk saling bunuh..''


Putri Penjerat terdiam sesaat lamanya. dia merasa ragu namun melihat tatapan mata rekannya yang entah kenapa berubah penuh dengan keyakinan, akhirnya diapun mundur sambil berpesan, ''Harap kau berhati- hati., jika merasa kesulitan aku akan segera membantumu..''


''Nyai Bawang., tahukah kau siapa diriku yang sebenarnya., tentunya engkau cuma tahu kalau akulah yang menggantikanmu dalam kelompok 13 Pembunuh. selain hal itu kau tidak paham apapun..''


''Sebaliknya., aku justru mengerti betul siapa kau si nenek tua bangka penjual bawang busuk. bukankah sudah sejak lama dirimu mengincar sebuah kitab langka bernama kitab petunjuk 'Seribu Senjata Rahasia Sakti.!''


Bergetar keras tubuh Nyai Bawang kala dia mendengar nama kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti di sebutkan. mata tuanya yang menyorot kejam terlihat di penuhi hasrat keserakahan.


''Hak., ha., kau tidak usah menjawabnya tua bangka bau bawang busuk. dari raut mukamu yang peot dan menyebalkan itu saja aku sudah tahu kalau dirimu memang ingin mendapatkan kitab sakti itu..''

__ADS_1


Tanpa memberi kesempatan lawan berbicara Roro terus saja mengumbar gertakan. ''Tentunya kau heran bagaimana aku bisa mengetahuinya. dengar nenek tua., kawan lamamu sendiri yang telah memberitahuku masalah ini..''


''Perempuan keparat., cepat katakan apa maksud ucapanmu barusan.!'' potong Nyai Bawang penuh kegusaran.


''Kaulah yang keparat tua bangka jahanam., mendiang guruku si 'Nenek Tabib Selaksa Racun' pernah kau khianati dengan cara meracunimya secara diam- diam hanya karena ingin menguasai kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti yang berada di tangannya. guru sungguh tidak pernah mengira kalau kau bakal berbuat serendah itu..''


''Walaupun beliau seorang ahli racun dan pengobatan tapi jika diserang secara gelap dengan racun yang tidak berwarna juga tidak berbau, siapapun juga pasti akan celaka..''


''Beruntung guru cepat menyadari sesuatu yang tidak beres dalam aliran darahnya, hingga beliau dapat lolos dari maut.!'' geram Roro yang mulai dipenuh amarah. Nyai Bawang meraung murka. teriakannya sampai menindih lenyap suara gemuruh hujan badai.


''Jadi kau inilah murid si nenek tua keparat itu. Hhmm., bagus, bagus sekali., tidak dapat gurunya, kena muridnya juga tidak masalah..''


''Dengar budak sialan., seharusnya kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti itu sudah menjadi milikku. sebab aku sudah lama mengincarnya sejak benda itu masih berada di gudang pusaka 'Istana Angsa Emas'. tapi setan tua si 'Maling Nyawa' keburu gatal tangan hingga dia lebih dulu mencurinya. kalau saja gurumu tidak bersikeras mempertahankan kitab itu, mungkin kami berdua tidak bakalan pernah berseteru. jadi salahkan gurumu sendiri yang keras kepala..''


''Sekarang cepat katakan padaku dimana kitab itu berada., mungkin saja nyawamu bisa selamat dariku. tapi jika tidak kematianmu bakalan kubuat mengerikan.!'' ancam Nyai Bawang bengis. tangan kanannya sudah merogoh ke balik keranjang rotan berpenutup kain hitam.


''Hak., ha., jadi kau masih menginginkan kitab itu Nyai Bawang., kau bisa mengambilnya di liang kuburanmu.!'' bentak Roro Wulandari sambil lepaskan seluain paku dan jarum beracun terbang yang tergenggam di tangan kirinya. bersamaan itu kipas peraknya mengibas ke depan, selarik cahaya keperakan yang lebar membentuk kipas menyambar bagai sebilah golok tajam. jurus 'Kipas Bayangan Pengejar Sukma.!'


Di malam hujan badai, di tengah pelataran rumah Ki Ageng Bronto itu seakan menjadi saksi pertarungan sengit antara dua orang perempuan pembunuh bayaran yang sama- sama pernah menjadi anggota nomor dua belas dalam kelompok 13 Pembunuh.!

__ADS_1


__ADS_2