13 Pembunuh

13 Pembunuh
Sabit perak pencabut nyawa


__ADS_3

Batang rumput yang digunakan untuk menyerang adalah jenis rumput gajah yang panjang, lebar, dan kuat, meskipun cuma selembar daun rumput gajah, tapi saat digunakan tidak berbeda dengan anak panah dan pisau terbang yang cepat dan tajam.!


Tidak mudah menggunakan sebatang daun rumput sebagai senjata pembunuh yang mematikan, diperlukan tenaga dalam yang sangat tinggi untuk membuat batang rumput yang lemas menjadi kaku dan kuat, sekaligus melemparkannya sebagai senjata rahasia. ini menandakan kalau orang ini bukanlah manusia sembarangan.


Ratusan batang rumput gajah tersapu rontok ke tanah, Respati menghadang didepan Dewi Malam Beracun, pedang Iblis Hitam yang panjangnya cuma tiga jengkal itu disilangkan di depan dadanya. ''Roro., kau tidak apa- apa, bagaimana dengan lukamu.?'' bisik Respati, meski pemuda itu tidak melihatnya langsung tapi dari nada suaranya jelas kalau dia sangat khawatir.


''Aku tidak apa- apa., 'Eeh., setelah hampir sebulan berkelana bersama, baru kali ini kau menyebut namaku., kupikir kau sudah lupa, Hi, hi..'' jawab Dewi Malam Beracun yang sebenarnya bernama Roro Wulandari itu dengan nada riang. Respati cuma diam tanpa bicara, baginya asal wanita cantik itu selamat, dia sudah merasa lega. lagi pula didepannya sudah muncul seseorang.


Sesosok lelaki setengah umur bertubuh agak kecil yang berdandan seperti petani atau pencari rumput, wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup caping daun pandan yang sudah geripis pinggirnya. Respati semakin waspada saat melihat sebilah sabit besar berwarna keperakan tergenggam ditangan orang itu. 'Sabit Perak Pencabut Nyawa.!' desis Respati dan Roro Wulandari hampir bersamaan, saat mengenali senjata yang ada ditangan orang itu.


''Hari ini aku sungguh beruntung karena dapat berkenalan dengan Ki Suket Gajah, alias Si 'Sabit Perak Pencabut Nyawa.!'' tokoh silat yang terkenal dari daerah timur.' Sapa Respati kepada orang yang berdandan seperti pencari rumput itu.


Orang yang disebut sebagai Ki Suket Gajah itu angkat caping pandannya, kini terlihatlah wajahnya. seraut muka yang kecil dan lucu, baik bentuk bibir, mata dan hidungnya semua terlihat mungil, bahkan telinganya nyaris tidak terlihat, keadaan ini membuat orang lain tidak percaya kalau orang ini pernah menjadi salah satu tokoh silat istana pada masa akhir kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya keluar dan kembali berkelana di rimba persilatan terutama di kawasan timur.

__ADS_1


''Aku juga sungguh tidak menduga bakal berhadapan dengan Ular Sakti Berpedang Iblis dan Dewi Malam Beracun, anggota nomor dua belas dan tiga belas dalam kelompok 13 Pembunuh.! 'Hhmm., rasanya hari ini aku mesti keluar tenaga lebih banyak kalau ingin mendapatkan bayi ajaib itu.!'' jawab Ki Suket Gajah. ternyata bukan saja mulut dan mukanya yang kecil, saat dia bicarapun suaranya terdengar kecil melengking dan rada lirih. melihat hal itu Dewi Malam Beracun hampir tidak bisa menahan tawanya, untung dia berada di belakang tubuh Respati hingga masih terlindung.


''Bolehkah aku yang muda ini bertanya, dari mana Ki Suket Gajah sampai tahu kalau kami memiliki seorang bayi.,?'' tanya pemuda itu. ''Terus terang saja aku heran, bayi lelaki itu memang menarik hati, tapi dia cuma bayi biasa, kenapa Sepasang Kupu- Kupu Darah sampai begitu ngotot ingin merebutnya,? dan sekarang Ki Suket Gajah juga demikian., ini sungguh aneh kurasa.,!''


Ki Suket Gajah goyang- goyangkan sabit besarnya, ''Ooh., sama sekali tidak aneh, mata dan telinga dunia persilatan ada di mana- mana, sekali muncul berita yang menarik, orang persilatan cenderung lebih menpercayainya, tidak perduli berita itu benar atau tipuan.!''


Orang bermuka kecil itu menatap tajam Respati, ''Sekarang aku yang bertanya, 'Darimana kalian mendapatkan bayi itu, terus terang saja kukatakan, sekarang ini banyak orang persilatan yang mengincarnya. dalam perjalanan kemari juga sempat kudengar tentang munculnya surat rahasia pewaris Istana Angsa Emas.!' jadi waktuku tidak banyak, serahkan saja bayi itu padaku, dan kalian boleh pergi dengan selamat.,!''


Respati dan Roro Wulandari saling pandang sebentar baru menjawab, ''Bayi itu hanya bayi biasa, tidak ada yang istimewa dengannya, lagi pula wanita cantik dibelakangku ini sudah mengangkatnya sebagai anak. jadi harap dimaafkan kalau kami tidak dapat memberikannya padamu.!''


''Hmm., aku sudah menduganya, sebenarnya aku suka dengan kalian berdua., tapi sayang kalian harus mati muda.,!''


Sesaat sebelum ucapannya habis, tubuh kecil Ki Suket Gajah sudah melesat kedepan, arit besar ditangannya dibacokkan menyilang dari atas ke bawah, selarik cahaya keperakan disertai segulung angin keras dan tajam mendahului serangannya, Dewi Malam Beracun melompat mundur, dalam keadaan masih terluka dia merasa belum mampu menahan tenaga serangan sekuat itu secara langsung. sebaliknya Respati justru berani maju menghadang, dengan pedang Iblis hitamnya dia bermaksud langsung memotong bacokan arit perak lawan. sinar hitam pekat berhawa busuk dari pedang Iblis saling sambar dengan cahaya perak menyilaukan dari sabit besar Ki Suket Gajah.

__ADS_1


'Whuut., wuut., Beet, bet.,!'


'Traang, trang., traang.,!'


Entah berapa kali bentrokan senjata itu terjadi, berapa banyak jurus yang sudah dikerahkan, saat keduanya terpental ke belakang, sudah terlihat perbedaannya, Ki Suket Gajah hanya mundur dua tindak ke belakang, sedang Respati terpental lebih dari tiga langkah, dari sini dapat diketahui kalau pemuda ini masih sedikit kalah tenaga dibandingkan lawannya.


Hanya sesaat mereka berdiam diri, karena berikutnya kedua orang ini sudah kembali saling bacok dan tikam dengan penuh nafsu membunuh.!'


Untuk kedua kalinya tubuh mereka terpisah, bedanya Ki Suket Gajah atau yang biasa di juluki Sabit Perak Pencabut Nyawa terdorong mundur tiga langkah dengan baju terkoyak, beberapa luka tusukan pedang terlihat ditubuhnya. Sebaliknya, Respati mental terkapar dengan luka sayatan panjang di dada dan perutnya, masih untung pedangnya dapat menahan bacokan sabit lawan, kalau tidak dia pasti sudah mati dengan dada terkoyak dan usus terburai.!


Dewi Malam Beracun menjerit panik, dengan kemarahan meluap seakan kesetanan, diserangnya Ki Suket Gajah dengan gempuran jarum perak beracun dan sambaran kipas peraknya, meskipun mempunyai tingkatan ilmu silat lebih rendah dibandingkan lawannya, tapi dengan cara menyerang secara beruntun penuh nafsu membunuh seperti itu juga mampu membuat Ki Suket Gajah kerepotan, dalam waktu hampir dua puluh jurus dia ditekan bertubi- tubi tanpa ada kesempatan untuk menyerang balik, bahkan dua batang jarum perak beracun mampu menembus paha kirinya.!


''Wanita rendahan keparat., Matilah kau.!'' bentak Ki Suket Gajah sambil putar sabit besarnya, mengemplang balik sambaranan kipas perak Dewi Malam Beracun. meskipun suaranya terdengar kecil melengking, tapi kini wanita cantik itu tidak dapat lagi menertawakannya. dari sikap menyerang kini dia harus kerepotan bertahan, dalam waktu singkat sekujur tubuhnya sudah mandi keringat.

__ADS_1


''Modar.,!'' gembor Ki Suket Gajah sambil hantamkan telapak tangannya yang disusul tendangan ke perut lawan membuat wanita cantik itu terjungkal bergulingan, kipas peraknya mental entah kemana. dia cuma bisa pasrah saat melihat Ki Suket Gajah atau si Sabit Perak Pencabut Nyawa berkelebat, senjatanya menyambar ke muka, sepertinya sesaat lagi tubuh wanita itu bakal tercabik- cabik mengerikan.!


__ADS_2